
Berulang kali Cheryl menghela dan menghembuskan nafas, saat sejoli itu memasuki kamar mereka. Arga yang sadar akan hal itu, kembali memutar otak agar sang istri tidak terus larut dalam rasa bersalahnya itu.
Grepp!!
"Aaaa!!" Cehryl memekik kaget, saat tiba-tiba saja tubuhnya melayang digendongan Arga.
"Arga ihh!!" rengeknya dengan wajah menekuk.
"Mau mandi bersama?" goda Arga, menampilkan wajah menerkam.
Belum sempat Cheryl menjawab, Arga membungkam bibir ranum istrinya itu. Lalu, ia pun bergerak membawa tubuh berisi itu menuju kamar mandi. Cheryl yang sempat menolak akhirmlnya luluh juga. Sensasi yang diberikan Arga mampu menyengat saraf tubuhnya. Hingga ia hanya menurut dan pasrah.
Arga mendudukkan tubuh Cheryl di atas washtaple tanpa melepas tautan bibir mereka. Lalu, perlahan membuka satu persatu kain yang melekat ditubuh molek tersebut. Hingga gadis itu polos tanpa sehelai benang pun. Kemudian, ia beralih membuka kain ditubuhnya juga hingga sama seperti keadaan gadis itu.
"Mmmhh!!!" Suara de sahan lolos begitu saja, saat bibir Arga sampai diceruk Cheryl. Tangan Arga tidak berhenti menjamah tubuh Cheryl, hingga gadis itu benar-benar sudah hilang kendali.
Arga mengangkat tubuh Cheryl, membiarkan sejoli dibawah sana menyatu. Lalu, membawa tubuh itu kedinding dan menghimpitnya. Menggali kenikmatan dari setiap tempo memabukan.
Sekeras apapun ingin meredam, nyatanya suara mereka lolos dan menggema memenuhi ruangan. Menikmati setiap irama yang mereka ciptakan.
**
Pagi sebelumnya ... Disebuah kamar hotel seorang pria bertubuh gempal tengah merapihkan penampilan. Rencananya ia akan kembali ketempat asalnya. Setelah selesai, ia bergegas hendak keluar. Namun, baru saja pintu terbuka, beberapa anggota polisi sudah menyambut di depan pintu.
"Saudara Alex Gunawan, anda kami tangkap atas dugaan kasus pembunuhan berencana!" tegas dari salah satu polisi seraya memperlihatkan surat penangkapan.
Sementara beberapa anggota lain menodongkan senjata. Seketika reflek Pak Alex mengangkat tangannya. "Nggak, Pak! Saya gak bersalah. Saya gak tau apapun," elaknya.
Anggota polisi dengan cepat memborgol tangan pria itu dibelakang tubuhnya. Pria itu terus memberontak dan menyatakan tidak bersalah.
"Anda bisa jelaskan nanti dikantor polisi."
"Saya gak bersalah lepasin! Ini cuma rencanya Tania. Saya gak tau apa-apa!" pak Alex terus berteriak dan memberontak meminta dilepaskan.
Hal itu tentu mengundang atensi para pengunjung hotel untuk melihat hal tersebut. Terlihat Key tengah duduk menyeruput kopi, dilobby. Pria itu menyeringai menatap pak Alex yang dibawa paksa.
Pak Alex yang melihat itu berdecih. Tentu, jika bukan karena Key, ia sudah berhasil kabur dari kemarin. "Cih! Dasar bocah kurang ajar!" gumamnya, menatap tajam Key yang tersenyum senang.
Polisi segera membawa tahanan mereka keluar dari hotel. Sementara Key terus menyunggingkan senyum kemenangan.
"Jadi itu tontonan kita?" tanya Al yang duduk didepan Key dengan wajah bingung.
Bagaiamana tidak? Tiba-tiba saja Key memintanya memesan kopi dan menikmati kopi tersebut di lobby bersama, untuk menonton sebuah pertunjukan. Dan ternyata sebuah pertunjukan penangkapan seorang tahanan yang tidak pria kalem itu ketahui.
"Mau nonton yang lebih besar?" bukan menjawab, Key justru balik bertanya dengan seringai.
"Ck! Hah~" Al berdecak menggelengkan kepala, tentu ia mengerti arah pembicaraan itu.
Flash back on~
Setelah mengecek ponsel Arga, Key megecek kamera cctv sekitar ballroom. Hingga ia menemukan seseroang yang ia curigai. Seorang pria diam-diam mengikuti langkah Arga dan Cheryl. Saat Arga memasuki kamar mandi, pria tersebut terlihat menghubungi seseorang. Dan orang tersebut adalah pak Alex.
