
Indramayu Jawa Barat
"Gabrriieeeelll!" teriak Garvita di depan pintu kamar pengawalnya. Gadis cantik itu sudah siap dengan segudang rencana untuk mengganggu Gabriel Luna.
"Gabriel, ayo ke..." tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan Garvita melongo melihat pengawalnya polosan, bajunya disampirkan di bahunya dan hanya mengenakan celana kargo sebatas lutut sembari membawa secangkir kopi.
"Kopi, nona?" tawar Gabriel sambil tersenyum manis.
Manisnya nih bodyguard
"Cepat habiskan kopimu! Kita ke sawah lagi pagi ini!" hardik Garvita sambil menyembunyikan debar jantungnya yang baru kali ini melihat tubuh polos pengawalnya.
"Ini masih panas, nona. Baru saya seduh..."
"Aku tidak perduli! Sepuluh menit aku tunggu di teras!" Garvita langsung meninggalkan kamar pengawalnya dengan langkah lebar-lebar.
Gabriel hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan nona manjanya yang menggemaskan lalu melanjutkan acara coffee morning nya.
***
"Nona Garvita, ini camilan buat jalan-jalan ke sawah" ucap Jasmine sambil menyerahkan sebuah kotak piknik dari bambu.
"Terimakasih Jasmine. Isinya apa aja?"
"Ada arem-arem, sandwich, dan macaroni schotel. Ada termos berisikan teh, kopi, empat botol air mineral dan air garam kalau nona kena lintah lagi."
Garvita tersenyum. "Thanks Jasmine. You're the best!"
"Sama-sama nona..." Suara Jasmine terhenti ketika melihat Gabriel datang dengan kemeja kotak-kotak dan celana kargo.
"Kamu lama!" bentak Garvita kesal. "Ini bawa keranjangnya!" Gadis itu lalu berjalan keluar rumah meninggalkan Jasmine dan Gabriel yang melongo.
"Sabar ya Gab. Nona Garvita memang manja" senyum Jasmine.
"Iya Miss Jasmine. Sudah biasa kok." Gabriel lalu membawa keranjang piknik itu.
"Kamu tidak membawa senjata api?" tanya Jasmine yang melihat tubuh belakang Gabriel polos tanpa ada tonjolan gagang senjata.
"Tidak perlu Miss Jasmine. Kami disini aman kan? Bukan Dubai atau negara lainnya. Indramayu pinggiran dan tidak semua orang tahu tentang kami yang bakalan dikira turis."
"Kamu bawa senjata apa?" Bagi Jasmine mau dimana pun harus waspada.
"Pisau."
"Oke. Berhati-hati lah!"
***
Pagi ini Garvita mengenakan kaos hitam dipadu dengan kemeja denim lengan pendek yang tidak dikancing dan celana jeans pendek sebatas paha plus sepatu boot karet. Sangat tidak fashionable tapi Garvita tidak mau terkena lintah lagi.
"Nona, jangan cepat-cepat jalannya nanti kepleset!" tegur Gabriel ke Garvita yang cuek jalannya.
"Iya iya! Cerewet ih!" sungut Garvita yang melihat banyak buruh tani bersiap menanam padi di sawah yang masih kosong.
"Eh, ayak neng geulis" sapa para buruh tani yang rata-rata ibu-ibu itu menyapa Garvita.
"Hah? Ibu ngomong pakai bahasa apa? Garvita nggak paham" jawab Garvita memakai bahasa Indonesia.
"Eleuh, neng bule geulis tiasa basa Indonesia ( eh, cewek bule cantik bisa bahasa Indonesia )" celetuk seorang ibu. .
"Mama saya orang Indonesia tapi papa saya memang bule Jerman Arab Indonesia." Garvita berjongkok di pematang sawah ke arah ibu-ibu itu. "Nama saya Garvita, saya adiknya mbak Zee eh mbak Zinnia."
"Ah Bu Zinnia. Ih tahu neng, tétéh neng tea geulis pisan! Baik lagi orangnya. Kita-kita pas dikasih tahu pak Maman kalau bossnya datang dari Jakarta, kita kira teh orangnya sombong. Ternyata baiknya minta ampun!"
"Mbak Zee memang baik."
"Sayang suaminya nggak ada ya neng? Kan Bu Zinnia lagi hamil."
"Oh bang Sean masih tugas di luar negeri, nggak bisa datang. Susah liburnya Bu" ucap Garvita. "Eh Bu, boleh ikut nanam padi?"
"Neng nggak takut lintah? Cacing? Kodok?"
