
"Mbak Zee kok bilang nya gitu sih?"
"Lho kan iya tho. Kata almarhum Oma Ayu, sebagai ada turunan jowo, kita itu jangan benci banget sama lawan jenis. Beneran itu Dik" senyum Zinnia.
Garvita hanya manyun. "Mbak, tolong rayu papa dong. Kembalikan samsak hidup aku" rengek gadis bermata biru kehijauan itu.
"Yeeee, yang bikin perkara kamu, kok mbak Zee yang harus maju juga?" kekeh Zinnia gemas dengan adik bungsunya yang manjanya minta ampun.
"Aaaaaahhhh mbak Zeeee..."
Zinnia tertawa melihat ekspresi wajah adiknya. "Arsya sampai lihatin tuh kenapa Tante Garvitanya macam dia saja kalau minta ASI."
Garvita tambah jutek deh.
***
Gabriel sedang menikmati pemandangan sawah yang tidak dia temukan di Dubai apalagi negara UAE lainnya. Wajahnya yang tampan, membuat para buruh tani yang berkaum hawa, mencuri - curi pandang ke pria berdarah Brazil dan Amerika itu. Gabriel sendiri sedang berada di sebuah saung dekat sawah-sawah yang hendak ditanam bibit padi.
Sembari membawa bekal dari rumah yang dibuatkan bik Minah, Gabriel membuka folder di ponselnya untuk mencari tahu kasus kedua orangtuanya. Entah kenapa semakin dia mencari tahu, semakin informasi yang didapatkan membuatnya menjadi ketar ketir. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian.
Tiba-tiba ada panggilan masuk dan Gabriel hanya tersenyum melihat siapa yang menelponnya.
"Assalamualaikum princess" goda Gabriel.
"Wa'alaikum salam. Gabrieeellll! Pulang dong!"
"Haaaaahhh? Kan masih dua Minggu lagi jatah saya disini nona."
"Sepi aku! Kehilangan samsak hidup!"
"Bukankah banyak pengawal disana? Riyadh gimana?"
"Riyadh kan pengawalnya Kalila sekarang! Tidak mungkin lah aku hajar!"
Gabriel tertawa. "Nona merindukan saya bukan?"
"Iya, aku rindu mukul kamu!"
Pria tampan itu semakin terbahak membuat para buruh tani bisa melihat wajah bahagia Gabriel seperti ditelpon oleh kekasihnya.
"Eleuh, si akang geus boga kabogoh ( mas nya sudah punya pacar )" ucap salah satu buruh tani itu.
"Nyaan ( masa sih )?" timpal yang lain.
"Sok atuh tingali ( tuh lihat ). Mukanya senang gitu!"
"Wajar atuh kalau sudah ada pacar. Kasep Kitu ( cakep gitu ). Bule sih ya."
Gabriel tidak menghiraukan ghibah para buruh tani sebab yang menjadi fokusnya adalah suara Garvita yang sudah lama tidak didengarnya dua Minggu lebih ini.
***
"Bagaimana rasanya mengawal mbak Zee?"
"Nona Zinnia setidaknya tidak sebrutal anda, nona. Jauh lebih manner dibandingkan anda yang lama tinggal di istana."
"Jadi menurut kamu, aku mannernya jelek?"
"Ya kan nona bisa menilai sendiri bagaimana."
Tidak ada jawaban dari Garvita membuat Gabriel melihat layar ponselnya karena takut sudah dimatikan sepihak.
"Nona?"
"Kamu memang nyebeliiiinnnn!" Garvita langsung mematikan panggilannya.
Gabriel hanya tersenyum dengan ulah nonanya yang tidak dikawalnya.
"Akang kasep..." panggil salah seorang buruh tani ke Gabriel yang menatapnya bingung.
"I'm sorry. What are you talking about?" tanya Gabriel. "Eh, ibu bilang apa?"
"Mas nya cakep. Ternyata bisa bahasa Indonesia ya."
"Tadi ibu pakai bahasa apa?" tanya Gabriel lagi.
"Iya Bu. Gimana? Apa ada pesan untuk nona Zinnia?"
"Ah enteu. Masnya namanya siapa?" Buruh tani itu tahu rumah Zinnia memang ada beberapa penjaganya tapi yang suka datang ke sawah hanya Gabriel.
"Gabriel."
"Kayaknya masnya yang datang sama adiknya Bu Zinnia itu ya. Mbak Gar... Gar... siapa sih... kok lupa..." celetuk ibu yang lain.
"Garvita Bu."
