
RS PRC Group Jakarta
Garvita melepaskan genggaman Gabriel dan wajahnya menatap tidak suka ke pengawal nya. Gadis jangkung itu mengalihkan pandangannya ke Arsyanendra lagi.
"Anda ingin tahu kenapa saya memegang tangan anda?"
"Kenapa?" sahut Garvita judes.
"Karena saya ingin meredam emosi anda untuk tidak memberi tahukan kepada pangeran Sean bahwa dia memiliki anak dengan nona Zinnia." Gabriel mendekati Garvita dengan sedikit bersandar di jendela kaca yang memperlihatkan bayi-bayi baru lahir. "Maksud anda baik tapi nona bisa membuat perang lagi antara tuan Ayrton dan pangeran Sean."
Garvita hanya termenung. Niat baik, belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Gadis itu menoleh ke arah pengawalnya. "Kamu benar Gab. Apa yang kita anggap baik, belum tentu bisa diterima baik oleh orang lain..."
"Anda paham kan maksud saya?" Gabriel menatap gadis itu lembut.
Garvita menoleh ke pengawalnya. "Semoga papa dan Opa mau menerima bang Sean lagi meskipun lama."
"Dan saya yakin, pangeran Sean pun akan berjuang mendapatkan kepercayaan dari tuan Ayrton dan tuan besar Karl."
Garvita mengangguk.
***
Acara tahun baru pun diadakan dengan sangat meriah di Jakarta apalagi aqiqah Arsya pun sekalian ditambah mereka pun menikmati rumah Zinnia yang sudah jauh lebih sempurna dibanding saat pada datang sebelumnya.
Ayrton sendiri mengadakan acara syukuran kembali selain rumah, juga syukuran lahirnya sang cucu dengan selamat. Semua pegawai pabrik AJ Corp dan para buruh tani yang bekerja, menikmati acara makan-makan yang disediakan oleh RR's Meal atas perintah Rajendra McCloud.
Dan bayi Arsyanendra menjadi bintang diantara keluarga besar. Diam-diam trio kampret mulai mendoktrin keponakan mereka dengan ajaran mereka yang Membagongkan.
***
Dubai UAE, bulan April
Garvita mulai bisa lega setelah menyelesaikan ujian semester genapnya yang membuatnya tidak bisa jalan-jalan seenaknya. Bahkan untuk latihan menembak, memanah dan judo harus dia singkirkan karena acara bulan ini sudah padat.
Kakak sepupunya, Blaze Bianchi akan menikah dengan kekasihnya Samuel Prasetyo di New York dan semua keluarga akan kesana kecuali Zinnia yang tidak mau pergi karena Arsya masih empat bulan. Hanya Gasendra yang akan terbang ke New York bersama dengan keluarga Jakarta.
Dan kini Garvita sedang membereskan kopernya karena lusa mereka semua akan terbang ke New York.
"G!" panggil Ken.
"Apa?" balas Garvita sambil menatap sepupunya yang hanya beda setahun.
"Dicari."
"Sama siapa?"
"Prince Zayyan."
Garvita mengerenyitkan alisnya. "Bukannya dia ke Inggris."
Ken hanya mengedikkan bahunya. Garvita pun berdiri lalu berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu melihat sosok pangeran Zayyan yang menurutnya semakin tinggi tapi dirinya tidak ada perasaan apa-apa ke pria berdarah Arab itu.
"Zayyan? Ngapain kamu disini?"
Pangeran Zayyan menoleh setelah tadi asyik melihat foto-foto keluarga besar Garvita.
"Aku ada urusan bersama Daddy disini dan aku rasa kenapa tidak mampir sekalian kemari." Zayyan tersenyum ke arah Garvita.
"Oh. Memang Inggris sudah libur?" Garvita duduk tanpa mempersilahkan Zayyan yang meniru gadis itu duduk di sofa yang saling berhadapan.
"Belum tapi aku bisa sekolah via online. Jaman sekarang apa sih yang tidak bisa dilakukan dengan teknologi?"
Garvita hanya menatap Zayyan dengan tanpa ekspresi.
"Lama aku tidak bertemu dengan mu dan kamu semakin cantik."
Garvita merasa jengah dengan rayuan bocah belasan tahun di hadapannya. "Terimakasih."
"Kamu tidak bertanya tentang kabarku?"
"Bukannya tadi aku sudah tanya soal sekolah kamu?"
"Maksudku, aku nya tidak kamu tanya Gar?"