"Nggak lah! Kemarin sudah kena gigit lintah kok!" kekeh Garvita.
"Eta teh saha ( itu siapa )? Kasep pisan euy ( ganteng banget )!" celetuk salah seorang ibu-ibu membuat yang lain langsung auto heboh melihat kedatangan Gabriel.
"Oh itu pengawal saya Bu. Gab, kamu di saung aja disitu! Aku mau menanam padi!" Garvita berganti dengan bahasa Inggris ke Gabriel.
"Si akang teh teu tiasa basa Indonesia ( mas nya nggak bisa bahasa Indonesia )?"
"Nggak bisa Bu." Garvita langsung nyengir usil. "Sudah kamu duduk manis di sana, aku mau have fun go mad!"
Ya ampun nona satu itu! Itu baju branded semua! Gabriel hanya menyabarkan diri menghadapi bungsu Ayrton Schumacher itu. Tawa lepas dari Garvita saat heboh melihat cacing dan beberapa belut membuat Gabriel tersenyum.
Diam-diam Gabriel merekam kegiatan nonanya dengan ponselnya. Ya ampun itu rambutnya panjang nggak diikat? Gabriel celingukan mencari karet di dalam keranjang piknik. Ketika menemukan, pria itu menghampiri Garvita.
"Nona, rambutnya diikat dulu nanti kena tanah!" panggil Gabriel yang membuat Garvita menoleh.
"Tolong ikat kan!" Garvita pun berjalan menuju Gabriel dan langsung membalikkan tubuhnya untuk memudahkan Gabriel mengikat rambut coklatnya. Dengan telaten Gabriel membuat ikatan Bun ke atas dan membuat leher jenjangnya terlihat, membuat pria itu ingin menciumnya.
Ya ampun! Nona Garvita masih di bawah umur Gab!
"Sudah?" tanya Garvita membuyarkan lamunan Gabriel.
"Ehem, sudah nona."
"Good! Aku mau menanam lagi!" Garvita lalu bergabung dengan para ibu-ibu itu sambil mengobrol macam-macam.
Gabriel pun kembali ke saung dan menunggu nonanya disana sambil membuka ponselnya. Hingga detik ini dirinya belum mendapatkan jawaban tentang siapa pembunuh kedua orang tuanya. Gabriel sendiri belum bisa meninggalkan Garvita karena kontraknya masih berlangsung.
Setengah jam kemudian Garvita menghampiri Gabriel yang sudah menyiapkan makanan dari keranjang piknik itu.
"Aku cuci tangan dulu Gab" ucap Garvita sembari menuju pancuran yang disediakan disana.
"Nona mau teh atau kopi?" tanya Gabriel.
"Kopi!" balas Garvita sedikit berteriak.
Gabriel menyiapkan secangkir kopi untuk nonanya. "Hitam, dua gula."
Garvita lalu duduk di dalam saung dan mengambil tissue basah untuk mengelap tangannya lalu ke tissue kering.
"Arem-arem favorit aku!" seru Garvita sambil mengambil sebuah arem-arem.
"Apa itu nona?"
"Nasi yang dipadatkan diisi dengan sambal goreng ati lalu dibungkus daun pisang." Garvita menggigit arem-aremnya. "Mmmm... enak!"
"Enak?"
"Enak banget. Coba kamu makan satu!"
Gabriel mengambil satu arem-arem dan meniru cara nonanya makan. "Ini enak nona."
"Kan aku sudah bilang" senyum Garvita sambil menyesap kopinya. "Enak kopinya. Pas manisnya."
"Hitam dengan dua blok gula kan?" Gabriel menatap Garvita.
"Yup. Kamu kok hapal?"
"Saya selalu memperhatikan kebiasaan anda, nona."
"Hhhhmmm. Gabriel..."
"Ya nona?"
"Kenapa kamu tidak pernah berkencan? Bukankah cewek-cewek di Dubai cantik-cantik."
Gabriel menatap heran ke nonanya. "Apakah anda merencanakan sesuatu nona?"
"Ah tidak. Hanya bingung saja kamu di hari libur saja memilih di istana tidak jalan-jalan."
"Tugas saya menjaga anda. Kalau saya berkencan, pikiran saya bercabang dan tidak bisa konsentrasi penuh. Dan saya juga tidak mau dipusingkan soal cewek."
"Karena kamu sudah pusing denganku bukan, Gabriel Luna?" goda Garvita.
"Benar nona... Eh?"
Garvita terbahak.
Sukanya godain pengawalnya
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️