My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Pertengkaran Ayrton dan Garvita



Gabriel merasakan bahunya panas kena pukulan jab Garvita. Nona judesnya seperti tidak memiliki power tapi kalau sudah memukul, super niat!


"Aduh! Pukulan nona kuat juga!" Gabriel mengusap bahu kanannya yang kena pukul karena mobil Range Rover yang disetirinya setir kiri.


"Kamu itu! Makanya jangan jadi tukang ngadu! Gini nih aku tidak mau punya pengawal, apalagi yang tukang ngadu macan kamu!" omel Garvita judes.


"Nona Garvita, tanpa saya harus melaporkan, pasti tuan Ayrton dan nyonya Mariana tahu. Apa nona tidak tahu kalau nyonya besar Sabine juga memperhatikan gerak gerik anda dan tuan Gasendra?"


Mata biru Garvita melotot sempurna. "Oma nyebeliiiinnnn!"


***


Arena Memanah Sport Center Dubai


Emosi Garvita yang masih dongkol baik dengan pengawalnya maupun Omanya, membuat konsentrasi nya berantakan dan untuk pertama kalinya, dari dua puluh anak panah, hanya tiga yang tepat sasaran. Sisanya... bablas anginne...


Tentu saja hal itu membuat bungsu Ayrton Schumacher itu kesal luar biasa. Sejak dia belajar memanah dari usia tujuh tahun, ini adalah latihan terburuknya.


Garvita bersedekap di dalam mobil sambil memanyunkan bibirnya tanpa menyadari sepasang mata coklat meliriknya dengan perasaan geli bercampur gemas.


Kalau latihanku seperti ini, baby G limited edition tidak dapat apalagi Hublot! Byebye Rolex atau Philipe Patek... "Aaaaaahhhh! Sebaaaallll!" jerit Garvita kesal membuat Gabriel kaget setengah mati. Untung dia adalah pengawal terlatih jadi bisa menguasai mobilnya.


"Astaghfirullah nona. Anda membuat saya jantungan" gumam Gabriel.


"Semua itu gara-gara kamu!" bentak Garvita galak.


Sabar Gab... Super sabaaarrr! Gabriel hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


"Besok aku minta ke papa biar kamu tidak menjadi pengawal aku!"


Gabriel hanya terdiam mendengarkan omelan gadis cantik itu. Kenapa kamu malah bikin gregetan sih?


***


"Tidak!"


Garvita melongo. "But Pa..."


"Papa bilang tidak ya tidak, Garvita! Kamu sudah hampir setahun..."


"Delapan bulan tujuh hari 15 jam lima menit 47 detik tepatnya" jawab Garvita cuek.


"Hah?" Ayrton melongo. "Anyway, who's counting ( siapa yang menghitung ). Pokoknya papa bilang Gabriel tetap jadi pengawal kamu sesuai dengan kontrak per lima tahun!"


Garvita semakin kesal. "Sampai aku usia 19 tahun?"


"Lho bukannya memang kita membuat kontrak per lima tahun. Kalau papa melanggar kontrak, papa harus membayar kompensasi..."


"Dipindahkan saja! Kembalikan Tamerine!" potong Garvita.


"Garvita Pragya Al Jordan Schumacher! Dengarkan papa! Gabriel sudah menandatangani kontrak hanya menjadi pengawal kamu! Paham!"


"Bayar saja kompensasi nya!"


"Anak ini! Apa kamu mau mobil Range Rover kamu, tabungan kamu separo untuk membayar Gabriel?" Ayrton menatap tajam ke putrinya yang memang manja gara-gara putri sulungnya Zinnia yang excited punya adik perempuan.


"Aaapaaa? Papa kok tega? Masa pakai Range Rover dan tabungan aku buat bayar kompensasi si Luna!" pekik Garvita kesal karena papanya seenaknya sendiri.


"Karena kamu masih minor, jadi semua fasilitas kamu, masih papa yang pegang! So, kamu pikir ulang lagi kalau mau mengganti Gabriel!" Ayrton tersenyum licik.


Garvita memicingkan matanya. "Papa jahat!"


"Tapi papa yang membiayai semua kebutuhan kamu, Garvita sayang" senyum Ayrton.


"Iiiihhh!" Garvita menghentakkan kakinya tanda sedang merajuk. Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dan membuka pintu kerja ayahnya dengan wajah ditekuk.


Ayrton hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya. Tak lama Zinnia pun masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.


"Pa? Zee boleh masuk ?" tanya Zinnia di depan pintu.


"Boleh saja. Tutup pintunya."


