My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Nona Manja Menyebalkan



Istal Istana Al Jordan


Garvita langsung menghampiri kuda miliknya yang bewarna putih bernama Snow White. Sebenarnya Garvita memiliki dua ekor kuda kesayangan, Snow White dan Joy tapi Joy sedang hamil karena memang Ayrton tetap melakukan penjaga keturunan kuda Arab miliknya dari jaman Senna Al Jordan.


Gadis itu menemui Riyadh, salah satu pengasuh dan pengawal istal istana. Remaja berusia 18 tahun itu menyambut nonanya dengan senyuman seperti biasanya.


"Snow white sudah siap, nona." Riyadh membawa Snow White keluar dari kandangnya dan sudah terpasang pelana milik Garvita.



"Terimakasih Riyadh" balas Garvita yang langsung menyambut kudanya. "Hello Snowflake. Kita berjalan - jalan pagi ini ya."


Snow white pun meringkik senang kedatangan nonanya. Dengan bantuan Riyadh, Garvita pun menaiki kudanya dan mulai memegang tali kekang. Gadis itu berbisik di sisi telinga Snow White dan kuda tinggi cantik itu mulai melangkah pelan.


"Nona mau berkuda dimana?" tanya Riyadh.


"Padang rumput biasa, Riyadh."


Pengawal itu pun mengangguk merasa aman karena disana pengawal Al Jordan juga berjaga di Padang rumput milik istana Al Jordan.


Tak lama Garvita mulai memacu kuda cantik itu menuju Padang rumput milik keluarganya.


***


"Kemana nona Garvita pergi, Riyadh?" tanya Gabriel ke Riyadh.


"Padang rumput seperti biasanya Gab."


Benar-benar deh! "Aku akan susul dia."


"Kamu mau naik apa Gab? Kuda yang mana?" tanya Riyadh.


"Bukan kuda. Motor!" Gabriel bergegas menuju garasi tempat motor-motor yang tersedia disana teruntuk para pengawal. Pria itu langsung mengambil motor BMW nya dan menyusul Garvita.


***


Garvita memacu Snow White yang biasa dipanggil Snowflake olehnya. Udara bulan April yang sejuk tidak terlalu panas seperti biasanya membuat gadis itu semakin semangat memacu kudanya. Bahkan Garvita menyempatkan Snow White memutar Padang rumput satu kali.


Setelahnya gadis itu membawa kudanya ke bawah pohon Ghaf, pohon yang tumbuh di Dubai. Pohon rimbun yang unik karena bisa tumbuh di tanah rumput maupun pasir adalah pohon nasional UAE.



Ghaf Tree


Garvita menalikan Snow White di salah satu pohon ghaf itu dan dirinya memilih duduk di pohon sebelahnya. Garvita celingukan dan menyesal lupa membawa botol minum. Gadis itu melihat salah satu pengawal kerajaan sedang berjaga-jaga.


Garvita hendak memanggil pengawal itu ketika mendengar suara motor datang dan menoleh ke arah motor itu dan tampak pengawal yang dibencinya datang memarkirkan motornya.


Gabriel menghampiri Garvita sembari membawa backpack dan wajah tampannya tersenyum ke gadis yang langsung memasang wajah cemberut.


"Anda lupa membawa minum bukan?" Gabriel langsung duduk di sebelah Garvita dan membuka backpack nya. Pria itu menyerahkan sebotol air mineral kepada Garvita yang menerimanya dengan ogah-ogahan.


"Terimakasih" jawab Garvita.


Gabriel menyandarkan tubuhnya di batang pohon Ghaf itu sambil menoleh ke arah nona manjanya. "Selalu lupa bawa botol minum" kekeh Gabriel.



"Dan kamu selalu senang menjadi pahlawan kesiangan yang membawakan botol minum?" sindir Garvita.


"Well, bukan pahlawan kesiangan tapi lebih tepatnya pengawal yang hapal kebiasaan nona yang dikawalnya."


Garvita cemberut.


"Nona Garvita, maafkan saya jika kejadian di New York membuat nona dihukum oleh tuan Ayrton."


Garvita menatap Gabriel yang menatapnya serius.


"Sudahlah! Memang salahnya aku kok!" ucap Garvita sembari memalingkan wajahnya karena mata coklat itu membuat jantungnya tidak sehat.


