
Byurrr!!!
Cheryl terjengkang hingga masuk kedalam kolam renang. Hal itu sukses membuat kedua pria itu menghentikan pertikaian mereka. Keduanya menatap shok sejenak, mendapati Cheryl yang sudah tenggelam.
"Chemot!" pekik Arga.
"Cher!" cicit Key.
"Ck! Ini semua gara-gara lu!" Arga menghempaskan kerah baju Key, hingga pria itu terduduk kembali.
Lalu, tanpa basa basi Arga ikut menceburkan diri kedalam air itu. Meski ia tidak pandai berenang, namun ke khawatiran akan Cheryl membuat ia tiba-tiba berani.
"Eh, lu ngapain?" tanya Key tak percaya, namun Arga sudah terlanjur masuk kedalam air sebatas leher orang dewasa itu.
"Astaga! Itu anak mau kelelep apa?" Tentu Key tau, Arga bukanlah ahli dalam berenang. Hingga ia menatap tak percaya sepupunya itu.
Cheryl kembali ke permukaan meraup napas dalam-dalam. Gadis itu tidak menyadari jika ternyata Arga ikut menyusulnya kedalam air. Namun, baru saja ia menetralkan napasnya. Ia dibuat shok melihat Arga yang gelagapan disana.
"Ya ampun, lu ngapain nyebur?" pekik Cheryl tak percaya. Segera gadis itu mendekat untuk membantu suaminya itu.
"K-kaki gue," cicit Arga dengan suara tak jelas. Cheryl yang mengerti segera meraih tangan Arga. Lalu, merangkulkan tangan tersebut pada pundaknya.
"Udah tau suka kram, pake nyebur segala. Pegang gue!" omelnya seraya mencoba menyeret tubuh yang lebih besar darinya itu ketepian.
Arga tak menyahuti, sudah banyak volume air yang masuk kedalam paru-parunya. Hingga, membuat pria itu hampir tak sadarkan diri. Perlahan namun pasti, Cheryl akhirnya dapat membawa tubuh itu ketepian kolam. Key ikut membantu menyeret tubuh sepupunya itu ke dasaran.
"Ga, Arga! Bangun woy!" Key menepuk-nepuk, pipi pria itu, mencoba membangunkannya.
Cheryl mendekat setelah keluar dari air. "Ga, lu gak apa-apa? Bangun!" Ia ikut menepuk pipi Arga dengan perasaan khawatir.
Karena tak ada tanggapan, Cheryl pun mencoba memberikan pertolongan pertama. Berawal mendengarkan napasnya terlebih dahulu, lalu menekan-nekan bagian dadanya. Dirasa tak ada juga air yang mau keluar. Ia pun memberikan napas buatan untuk Arga. Cheryl sedikit tertegun, karena untuk kedua kalinya bibirnya dan bibir Arga bertemu. Namun, ia mencoba untuk melupakan itu. Fokusnya kembali untuk menyadarkan pria itu.
"Uhukk!!!" Air dari paru-paru Arga pun keluar. Akhirnya ia pun sadarkan diri, setalah beberapa saat hilang kesadaran.
"Lu gak apa-apa?" tanya Cheryl khawatir, namun masih tak ada tanggapan dari Arga yang masih berusaha meraup napasnya.
"Sebaiknya, gue bantu ke kamar," ucap Key. Ia memapah saudaranya itu untuk memasuki kamar. Cheryl mengiyakan seraya mengikutinya dari belakang.
Kolam yang jauh dari dapur, tentu tidak menghebohkan penghuni disana. Para wanita yang masih berkutat tidak menyadari tragedi tersebut.
"Eh, ini mantennya kemana?" tanya oma Rilla celingukan, saat sadar cucunya tak ada disana.
"Palingan nyobain kamar baru," celetuk oma Siska.
"Ya ampun, masih siang juga. Gak sabaran amat ya?" komentar mama Chika menggelengkan kepala.
"Namanya juga manten," balas oma Ayra membuat keenam wanita disana tergelak. Ghibah pun terus berlanjut hingga suasana semakin riuh.
Sementara itu didalam kamar, Cheryl masih terdiam dikamar mandi. "Key, udah belum?" teriaknya. Gadis itu menyerahkan Arga kepada Key, untuk membantunya mengganti pakaian.
"Lu ngapain masih didalam, Arga 'kan lakik lu?" goda Key.
