My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Rencana Ekstradisi



Ruang Kerja Isobel de Garza.


Marisol dan Gabriel dengan didampingi Nelson mulai memeriksa berkas-berkas yang tebalnya bisa untuk mengganjal meja.


Melihat mereka sedang sibuk, Omar menggamit lengan Nadya untuk keluar ruangan. Nadya sendiri mengerti dan keduanya duduk di sebuah kursi panjang depan ruang kerja Isobel.


"So, kamu akan ikut mengawal ke Dubai, OZ?" tanya Nadya.


"Mungkin. Kenapa?" Omar menoleh kearah gadis cantik itu.


"Pengen ikut tapi sepertinya tidak bisa."


"Kenapa tidak bisa?"


"Hello, Omar Zidane... Aku kan harus memenuhi kredit untuk memenuhi lisensi pengacara aku meskipun aku sudah resmi. Tapi kan jam terbang aku harus banyak."


"Apa kamu akan di New York basisnya?"


"Nope. New York sudah dipegang Oom Steven Hamilton dan mas Nelson. Aku mungkin akan di Jakarta di kantor Opaku."


"Bukankah Blair and Blair Advocate ada di banyak negara? Kenapa ke Jakarta? Kenapa tidak disini saja?" Omar menatap gadis cantik itu.


"Aku bosan hawa dingin New York. Siapa tahu aku semakin eksotis dengan hawa tropis?" kerling Nadya yang membuat Omar berdesir karena mengingatkan dengan Leia.


Omar, Leia sudah menikah! Janganlah kamu ingat-ingat lagi. Leia sudah bahagia dengan Dante.


"Wooii, Omar? OZ? Kok malah melamun?" Nadya melambaikan tangannya di wajah Omar.


"Ehem. Maaf aku teringat kasusku. Kamu tidak apa-apa aku tinggal disini?" Omar membenarkan dasinya.


"Tidak apa-apa. I'm a big girl. Tenang saja!" senyum Nadya manis membuat Omar berdebar jantungnya karena seperti melihat Leia.


Ya ampun Omar ! Kamu harus move on! Agen FBI berdarah Mesir itu pun berdiri dan pergi menuju lift untuk ruangannya.


***


"Jadi benar kan Mari, Gabriel tidak usah maju ?" tanya Nelson untuk memastikan kembali.


"Tidak usah, Nelson." Marisol menatap putra sulung Travis Blair itu.


"Yakin? Serius? Beneran?"


Marisol tampak kesal dengan ucapan Nelson "Positive Nelson!"


"Marisol akan terbang ke Dubai bersama dengan Omar Zidane dan Billy Boyd. Empat rekan Pedro Pascal akan mengawal empat oknum ini" potong Isobel.


"Apakah aku perlu memakai suntikan obat tidur lagi?" seringai Nelson membuat Marisol mendelik.


"Kamu itu! Namanya pelanggaran! Jangan bikin kasus lagi sementara kasus ini masih terbuka Blair!" omel Marisol.


"Daripada nanti nyusahin selama perjalanan! Tenang saja, hanya beberapa jam kok, tidak seperti di Acapulco dan Rio de Janeiro yang sampai tiga hari."


"Tidak boleh Nelson! Ya ampun! Kamu beneran lulus dari Harvard Law School nggak sih?"


"Lulus lah! Cumlaude! Tapi aku tidak bisa tidak menghilangkan gen licikku, Mari" cengir Nelson.


"Heran aku! Pria model seperti kamu kok bisa cumlaude padahal otakmu sangat kriminal!"


"Jika kamu ingin mengetahui tentang pola pikir penjahat, berpikirlah kamu seperti penjahat " seringai Nelson. "Dan kebetulan keluarga dan ipar kami, terbiasa memiliki pemikiran seperti kriminal."


Marisol berkacak pinggang dengan wajah marah. "Suatu saat nanti, aku akan bisa menuntut salah satu keluarga kamu!"


"Dan aku akan disana untuk menghadapi dirimu, Mari. Don't worry, aku pasti bisa memenangkan kasusnya" jawab Nelson sombong.


Gabriel yang berada diantara Marisol dan Nelson merasa seperti seorang anak ditengah-tengah pertengkaran kedua orangtuanya. "Saya pindah ... tempat duduk..."


"Kamu disini saja Gabriel!" hardik Nelson dan Marisol bersamaan membuat Gabriel terkejut.