Gabriel tersenyum. "Apa anda mau meminta maaf pada tuan Ayrton?"


"Soal?"


Garvita menoleh lagi ke arah Gabriel. "Apa kamu yakin."


"Setelah anda meminta maaf ke saya karena sudah meninju saya setiap sebelum pernikahan kakak anda" goda Gabriel yang membuat mata biru Garvita melotot sempurna.


"What?"


"Sì. Claro que você tem que se desculpar comigo ( tentu saja anda harus meminta maaf pada saya )."


"Hah? Gabriel Luna! Aku tidak paham bahasamu!" bentak Garvita kesal.


"Itu bahasa almarhum ayah saya nona, bahasa Portugis."


"Aku mana belajar bahasa itu Gabriel! Aku saja habis ngomong Jerman pindah ke Perancis aksenku menjadi Jerman!"


"Anda mau saya ajari?" tawar Gabriel usil.


"No, Gab! Aku sudah cukup banyak bahasa di otakku! Kamu tambah bahasa Portugis? Seriously, aku bisa saja membuat satu kalimat dengan tujuh bahasa tapi maksud semua !"


"Hah?"


"Kamu tahu Gab, Oma Dina pernah mengomel dalam satu tarikan nafas dengan semua bahasa yang diingatnya!"


"Apa nona lupa? Anda juga sama kalau sedang marah memukul samsak dengan semua bahasa yang anda ingat?! Saya bahkan tidak tahu anda berbicara dengan bahasa apa" gelak Gabriel.


Garvita menengadahkan wajahnya. "Kamu dengar ya?"


"Apa sih yang saya tidak tahu dari anda. Sejak awal saya ditunjuk menjadi pengawal anda, saya mulai mencari tahu tentang anda sekecil apapun. Bukankah saya pernah mengatakan pada anda kan?"


"Apa papa mau merubah hukumannya? Bang Sean saja sulit mendapatkan permintaan maaf dari papa. Kamu tahu kan kalau papa sudah sekali bicara akan jadi final..."


"Nona, tuan Ayrton masih marah dengan tuan Sean karena kita tahu kenapa."


"Itulah kenapa aku meragukan papa mau berubah pikiran."


Gabriel memegang tangan Garvita. "Dicoba dulu nona. Saya yakin tuan Ayrton tahu anda merasa menyesal sudah menghajar saya..."


Garvita menoleh ke Gabriel sembari menyipitkan matanya. "First, aku berhak menghajar kamu karena menyentuh dadaku!"


"Saya tidak sengaja nona!"


"Kedua, yang membuat aku kena hukuman adalah itu karena kamu yang memancing!!" Garvita terdiam. "You're right Gabriel! Aku bisa memaparkan kejadian sebenarnya karena Tamerine berada disana !"


"Eh?" Kali ini Gabriel yang melongo.


"Kamu tahu, Tamerine berada disana saat aku dan kamu mulai berbicara. Bahkan dia juga tahu kalau kita taruhan..." Garvita menyeringai membuat Gabriel ketar ketir.


"Nona Garvita... apa yang nona pikirkan?" Entah kenapa Gabriel merasakan bahwa nona manjanya merencanakan sesuatu.


"Bukan kejutan jika aku mengatakannya..." kekeh Garvita yang terdengar seperti tawa menyebalkan. "Yak, aku sudah tahu caranya. Dan sekarang waktunya aku pulang untuk menyambut papa!"


Garvita berdiri dan melepaskan genggaman tangan Gabriel. "Thank you Gabriel! Kamu benar-benar memberikan insipirasi!"


Gadis itu segera berjalan menuju kudanya yang diikatnya di pohon Ghaf. "Aku duluan Gabriel!" ucap Garvita sambil naik ke atas sadelnya dan beberapa menit kemudian gadis itu melesat dengan kudanya.


Gabriel masih menunggu beberapa saat sebelum naik ke atas motor BMW nya.


Aku curiga nona manja itu pasti merencanakan sesuatu dan itu pasti membuat aku kena imbasnya! Gabriel sudah paham sifat Garvita. Dasar!


Gabriel menstater motor besar itu dan segera memacunya kembali ke istana menyusul nonanya.



***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️