
Mansion Blair Staten Island New York
"Garvita... seriously?" Mata coklat Gabriel melotot tidak percaya melihat tangan gadis manjanya memegang gunting rumput yang biasa dipakai Kaia untuk mengurus tanaman hiasnya.
"Serius. Very serious!" ucap Garvita dingin bahkan Gabriel bersumpah mata biru gadis itu berubah semakin pucat warnanya seperti es yang dikeluarkan Elsa.
"Garvita..." Gabriel mundur selangkah demi selangkah namun Garvita sedang dalam mode marah tetap maju membuat keempat kakaknya hanya bisa menahan nafas.
"Benar-benar cucunya Oma Sabine dan cicitnya Opa Senna..." gumam Luke.
"Bar-barnya nggak ketulungan" timpal Bayu.
"Taruhan $100 Garvita bisa memotong rambut Gabriel pakai gunting rumput" ucap Dante.
"Opa ikutan!" bisik Rhett membuat keempat pria tampan itu menoleh kaget.
"Opa? Yang benar?" Luke menatap pria Irlandia itu tidak percaya Opanya bisa rusuh di kondisi seperti ini.
"Nih uangnya." Rhett mengeluarkan uang $100 dari saku celananya.
"Woah! Beneran!" Keempat pria itu pun mengeluarkan masing-masing $100 dari dompetnya.
"Kita makan pizza nanti" cengir Rhett durjana membuat keempat cucunya hanya melongo.
"Kamu itu ya! Beneran deh!" Garvita menarik rambut Gabriel yang dikuncir dan dengan cueknya langsung memotong nya dengan gunting rumput.
"Astaghfirullah! Garvita!" pekik Kaia.
"Kan nanti dia bakalan ke salon Oma. Aku hanya memotong nya sedikit" ujar Garvita cuek.
Kaia menepuk jidatnya sedangkan Gabriel hanya manyun melihat rambutnya sudah amburadul dan Garvita menggenggam potongan rambut coklat itu.
"Yak, $500 kita pesan pizza banyak-banyak!" celetuk Rhett dengan santainya.
***
Setelah kelima pria itu beristirahat, siangnya mereka beneran makan pizza yang dipesan oleh Rhett O'Grady.
"Jadi si kecoak masih di Rio?" tanya Kaia.
"Masih Oma. Aku ga urus lah soalnya sudah janji sama si anak Mesir nggak utak Atik si kecoak. Mana kayaknya si Zidane ada modus ke Nadya deh!" omel Bayu.
"Bay, semua cowok yang kebetulan bersama adik perempuan kamu, semua dibilang modus" kekeh Rhett.
"Lha contohnya ini mafia karatan!" Bayu menunjuk ke Antonio Bianchi. "Taruhan dia nggak bakalan pulang ke Turin sebelum mampir ke Gallaudet buat ketemu sama Deya!"
Kaia dan Rhett terbahak mendengar ucapan cucunya yang julidnya mengingatkan mereka seperti Ogan Abimanyu Giandra.
"Brengsek lu Bay! Enak saja bilang aku mafia karatan!" sungut Antonio sambil manyun.
Keenam orang yang muda-muda itu memilih duduk diatas karpet tebal sambil memakan pizza. Garvita sendiri memilih menempel dengan Luke karena dia masih mode marah dengan Gabriel.
"Apa FBI akan menangkap Harland?" tanya. Rhett.
"Belum tahu Opa" sahut Luke. "Biar itu urusan pihak federal. Kita hanya menangkap empat orang yang terlibat dalam pembunuhan kedua orangtuanya Gabriel. Dan soal buku besar kartel Brazil yang kita dapat dari Jubal, sudah diserahkan ke FBI dan CIA."
"Tenang, aku masih simpan copyannya" sambung Bayu.
"Simpan saja. Siapa tahu kalian memerlukan suatu saat nanti" ucap Kaia.
"Iya Oma."
***
Menjelang sore, Garvita dan Gabriel memutuskan untuk pergi ke salon guna membenarkan bentuk rambut pria berdarah Brazil Amerika itu yang amburadul akibat ulah putri Ayrton Schumacher.
Garvita tampak asyik membaca pesan di ponselnya sampai tidak tahu jika Gabriel sudah kembali menjadi pria yang selama ini selalu rapih.
"Gimana nona?" tanya Gabriel di hadapan Garvita.
Yang udah rapih lagi
Garvita hanya menatap datar. "Biasa saja."