"Kalian berdua! Sini bukan ruang sidang! Ya Ampun!" bentak Isobel yang sudah sering mendengar keduanya sering debat.


Nelson dan Marisol saling menatap tajam satu sama lain lalu membuang muka. Gabriel hanya bisa memegang pelipisnya karena melihat keributan yang unfaedah di hadapannya.


"Gabriel, apa rumah Miami akan tetap kamu pegang?" tanya Isobel. "Sebab jika iya, semua berkas kepemilikan rumah itu sedang diurus oleh Travis Blair untuk menjadi milikmu." Isobel memberikan foto-foto rumah Gabriel yang di Miami.


Gabriel melihat foto-foto rumahnya yang bentuknya tidak banyak yang berubah. "Rumah ini adalah peninggalan kedua orangtua saya dan banyak kenangan disana." Gabriel menatap Isobel. "Saya akan mempertahankan rumah keluarga saya."


Gabriel mengangguk.


***


Nadya yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang masuk untuk dia tangani bersama para pengacara senior di kantor ayahnya, mendongakkan wajahnya ketika melihat Nelson, Gabriel dan Marisol keluar dari ruang kerja Isobel.


"Sudah selesai? Hai, Mari" sapa Nadya. "Sorry tadi aku langsung keluar ruangan karena penuh". Nadya melakukan pelukan dan cipika cipiki dengan Marisol.


"Selamat ya sudah resmi menjadi pengacara. Semoga aku tidak bertemu denganmu di pengadilan, Nad" senyum Marisol.


"Tenang Mari, aku tidak ambil di New York kok."


Marisol mengangguk. "Aku harus kembali ke kantoku. Gabriel, semangat ya. Yuk Nadya... Neslon" pamit Marisol yang terdengar malas mengucapkan nama Nelson.


"Kita jadi ke Burj Khalifa besok kalau ke Dubai?" kekeh Nelson.


"In Your dream Blair!" balas Marisol sambil berjalan menuju lift.


"Memang mas Nelson ikut ke Dubai?" tanya Nadya.


"Ikut lah!" senyum Nelson.


***


Kediaman Pandu Dewanata dan Reana O'Grady


Garvita terkejut melihat Raveena berada di rumah kedua orangtuanya sesaat dirinya selesai mandi sore.


"Kok pulang? Bukannya dikau di Quantico mbak?" tanya Garvita bingung.


"Aku berhenti dari Quantico."


Garvita melongo. "What? Bukannya kamu pengen jadi anak buah bang Pedro?" ujarnya sambil mengambil mug untuk membuat teh.


"Kamu tahu kan aku harus memilih. Dan aku milih Alexis."


Nyaris mug itu jatuh dari pegangan Garvita mendengar ucapan gamblang Raveena. "Apa?"


"Kamu tahu Gar, aku masih akan lama di Quantico, juga penempatan nanti dimana aku belum tahu... Kapan aku bisa bersama dengan Alexis. Secara aku pasti pisah jauh. Sudah beda negara, dipisahkan samudra Atlantik, perbedaan jam ... Pusing aku! Yang ada kami sering ribut!"


Garvita tersenyum. "Memangnya dikau sudah pasti dengan Alexis?"


"Well, dia menggemaskan apalagi kalau sudah cemberut kalau aku sudah kumat rusuhnya" gelak Raveena.


"Terus apa rencana mu mbak?" Garvita duduk di sebelah Raveena.


"Aku akan ke Turin membantu mbak Leia di perusahaan anggur Bianchi."


Garvita hanya tersenyum. "Oom Pandu dan Tante Reana sudah tahu?"


"Belum" jawab Raveena sambil nyengir.


"Astaghfirullah!" Garvita menyesap teh nya.


"Kamu kapan kembali ke London?" tanya Raveena.


"Lusa aku dan Gabriel pulang ke London. Kata mas Damian, kondisi juga sudah aman dan kartel tidak akan mengganggu Gabriel karena mereka tahu kita hanya mengambil empat orang pelaku pembunuhan dan tidak mengutak-atik mereka."


"Tapi pembukuan yang di buku besar?"


"Biar urusannya FBI, CIA dan ABIN. Yang jelas aku sudah tidak mau berurusan dengan biro federal dengan tiga sampai lima huruf kapital itu!" sungut Garvita yang membuat Raveena terbahak.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️