My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Kita Adrenalin Junkie



Hangar Giandra JFK Airport New York


Marisol menunggu kedatangan Nelson yang akan ikut dengan mereka ke Dubai. Pesawat milik keluarga Al Jordan sudah siap disana bahkan empat mantan rekan Pedro Pascal ikut mengawal keempat oknum agen federal yang sekarang diborgol ketat bahkan di pergelangan kaki mereka dipasang gelang GPS dan tanpa sepengetahuan keempat orang itu, GPS pun dimasukkan ke dalam tubuh mereka.


"Dimana sih pengacara abal-abal itu? Beneran deh! Aku hajar karena tidak on time!" omel Marisol sambil menghentakkan kakinya pertanda kesal membuat Omar Zidane tersenyum ke jaksa penuntut umum itu.


Tak lama Nelson datang bersama dengan Nadya membuat kedua orang yang menunggu melongo melihat dandanan kakak beradik yang santai itu.



Si pengacara abal-abal kata Marisol



Adiknya yang nebeng..?


"Kalian ngapain resmi banget pakai jas dan blazer? Ke Dubai saja kok!" kekeh Nelson ke Marisol dan Omar yang menatap judes ke putra sulung Travis Blair itu. "Yuk berangkat!"


Nadya tersenyum ke arah dua orang yang tampak sebal dengan kakaknya, sedangkan obyek bikin bete sudah masuk ke dalam pesawat milik keluarganya.


"Kok kamu ikut Nad?" tanya Omar yang setahunya tidak ada jadwal ke Dubai.


"Aku kangen si tukang ngebut" cengir Nadya.


"Radhi Blair? Pembalap F1 itu?" Omar menepuk jidatnya. Aku lupa keluarga Blair itu tidak hanya keluarga pengusaha tapi juga menjarah bidang lain di luar bisnis.


"Yup! Yuk berangkat!" Nadya berjalan mendahului Omar dengan kaki jenjangnya.


***


Dalam pesawat Al Jordan.


Marisol menatap Nelson dengan amarah yang tidak bisa ditutupi melihat perjalanan mereka yang membutuhkan waktu 12 jam, 6 jam terakhir pria itu memberikan obat tidur ke keempat mantan agen federal itu karena terlibat pertengkaran dengan Omar di dalam pesawat.


"Daripada berisik Mari, lebih tenang begini kan?" seringai Nelson membuat gadis berambut pendek itu ingin menghajar wajah menyebalkan cicit dari Stephen Blair.


Nadya hanya mengacuhkan keributan kakaknya dan musuh di pengadilan, memilih berchatting dengan Raine Blair. Wajah Nadya tampak sumringah karena kembaran Raine, Radhi, sudah berada di Dubai untuk liburan sejenak.


Diam-diam Omar melirik ke arah gadis berambut panjang yang sedang cekikikan membaca pesan di ponselnya. Leia, adikmu kenapa tidak ada yang jelek sih?!


***


London Inggris


Kepulangan Gabriel dan Garvita disambut hangat oleh Eagle, Arjuna, Sekar, Aidan dan Thara. Para opa dan Oma bersyukur pengawal cucu mereka selamat dan tidak mengalami accident apapun.


Kini mereka semua ada di rumah bata milik keluarga McCloud sambil mendengarkan cerita Gabriel selama dia kabur dari London.


"Jadi si Bayu beneran pakai senjata yang dirancang oleh Shinichi dan GM?" tanya Arjuna.


"Benar Mr McCloud. Dan..." Gabriel tampak antusias. "It was awesome!"


"Jadi itu peluru bisa belok mencari target?" tanya Aidan.


"Benar Mr Blair."


Aidan menoleh ke Arjuna. "Junjun, kenapa jaman kita obrak Abrik Dubai, senjata itu belum ada ya? Masih pakai baby nya Sabine pulak" kekeh Aidan membuat Sekar dan Thara mendelik. ( Baca My Cold Chef chapter Sabine the Sniper dan Hutangku Lunas ).


"Iya ya.. tapi kurang seru ah Ai. Seru kita frontal" cengir Arjuna.


"Ah cerita kalian yang itu seru!" celetuk Garvita yang diceritakan oleh Omanya sendiri. "Tapi sampai sekarang Opa tidak mau memberitahukan dimana disimpannya itu baby."


"Opamu khawatir kalau Oma Sabine gatal bermain dengan si baby" senyum Aidan.


"Dan hari ini kabarnya Nelson mengawal ekstradisi keempat orang itu?" tanya Thara.