"Aku lihat kamu baik - baik saja, tampak sehat jadi apa yang harus aku tanyakan lagi? Kecuali kalau kamu datang dengan muka kuyu, pucat, berarti kamu sakit."
Zayyan tertawa kecil. "Tidak pernah berubah. Selalu judes padaku."
"Keberatan?"
Zayyan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Malah semakin suka."
Garvita melongo. "Bukan kah aku sudah menolak kamu?"
"Hampir setahun kita tidak bertemu Gar, dan aku sudah banyak berubah. Dan mungkin saja kamu juga sudah merubah pola pikir kamu?"
"Tapi jika aku menyukai kamu, it's okay kan?"
"Aku tidak melarang seseorang menyukai aku karena itu hak nya tapi aku juga berhak untuk tidak membalas perasaan itu kan?" jawab Garvita lugas.
Zayyan tersenyum. "Masih banyak waktu, Garvita. Masih banyak waktu."
Garvita hanya menatap dingin ke Zayyan.
***
Garvita langsung masuk ke dalam gym setelah mengganti gaunnya menjadi tank top dan celana gym. Wajah gadis itu tampak jutek dan ingin menghajar orang. Sembari mengomel dengan berbagai bahasa, Garvita memasang sarung tinjunya dan mulai menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan.
Setelahnya, gadis itu mulai menghajar samsak tidak berdosa itu.
***
Gabriel yang baru saja mengepak kopernya, mencari nonanya yang tadi didengarnya menerima tamu pangeran Zayyan.
Ngapain lagi pangeran itu menemui Garvita? Bukankah Garvita sudah menolaknya? Gabriel lalu menuju ruang gym. Hampir dua tahun menjadi pengawal Garvita, dia sudah hapal tempat nonanya kalau kesal. Gabriel bersyukur Garvita lebih suka memukul samsak daripada hang out dengan teman-temannya kalau kesal.
Pria itu masuk ke ruang gym dan benar Garvita memukul samsak tanpa kasihan sambil marah-marah. Sangat ciri khas nona Garvita.
"Nona..." panggil Gabriel yang membuat Garvita menghentikan acara menghajar samsak.
"Apa Gab?" tanya Garvita sambil terengah-engah.
"Istirahat dulu. Nanti nona kelelahan..."
Garvita menurut lalu menghampiri Gabriel. "Lepasin!"
"Hah?"
"Ini sarung tinjuku, tolong lepasin." Garvita mengulurkan kedua tangannya.
Dengan telaten Gabriel melepaskan dua sarung tinju bewarna pink itu. "Nona ada tamu tadi?"
"Tidak usah berlagak sok pilon deh!"
Gabriel tersenyum. "Bukankah sesuatu didatangai seorang pangeran?"
Garvita semakin cemberut. "Aku tidak perduli dia pangeran atau orang biasa tapi kalau aku tidak ada perasaan, buat apa dipaksakan?"
"Nona mau kuliah kemana nanti?" tanya Gabriel usai melepaskan sarung tinju milik Garvita lalu meletakkannya di sebuah lemari pengering khusus agar sarung tinju itu tidak jamuran lengkap dengan pengharum.
"Inggris. Aku sudah mendaftar ke Oxford, Cambridge dan University of London." Garvita menatap pengawalnya.
"Bukankah ada pangeran Zayyan disana? Kenapa anda memilih Inggris?"
"Karena ada mas Eagle! Kakakku kan disana, mas Dewa juga dan aku memang ingin kuliaj di Inggris."
"Kalau pangeran Zayyan mengejar anda?"
"Apa gunanya kamu jadi pengawal aku Gab?" Garvita mendongakkan wajahnya ke pengawalnya karena kalah tinggi. "Tugasmu kan harus melindungi aku?"
"Iya nona."
Garvita pun berbalik lalu mengambil handuk lalu mengelap leher dan tangannya.
"Gabriel... "
"Iya nona."
"Mau sampai kapan kamu tidak mau meminta maaf padaku?" Garvita menoleh ke Gabriel.
"Minta maaf soal apa nona?"
"Seriously Gab? Sekian bulan kamu tidak mau minta maaf?"
Gabriel menatap bingung. "Saya salah apa sama nona?"
Garvita mengalungkan handuknya di leher jenjangnya dan menghampiri pengawalnya. "Kamu harusnya dihukum karena berani mencium kening aku saat kita ke Indramayu tahun lalu pas aku ketiduran di gazebo."
Gabriel melongo.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️