
Gabriel melihat wajah lelah Garvita tampak jelas dan matanya tampak sayu sedangkan perjalanan dari Dojo ke istana Al Jordan masih setengah jam lagi. Gadis itu terlihat terkantuk-kantuk tapi tetap berusaha untuk tidak tidur.
"Nona tidur saja dulu kalau memang mengatuk" ucap Gabriel.
"Nggak nyaman tidur dengan badan lengket begini" sungut gadis itu.
"Daripada nona memaksakan melek..."
Garvita menoleh ke pengawalnya. "Kok tahu aku ngantuk?"
"Kelihatan jelas, anda berapa kali ingin tidur tapi tetap memaksa melek, kepala anda sudah terantuk jendela dua kali."
Garvita melongo. "Kamu hitung?"
"Bukankah saya harus memperhatikan sedetail mungkin kondisi anda?"
"Iya sih. Sudah, aku mau tidur dulu meskipun nggak nyaman." Garvita pun memejamkan matanya. Gabriel tersenyum tipis.
Nona judes, anda kok menggemaskan sih?
***
Tak terasa hampir delapan bulan Gabriel menjadi pengawal Garvita dan selama itu si pengawal tampan harus memanjangkan ususnya, menebalkan telinganya, menabahkan hatinya dan melebarkan lambungnya.
Zinnia akhirnya menikah dengan Sean of Léopold dengan pesta mewah dan meriah di Dubai. Gabriel sempat terkesima dengan cantiknya kakak Garvita itu tapi dirinya juga terkejut melihat bagaimana cantiknya nona judesnya berdandan saat acara pernikahan itu.
Dalam waktu delapan bulan ini, gadis ABG itu sudah bertambah tinggi jadi data Gabriel harus dirubah. Dari 164 cm sudah menjadi 170 cm?
"Gabriel!" teriak Garvita.
"Ya nona?"
"Tolong fotoin aku." Garvita menyerahkan ponselnya.
"Bukannya tadi sudah minta tolong sama tuan Gasendra?" tanya Gabriel bingung.
Hari ini mereka kedatangan tamu dari Inggris, pangeran Henry dan putri Medeline bersama putra mereka pangeran Richard. Tentu saja Garvita berdandan cantik menyambut tamu kerajaan Inggris itu ke Dubai.
"Apaan? Mas Sendra pakai selfie padahal aku sudah capek pose!" sungut gadis cantik yang duduk di kelas satu high school.
Gabriel tertawa kecil. Gasendra memang usil sama adiknya yang manja itu. "Sini nona, saya fotokan." Gabriel pun langsung men-setting kamera di ponsel Garvita. "Siap ya nona. Satu...dua...tiga."
Garvita bergegas menghampiri Gabriel untuk melihat hasilnya.
"Duh aku dandannya ketebalan..." gumam Garvita.
"Tapi cantik kok nona."
"Iyalah aku cantik, aku cewek kok!" balas Garvita judes yang membuat Gabriel tertawa.
"Kalau anda pria, tidak mungkin lah saya bilang anda cantik."
"Hhhhmmm. Next time, aku tidak akan meminta Salmah mendadani aku. Jadi begini..." Garvita menzoom hasil foto Gabriel. "Duh salah lipstik harusnya peach aja bukan merah begini ya, mana kulit aku kan pucat macam Opa Karl... Aduuuhh harus ganti lipstik ini."
"Nona, kan mau ketemu tamu besar, jadi wajar kalau dandanannya berbeda. Ini cantik kok" ucap Gabriel dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Iya kah?" Garvita menatap Gabriel dengan tatapan curiga.
"Saya selalu bilang apa adanya, nona..."
"Garvitaaaa! Ayo siap-siap!" panggil Mariana ke putri bungsunya yang masih sibuk dengan Gabriel.
"Iya mama." Garvita pun bergegas menuju mamanya tapi dia melupakan ponselnya yang dipegang oleh Gabriel. Diam-diam Gabriel mengirim foto hasil jepretannya ke ponselnya.
Cantik begini kok tidak suka sih nona judes. Gabriel tersenyum melihat wajah cantik Garvita yang tidak tampak judes seperti biasanya.
Kalau orang melihat nona Garvita pasti dikiranya cewek anggun, padahal... menguras stok sabar aku! Gabriel tersenyum lalu menyusul masuk ke dalam istana Al Jordan.
***
Istana Al Jordan Usai Kedatangan Keluarga kerajaan Inggris
"Nona Garvita!"
Garvita yang sedang mengobrol dengan Zinnia dan Sean serta Gasendra hanya melengos melihat bodyguardnya datang.
