My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
My Bodyguard is My Boyfriend



Kediaman Keluarga McCloud London


Garvita melirik pengawalnya yang berjalan di belakangnya dan wajah Gabriel tampak sangat waspada serta mata coklatnya bagaikan mata elang yang mengincar mangsanya.


Ada apa dengan Gabriel?! Aku harus tanya papa! Garvita berjalan cepat meskipun sedikit tertatih karena kakinya belum sempurna akibat dari operasinya.


"Nona, jangan jalan cepat. Ingat kata dokter." Gabriel tiba-tiba sudah berada di belakang Garvita untuk memegang pinggangnya.


"Eh? Aku lupa..." cengir Garvita seolah bersikap tidak ada apa-apa.


"Nona mau kemana?"


"Ke kamar. Aku ingin pipis."


Gabriel pun menggandeng tangan Garvita. "Ayo, pelan-pelan jalannya. Masih bisa nahan sebentar kan kebelet pipisnya? Atau saya gendong?"


"Jalan saja Gab!" hardik Garvita. Dirinya sebal karena Gabriel senang menggendongnya macam apa. Apalagi saat dirinya di rumah sakit untuk operasi, Gabriel lah yang menggendong dirinya kemana-mana.


Gabriel tersenyum. "Jangan hilang judesnya ya nona..."


"Hah?" Garvita bengong menatap pengawalnya yang tiba-tiba berubah. "Kamu kenapa Gab?"


"Tidak apa-apa."


Garvita pun sampai di kamarnya yang merupakan bekas kamar Oomnya Rama waktu masih lajang dan kini sudah disulap menjadi kamar feminin.


"Selamat beristirahat, nona." Gabriel mengangguk saat Garvita membuka pintu kamarnya.


"Gab..." panggil Garvita saat Gabriel berbalik. Rumah yang sekarang ditempati oleh Eagle McCloud, cicit Elang McCloud, tampak sepi karena Eagle masih bekerja di RR's Meal sedangkan Dewananda sudah kembali ke Cambridge.


"Apa nona?" Gabriel membalikkan tubuhnya menghadap nonanya.


Garvita memegang wajah tampan Gabriel dengan kedua tangannya membuat pria itu terkesiap. "Kamu tidak apa-apa?"


"Saya tidak apa-apa, nona." Gabriel menatap Garvita dengan gugup karena tangan gadis itu berada di kedua pipinya.


"Kamu bohong!" bentak Garvita sambil mencubit dua pipi pengawalnya.


"Aduuuhh duh! Nona!" Gabriel meringis karena Garvita mencubitnya penuh perasaan.


"Awas kalau kamu bohong! Aku hajar kamu!" ancam Garvita gemas sambil melepaskan cubitannya.


"Nggak nona. Ya Allah, pedasnya cubitan nona." Gabriel mengusap pipinya yang terasa panas akibat cubitan nonanya.


"Gabriel..."


"Ya nona?"


Garvita menatap pengawalnya yang hanya beda tujuh Senti darinya. "Kapan kamu menyatakan perasaan kamu ke aku?"


Gabriel melongo. "Apa perlu nona? Bukankah dari sikap saya sudah tampak?"


Garvita mengeplak bahu kekar Gabriel. "Itu sikap bodyguard, cumiiii!"


"Lha? Harusnya bagaimana?"


Garvita gemas dengan pengawal nya yang masih tidak berani action, langsung mengambil alih. "Harusnya kamu itu begini..."


Gadis itu mencium bibir Gabriel dengan sedikit kaku sekilas.


"Nona... Eh, Garvita..." Gabriel menatap gadis itu dengan tatapan sayu. "Kenapa anda mencium saya?"


Garvita melongo. "Dasar Gabrieeellll! Masa gitu saja kamu tidak tahu!" bentak Garvita tapi dirinya terkejut ketika pria itu memeluk tubuhnya.


"Terimakasih nona sudah mau membalas perasaan saya..." ucap Gabriel di sisi telinga Garvita.


"Kalau gitu, ngomongnya jangan sok formal dong!"


Gabriel tersenyum, melepaskan pelukannya dan memegang wajah putri Ayrton Schumacher itu. "Kamu tahu, aku sudah mulai suka padamu sejak kamu masih kelas satu SMA. Gadis remaja yang manja, yang judes, yang cengeng kalau ketemu lintah tapi nggak pernah kapok..."


"Main di sawah itu menyenangkan..." gumam Garvita.


"Dan setelah itu aku yang repot, lepasin lintah masih kamu marah-marahin pula..."


Garvita tertawa kecil. "Sengaja! Kapan lagi bisa ngerjain kamu."


"Nona nakal!"


"Gabriel, bicaralah jujur sama aku. Kamu kenapa?" Mata biru Garvita menatap penuh selidik ke mata coklat Gabriel.


"Tidak apa-apa, Garvita. Hanya bersyukur hari ini menjadi hari yang indah buat aku. Kita pacaran?"