Pak Alex memang salah satu klien yang pernah mendapat invesatasi dari perusahaan papa Shaka. Meski sudah tidak bekerja sama lagi, namun otomatis data pak Alex sudah masuk dan terdaftar menjadi tamu undangan papa Shaka.
Semua tamu undangan memang diharuskan menginap di hotel tersebut. Hingga seluruh hotel di boking khusus untuk keluarga dan para tamu selama dua malam. Malam sebelum hari-H dan malam setelah hari-H. Dan selama dua malam tersebut tidak ada yang diizinkan untuk chek out, kecuali untuk urusan mendesak.
"Tapi, saya harus segera kembali. Anak saya sakit, dan butuh kehadiran saya," pinta pak Alex beralasan pada resepsionis.
"Iya, Pak! Saya mengerti. Saya hanya menyuruh bapak menunggu sebentar untuk mendapat persetujuan dari pak Shaka," jelas resepsionis itu.
Pak Alex yang tak sabar hendak berlalu begitu saja. Namun, beberapa keamanan menghadang pria itu. "Astaga apa-apaan ini?" tanya pak Alex tak percaya.
Bagaimana mungkin seorang tamu, tidak bisa bebas dan terkesan tertekan? Namun, itulah peraturan yang dibuat papa Shaka dan papa Deril. Mereka sengaja merencanakan itu untuk berjaga, jika sesuatu terjadi. Mereka yang sudah mengetahui hubungan pak Alex dan Tania menjadi lebih waspada. Selain menempatkan beberapa ke amanan untuk melindungi seluruh anggota keluarga mereka, kedua pria itu juga memberikan peraturan ketat untuk para tamu.
"Hah~sial!" desis pak Alex yang kini duduk disofa. 'Apa rencana Tania berhasil? Kenapa dia belum menghubungiku?' tanyanya dalam hati dengan harap-harap cemas.
"Hai, pak Alex?" sapa Key mendekat.
Pak alex menatap sesorang yang sudah berada dihadapannya. Pria itu menaikan sebelah alis tak mengenal siapa pria muda tersebut. "Maaf, kamu mengenali saya?" tanyanya heran.
Key tersenyum ramah. "Tentu saja," balasnya. Kemudian ia duduk dan mendekatkan diri seraya berbisik. "Pemilik harta berharga," ucapnya menyeringai.
Namun, kembali pria itu menampilkan senyum ramahnya. Sontak pak Alex kaget, hanya pelanggan-pelanggan dengan nominal besarlah yang tau identitas tersebut. Tentu, pria itu berbinar senang dan merasa segan pada Key.
"Ah! Suatu kehormatan Tuan," ucapnya memberi hormat pada Key. "Kalo boleh saya tau, siapa nama anda?" tanyanya.
"Perkenalkan, nama saya Arkyano putra tunggal dari pemilik ZR Grup," ucap Key memperkenalkan diri.
Sontak pak Alex semakin membelakakkan mata. Tentu, ia sangat tau itu adalah salah satu Grup terbesar di Negri ini. Bahkan, tempat yang ia pijaki hnaya sebagian kecil dari milik Grup itu.
'Ini tambang emasku. Aku gak boleh menyia-nyiakan ini!' batin pak Alex. Otaknya yang sudah terpenuhi dengan uang, membuat ia lupa untuk kabur dari sana.
"Apa bisa anda membantu saya?" tanya Key.
"Ah! Tentu saja, Tuan. Suatu kehormatan untuk saya bisa membantu orang terpenting seperti anda," balas pak Alex antusias.
"Sebaiknya, kita bicarakan ini diruang tertutup. Anda tau sendiri 'kan bagaimana saya?" ajak Key.
"Oh tentu, dengan senang hati, Tuan!"
Key beranjak terlebih dahulu. Namun, ia tak kunjung berjalan dan memperhatikan apa yang dibawa pria itu. "Sepertinya anda sedang sibuk?" tanyanya.
"Ah, tidak! Tidak! Saya bisa menundanya untuk anda," Tidak ingin kehilangan pelanggan emasnya ia pun segera menyangkal.
"Oh, benarkah?" tanya Key dengan raut wajah tidak enak.
"Sungguh, Tuan. Kita bisa mengobrol sepuas Tuan," balas pak Alex meyakinkan.
"Baiklah!" Key pun melangkahkan kaki dan disusul pria itu setelah menitipkan koper miliknya pada resepsionis.
'Satu lalat hinggap tanpa harus dikejar!'
\*\*\*\*\*\*