"Ah iya mbak Garvita. Dia sama lho dengan Bu Zinnia, cantik dan sama-sama rendah hati... Apa keluarga tuan Ayrton semua seperti itu mas?"
"Iya Bu."
"Kok mbak Garvitanya nggak datang?"
Gabriel tersenyum. "Nona Garvita sedang ada urusan di Dubai, Bu." Suara ponselnya berbunyi membuat Gabriel meliriknya. "Maaf ibu-ibu, saya harus kembali ke rumah utama. Mari. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam" balas mereka semua.
"Ya Allah, kasep sopan muslim..." gumam seorang buruh. "Tapi teu bisa dihontal ( tapi tidak bisa diraih --- maapkeun kalau salah, Atos lami teu tiasa basa Sunda )."
"Keluarga Sultan sampai pegawainya tidak ada yang jelek..." celetuk yang lain.
"Urang ngan bisa lalajo ( kita cuma bisa memandang saja )."
***
Rumah Zinnia Indramayu Jawa Barat
"Sudah main ke sawahnya, Gab?" goda Zinnia ke pengawal adiknya.
"Sudah nona Zinnia. Bahkan diajak ngobrol sama para ibu buruh tani."
Zinnia meletakkan Arsyanendra diatas karpet tebal di ruang tengah yang sudah disingkirkan mejanya. Menjelang usianya lima bulan, Arsya sudah senang tengkurap sambil mengangkat wajahnya. Celotehan mulai keluar sedikit demi sedikit membuat Zinnia semakin gemas dengan putra bulenya.
"Gab, titip Arsya sebentar. Saya mau membuat sup daun katuk" pinta Zinnia. "Bik Minah sedang sibuk di dapur masak bersama pelayan lain." Zinnia memang tidak mempercayakan Arsya kepada baby sitter dan hanya kepada Jasmine dia percaya. Karena Jasmine sedang kembali ke Dubai, jadi Zinnia mempercayakan pada Gabriel untuk mengawasi bayi tampannya.
"Baik nona Zinnia." Gabriel pun mencuci tangan di wastafel lalu duduk bersama dengan Arsyanendra. "Wah my prince sudah bisa tengkurap... And you're the most handsome baby I ever see ( dan kamu adalah bayi tertampan yang pernah aku lihat )."
Arsyanendra lalu berguling dan mengangkat kakinya yang dipegang dengan tangannya. Wajahnya menatap Gabriel dengan intens.
Baby Arsyanendra
"Kamu gemesin deh my Prince. Sayang Tantemu lagi kena hukuman dari opa anda, my prince. Anda tahu, Tante Garvita itu manjanya minta ampun tapi tidak mau mengakuinya. Padahal my prince bukan bayi manja ya tapi kok Tante anda bisa begitu..." curcol Gabriel ke Arsyanendra.
Setengah jam Gabriel bercerita macam-macam ke Arsyanendra sampai Zinnia selesai membuat sup daun katuk, menggelengkan kepalanya mendengar cerita unfaedah pengawal tampan itu dan sebagian besar adalah tentang Garvita yang manja.
"Gab, kamu jangan doktrin anakku dong soal tantenya yang manja" kekeh Zinnia yang geli melihat putranya super perhatian bin kepo dengar curhatan pria tampan itu.
"Saya bingung nona, mau bercerita apa. Karena saya hanya mengawal nona Garvita, ya cerita soal dia saja." Gabriel tertawa kecil melihat Arsya kembali tengkurap. "My prince nanti besarnya akan melebihi ayahnya dan opanya."
"Kenapa bisa bilang begitu?" tanya Zinnia sambil memakan sup daun katuknya untuk memperbanyak ASI miliknya.
"Mata prince Arsya tampak cerdas dan dia akan menjadi orang yang bijaksana nantinya. Saya bilang seperti itu karena my prince menjadi pendengar yang baik. Jika demikian, akan membuat keputusan dengan hati-hati agar semua pihak puas. Jika nanti suatu saat menjadi raja, nona."
Zinnia tersenyum. "Insyaallah Gab dengan bimbingan aku dan dik Sendra. Tapi sayangnya, malah ketiga Oomnya yang akan lebih merasuk ajarannya karena kamu tahu sendiri kan tiap Minggu mereka kemari dan selalu menyisipkan ajaran gak jelasnya ke Arsya."
Gabriel tertawa mengingat saat Valentino dan Arka datang Minggu lalu. Dengan santainya keduanya membacakan rule agar tetap cool disaat menangis. "Bagaimana menangis dengan elegan?"
"Nah tuh!" sungut Zinnia.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️