Garvita tersenyum. "My Bodyguard is my boyfriend."


Gabriel mencium bibir Garvita lembut. "Ciuman itu seperti ini, bukan cuma nempel..." ucapnya sedikit serak setelah melakukan French kiss.


Wajah Garvita memerah seperti tomat.


"Gab..."


"Ya?"


"Lepas. Aku kebelet pipis!" Garvita langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Gabriel yang tersenyum.


Sayang, moment ini sedikit terlambat dan aku harus meninggalkan kamu, Garvita. Demi keselamatan kamu, dan aku tidak ingin merepotkan tuan Ayrton dengan kasus aku.


***


Gabriel terkejut mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal dan segera menerimanya.


"Halo?"


"Halo, Gabriel. Ini agen Roberts. Apa kamu tahu kalau kamu sudah diikuti oleh utusan Kartel?"


Gabriel tersenyum tipis. "Mereka tidak akan berani masuk ke rumah keluarga McCloud. Bisa habis!"


"Kami tahu. Tapi apa kamu memikirkan keselamatan putri Emir?"


"Kalian tenang saja. Garvita adalah tanggungjawab aku. Ada apa kalian menelpon aku malam-malam?"


"Kami ingin merekrut kamu bergabung dengan tim penyelidikan kartel."


Gabriel melongo. "Tahu apa aku soal mereka!"


"Kamu bisa bahasa Portugis kan?"


"Tentu saja bisa, karena itu bahasa daddyku."


"Kami tahu Juan Pablo Luna menyimpan banyak barang bukti dan semuanya ada padamu. Pergilah ke Dubai untuk mengambil semua peninggalan ayahmu dan Ahmed. Kami yakin, ada salah satu dari barang-barang itu ada barang bukti penting."


"Kami? Siapa saja itu kami?"


"CIA, FBI, DEA dan ABIN."


"Kalian gila! Aku tidak ada kaitannya!"


"Karena kamu anak Juan Pablo Luna dan Stephanie James. Mereka dan kami yakin kedua orang tuamu memiliki sesuatu."


Gabriel mengumpat. "You guys are jerk!"


"Kami tahu" jawab Agen Roberts tenang.


Brengseeekkk!


***


"Memangnya Gabriel kenapa sayang?" tanya Ayrton saat Garvita melakukan panggilan video.


"Gabriel tidak seperti biasanya Papa. Seperti ada hal yang dipikirkan dan itu sangat serius."


"Apa dia memikirkan kedua orangtuanya?"


"Gar tidak tahu papa..."


Ayrton menatap lembut ke putrinya yang semakin dewasa. "Mungkin Gabriel sedang mengalami bad day, sayang. Ada kalanya seseorang jenuh akan sesuatu."


"Tapi papa, tadi itu Gabriel mengucapkan hal-hal yang kesannya hendak pergi meninggalkan aku padahal kan dia baru memperpanjang kontrak. Ada apa ya papa? Aku tidak mau kehilangan Gabriel. Tolong papa tanya sama dia" pinta Garvita dengan wajah cemas.


"Nanti papa tanya sama Gabriel, okay?" bujuk Ayrton yang sebenarnya juga khawatir. Apakah waktunya akan tiba? Dia sudah mengetahui siapa kedua orangtuanya dan alasan kenapa mereka terbunuh?


"Okay papa."


"Bagaimana kakimu? Kuliahmu?"


Garvita lalu bercerita tentang kegiatannya hari ini kecuali acara proklamir pacaran dengan pengawalnya karena tanpa dia harus cerita, ayahnya pasti sudah tahu hubungan mereka.


***


"Ben, kamu di rumah atau di kantor?" Ayrton menelpon adik sepupunya.


"Aku masih di kantor bang. Gimana?" jawab Benjiro Smith, pemilik perusahaan IT warisan Bryan Smith, Abian Smith dan Bryan **.


"Ben, Garvita bilang tadi Gabriel didatangi dua orang di cafe tempat biasa dia menunggu. Dan menurut Garvita, dua orang itu mencurigakan meskipun Gabriel bilang mereka turis."


"Sebutkan nama cafenya biar aku hack."


Ayrton menyebutkan nama cafenya dan Benji pun tanpa lama berhasil mendapatkan kamera CCTV yang langsung mengarah ke tempat Gabriel duduk.


"Oh my God, Ben! Mereka CIA?" ucap Ayrton tertahan. "Tapi mengapa? Setelah sepuluh tahun lebih berlalu ..."


"Mereka tampaknya hendak memberitahukan siapa orang tua Gabriel sebenarnya yang mana kita sudah tahu bang" sahut Benji.


"Apa yang harus aku lakukan Ben. Garvita dan Gabriel tampak sedang menjalin hubungan."


Benji hanya menatap kakaknya cemas. "Aku lebih khawatir kalau CIA mengira Gabriel memegang banyak barang bukti dari ayahnya."


"Damn it!" umpat Ayrton.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️