
Arga membelakak mendengar ucapan pria yang kini mengukungnya. "Apa lu bilang? Lu jangan sembarangan kalo ngomong!" gerammya tak terima.
Key tersenyum sinis. "Gue bicara fakta. Dan gue bisa buktiin itu sama lu!"
Segera Key bangkit dari tubuh Arga dan berlalu menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Begitupun Arga, ia ikut bangkit dengan perasaan semakin kesal. Tentu ia tak percaya apa yang dikatakan Key padanya. Sementara Tania menyeringai dibalik air mata buayanya.
"Buktikan, Key! Buktikan! Setelah ini gue jamin, lu gak akan pernah bisa usik gue lagi," batin Tania tertawa puas.
Tentu ia tidak sebodoh itu. Setelah tau niat Key untuk menjebaknya, ia segera menghilangkan bukti yang dikirim Doni pada ponsel pria itu. Tak lupa ia juga menghubungi pak Alex untuk menutupi privasinya. Dan satu bom lagi yang akan membuat kedua saudara itu berperang hebat.
Terlihat Key mengotak atik ponselnya. Betapa terkejutnya ia setelah membaca chat yang terkirim pada nomor Tania. Matanya membola lebar, sejak kapan? Lalu, pria itu menatap tajam kearah Tania yang menyeringai padanya.
"Brengs*k!" gumamnya mengumpat.
Arga yang penasaran, segera merampas benda pipih itu dari tangan Key. Tak kalah terkejut dengan Key, Arga mencengkram kuat benda pipih itu setelah membaca sebuah chat dari benda itu.
[Segera ke hotel X. Ini darurat, Arga dalam masalah!]
Mata Arga menghunus tajam kearah Key. "Brengs*k lu!" umpatnya disertai satu pukulan keras.
"Beraninya lu nikung gue dari belakang, hah?" teriak Arga. "Saudara macam apa lu? Biad*b lu! Anj*ng!"
Segala umpatan dan sumpah serapah dilayangkan Arga pada Key. Bahkan pukulan bertubi-tubi dilayangkan pria itu untuk saudaranya. Seketika ikatan darah pun tak dapat meredam emosi Arga pada Key. Semakin Key diam dan menerima pukulan, semakin Arga yakin, jika sepupunya itu sudah mengkhianatinya dengan menjebak sang kekasih datang kesana. Padahal Key diam karena merasa percuma. Bukti yang ia inginkan tidak ada, bahkan ia sudah menebak apa yang sudah dilakukan wanita itu.
Beberapa petugas hotel datang setelah dapat laporan dari Tania, tentu ia tidak akan membiarkan semua terlalu berlarut. Segera mereka memisahkan kedua pria itu.
"Lepasin gue! Lepasin!" teriak Arga memberontak. "Manusia kayak dia, pantas mati!"
"Sini lu, lawan gue! Kalo emang lu pengen cewek gue, langkahin mayat gue!" tantangnya yang masih dirundung emosi membuncak.
"Udah, Yang! Udah, aku gak apa-apa," lirih Tania menenangkan Arga. Tentu dengan akting yang begitu meyakinkan.
"Lu denger baik-baik! Mulai sekarang, lu bukan saudara gue lagi. Dan sampai kapan pun, gue gak akan pernah maafin lu! Camkan itu," geram Arga dengan napas tersengal-sengal.
Lebih menyakitkan memang saat tau orang yang dicintai ditikung sudara sendiri. Key tidak menyangkal atau mengiyakan. Keadaan pria itu benar-benar terhimpit. Ia hanya pasrah dibenci saudaranya dan membiarkan orang yang begitu dekat dengannya pergi membawa luka yang tak pernah ia lakukan. Satu senyuman evil dilayangkan Tania ketika ia menoleh sebentar kearah Key. 'Sekarang lu tau 'kan siapa gue?' batin Tania.
Kemudian, wanita itu berlalu bersama Arga yang merangkulnya. Key hanya tersenyum kecut menatap kepergian keduanya.
"Semudah itukah lu mempercayai wanita, Ga? Bahkan lu gak percaya sama gue. Saudara lu sendiri!"
**
Plakkk!!!
Satu tamparan keras dilayangkan pada pipi Key. Ia hanya terpejam merasakan kebas dibagian pipi kirinya. Seorang wanita paruh baya menangis tersedu-sedu dirangkulan wanita disampingnya.
"Sabar, Bi. Kamu gak bisa kayak gini," bela papa Shaka menahan papa Abi yang mungkin akan kalaf.
