
**
"Bahkan semua orang gak ada yang melihat gue. Mereka hanya melihat Reysa. Lalu, apa hidup gue harus selalu dibalik bayangan Reysa?"
Seorang gadis tertunduk dengan bulir cairan bening yang berdesakan keluar dari ujung matanya. Angin kencang membuat rambut yang sudah ia gerai berterbangan tak tentu arah.
"Mami, Oma! Rayna rindu kalian ..." lirihnya.
Pluk!
Sebuah jas tiba-tiba tersampir dibahunya. Sontak gadis itu menoleh melihat siapa pelaku yang melakukan itu. Seorang pria tampan nan kalem tersenyum manis padanya.
"Menangislah! Jangan hiraukan aku!" titahnya. Lalu, pria itu menatap kedepan. Melihat gedung-gedung tinggi yang berjejer dari rooftop tersebut.
Satu sudut bibir Rayna tertarik sedikit, membentuk senyum samar-samar yang sama sekali tidak terlihat siapapun.
'Gue tau lu hanya kasihan sama gue, Al. Haruskah gue ngucapin makasih?' batin Rayna.
Gadis itu ikut menatap kedepan, mencoba menetralakn dirinya. Meraup banyak-banyak oksigen, dari hembusan angin yang begitu kencang dengan mata terpejam menikmati. Tanpa ia sadari, Al kembali memperhatikan Rayna dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
'Meski wajah itu sama. Entah kenapa, aku lebih suka memandang wajah ini?'
**
Sementara itu didalam ruangan luas, semua orang tengah menikmati pesta. Sepasang pengantin itu pun sama tengah menikmati makan siang mereka disalah satu meja khusus yang sudah disediakan.
"Pelan-pelan! Ntar kamu keselek," peringat Arga pada sang istri yang begitu rakus menyantap makananya.
"Abwis awku waper," balas Cheryl tak jelas dengan mulut penuh makanan.
Arga terkekeh mendapat jawaban itu. Memanglah sedari pagi perut mereka hanya terisi dua helai roti saja. Itu pun harus memakannya cepat diburu oleh waktu.
"Laper ya, semalam energinya terkuras?" ledek Arga, yang sukses membuat gadis itu tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
"Ya ampun, kamu tuh pelan-pelan!" Segera Arga menepuk pundak sang istri. Lalu, sebelah tangannya mengambil air minum dihadapannya. Segera Cheryl pun menegak air itu hingga tandas.
"Dibilangin dari tadi juga, ngeyel sih. Apa ku bilang keselek 'kan?" omel Arga tanpa dosa.
Cheryl menatap kesal pria yang harus ia akui suaminya itu. Padahal ia tersedak juga karena pria tersebut yang tiba-tiba membahas ranjang dengannya.
Plaakk!! Satu keplakan dilayangkan Cheryl pada lengan Arga.
"Aww!! Kenapa dipukul?" ringis Arga mengusap lengannya.
"Lagian kamu, kenapa malah bahas-bahas soal ranjang segala?" sungut Cheryl.
"Siapa yang bahas ranjang? Aku cuma bahas energi terkuras," balas Arga tak mau kalah.
"Itu kamu bahas gituan. Kalo kamunya gak terlalu kuat juga, energiku gak akan terkuras," kesal Cheryl.
Tanpa keduanya sadari suara mereka ternyata semakin keras. Hingga mengalihkan atensi beberapa orang yang berada didekat mereka. Belum sempat Arga menjawab, suara seseorang menghentikan perdebatan mereka.
"Cieee ... Sekarang ributnya masalah ranjang, ya?" goda oma Siska yang kebetulan berada dimeja tak jauh dari mereka.
"Iya bener. Ternyata perkara ranjang juga bisa bikin senam bibir toh," balas oma Feby yang duduk disamping oma Siska hingga kedua nenek itu tergelak.
Ternyata bukan kedua oma itu saja yang mendengar percakapan mereka. Oma-oma yang lain juga ikut mendengar, hingga ikut tertawa menggoda.
