My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
I'm a Girl Not Yet A Woman



Nord Anglia School Dubai


Garvita tiba di sekolah barunya dengan kawalan Gabriel, sedangkan si kembar dikawal oleh Tamerine dan suaminya Ammar. Mendengar bahwa kakak sepupu si kembar pindah ke sekolah yang sama, mereka berharap agar si kembar lebih kalem.


"Nona Garvita, selamat belajar di tempat baru" ucap Gabriel sopan.


"Thanks Gabriel" jawab Garvita sambil mengambil tasnya dari kursi belakang mobil. Pagi ini memang si kembar dan Garvita berangkat sendiri - sendiri.


"Saya akan menunggu anda disini. Oh, pesan dari tuan Schumacher, jangan bertengkar di hari pertama."


Garvita menatap judes ke pengawalnya yang hanya tersenyum manis.


"Kamu kira kalau begitu, kamu cakep gitu? B aja, Gab!" Garvita turun dari mobil dan mengambil tasnya lalu menutup pintu mobil. Gadis itu langsung menghampiri kedua sepupunya meninggalkan pengawalnya yang hanya menggelengkan kepala mendapatkan perlakuan judes dari nonanya.


Gabriel turun dan menghampiri dua pengawal si kembar. "Apakah nona Garvita selalu jutek seperti itu?" tanyanya ke Ammar yang pagi itu mengenakan baju gamis putih dan qafaye sedangkan Tamerine memakai baju hitam-hitam hingga ke hijabnya.


"Oh ya. Nona Garvita memang jutek anaknya tapi baik kok. Boleh dibilang terkadang jauh lebih dewasa pola pikirnya tapi kalau sudah keluar manjanya, siap-siap saja, Gab" kekeh Tamerine. "Aku sudah mengawal nona sejak usia 12 tahun."


"Pesanku, banyak lah tabah menghadapi nona Garvita. She's a nice princess hanya saja karena dia bungsu dan dulu sering dimanja oleh nona Zinnia jadi begitu deh..." senyum Ammar.


"Nona Zinnia itu baik banget dan aku senang dengan dia akan menikah sebentar lagi" sahut Tamerine dengan wajah berbinar.


"Siapakah calon suami nona Zinnia?"


"Pangeran Sean dari Belgia. Kabarnya mereka sudah bertemu waktu kecil tapi karena jodoh, besar bertemu lagi."


Gabriel mengangguk mengingat bagaimana dulu dirinya sempat bertemu dengan Zinnia, gadis dengan kecantikan yang mampu membuat semua pria terpesona. Kalau akhirnya seorang pangeran berhasil menaklukkan hatinya, tidaklah heran. Zinnia memang pantas mendapatkan pria yang selevel dengan dirinya.


Ketiga pengawal itu pun memilih menuju ke sebuah rumah makan cepat saji dimana banyak para pengawal murid-murid lain juga menunggu disana.


***


Menjelang sore, para siswa pun mulai keluar dari kelas masing-masing dan tampak Garvita berjalan bersama dengan kedua sepupunya dengan wajah gembira. Gabriel tahu hanya tinggal dua bulan lagi nonanya ujian akhir sekolah dan besok Juli sudah masuk High School.


Tadi para pengawal sudah mendapatkan informasi kalau bulan Agustus besok, akan diadakan pesta pernikahan antara Zinnia dan Sean di Dubai. Alasannya karena pada bulan Juni sudah ada pesta pernikahan kakak Sean, yaitu pangeran Stefanus dan putri Natalie.


Gabriel tampak mengerenyitkan dahinya karena persiapan untuk semua para pengawal sudah harus dimulai jauh-jauh hari karena posisi disini adalah bukan pernikahan biasa melainkan pernikahan antar negara dan kerajaan.


"Kamu kenapa?" tanya Garvita saat melihat pengawalnya tampak serius.


"Kakak anda akan menikah besok Agustus."


"Mbak Zee jadi nikah sama Bang Sean? Alhamdulillah" senyum Garvita.


"Kita langsung pulang, nona?"


"Tidak. Aku ada jadwal latihan memanah sore ini." Garvita pun masuk ke dalam mobil setelah Gabriel membukakan pintunya.


"Saya diberitahu kan dimana lokasinya karena baru pertama kali."


Garvita menoleh ke pengawalnya yang menatapnya lembut. "Kamu tidak tahu tempat aku latihan memanah? Kok bisa pengawal aku tidak tahu tentang aku?"



Gabriel memasang wajah datar. "Kalau saya mencari tahu, berarti hingga sekecil-kecilnya pun saya harus tahu."


"Apa maksudmu dengan sekecil-kecilnya?" Garvita menyipitkan matanya.


