My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Hari Pertama Gabriel Mengawal Gasendra



Istana Al Azzam Dubai UAE


Tiga gadis berbeda usia tapi dengan kerempongan yang sama, kini berada di sebuah gazebo halaman belakang istana milik Al Azzam.


Garvita, Kalila dan Raine tampak asyik mengobrol, bercerita tentang berbagai hal termasuk rencana pernikahan Zinnia dan Sean.


"Mbak Zee jadi nikah ya sama bang Sean?" tanya Raine.


"Jadi, Raine. Kenapa?"


"Mbak Zee tuh cantik banget jadi dapat cowoknya juga cakep. Beneran deh, kalau aku seumuran mbak Zee dapat cowok macam bang Sean... Duh meleyot hati ini" ucap Raine sambil memegang dadanya dengan gaya dramatis.


"Aku nggak heran melihat si hujan ini drama soalnya Oom Al kan kadang juga suka berdrama" ledek Kalila yang hanya dijawab kerlingan mata Raine.


"Eh aku ada cerita. Radhi sekarang lagi demen balapan gokart!" lapor Raine. "Katanya sih pengen jadi pembalap macam Opa Senna dan Oom Enzo."


"Serius? Pengen menjadi pembalap F1?" tanya Garvita tidak percaya. "Kukira malah Ken yang mau ikut jejak Oom Enzo mengingat lima bulan lalu kalian menabrakan Ferrari terbaru Oom Enzo!"


Kalila hanya melengos jika diingat kejadian itu yang membuat keduanya tidak dapat uang jajan dan mendapatkan hukuman membersihkan taman dan istana selama tiga bulan oleh Enzo dan Georgina.


"Itu kan Ken yang bikin perkara, aku hanya duduk di sebelahnya" alibi Kalila.


"Tapi kalian itu memang kompak tag team bandelnya" gelak Raine.


"Oom Alaric gimana dengar Radhi main gokart?" tanya Garvita.


"Cuma bilang 'kalau kamu main gokart, harus bawa pulang piala!' Padahal Radhi kan baru belajar tapi sudah dibilang gitu sama papa."


"Itu namanya kasih motivasi ke Radhi. Gitu saja kok nggak paham?" sungut Kalila gemas.


"Iyaaaa. Jeez, galaknya Lila. Tar nggak ada cowok yang mau sama kamu lho!" cibir Raine.


"Ya ampun Raine, kamu tuh baru sepuluh tahun tapi kok pikirannya udah soal cowok sih!" kekeh Garvita.


"Lha gimana mbak. Cowok-cowok di sekolah aku ganteng - ganteng. Kan aku jadi tersepona..." Raine tersenyum sembari melamunkan teman-temannya yang di kelas sekolah internasional.


"Astagaaa anaknya pak Alaric ya" gumam Kalila. "Nggak heran kalau Oom Al ribut terus sama kamu!"


"So, itu pengawalnya mas Sendra dapat dari mana? Oom David?" tanya Raine kepo.


"Bukan, dari mas Sendra. Jadi lima atau enam tahun lalu mas Sendra bawa Gabriel ke rumah. Yang tahu Lila dan mbak Zee. Terus sama papa, dikirim ke pelatihan pengawal kerajaan Al Jordan. Dan tampaknya sudah memenuhi syarat jadi pengawal, ditarik papa buat ngawal mas Sendra gara-gara si kembar ini gelut tag team menghajar banyak orang!" pendelik Garvita ke Kalila.


"Oh my God... Lila, what did you do?" Raine menatap horor ke sepupunya.


"Hanya menghajar bocah bocah reseh!"


"Terus Oom Enzo dipanggil ke sekolah dong?"


"Setidaknya kali ini nggak merusak Ferarri lah... Cuma bikin bonyok muka orang." Kalila tersenyum smirk.


"Mbak Gar, aku tahu kita semua panasan, kita semua bar-bar tapi Lila dan Ken sudah keterlaluan tag teamnya. Aku kembar juga tapi duo K parah dan sepertinya role model nya kakak duo L."


Garvita tertawa. "Ya wassalam kalau duo K kiblatnya ke duo L yang keturunan mafia dan Yakuza. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Raine."


"Tuhanku... mengapa keluarga aku bar-bar ya Lord..." ucap Raine mendrama.


***


Menjelang malam, keluarga Al Jordan kembali ke istana kecuali para opa dan Oma yang memilih menginap di istana Al Azzam. Kali ini si kembar ikut mobil Georgina sedangkan Garvita satu mobil dengan Gasendra.