"Ck! Banyak ngomong lu, buruan gak usah bawel," kesal Cheryl. Hal itu membuat Key terkekeh.
"Udah tinggal pasang baju aja! Gue mau balik," balas Key.
"Eh, kok lu balik. Sekalian pakein bajunya," teriak Cheryl terdengar panik.
"Gue dapat chat dari cewek. Gue balik dulu, bye!" pamit Key cekikikan.
Sejenak ia berpikir, jika bener Arga masih bertelanjang dada, maka ia tidak akan sanggup untuk melihatnya. Namun, jika tidak pun maka keadaannya akan semakin parah. Ditambah pria itu yang anti dingin.
Akhirnya setelah pertimbangan matang, rasa khawatir pun mengalahkan rasa malunya. Gegas ia keluar dari kamar mandi untuk melihat keadaan Arga.
Glek!
Cheryl menelan salivanya kuat-kuat, saat benar saja Arga hanya mengenakan boxer ketat. "Asyem, si Key!" Segera ia mendekat, dan menutupi tubuh Arga hingga sebatas perut. Menyembunyikan gundukan diarea sakralnya itu.
Gadis itu naik keatas ranjang, meraih kaos dan mulai mengenakan pada tubuh Arga. Pria itu kembali tidak sadarkan diri semenjak dipapah oleh Key menuju kamar tadi.
"Lu ngapain sih, pake nyebur segala?" tanya Cheryl pelan seraya menggosok rambut Arga pelan. "Kalo lu kenapa-napa gimana?"
Perasaan khawatir menyeruak dalam hatinya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, hingga dengan mudah mempertaruhkan keselamatannya sendiri.
Ia usap wajah pucat dengan suhu mulai meninggi. "Kayaknya lu demam deh," ucapnya.
Gadis itu hendak turun untuk mengambil air kompres, namun tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh Arga. "Jangan pergi!" pintanya. Dengan mata terpejam, seperti mengigau.
Cheryl menghembuskan napas panjang. Ia mengusap lengan pria itu. "Gue gak akan pergi," balasnya. Lalu, ia menaikan selimut Arga hingga batas dada. Satu tangannya terus digenggam erat oleh pria itu.
'Entah apa yang terjadi dengan gue? Dengan perasaan gue?' batin Cheryl bertanya. Satu tangannya tak lepas mengusap rambut pria itu.
'Gue kesel saat lu lebih mementingkan cewek itu dari pada hubungan kita. Gue kesel saat lu selalu membelanya,' lanjutnya dalam hati.
'Dan sekarang gue sangat khawatir sama keadaan lu. Gue takut lu kenapa-kenapa.'
Helaan napas panjang terdengar dari gadis itu. Ia meggeserkan tubuh, seraya menidurkan diri disamping Arga. Ia terus memperhatikan wajah tenang Arga yang terlelap. Terdengar deruan napasnya sudah mulai teratur. Dan hal itu membuat sang gadis sedikit bernapas lega.
"Tidurlah! Gue akan nemenin lu," titah Cheryl membelai wajah tampan itu. Satu tangan tadi tetap digenggam erat oleh Arga.
**
Waktu sudah menunjukan jam tujuh malam, acara makan malam pun sudah siap digelar. Namun, kedua bintang utama belum juga nampak disana. Mama Chika memutuskan untuk memanggil mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Ga, Chimut! Ini udah malam, acaranya mau dimulai," teriak mama Chika. Namun tak ada sahutan dari dalam.
"Chimut!" panggilnya lagi. Namun, masih tetap sama.
Merasa penasaran, ia mengintip sedikit dari pintu yang ternyata tidak dikunci. Wanita itu tersenyum melihat sepasang pengantin itu yang masih terlelap saling berpelukan. Tidak ingin mengganggu, mama Chika kembali meninggalkan kamar itu.
"Bagaimana?" tanya papa Deril.
"Mereka masih tidur," balas mama Chika dengan senyum mengembang.
"Ya, sudah jangan ganggu mereka. Mereka lagi semangat-semangatnya membuat turunan untuk kita. Jadi biarkan saja!" saran opa Devan dan disetujui orang disana.
Key hanya tersenyum menanggapi. Sungguh senang sekali menyatukan kedua manusia itu. Meski ia tidak yakin mereka bisa langsung ke tahap inti, namun itu sudah lebih baik.
'Setidaknya, lu kembali kejalan yang benar.'
\*\*\*\*\*\*
Jejaknya jangan lupa yaa😘