
Istana Al Jordan Dubai UAE
Garvita keluar ruang gym dan melihat pengawalnya masih setia menunggu disana. Dengan dagu terangkat gadis itu berjalan meninggalkan Gabriel yang mengekor di belakangnya.
Keduanya pun masuk ke dalam istana dan tampak Mariana menatap judes ke putrinya. Garvita tahu sang mama marah karena dia berani berdebat dengan papanya.
"Kamu mandi! Setelah itu sholat Maghrib berjamaah!" perintah Mariana tanpa ditawar.
"Baik mama..." jawab Garvita pelan lalu berjalan menuju kamarnya.
Mariana lalu berpaling ke arah Gabriel yang masih berdiri disana. "Terimakasih Gabriel. Kamu yang sabar ya sama Garvita. Anak itu terlalu dimanja..."
"Tenang saja nyonya Mariana. Saya sudah terbiasa" ucap Gabriel tenang.
"Jujur, saya senang kamu yang menjadi pengawal Garvita. Tamerine bagus tapi dia terlalu permisif dengan anak itu sedangkan kamu, berbeda. Setidaknya Garvita harus berpikir ulang untuk membolos latihan. Omanya juga sudah kesal dan gemas dengan anak itu." Mariana tersenyum lembut ke arah kamar putrinya.
"Semoga saya bisa menjalankan tugas ini dengan baik."
Mariana menatap Gabriel. "Tolong jaga Garvita. Anak itu pemberani tapi sering ceroboh."
"Baik nyonya. Saya permisi dulu." Gabriel mengangguk lalu mengundurkan diri dari hadapan Mariana. Ibu tiga anak itu menghela nafas panjang memikirkan ketiga anaknya yang suka membuatnya pusing tapi itulah nikmatnya menjadi seorang ibu.
***
"Gimana latihan memanah nya tadi?" tanya Sabine ke Garvita yang masih memasang wajah manyun.
"Bad, Oma. Alamat bubye Rolex, Patek, Hublot..." jawab Garvita membuat kakak dan sepupunya menoleh.
"Kok merk jam tangan semua?" tanya Ken bingung.
"Siapa yang mau kasih n beliin?" goda Gasendra.
"Memang ada apa dengan jam tangan?" tanya Karl bingung.
"Garvita bilang kalau bisa ngalahin rekor Zee jaman SMA, minta jam tangan salah satu merk tadi. Tapi kalau melihat wajahnya, kayaknya duitnya Zee utuh deh!" cengir Zinnia yang semakin membuat Garvita memajukan bibirnya.
"Kamu marah Gabriel selalu laporan sama Oma?" Sabine menatap tajam ke cucu manjanya. "Dengar Garvita, yang tanya Oma bukan Gabriel yang laporan. Tentu saja Gabriel tidak berani melawan Oma, minta dikasih baby?"
"Idiihhh, Oma. Bang Gabriel sama Baby nya Oma hampir sama tingginya" celetuk Kalila yang sudah pernah melihat senapan sniper milik Sabine yang dipanggil Baby.
"Nah tuh tahu!" sahut Sabine dengan gaya songong nya.
Enzo dan Georgina hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar keributan yang sudah biasa terjadi di meja makan.
"Oma kok bisa tiba-tiba cerita begitu?" tanya Ken.
"Oma ceritain ya. Dulu waktu Oma masih pengantin baru sama Opa Reyhan... Kayaknya baru kemarin ya sayang, kenapa sudah nongol dua cucu nakal-nakal?" Paradina menatap Reyhan yang hanya tersenyum mendengar celotehan istrinya itu. "Eniwai, kalian tahu kan Opa dan oma buyut siapa. Nah, kita berdua nih jalan-jalan ke Lembang sekalian honeymoon. Waktu itu kita pakai mobil apa ya mas?"
"Pakai Innova waktu itu pinjam sama Opa Bara. Kita mikirnya yang besar, muat banyak karena tahu kan omamu tukang belanja jadi pinjam itu" jawab Reyhan.
Sean tampak antusias mendengarkan cerita keluarga Zinnia yang jauh dari kata jaim dan selalu apa adanya.
"Nah, sampai nih kita di sebuah restauran yang ternyata sedang ada arisan ibu-ibu soksialita" ucap Paradina.
"Sosialita Oma" koreksi Kalila.
"Suka-suka Oma dong!" cebik Paradina sebal yang membuat semua tersenyum. "Lanjut, jadi kami berdua pesan makanan disana dan melihat bagaimana ibu-ibu itu memamerkan barang-barang branded. Oma hanya berpikir, suaminya kerja apa? Oke, Oma sudah kaya dari lahir, Alhamdulillah. Tapi Oma tetap berbisnis. Menikah dengan Opa Reyhan yang anak Emir itu bonus karena kami berkenalan di restauran pizza bukan di tempat fancy macam pameran lukisan, pesta-pesta high class. No, kami malah berkenalan di tempat biasa. Dan saat itu opamu memperkenalkan diri sebagai tukang gali minyak."
Reyhan tertawa. "Dan kamu bilang tukang berburu barang antik."
"Sabine juga kan ya eh tapi kalau Sabine paling hobi koleksi senjata. Sepupu kita yang lain juga bukan tipe tukang belanja gila-gilaan. Jadi Oma hanya berpikir buat apa barang-barang itu jika harus memberatkan suami? Serius, kalian semua juga melek barang branded kan? Oke buat penampilan bagi orang yang tahu, bagi orang yang tidak, mau kamu pakai Hublot harga $125,000 itu cuma jam tangan yang fungsinya sama saja dengan jam tangan harga $10, sama-sama menunjukkan waktu. Benar tidak?" Paradina menatap para cucu-cucunya.
"Oma tidak melarang kalian membeli barang branded tapi kalian juga harus melek finansial juga. Beruntung keluarga besar kita tetap mempertahankan kekayaan kasarannya tujuh turunan nggak habis-habis tapi bisa habis kalau kita tidak bijaksana. Kalian merasakan kan saat resesi kemarin? Kenapa kita bisa bertahan, karena kita memiliki banyak cadangan devisa untuk semua perusahaan keluarga. Jadi kita masih bisa menggaji semua karyawan yang jumlahnya hampir seratus ribu world wide meskipun harus separuh gaji tapi kita tidak ada yang memecat mereka yang sudah loyal bekerja."
Sean mendengarkan dengan seksama nasehat Paradina dan dia bisa tahu darimana prinsip dan gaya hidup Zinnia yang cenderung humble karena didikan di rumahnya seperti ini. Pria tampan itu memegang tangan istrinya sambil tersenyum.
"So, moral of the day, Garvita tidak boleh nakal sama Gabriel, Ken dan Kalila tidak boleh berantem tag team... A...a...a... Oma tidak mau tahu ya duo K!" pendelik Sabine ke kedua cucu kembarnya yang hendak membuka mulut bersamaan. "Jangan mentang-mentang Daddy kalian mantan pembalap Ferrari terus kalian bisa merusakkan mobil itu seenaknya!"
"Yah Oma, diingat terus..." gerutu Ken.
"Iyalah! Sebagai daftar nakal kamu!" balas Paradina.
Garvita masih tetap memanyunkan bibirnya. Kenapa sih pada belain pengawal satu itu? Memang ada apa?
Gadis itu menatap ke arah halaman belakang istana dan melihat Gabriel sedang berjalan bersama Thoriq. Dasar pengawal reseh! Aku akan semakin bandel lagi biar kamu nggak betah!
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️