
Mentari pagi menyinari, membangunkan seorang gadis dari tidur singkatnya. Bagaimana tidak? Sang suami tidak membiarkan ia istirahat barang sedikitpun. Disela break aktifitas mereka, bukan terlelap mereka justru bercerita tentang masalalu yang mereka lewati penuh permusuhan itu. Hingga kembali pada aktifitas panas itu sampai pagi menjelang.
Cheryl tersenyum menatap wajah tampan Arga yang masih terlelap itu. "Entah sejak kapan, aku begitu mengagumi wajah ini?" tanyanya pelan.
"Rasa aneh ini, kian hari kian jelas. Jika aku, memang mencintaimu!" lanjutnya membelai rahang tegas Arga.
Cup
Satu kecupan dalam dilayangkan Cheryl pada satu rahang suaminya itu. Hingga Arga membuka mata dan tersenyum. "Jadi ... Ngaku nih!" ledeknya.
Seketika Cheryl terlonjak, ia tidak mengira Arga akan segera bangun. Wajah gadis itu memerah dan hendak melengos karena merasa malu. Namun, dengan cepat Arga segera meraih pipi cantik itu untuk menatapnya. Hingga mata keduanya pun bertemu. Senyum mengembang tak juga surut dari bibir pria tampan itu.
"Makasih sudah mencintaiku. Aku berjanji akan membalasnya berkali-kali lipat! Bahkan, aku siap menyerahkan segalanya dalam hidupku hanya untukmu," ucap Arga.
Senyum mengembang terukir dari bibir manis gadis itu disertai semburat merah yang kian kentara di kedua pipinya. Arga mendaratkan kecupan di pucuk kepala sang gadis begitu dalam, yang diakhiri dengan pelukan hangat yang keduanya lakukan.
"Ga?"
"Hem?"
Cheryl mendongak menatap suaminya. "Aku mau mandi," rengeknya manja.
Arga tersenyum seraya mengusek rambut istrinya itu. "Mau mandi berjamaah?" godanya. Cheryl ikut tersenyum seraya menganggukan kepala semangat.
Keduanya bangkit, dengan tubuh sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Belum juga Cheryl meminta untuk digendong, namun Arga sudah terlebih dahulu menggendongnya. Canda tawa pun terdengar renyah dari pasangan pengantin baru yang memasuki kamar mandi itu.
"Uhhh!"
Seperti dugaan para readers, mandi berjamaah hanyalah sebuah dalih. Nyatanya, mereka mencari sensasi baru di bawah guyuran jutaan titik air yang membasahi tubuh mereka yang menempel sempurna.
Suara sexy mereka menggema silih bersahutan. Mereka sudah tidak memedulikan keadaan sekitar. Hanya mengapresiasikan rasa yang membucah dari diri keduanya. Berulang kali erangan Cheryl, bahkan tak membuat Arga berhenti. Semakin lama permainan, hasratnya kian sulit dikendalikan. Hingga ia tumbang, setelah Cheryl benar-benar tepar.
"Maafin aku!" sesal Arga menciumi punggung putih tersebut. Cheryl hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
Arga menggendong tubuh lemah Cheryl kedalam bathup. Lalu, mereka pun berendam bersama. Dengan telaten, Arga menggosok punggung Cheryl. Sesekali ia juga memijit bahu istrinya itu.
"Ga?" panggil Cheryl yang tengah bersandar didada bidang pria itu.
"Hem, ada apa?" tanya Arga megecup kepala gadis itu.
"Kita 'kan gak pake pengaman nih! Kalo seandainya aku hamil. Apa kamu siap?" tanya Cheryl mendongokan wajah, penasaran melihat raut wajah suaminya itu.
Arga tersenyum. Benar, ia belum berpikir sejauh itu. Jika mereka segera dikasih momongan bukan dirinya yang harus dikhawatirkan, melainkan Cheryl sendiri. Akankah istrinya itu siap?
"Bukan aku yang harus kamu tanya, tapi diri kamu sendiri. Apa kamu siap?" tanya balik Arga.
"Dan jika kamu bertanya pendapatku, apa aku siap? Jawabannya tentu saja. Sebelum kita melakukan ini aku sudah siap segalanya, bahkan untuk menjadi seorang ayah sekalipun," jelas Arga.
Cheryl tersenyum puas. Gadis itu semakin menyenderkan kepala didada bidang Arga. Menandakan jika ia begitu bahagia dan siap untuk menjadi ibu muda. Arga mengeratkan pelukan pada tubuh gadis itu.
'Sekarang aku sadar, cinta bukan hanya tentang memberi. Tapi, bagaiamana kita juga mendapatkan? Dan aku mendapatkannya darimu, Cheryl. Kasih sayang yang selama ini aku harapkan,' batin Arga.