"Gimana acara ekstrakurikuler nya tadi?" tanya Gasendra ke adiknya yang sedang asyik chatting dengan teman-teman sekolahnya.


"Menyebalkan!" jawab gadis itu.


"Why?"


"Mereka payah basketnya tadi! Aku kerja bakti sendirian. Tidak ada team distribusi, bikin aku pengen hajar mereka semua!"


Gabriel tersenyum tipis mendengar Omelan Garvita. Tidak kakaknya, tidak adiknya, panasan semua.


"Dik Gar, sudah cukup kepusingan di rumah. Duo K sudah buat Oom Enzo harus datang ke sekolah mereka, jangan kamu tambah papa juga datang ke sekolah kamu." Gasendra menoleh ke arah adiknya.


"Gemas aku mas..."


"Iya tapi jangan hajar bleh gitu..."


"Nah itu kamu tahu dik."


***


Istana Al Jordan


Gabriel menempati kamar yang tersedia di paviliun belakang khusus para pengawal yang terbagi menjadi dua. Pengawal pribadi memiliki tempat tersendiri dan pengawal istana di tempat yang lebih besar. Di luar tembok istana masih ada beberapa rumah yang dipakai oleh para pelayan tinggal.


Dirinya mendapatkan sebuah kamar pribadi dengan fasilitas lengkap dan bersebelahan dengan Thoriq.


"Gabriel! Alhamdulillah aku mendapatkan teman curhat soalnya mengawal si kembar butuh energi ekstra" kekeh Thoriq.


"Bagaimana bisa anak dua belas tahun membuat kamu, pria dewasa berusia 25 an kewalahan?" kekeh Gabriel.


"You have no idea apa yang mereka berdua bisa lakukan! Kalau kamu merasa Upin Ipin sudah nakal, mereka itu beyondnya!"


Gabriel terbahak. "Seriously? Kamu masih menonton kartun anak-anak klasik begitu?"


"Itu adalah salah satu healing yang efektif buat aku."


Gabriel tertawa. "Jika kamu membutuhkan bantuan, aku akan membantumu Thoriq."


"Thanks bro."


***


Pagi ini Gabriel mengawali tugas baru mengawal Gasendra ke sekolahnya. Gabriel mengakui jika Gasendra memang cerdas, di usia mau 16 tahun dia sudah di kelas tiga SMA. Tahun depan dia sudah mulai kuliah dan berencana untuk mengambil di Inggris atau Jerman.


"Apakah aku harus menunggu di sekolah, tuan Gasendra?"


Gasendra menaikkan sebelah alisnya. "Really? Kalau tidak ada kedua orangtuaku atau keluarga aku, panggil nama saja Gab."


"Hahahaha, tidak boleh di aturan..."


"Aturan itu dibuat untuk dilanggar. So, panggil aku dengan nama saja."


Gabriel menoleh ke Gasendra yang masih sibuk berkutat dengan tugasnya di iPad. "Oke Sendra."


"Good. Aku risih dipanggil tuan muda dari jaman Thoriq dan dia sulit sekali diajak melanggar peraturan" seringai Gasendra. "Bagaimana rasanya tidur di paviliun?"


"Actually, sangat nyaman dibandingkan dengan gubugku dulu."


"Apa kamu ingin melihat daerah tempat tinggal mu dulu?"


"Mungkin, tapi tidak sekarang. Aku punya tugas penting."


Gasendra tertawa.


***


Junior High School International Dubai


Ayrton dan Mariana menatap tajam ke putri mereka yang sekarang berada di ruang kepala sekolah. Wajah Garvita tampak berantakan setelah berkelahi dengan teman cowoknya gara-gara menyerobot antrian makan siang.


"Really? Garvita?" Mariana memegang pelipisnya. Gara-gara putri bungsunya ini, dia harus meninggalkan kliennya yang sedang berada di butik Carolina Herrera.


"Ya ampun Garvita! Kamu tidak harus menghajar anak itu! Hanya menyerobot!" Ayrton pun merasa kesal karena harus meninggalkan meeting penting dan menyerahkan pada Enzo.


"Kalau sekali tidak apa Papa, tapi ini sudah berkali-kali! Aku sudah menegur dari halus, sopan sampai sopan sekali tapi tetap saja. So, sekarang giliran tidak sopan beraksi!" jawab Garvita cuek.


"Oh Astaghfirullah!" Ayrton hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Garvita hanya mengedikkan bahunya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️