"Iya Oma. Mas Nelson yang mengawal bersama dengan teman-teman FBI nya bang Pedro."


"Semoga tidak ada kejadian aneh-aneh lagi deh!" doa Sekar.


"Aamiin."


***


"Apa Gabriel?"


"Maafkan saya. Gara-gara saya pergi, anda menggantikan saya menjaga Gar... eh nona Garvita sampai hampir kena tembak."


Eagle tersenyum. "It's okay. Jujur aku sudah lama tidak mengalami adrenalin seperti itu karena terakhir adalah saat di Kensington Palace Inggris. ( Baca The Prince and I chapter Kensington Palace )."


"Kalian itu semua adrenalin junkie" ucap Gabriel.


"Apakah kamu tidak? Bukankah menyenangkan bisa mematikan musuh yang sudah membuat kita gemas?" kerling Eagle. "Oh come on Gabriel, bilang kamu sangat menikmati saat mengintai, membuntuti dan menghajar orang itu sendiri kan?"


Gabriel mengusap tengkuknya tanda dia memang menyukai acara yang membuat adrenalin nya terpompa.


"So, kalian sekarang kembalilah rutinitas seperti biasa. Lagipula, Kartel tidak akan mengganggu kita karena kita tidak urusan dengan bisnis mereka. Kita kan hanya menangkap pelaku pembunuhan kedua orang tua kamu, Gab."


Gabriel mengangguk. "Saya sangat berterimakasih atas bantuan kalian semua, Mr McCloud."


Eagle menepuk bahu Gabriel. "Hei, kami membantu kamu juga karena ingin melihat Garvita tenang. Apa kamu tahu setiap hari pulang kuliah, anak itu datang ke ruang gym dan menghajar samsak sambil memaki-maki dirimu?"


Gabriel terkekeh. "Sangat khas Garvita..." gumamnya tanpa sadar.


"You're right. Sangat khas Garvita. Jadi Gab, karena kamu sudah pacaran dengan adikku, panggil kami semua nama saja yang seumuran denganmu. Tidak masalah! Gasendra pun lebih suka dipanggil nama kan?" Mata biru Eagle menatap Gabriel serius.


"Baik tu... Eagle."


"Good. So, gimana rasanya rambutmu kena potong gunting rumput?" goda Eagle yang membuat Gabriel manyun.


"Brutal!"


Eagle terbahak.


***


Dubai International Airport


Pesawat pribadi milik istana Al Jordan mendarat mulus di runway dan langsung menuju hangar milik keluarga Al Jordan. Disana para petugas kepolisian dan kejaksaan sudah siap untuk membawa keempat pelaku pembunuhan. Jaksa penuntut umum Dubai bertemu dengan Marisol Braga yang didampingi oleh Nelson Blair sebagai pengacara Gabriel Luna.


Tanpa diduga Emir Ayrton Schumacher berada di sana bersama dengan Emir Direndra Blair membuat Nadya langsung menghampiri kedua Oomnya.


"Oom Ay, Oom Rendra" sapa gadis cantik itu.


"Nadya? Kok jadi ikut?" tanya Direndra bingung.


"Kangen anak Dubai lah!" senyum Nadya sambil Salim ke kedua Oomnya.


"Dasar!" kekeh Ayrton.


Usai acara serah terima tahanan, Keempat oknum eks agen federal itu pun dimasukkan ke dalam mobil tahanan untuk dibawa ke tahanan sementara sembari menunggu jadwal sidang lusa.


Nelson menghampiri kedua Oomnya yang mengawasi proses penyerahan tahanan dengan wajah sumringah.


"Oom Ayrton! Oom Direndra!" ucap Nelson sambil memeluk keduanya erat.


"Sudah selesai kan urusan birokrasi nya?" tanya Ayrton.


"Sudah Oom. Oh perkenalkan ini pasukan yang mengawal keempat kutu kupret itu." Nelson memperkenalkan Marisol Braga, Omar Zidane dan keempat anggota taktis FBI yang merupakan mantan rekan Pedro Pascal.


"Yuk kita semua pulang. Nadya, kamu ikut Oom Ayrton atau Oom Rendra?" tanya Ayrton.


"Oom Rendra lah! Aku tadi sudah janjian sama Raine, Radhi dan Damian" jawab Nadya antusias sambil menyeret kopernya.


Omar hanya menatap gadis itu yang berjalan bersama dengan Direndra Blair.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️