"Jauhkan aku dari makhluk bernama Gabriel Luna! Meskipun dua nama itu bagus artinya semua, tapi aslinya si empunya nama menyebalkan!" sungut bungsu Ayrton itu.
"Memangnya kamu jadwalnya apa hari ini dik?" tanya Zinnia.
"Memanah. Males kan?" Garvita pun manyun.
"Nona Garvita, ayo latihan memanah." Gabriel sudah mendatangi keempat anak Ayrton itu.
"Besok saja lah! Aku malas!" Garvita menempelkan tubuhnya ke Gasendra.
"Nona sudah membolos dua kali lho!" Gabriel mengingatkan membuat Zinnia dan Gasendra mendelik.
"Iiissshhh dasar tukang ngadu!" omel remaja berusia 14 tahun itu.
"Sana dik, latihan" bujuk Gasendra.
"Nggak mau mas. Garvita capek!"
"Dik, sana latihan. Nanti kalau Oma Sabine tahu, kamu bisa diomeli lho" kekeh Zinnia mengingat dulu pun sama dan akhirnya Sabine lah yang menyeretnya latihan.
"Aaaaaahhhh wajib ya?"
"Lho kan kamu mau pertandingan di sekolah dua Minggu lagi. Latihan dong biar dapat nilai perfect!" Gasendra menoyor dahi Garvita.
"Wah hebat! Kamu masuk tim panah?" puji Zinnia.
"Iya! Dan aku sebal dibanding-bandingkan sama kamu mbak!" Garvita memajukan bibirnya.
"Sana latihan, biar mengalahkan rekor mbak di sekolah."
"Kalau aku bisa ngalahin mbak, dapat apa?" cengir Garvita yang terbayang bakalan diberi barang-barang branded.
"Dikasih peluk cium" jawab Zinnia sambil tersenyum manis.
"Ya Allah mbaaakkk, mbok rolex atau Louis Vuitton atau Balenciaga gitu?" rengek Garvita.
"Anak kecil nggak boleh pakai Rolex!" kekeh Zinnia.
"Iiissshhh Phillipe Patek juga boleh!" cengir Garvita.
"Baby G limited edition saja ya?" goda Gasendra.
Garvita menatap sengit ke abangnya. "Jeglek mas!"
Zinnia dan Gasendra tertawa mendengar celetukan Garvita tapi Sean dan Gabriel hanya menatap ketiganya bingung.
"Apa artinya jeglek?" tanya Sean.
"Kebanting. Karena dari harga yang mahal kita tawarkan yang jauh lebih murah" senyum Zinnia.
"Ya iyalah bang Sean, dari Rolex ke Phillipe Patek ke Baby G. Bisa beli berapa ratus coba?" adu Garvita.
"Sudah, yang penting latihan dulu nanti kalau kamu bisa matahin rekor mbak Zee, ada surprise" bujuk Zinnia.
Dengan ogah-ogahan Garvita pun berdiri dan berjalan meninggalkan kakak-kakaknya. "Aku latihan dulu!"
"Saya permisi dulu yang mulia" pamit Gabriel yang bergegas menyusul nonanya.
Di dalam mobil, Garvita menatap judes ke pengawalnya. "Kamu bisa nggak sih nggak usah ngadu gitu sama mbak Zee kalau aku bolos latihan memanah?" bentak gadis itu kesal.
"Tapi kan demi kebaikan anda, nona" jawab Gabriel kalem sambil mengemudi mobilnya.
"Iya tapi nanti mbak Zee bakalan cerita ke mama, terus mama cerita ke Oma, Oma bakalan jewer aku!"
"Tapi nona sudah membolos dua kali gara-gara gemas dengan pangeran Richard padahal latihan anda sudah mulai insentif karena semakin dekat ke jadwal pertandingan."
"Haaaaahhh kamu tuh memang tidak mengerti, Gab!" Garvita bersedekap sambil memanyunkan bibirnya.
"Saya hanya mengerti, nona harus latihan memanah..." Gabriel terkejut saat wajah cantik itu semakin dekat ke wajahnya. "Nona ngapain?"
"Kamu jadi pengawalnya aku sudah berapa lama sih Gab?"
"Eh? Delapan bulan, nona."
"Selama ini, kamu sudah mendengar aku kena jewer Oma berapa kali? Hanya gara-gara aku tidak latihan menembak dan memanah?"
"De...delapan kali, nona."
"Jadi?"
"Kena jewer setiap bulan..." jawab Gabriel pelan. Harum parfum Jasmine lembut membuat konsentrasi nya berantakan.
"Gara-gara siapa coba?"
Gabriel menoleh ke arah Garvita karena saat itu sedang lampu merah. dan keduanya tampak sangat dekat.
"Gara-gara nona sendiri."
Garvita langsung memukul bahu Gabriel.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️