
Istana Al Jordan
Ayrton menatap garang ke arah putri bungsunya yang sudah membuat gegeran dengan menghajar cucu pangeran Qatar yang juga rekan bisnis AJ Corp. Terkadang Ayrton merutuki kebar-baran ibunya yang mendarah daging di dua cucunya itu.
Daddy kalem, aku kalem, mommy brutal. Payah! Ayrton pun menatap galak ke Tamerine yang bertugas mengawal Garvita.
"Tam! Kenapa kamu tidak mencegah perkelahian itu?"
"Maafkan saya tuan Emir. Tapi jika saat makan siang, saya tidak diijinkan masuk dan saya memang berjaga di luar."
Ayrton mengusap wajahnya kasar. Ya memang pengawal pribadi tidak boleh masuk ke area internal sekolah.
"Ya sudah Tamerine, kamu kembali ke paviliun, beristirahat disana."
Wanita berusia tiga puluhan itu pun keluar dari ruang kerja Ayrton dan tak lama Mariana pun masuk ke dalam.
"Garvita, mama tahu kamu paling tidak suka ada orang yang nggak taat peraturan tapi apa kamu tidak bisa menolerir sedikit saja?"
"Ma, ini sudah kesekian kalinya. Garvita kesal karena si kutu kupret itu tidak punya sopan santun! Garvita tidak peduli dia anak raja sekalipun, kalau memang attitude nya bobrok ya bobrok saja!"
"Iya tapi tidak perlu kamu bogem terus kamu kasih tendang ke ulu hati dong..." ucap Ayrton.
"Pasalnya sudah kebangetan pa. Makan siang Garvita sampai jatuh dan jatah Garvita nggak ada lagi. Salah siapa bikin aku cranky kelaparan!"
Ayrton dan Mariana hanya bisa menghela nafas panjang. Satu sisi memang jatah makan siang di sekolah Garvita satu orang satu karena sudah dihitung per porsinya jadi kalau jatuh seperti kasus putrinya, dia tidak mendapatkan jatah lagi. Sisi lain tidak salah kalau putrinya ngamuk karena menurut laporan kepala sekolah serta berdasarkan informasi CCTV kantin, memang remaja bernama Zayyan itu sering mengganggu Garvita setiap di kantin padahal mereka tidak sekelas. Tapi tetap saja tidak dibenarkan untuk menghajar nya.
"Kayaknya kamu harus minta maaf sama Zayyan, Garvita..." ucap Mariana lembut.
"No way mama! Garvita tidak mau memaafkan! Dia memang pantas mendapatkan! Hukum tabur tuai! Dia yang bikin aku kelaparan, jadi harus mendapatkan akibatnya!"
Ayrton hanya bisa memegang pangkal hidungnya. Duh!
***
Gasendra dan Gabriel baru saja pulang dari dari sekolah, bingung melihat si kembar duo K memasang wajah kepo ke arah ruang kerja Ayrton.
Di Istana sendiri, ruang kerja Ayrton dan Enzo memang sendiri - sendiri untuk mempermudah pekerjaan mereka karena divisi yang dipegang pun berbeda.
"Kalian kenapa?" tanya Gasendra ke Kalila dan Ken.
"Mbak Gar dimarahi Oom Ay" jawab Ken.
"Lho kenapa?"
"Tadi berantem di sekolah" timpal Kalila.
Gasendra melongo. "Kok bisa?" Remaja jangkung itu melihat Tamerine lewat bersama dengan pengawal perempuan lainnya lalu memanggil pengawal adiknya itu.
"Iya tuan muda?" tanya Tamerine.
"Tam, ada apa di sekolah tadi? Kenapa Garvita berkelahi?"
Tamerine menunduk. "Nona Garvita tadi hendak makan siang di ruang makan sekolah seperti biasa tapi saat membawa nampan, pangeran Zayyan sengaja menyerobot barisan membuat nampan berisi makanan yang dipegang nona Garvita terjatuh. Pangeran Zayyan hanya menertawakan kejadian itu dan tuan muda tahu sendiri kan kalau jatuh berarti..."
"Tidak ada jatah makan lagi." Gasendra memotong ucapan Tamerine.
"Benar tuan muda. Dan nona Garvita marah karena saya tahu dia habis berolahraga jadi lapar meskipun sudah membawa sandwich dari rumah, kan masih kurang."
"Pangeran Zayyan itu..."
"Cucu pangeran Yassar dari Qatar."
Gasendra menepuk jidatnya sedangkan Gabriel hanya bisa tersenyum dalam hati. Bar-bar juga tuan putri satu itu.
"Lalu?" Kali ini Kalila yang kepo.