Gabriel melongo melihat reaksi gadisnya. "Hah?! Biasa saja? Setelah insiden dipotong pakai gunting rumput? Masih untung rambutku tidak kena hama tanaman!"
"Iyalah! Bisa saja ada hama di gunting itu!" sungut Gabriel kesal.
"Nggak bakalan hidup di rambut kamu! Kan sudah kena keramas tadi" balas Garvita santai.
"Saya keluar dulu nona!" ucap Gabriel keluar aura pengawalnya membuat Garvita cekikikan. Ketika pengawalnya sudah keluar dari salon itu, Garvita tersenyum simpul.
Makin cakep aja pengawalku satu itu. Apalagi kalau sedang marah...
Usilnya si neng...
***
Dua hari usai peristiwa Rio de Janeiro, keempat agen federal itu pun sadar dan mulai mengetahui bahwa akhirnya mereka tertangkap dan terbukti melakukan pembunuhan dua agen federal aktif yang hukumannya bisa seumur hidup menurut hukum New York atau mati menurut hukum UAE karena peristiwa itu terjadi di Dubai.
Travis dan Nelson berusaha untuk mendeportasi keempat agen federal yang sudah dipecat dari instansi masing-masing dengan bantuan Jaksa Agung Amerika Serikat yang diwakili oleh jaksa penuntut umumnya, Marisol Braga.
Meskipun Marisol masih muda, seumuran dengan Nelson, tapi sepak terjangnya sudah diakui dunia hukum.
***
Ruang Jaksa Penuntut Umum
"Beneran deh keluarga kamu, Nelson! Sukanya main hakim sendiri!" omel wanita cantik berdarah Spanyol Amerika itu dengan kesal.
"Oh come on Mari, mereka hanya membawa pelaku pembunuhan pulang ! Kalau menunggu Feds, kelamaan birokrasi nya!" kekeh Nelson santai. "Lagipula, mereka pakai uang sendiri, tidak merepotkan pemerintah jadi harusnya pemerintah Amerika Serikat berterimakasih kepada kami dong!"
Marisol menatap judes ke pria yang sering berseteru di ruang sidang. "Aku lihat daftar hitam kalian secara turun temurun memang banyak ya?" sindir Marisol.
"Daftar hitam apa? Kami selalu bayar pajak tepat waktu, tidak curang atau melakukan penggelapan..."
Marisol memajukan wajahnya ke Nelson. "Daftar kriminal yang kalian lakukan seenaknya!"
"Contohnya?" balas Nelson yang memiliki mata hijau kebiruan.
"Ezra Hamilton, sempat di sel karena menghajar salah satu anggota keluarga Rochester karena menembak Chris Bradford sebelum menjadi kapten..."
"Yang kebetulan Oom Chris adalah kekasih Tante Alea waktu itu dan Tante Alea putri dari Opa Ezra. Look Mari, pria itu memang kriminal dan dia berani menembak anggota NYPD yang menyamar. Bukan salah Opa Ezra dong kalau main hajar karena Oom Chris hampir mati waktu itu!" senyum Nelson.
"Oma mu Kristal Ruiz Sky..."
"Adikku Shinichi hampir dibunuh oleh mantan Oom Hideo padahal baru berusia beberapa jam... Apalagi Marisol?" cengir Nelson.
"Benar-benar deh kamu ! Ditambah sekarang!" Marisol kembali ke tempat duduknya.
"Look Mari, semua bukti sudah aku serahkan padamu. Baik hati kan aku?"
Marisol menyipitkan mata coklatnya.
"Jadi bisakah kita mendeportasi keempat cecunguk ini?" tanya Nelson sambil menunjuk keempat foto mantan agen federal itu.
"Bisa. Karena seperti biasa, CIA dan ABIN mendenial keterlibatan mereka dan keberadaan keempat orang ini!" jawab Marisol.
Nelson terbahak. "Sangat khas birokrasi federal!"
Marisol hanya tersenyum smirk. "Aku yakin keluarga mu yang Emir Dubai, pasti minta hukuman mati."
"Ohya, kami menggunakan hukum nyawa dibayar nyawa ... apalagi pembunuhan berencana. Hukumannya dipancung!" Nelson menatap Marisol. "Aku harap Gabriel tidak usah maju menjadi saksi."
"Tidak perlu." Marisol mengambil bukti foto saat Eduardo menembak Juan Pablo Luna dan Stephanie James. "Foto ini dan video yang kalian dapat sudah mencakup semuanya."
Visualnya Nelson dan Marisol
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️