Tentu Arga menceritakan semua yang terjadi pada sang uncle, papa Abi. Ia merasa sangat kecewa akan sikap Key yang sudah menikung dirinya. Sudah cukup, ia menutupi keburukan Key dari uncle dan onty nya selama ini. Kali ini, ia tidak bisa diam saja saat kekasih tercintanya kemungkinan akan menjadi wanita "mainan" saudaranya itu.
"Dia bahkan tidak pantas untuk dimaafkan!" ucap papa Abi dengan nada tegas dan dinginnya.
"Kalo benar pun dia salah. Kita wajib mengarahkannya, bukan hanya menghukumnya. Ingat, Bi! Kita juga pernah muda. Diusia seperti mereka banyak hal yang belum mereka mengerti," lanjutnya.
"Kenapa kamu lakuin ini, Key? Arga saudara kamu. Kenapa kamu bisa tega sama saudara kamu sendiri?" tanya mama Sena dengan isak tangis yang menyayat hati.
"Mama gak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat seperti itu sama perempuan. Kenapa kamu seperti itu ...." lanjutnya.
"Kamu memang tidak pernah mengajarkan apa-apa sam Key!" oma Ayra datang tiba-tiba dari luar. Ia merangkul cucunya yang menunduk tanpa sepatah kata pun dirungan itu.
"Ma ...." rengek mama Sena, tak terima jika putranya terus saja dimanjakan sang mama.
"Kenapa? Apa yang mama katakan itu benar. Kamu gak pernah ngajarin apa-apa sama, Key! Kamu dan kamu, Bi ..." tunjuk oma Ayra pada putri dan menatunya itu.
"Apa kalian gak sadar, selama ini kalian hanya sibuk dengan dunia kalian. Pernahkah kalian bertanya apa yang diinginkan putra kalian? Apa yang dibutuhkannya? Nggak!"
Mama Sena semakin terisak mendengar ucapan sang mama yang memang benar adanya. Begitupun Abi, dia hanya mengadah dengan mata terpejam. Mama Jingga yang tengah merangkul sang adik ipar ikut menitikan air mata.
"Jangan hanya menyalahkan Key, atas kesalahannya. Tanya terlebih dahulu pada diri kalian. Apa kalian sudah menjadi orang tua yang baik?" lanjut mama Ay dengan air mata yang membasahi pipinya.
Ia merangkul lengan sang cucu untuk keluar dari ruangan itu. Namun, suara papa Abi kembali menahan langkah mereka.
"Minta maaflah pada Kakakmu! Dan Mulai saat ini semua kartumu, papa blokir!" Pria dingin itu berlalu mendahului dari ruangan itu.
Key hanya terdiam pasrah. Hatinya begitu teriris mendengar ucapan dingin sang papa. Satu tetes keluar begitu saja dari ujung matanya.
**
Flashback off~
Cheryl terisak mendengar cerita Key. Ternyata Key memang tetaplah Key yang dulu. Key penyayang yang hanya diam saat semua orang tak mempercayainya.
"Cih! Lu nangis?" ledek Key terkekeh, seraya menyodorkan tisuue pada gadis itu.
"Ishh gue gak nangis" sangkal Cheryl meraih tissue itu untuk mengelap air mata dan ingusnya. "Cuma ... Siapa sih yang naruh bawang disini? Ya ampun, mata gue sampe sakit!"
Key tertawa dengan tingkah gadis itu. Sungguh kelakuan Cheryl mampu menetralkan dirinya yang hampir terbawa suasana. Lalu, ia menegak kembali minuman ditangannya.
"Jadi ... Apa sejak saat itu onty Sena berhenti kerja?" tanya Cheryl setelah kembali tenang.
Arga mengangguk mengiyakan. Memang setelah insiden itu, sang mama berhenti bekerja dan fokus memperhatikannya. Bahkan ia sampai sulit bergerak karena ke overprotektifan kedua orang tuanya. Tak ada lagi klub dan main-main dengan wanita. Terkecuali, di kampus. Sejak saat itu pula Arga mulai membuat benteng dengannya, karena ia tak mendapatkan bukti yang seharusnya.
"Hah~ gue gak nyangka, Tania selicik itu," kesal Cheryl disertai hembusan napas berat, masih merasa tak percaya dengan fakta mengenai Tania.
"Maka dari itu, gue butuh bantuan lu buat nyadarin Arga dan membalas perbuatan cewek iblis itu."
"Caranya?" tanya Cheryl menatap bingung ke arah Key. Pria itu, menatap balik sang gadis dengan seringai diujung bibirnya. Kemudian, membisikkan sesuatu ditelinga Cheryl.
\*\*\*\*\*\*
Kira-kira apa yaa rencana Key? Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘😘 moga besok bisa double up lagi🙏