"Kata guru disana, nona Garvita langsung mencengkeram baju pangeran Zayyan dan meminta jatah makan pangeran itu buat nona. Tapi pangeran itu malah semakin tertawa mengejek dan nona Garvita marah. Nona langsung memukul wajah pangeran Zayyan dan menendang perutnya dengan lututnya hingga pangeran Zayyan tersungkur."
Kalila langsung bertepuk tangan. "Sukur! Kapokmu kapan!" seru ABG itu.
"Papa Mama dipanggil ke sekolah?" tanya Gasendra mengacuhkan kehebohan adik sepupunya.
"Iya tuan muda."
"Terimakasih tuan muda. Saya permisi. Tuan Ken, nona Kalila." Tamerine pun meninggalkan keempat orang disana.
"Aku yakin, pasti si Zayyan lagi merenungi nasib kenapa bisa kena hajar Mbak Vita" celetuk Kalila.
"Apa dibawa ke rumah sakit?" tanya Ken.
"Harusnya! Mengingat mbak Vita kalau sudah mukul samsak benar-benar niat. Tangan, lutut dan kaki maju semua. Kamu tahu sendiri kan Ken. Beruntung cuma dikasih cium dengkul dan bogem, belum dibanting" gelak Kalila durjana.
Gasendra pun menuju ruang kerja ayahnya lalu mengetuk pintu kokoh itu lalu membukanya.
"Sudah pulang kamu nak?" sapa Mariana sambil menyambut anak lelakinya.
"Sudah ma." Gasendra melihat adiknya masih posisi kena sidang. "Dengkul ( lutut ) kamu gimana?"
"Baik-baik saja, mas."
"Apa Zayyan masuk rumah sakit?" tanya Gasendra ke ayahnya.
"Katanya dan papa meminta Garvita menjenguknya tapi adikmu tidak mau."
"Lagian kalau aku menjenguk dan harus minta maaf, sorry dorry Morry, aku tidak mau! Kejadian itu bukan aku yang mulai!" eyel Garvita. "Aku sudah cukup sabar mas tapi tadi memang keterlaluan! Aku sudah lapar malah dia membuat aku harus kehilangan jatah makan siang ku!"
"Mas tahu dik tapi kamu sudah membuat anak orang masuk rumah sakit."
"Bodo! Memangnya aku tidak bisa melawan mas! Dia yang mulai jadi dia yang harus mendapatkan akibatnya!" ucap Garvita keras kepala.
Gasendra menatap Ayrton. Kalau sudah ngeyel begini, plek Opa Senna, Oma Fatimah dan Oma Sabine! Gasendra tahu bagaimana sifat Opa buyut Senna-nya dari banyak video rumah yang tersimpan rapi di data kerajaan.
"Kalau begitu... Sendra, panggil Gabriel." Ayrton menyuruh putranya memanggil pengawal nya.
"Papa mau ngapain?" Garvita memicingkan matanya dan menatap ayahnya dengan tatapan curiga.
Gasendra lalu memanggil Gabriel yang masuk ke dalam ruang kerja.
"Tutup pintunya, Sendra."
Gabriel mengangguk hormat kepada Ayrton, Mariana dan Garvita.
"Selamat sore tuanku, nyonya, nona Garvita" sapa Gabriel.
"Sore Gab. Gimana hari pertama menjadi pengawal Gasendra?"
"Aman tuanku."
"Begini Gab. Kamu pasti sudah mendengar kalau Garvita mendapatkan masalah di sekolahnya meskipun tidak 100% kesalahan dirinya tapi situasi yang membuat dia muntab. So, mulai Senin depan, kamu jadi pengawalnya Garvita!" putus Ayrton yang mendapatkan protes dari putrinya.
"PA! Kenapa harus diganti dia sih! Sudahlah sama Tamerine saja! Biar Gabriel bersama mas Sendra!"
"Karena kamu sering menyusahkan Tamerine!" ucap Mariana dingin.
"Terus kalau Gabriel jadi pengawal aku, memangnya terjamin aku tidak menyusahkan dia? Hohoho, aku akan lebih menyusahkan!" ucap Garvita judes.
"Gabriel, kamu sanggup kan dengan tugas baru ini? Bisa tahan banting kan dengan putri manja saya?" Ayrton mengacuhkan Omelan putrinya.
"Insyaallah tuanku. Bukankah di klausal saya harus siap menjaga siapa saja anggota keluarga Al Jordan."
"Good. Sendra, kamu tidak apa kembali dikawal Thoriq? Biar Tamerine mengawal Kalila dan Ken." Ayrton menatap putranya yang tersenyum geli melihat wajah kusut adiknya.
"Tidak masalah!" seringainya.
Garvita menatap judes ke kakaknya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️