"Well, karena nona menjadi tanggung jawab saya selama menjadi kawalan saya, berarti hingga ukuran baju dan celana anda, saya harus tahu selain kebiasaan dan tempat-tempat latihan dan favorit anda."


Garvita melongo. "Kenapa harus sampai ke baju dan celana aku?"


"Kan tadi saya sudah bilang, sekecil-kecilnya."


Wajah Garvita memerah menahan amarah. Berarti hingga pakaian pribadi aku?


BUGH!


"Aduh! Nona!" seru Gabriel yang terkejut mendapatkan pukulan di bahunya.


"Kamu itu!" bentak Garvita kesal. Dengan cekatan gadis itu memasukkan alamat di GPS monitor mobil. "Ikuti map ini!"


"Baik Nona" jawab Gabriel patuh dengan sedikit menarik bibirnya melihat nonanya merajuk.


Tapi memang aku akan mencari tahu semua tentang kamu hingga detail.


***


Gabriel melihat bagaimana Garvita dengan serius melakukan latihan memanah dan pengawalnya itu pun mengakui teknik memanah nona judesnya memang bagus.


Garvita sangat persisi dalam memanah dan dari sepuluh anak panah yang dilepaskan, hanya satu yang menyasar di poin delapan sedangkan sembilan sisanya tepat di tengah-tengah dan sepuluh poin disana.


Garvita menghabiskan dua puluh anak panah dan di ronde kedua, semuanya berada di tengah kertas target.


Usai memanah, Garvita memutuskan mandi di arena Memanah yang memang menyediakan tempat mandi bagi para atlet.


"Haaaaahhh capek!" ucapnya sambil menggerakkan bahu nya yang terasa pegal karena harus menarik busur panah.


"Kita kemana lagi nona?" tanya Gabriel setelah Garvita selesai mandi dan berpakaian rapi. Ternyata ini alasannya di bagasi belakang terdapat busur lipat dan duffle bag Louis Vuitton. Gabriel langsung membawakan tas berisikan busur panah dan duffle bag.


"Burger King! Kita kan melewati nanti."


"Dine in atau Drive through?"


"Enaknya?" Garvita menatap pengawalnya.


"Kalau drive through lebih cepat bisa dimakan sambil perjalanan pulang" jawab Gabriel "Tapi kalau Dine in, paling tidak makan satu jam baru pulang."


"Aku sih ingin cepat pulang" gumam Garvita sambil memperhatikan Gabriel memasukkan busur panah dan duffle bag miliknya.


Gabriel lalu menutup pintu bagasi mobil mewah milik keluarga Schumacher. "Drive through kalau begitu. Okay nona?"


"Oke."


Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan menuju Drive through burger king yang memang lokasinya mereka lewati saat perjalanan pulang.


Sesampainya di Drive through Burger King, Garvita langsung memesan tiga cheese burger, tiga coke, dan satu Hershey Sunday pie.


"Kenapa kamu pesan tiga, nona Garvita?" tanya Gabriel penasaran.


"Satu, aku bisa kurang makan satu burger dan satu coke. Jadi aku pesan dua untuk aku sendiri. Satu lagi buat kamu. Oh, Sunday pie nya punya aku."


"Anda kan memang penggemar coklat."


"Exactly!" sahut Garvita sambil membuka cheeseburger nya.


Gabriel melirik ke arah nonanya yang tampak asyik memakan cheeseburger nya.


"Apakah nona ada acara latihan bela diri yang lain? Sebab kata Gas... tuan Gasendra, anda dan si kembar juga ikut bela diri judo. Eh, tuan Ken ambil taekwondo" ucap Gabriel.


"Apa kakakku memintanya memanggil dirinya nama saja?"


Gabriel hanya mengangguk sembari mengusap rambutnya.


"Hah! Mas Sendra memang suka begitu. So, bagaimana kamu bisa bertemu dengan mas Sendra?"


"Apakah anda ingin tahu, nona?"


"Aku harus tahu latar belakang kamu yang sebenarnya! Aku bukan papa atau mas Sendra yang bisa percaya begitu saja." Garvita mendekati wajah tampan Gabriel. "Ceritakan apa adanya sebab kalau tidak, aku bisa membuatmu tidak menjadi pengawal ku!"


Gabriel berusaha menahan degup jantungnya yang berantakan karena nafas Garvita terasa di pipinya dan meskipun bau burger, entah kenapa membuat dirinya berdebar kencang.


"Nona..."


"Ya?"


"Tampaknya anda terlalu dekat dengan wajah saya."


Garvita menarik wajahnya. "Oh jangan bilang kamu belum pernah dekat dengan seorang wanita" gelak Garvita. "Aku bukan wanita, Gabriel. I'm a girl not yet a woman. Dan kamu bukan tipe aku!"


Gabriel hanya mengangguk karena tidak tahu harus berbuat apa dengan nona ajaibnya ini.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️