"Astaga, memalukan sekali!" cicit Cheryl dengan wajah memerah.
Bukan hanya Cheryl, Arga pun menunduk dengan wajah sama memerah. Ia tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuknya.
"Pindah tempat yuk!" ajak Cheryl berbisik.
"Kemana?" tanya Arga ikut berbisik.
"Kemana aja asal jangan disini, malu," balas Cheryl masih berbisik.
"Balik ke pelaminan?"
"Jangan, banyak orang ntar diledekin lagi!"
"Mau yang sepi?" tanya Arga dan diangguki Cheryl. Kemudian, pria itu tiba-tiba menyeringai, lalu membisikan sesuatu.
"Kalo gitu kita ke kamar aja, gimana?" godanya menaik turunkan alis.
Cheryl berdecak, namun didetik berikutnya gadis itu justru tersenyum. "Boleh deh, ayo!" ajaknya menyeret lengan suaminya.
Arga terkekeh, padahal ia hanya menggoda. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan itu. Segera ia mengandeng tangan sang istri, saat oma-oma itu tengah lengah. Mereka segera berlalu dari sana tanpa ada seorang pun yang tau.
"Kamu mau tunggu disini atau ke atas terlebih dulu? Aku ke toilet sebentar," tawar Arga yang sudah tidak sanggup menahan hajatnya.
"Emm, aku tunggu dikamar aja deh. Kakiku udah pegel," balas Cheryl.
"Oke, gak akan lama sepuluh menit," pamit Arga sambil ngibrit ketoilet saat mereka sudah berada didepan lift. Sesuai rencana Cheryl pun memasuki kotak besi itu menuju kamarnya.
"Ahhh! Akhirnya ... Kakiku benar-benar pegel banget," gerutu Cheryl mendudukkan tubuh ditepi ranjang, seraya membuka heelsnya.
Gadis itu melihat tumitnya yang ternyata sedikit terluka. "Kayaknya, malam ini aku gak bisa pake heels ini. Pake sandal aja kali ya," kekehnya bermonolog sendiri.
Ditengah Cheryl yang memeriksa lukanya, tiba-tiba saja suara notif dari aplikasi hijau mengalihkan atensinya. Ia pun meraih benda pipih itu dari atas nakas. Lalu, membuka layar itu untuk mengecek isi chat tersebut.
"Arga?" tanya Cheryl heran.
[Aku tunggu di tepi pantai, ada sesuatu yang mau aku tunjukan padamu!]
Cheryl tersenyum membaca isi chat yang ternyata dari suaminya itu. "Apaan sih dia? Mau tunjukin apa coba?" tanyanya bermonolog sendiri.
"Kenapa juga dipantai?" tanyanya lagi bingung. Terlihat gadis itu sempat ragu menimang, akan pergi atau tidak.
"Ah, aku penasaran. Sebaiknya aku lihat, apa yang mau dia tunjukin!"
Cheryl memutuskan untuk melihat apa yang ingin Arga tunjukan. Gadis itu berharap suaminya akan memberikan ia kejutan. Ia pun benar-benar mengganti heelsnya dengan sandal kamar. Tanpa mengganti dressnya terlebih dahulu, ia bergegas keluar kamar dan memasuki lift.
Tak berselang lama ia sampai di loby. Lalu, segera ia berlenggang keluar dari gedung tinggi itu. Tepat saat itu, Arga masuk ke dalam lift dan hendak menyusul sang istri ke kamar mereka.
Jarak yang cukup jauh untuk sampai dipantai, membuat ia menghela napas. Apalagi waktu masih cukup panas untuk berjalan dibawah sinar matahari. Namun, ia tidak ada pilihan lain. Ia pun berjalan menyebrangi jalan untuk sampai di tempat tujuan. Merasa jalanan sepi ia pun menyebrang tanpa melihat kanan kiri. Hingga ia sudah sampai ditengah jalan, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melesat begitu saja.
"Aaaa!!!"
Braaakkkk!!!
******