
Istana Al Jordan Dubai UAE
Garvita merasa excited begitu mendengar Ayrton dan Mariana akan tiba di Dubai malam ini, membuat gadis itu memutuskan untuk tidur lebih cepat agar bisa berbicara dengan ayahnya besok sebelum Ayrton berangkat ke kantor.
***
Ruang Kerja Ayrton Schumacher Keesokan harinya
"Kenapa kamu ingin bertemu papa? Kalau tujuan kamu ingin papa mengurangi hukuman kamu, kamu harus memiliki alasan yang masuk akal dan tepat, Garvita." Ayrton menatap putri manjanya dengan tatapan menusuk.
"Pa, papa kan meminta alasan yang masuk akal kenapa aku menghajar Gabriel kan? Nah, papa hanya melihat dari sisi papa. Tapi papa belum mendapatkan informasi selengkapnya."
"And?"
"And, aku memiliki seorang saksi yang tahu apa alasannya aku memukul Gabriel."
"Siapa saksi itu?" Ayrton memicingkan matanya.
"Wait." Garvita bergegas membuka pintu ruang kerja ayahnya dan memanggil Tamerine.
"Selamat pagi tuan Ayrton" salam Tamerine.
"Pagi Tamerine. So, apa yang terjadi kemarin?" tanya Ayrton.
Tamerine bercerita tentang taruhan yang dibuat antara Gabriel dan Garvita. Dan Ayrton mengatupkan kedua tangannya diatas meja mendengarkan ucapan Tamerine.
"Jadinya itu bermula dari pancingan Gabriel?" Ayrton melihat ke arah pengawal perempuan yang sudah mengawal putrinya sejak SD.
"Iya tuan."
"Panggil Gabriel!"
Garvita tersenyum smirk mendengar nada suara Ayrton yang terdengar dingin. Tamerine pun menelpon Gabriel untuk segera ke ruang kerja tuannya.
"Anda memanggil saya tuan?" tanya Gabriel setelah Ayrton mempersilahkan pria berdarah Brazil Amerika itu masuk.
"Iya Gabriel. Apa benar penjelasan dari Tamerine bahwa kamu sebenarnya yang memancing Garvita dalam taruhan hingga berakhir di pemukulan ke kamu?"
Gabriel melirik ke arah Garvita yang hanya memasang wajah datar seolah tidak salah jika gadis itu memukul dirinya.
Brengseeekkk! Dasar nona manja!
"Benar tuan" jawab Gabriel ke Ayrton tapi wajahnya ke arah Garvita.
"So, jadi ini kesalahan kamu sendiri kan yang memancing Garvita, Gabriel?" tanya Ayrton ke pengawal putrinya yang tampak kesal diadukan oleh gadis itu.
"Tapi jika nona Garvita tidak bersikap manja, mungkin kejadian pemukulan itu tidak akan pernah terjadi, tuan Ayrton."
Kali ini Garvita menoleh judes ke Gabriel membuat Tamerine harus menahan senyum karena baru Gabriel yang terang-terangan menyatakan bahwa bungsu dari keluarga Schumacher itu manja.
"Aku tidak manja!" bentak Garvita kesal.
"Kamu memang manja, young lady" timpal Ayrton. "Oke, karena kasus pemukulan ini akibat dari salahmu, Gab, maka saya akan merubah hukumannya. Garvita tetap mendapatkan larangan pergi keluar Dubai sampai acara pernikahan Nadira dan Pedro."
Garvita sedikit merasa lega, setidaknya dia masih bisa menghadiri pernikahan kakaknya.
"Sebagai hukumanmu Gabriel, kamu bebas mengawal Garvita selama sebulan karena kamu akan saya kirim ke Indramayu mengawal Zee..."
"Paaaa!"
"Dengar dulu Garvita! Jasmine sudah meminta ijin untuk pulang ke Dubai karena harus mengurus soal warisan keluarganya dan Papa pikir ini watu yang tepat untuk membuat hukuman ke kalian berdua dengan cara dipisahkan sementara!"
"Sebulan tuan?"
"Sebulan! Nanti Jasmine kembali ke Indramayu dua Minggu sebelum pernikahan Nadira. Disaat itu kamu kembali ke Dubai dan mengawal Garvita lagi."
Gabriel dan Garvita saling berpandangan. Wajah Garvita tampak manyun karena Gabriel akan terbang ke Indramayu sedangkan dirinya terdampar di Dubai. Gabriel tersenyum manis karena dirinya bebas mengawal nona manja itu dan refreshing ke Indramayu untuk menjaga Zinnia dan pangeran cilik.