**
"Ciee ... Manten senyum-senyum bae!" ledek Reysa, ketika Cheryl baru saja mendudukan diri disamping dirinya.
"Kelihatan banget, ya?" tanya Cheryl meraba-raba wajahnya.
"Ck! Ngeselin lu," kesal Cheryl. Tanpa permisi gadis itu menyerobot minuman dihadapan Reysa yang tentu itu miliknya.
"Eh, eh minuman gue!" cegat Reysa. "Ck! Lu mah, main serobot aja!" kesalnya.
Cheryl hanya cengengesan tanpa dosa. Reysa menggerutu, namun hanya sebentar. Dan hal itu tentu membuat Cheryl curiga. Sangat mustahil gadis itu kembali baik, setelah merebut makanan darinya.
"Kayaknya, lu juga lagi bahagia, nih?" selidik Cheryl penasaran. Tentu ia kepo dengan Reysa yang tiba-tiba terlihat berbeda hari ini.
Blush
Tiba-tiba saja wajah gadis itu berubah memerah. Dan hal itu semakin menguatkan dugaan Cheryl, jika ada sesuatu yang membuat gadis itu bahagia. Mungkinkah Reysa tengah jatuh cinta?
"Eh, bentar, bentar! Jangan bilang kalo lu lagi jatuh cinta, iya?" todong Cheryl. Reysa hanya tersenyum menanggapi dengan raut wajah malu-malu.
"Ciee ... Siapa sih?" goda Cheryl menyenggol bahu sahabatnya itu. "Cerita dong sama gue!"
Reysa masih enggan menanggapi, ia hanya tersenyum tak jelas. Ia menutup wajah bahkan mengipas-ngipasnya dengan tangan.
"Aaahh lu mah gitu. Bikin gue kepo tingkat dewa," rajuk Cheryl. "Cerita dong! Siapa-siapa?" tuntutnya menggoyang-goyangkan tangan Reysa.
"Ishhh, nggaklah malu gue," tolak Reysa mencoba mengelak.
"Ayolah, gue penasaran! Siapa cowoknya?" rengek Cheryl lagi. "Apa itu Key?" tebaknya.
"Isshh apaan, sembarangan? Dia bukan type gue. Buaya kayak gitu mana ada dalam kamus gue," protes Reysa tak terima.
Seketika Cheryl tergelak. Ia tau Reysa type perempuan pemilih dalam hal mencari pasangan. Seorang playboy seperti Key tidak akan ada didaftar kandidat calon pacarnya. Jangankan pacaran, dilirik saja tidak ada minat.
"Ya, makanya. Kasih tau gue dong!" pungkas Cheryl disela tawanya.
Reysa terdiam sejenak, lalu berdecak. "Tapi 'kan gue malu," gumamnya.
Cheryl menghentikan tawanya seraya merangkul bahu sahabatnya itu. "Lu pikir gue siapa? Berapa hari kita sahabatan?" tanyanya menaik turunkan alis.
Reysa terkekeh seraya mencubit salah satu pipi gadis itu. "Lu kaliin aja sepuluh tahun berapa hari?" kekehnya, hingga dibalas cebikan bibir oleh Cheryl.
"Jadi ceritanya gini ..." Reysa mulai memposisikan diri untuk sesi curhat. Cheryl pun, bersiap dan segera memasang telinganya baik-baik.
"Kemarin tuh, gue iseng aja chat dia. Gue kira gak bakal dibalas, eh ternyata! Tadi malam dibalas dong, ya, ampun!" jelas Reysa girang. "Ah, seneng banget gue, sumpah!" pekiknya.
Cheryl terdiam sejenak. "Bentar, ini siapa yang lu maksud?" tanyanya bingung.
"Ishh dasar lemot," Reysa menoyor pipi gadis itu. "Au ah, pikir aja sendiri!" kesalnya. Tentu menurut Reysa, ia tidak harus blak-blakan menyebutkan nama pria idamannya ditempat umum seperti itu.
Cheryl berdecak kesal. Hingga didetik berikutnya, ia pun menyadari sesuatu. Hanya satu orang yang membuat Reysa terpesona dari dulu.
"Astaga! Maksud lu, sepupu ipar gue?" tanya Cheryl dan hanya dibalas senyum malu gadis itu.
Namun, dengan terang-terangan Cheryl menyebutkan dengan lantang nama pria itu. Bahkan, terdengar sebuah pelikan keras. Hingga membuat Reysa menunduk malu, semalu-malunya.
"Jadi ... Lu jatuh cinta sama si kembar, Alzein?"
"Asyem lu!
\*\*\*\*\*\*