Zinnia menutup pintu ruang kerja Ayrton lalu duduk di kursi depan meja kerja ayahnya.


"Anak manja itu harus dijewer!" kekeh Ayrton. "Kamu sih Zee, terlalu memanjakan adikmu jadi kayak gitu manjanya. Masa dengan enaknya minta ganti pengawal?"


"Lho memang Gabriel kenapa?"


"Gabriel itu kan tipe pengawal yang tertib dan apapun pasti dilaporkan. Adikmu kesal karena selama delapan bulan Gabriel mengawal, setiap bulan kena jewer Oma Sabine karena membolos latihan memanah. Jaman dia dikawal Tamerine, tidak pernah ada laporan..."


"Karena Tamerine takut sama Garvita" kekeh Zinnia.


"See? Adikmu tidak bisa seenaknya sendiri!" Ayrton tertawa senang.


"Papa bikin ulah apa lagi?" Zinnia menatap ayahnya dengan tatapan menyelidik.


"Yang membuat adikmu kesal setengah mati."


Zinnia tergelak. "Oh astagaaa papa!"


***


Garvita berganti pakaian ke tank top, celana training dan jaket Hoodie. Dirinya menuju ruang gym yang memang disediakan oleh Akira Al Jordan dulu untuk keluarganya. Gadis itu membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.


Setelah melakukan pemanasan, Garvita pun memasang sarung tinju miliknya dan mulai memukul samsak dengan keras. Pertama hanya tangan yang maju tapi lama kelamaan kedua kakinya pun bergantian menendang samsak yang tidak berdosa itu.


***


Gabriel kelimpungan mencari nona galaknya karena tidak dia temukan dimana-mana. Ponselnya tidak terjawab meskipun ada nada sambung padahal sang ibu Mariana sedang mencari putrinya.


"Bang Gabriel, si nona galak pasti lagi di ruang gym. Biasanya begitu kalau habis ribut sama Oom Ayrton" celetuk Kalila yang tahu pengawal tampan sepupunya kebingungan. Gabriel sedang berada di halaman belakang dekat kolam renang sedangkan Kalila sedang mengerjakan tugas sekolah disana.


"Apakah nona Garvita sering ribut dengan tuan Emir Schumacher?" tanya Gabriel bingung karena baru kali ini dirinya melihat Garvita bertengkar dengan Ayrton.


"Well, di keluarga kami, mau debat dengan papa kami dipersilahkan sampai besok tapi jangan berdebat dengan mama kami. Sebab tahu sendiri kan surga di bawah telapak kaki ibu meskipun aku pernah meneliti kaki mommy buat mencari surga" ucap Kalila absurd.


"Berarti ini nona Garvita di ruang gym?"


"Iya bang. Cari saja disana."


Gabriel mengangguk sopan lalu bergegas menuju ruang gym.


Tidak butuh waktu lama saat dirinya membuka pintu ruang gym, mendengar suara Omelan yang sangat dikenalnya.


"Gabriel menyebalkan! Gabriel brengseeekkk! Gabriel minta dihajar!" omel gadis itu berulang dan membuat hidung Gabriel terasa gatal.


"Haaaattssyyiinnggg!"


Garvita menghentikan acara memukul dan menendang samsak ketika mendengar suara bersin seseorang. Dengan cepat gadis itu menoleh dan melihat pengawalnya sedang menutup hidung mancungnya dengan kedua tangannya.


"Hah! Pucuk dicinta ulam tiba! Teh pucuk katanya diambil dari daun pucuk pilihan!" gerutu Garvita. "Makan tuh bersin!"


"Hah? Nona, anda dicari nyonya Mariana." Gabriel mengusap hidungnya.


"Ada apa mamaku mencariku?"


"Saya tidak tahu nona..."


Garvita yang hanya mengenakan tank top dan celana pendek sport tampak begitu berbeda dan tidak terlihat seperti remaja berusia 14 tahun karena tubuh bongsornya.


Gabriel berdehem. "Saya tunggu di luar nona." Pria itu pun keluar dari ruang gym dengan sedikit gugup.


Garvita hanya menatap kepergian pengawalnya dengan perasaan bingung. Kenapa lagi itu si Luna bukan pacarnya Artemis? Garvita melihat pantulan tubunhnya di cermin dan akhirnya paham. Tubuhnya terlalu terekspos dan Gabriel memilih keluar agar tidak dikira kurang ajar.


Tetap saja kami menyebalkan! Garvita lalu memakai jaket Hoodie nya dan celana training panjangnya kemudian keluar dari ruang gym.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️