***
"Senang kamu ya bisa ke Indramayu!"
Gabriel hanya tersenyum mendengar Omelan Garvita yang berdiri di kusen pintu kamar pengawalnya yang sedang sibuk membereskan kopernya.
"Bukannya nona juga senang tidak melihat saya? Tidak ada yang membuat nona kesal?"
Gabriel tertawa lalu menutup kopernya karena malam ini dia akan terbang ke Jakarta. "Nona Garvita, baik-baik di rumah ya. Jangan berbuat ulah aneh-aneh yang membuat tuan Ayrton marah lagi." Gabriel menepuk pelan kepala Garvita.
"Suka-suka aku lah!" balas Garvita cuek.
Gabriel hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Jadi anak baik ya, nona."
Garvita hanya menatap datar mata coklat yang teduh itu.
***
Indramayu Jawa Barat, Rumah Zinnia
"Jadi kamu dikirim kemari karena dihukum papa?" Zinnia memastikan alasan Ayrton yang menggantikan Jasmine dengan pengawal adiknya.
"Benar nona Zinnia" jawab Gabriel yang tiba di Indramayu dua hari setelahnya.
"Haddeehh, anak manja itu berbuat ulah apalagi Gabriel?" tanya Zinnia sambil menggendong Arsyanendra.
"Nona marah saat saya bilang dia anak manja dan kami bertaruh bahwa tuan Ayrton tidak akan memarahinya karena nona Garvita memukul saya."
"Dan papa melihat saat Garvita menonjok dirimu?" Zinnia menatap Gabriel geli.
"Celakanya iya tapi setidaknya hukuman nona berkurang setelah sebelumnya kan tiga bulan tidak boleh keluar negeri termasuk menghadiri pernikahan nona Nadira dan tuan Pedro."
Zinnia tertawa mendengar penjelasan Gabriel. "Biarkan saja Garvita kelimpungan, Gab. Anak manja itu memang harus diberikan shock therapy biar nggak kebablasan manjanya."
Gabriel hanya mengangguk.
***
Istana Al Jordan Dubai UAE
Garvita benar-benar merasa gabut dan bingung hendak ngapain. Dua Minggu ditinggal Gabriel, awal dia masih bisa menikmati latihan di Dojo, latihan menembak dan panahan tapi rasanya tidak sama.
Tidak ada yang dengan setia memegang tasnya sambil memberikan support meskipun terkadang dengan kata-kata bikin manyun, tidak ada yang mengajak makan street food selain junk food, tidak ada...
"Haaaaahhh! Dasar pengawal brengseeekkk! Sukanya bikin galaaauuuu!" teriak Garvita di kamarnya sambil gelundang gelundung tidak jelas diatas tempat tidurnya yang besar dan empuk.
"Mbak Zee lagi ngapain yaaa?" Garvita lalu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video ke kakak sulungnya.
"Halo sayang, assalamualaikum" sapa Zinnia yang bersandar di sofa sudut kamarnya dan ponselnya diletakkan diatas penyangga di tembok dekat jendela kamarnya.
"Wa'alaikum salam. Ya ampun Arsya, tambah gedhe dan tambah bule!" kekeh Garvita melihat keponakannya sedang asyik menyu*sui.
"Iya nih, Sean banget!" senyum sendu Zinnia sambil menatap putranya yang asyik bermain rambut hitam panjangnya tapi masih tetap menyedot sumber makanannya.
"Mas Sendra belum pulang mbak?" tanya Garvita.
"Sendra katanya nggak pulang Minggu ini, ada tugas kelompok jadi memilih stay di Bandung. Tapi kan mbak Zee banyak temannya disini jadi santai-santai saja apalagi ada Arsya." Zinnia menatap geli ke adiknya. "Kamu gabut yaaaa."
"Mbak Zee kok tahu?"
"Kelihatan lah muka kamu yang manyun begitu. Kenapa? Sepi nggak ada Gabriel?" goda Zinnia.
"Aku kehilangan obyek jotosan aku, mbak. Kapan tuh anak pulang ya?"
"Astaghfirullah, dik Garvita! Yang benar saja Gabriel kamu hajar terus? Janganlah!"
"Habis, Gabriel kadang nyebelin mbak!"
"Nyebelin gitu tetap kamu cariin. Awas lho, jangan gething mengko ndak nyanding ( jangan benci, nanti malah cinta ). Kayak mbak Zee ke Sean" kekeh Zinnia.
Garvita hanya terdiam.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️