
Acara Resepsi Blaze dan Samuel.
Emir Ahmed dan Sabine serta Karl tampak menyingkir dari pesta untuk duduk di sebuah meja sudut. Tampak ketiganya terlibat pembicaraan serius lalu Reyhan dan Paradina pun datang lalu kelimanya tampak lebih serius.
"Sebenarnya ada apa sih Dad?" tanya Kalila ke Enzo.
"Daddy tidak tahu princess. Mungkin ada hal yang masih berkaitan dengan aksi Oma kalian dulu?" senyum Enzo.
"Pa? Memang Emir Khalid dulu juga sama Oma masuk militer?" tanya Garvita ke Ayrton.
"Melihat dari gelagatnya sih iya" jawab Ayrton yang tidak terlalu hapal dengan kegiatan sang mommy karena Opanya dulu, Senna Al Jordan, tidak terlalu banyak bicara soal kegiatan aneh-aneh Sabine.
"Ini sudah kan? Aku sama Lila mau cari makan Dad." Ken menatap Enzo.
"Ya sudah sana. Kalian makan dulu."
"Garvita juga pamit ya pa. Masih mau kumpul sama cewek-cewek." Garvita mencium pipi Ayrton.
"Iya sayang. Gabriel, kawal Garvita." Ayrton menoleh ke arah pengawal putrinya.
"Baik tuan Ayrton." Gabriel tersenyum ke arah Garvita yang manyun. "Mari nona."
Setelah semua anak-anak pergi, Enzo berbisik ke Ayrton. "Apakah mereka membahas soal perjodohan?"
"Bukannya sejak jaman Daddy dulu sudah ingin menjodohkan mom dan Oom Reyhan dengan salah satu anak mereka?" Ayrton menoleh ke sepupunya.
"Celakanya kita semua tidak ada yang berjodoh" kekeh Enzo.
"Menurutmu, siapa yang diincar Emir Qatar itu?"
"Aku rasa Kalila, Ay. Karena Garvita sudah diincar oleh Gabriel." Enzo tersenyum smirk.
"Kukira kamu tidak tahu."
"Ay, apakah kamu tidak masalah jika Garvita nanti bersama dengan Gabriel? Mengingat latar belakangnya yang kita tahu bagaimana."
Ayrton hanya menghela nafas panjang. "Terlepas siapa Gabriel, aku sudah suka dengan anak itu. Dia pelan-pelan bisa merubah si Garvita yang manja menjadi agak berkurang manjanya meskipun terkadang masih kumat."
"Yang jelas, kita semua tahu, ada alasan mengapa kedua orangtuanya Gabriel dibunuh!" Enzo melihat bagaimana Reyhan dan Paradina saling bersalaman.
"Dan dia dari keluarga baik-baik, Zo." Ayrton terkekeh melihat para orang tua tersenyum puas. "Tampaknya Kalila yang akan dijodohkan, Zo."
Enzo menepuk jidatnya. "Sama cucu Emir yang mana lagi? Setahuku dia punya tiga cucu, dua laki-laki dan satu perempuan."
"Nanti kamu akan tahu sendiri, Zo" seringai Ayrton sambil memegang bahu mantan pembalap F1 dari tim Ferrari itu.
"Alamat Georgi bakalan ribut deh!" keluh Enzo.
***
Garvita menyeret Gabriel menuju halaman belakang mansion Blair, tempat acara resepsi Blaze dan Samuel diadakan. Kaia dan Rhett yang meminta acara ijab hingga resepesi dilaksanakan disana sekalian kumpul-kumpul keluarga besar dan Joey sendiri tidak keberatan begitu juga dengan Mario dan Josephine Bianchi.
"Kita mau kemana Nona..."
"Apa kamu tidak curiga melihat bagaimana itu Emir Qatar meminta Oma dan Opa berbicara empat mata eh enam mata?"
Gabriel menatap geli ke gadis yang tampak bingung. "Memang kenapa nona?"
"Jangan-jangan aku bakal dijodohkan..." Garvita memegang dagunya lalu menggigit bibir bawahnya.
"Memang kenapa kalau dijodohkan nona? Bukankah bakalan menjadi istri Emir?"
"Aku nggak mau! Aku tidak tertarik seperti Tante Georgi ataupun mama! Aku tidak bisa bebas!"
"Tapi finansial bisa nyaman nona..." .
Mata biru Garvita menatap tajam ke pengawalnya. "Mau kekayaan macam apa lagi Gab? Aku sudah kenyang! Kamu tahu apa!"
"Saya tidak tahu apapun nona tapi bukankah wanita yang penting ada kekayaan"
"Apakah penting tapi buat aku yang merupakan pewaris Al Jordan Schumacher, buat apa kalau aku tidak mendapatkan pasangan yang melihat aku, aku! Bukan Garvita putri Emir Al Jordan Schumacher! Aku hanya ingin cinta yang sederhana, pasangan yang hanya mencintai aku dengan caranya yang membuat aku percaya, bahwa tidak ada wasabi dibalik salmon sushi."
Gabriel tersenyum mendengar analogi wasabi di balik salmon itu. "Jika ada pria itu nona?"
"Aku akan menjadi wanita yang bahagia. Aku ingin dicintai seperti mbak Zee, mbak Leia, seperti Deya, seperti Juliet... Iya Gabriel, aku iri dengan mereka. Iri mendapatkan pasangan yang benar-benar sayang dengan tulus meskipun mbak Zee mengalami kejadian tidak mengenakkan..."
"Karena aku tidak mau dijodohkan!" hardik Garvita dengan nada tertahan takut terdengar salah satu saudaranya.
"Saya yakin tuan Ayrton juga tidak menyukai perjodohan."
"Kalau papa, aku sih bisa percaya." Garvita menghela nafas panjang. "Kamu usia berapa sekarang Gab?"
"22 tahun nona."
"Masih perjaka?" goda Garvita.
Wajah Gabriel tampak memerah. Nona manja satu ini memang deh!
"Oh my God... Aku kira kamu sudah pernah mencoba-coba" ujar Garvita.
"No nona. Boleh anda bilang saya kolot, tapi saya ingin melakukan dengan wanita yang saya cintai dalam keadaan sudah halal."
Garvita melongo. "Apa?"
"Iya nona. Kakekku almarhum mengajarkan jika kamu tidak mau menambah dosa, janganlah kamu berzinah. Menikahlah jika memang sudah datang jodohmu."
"Jadi?"
"Jika jodoh saya sudah hadir seperti yang saya harapkan, saya sudah berniat untuk menikahinya dan berhenti menjadi bodyguard, nona."
"Apakah jodohmu sudah tampak?" tanya Garvita yang merasa akan kehilangan jika pengawalnya pergi karena menikah. Garvita tahu, jika suatu saat Gabriel menikah, tidak mungkin akan mengawalnya karena istrinya pasti akan merasa cemburu. Apa aku bakalan cemburu jika Gabriel pulang menemui istrinya nanti?
"Belum nona. Kan saya masih 22 tahun dan mungkin jodoh saya masih sekolah" jawab Gabriel ambigu.
"Memang tipe kamu seperti apa?" tanya Garvita.
Seperti anda tapi saya cukup tahu diri siapa saya. Anak korban pembunuhan yang diangkat oleh tuan Ayrton dan Gasendra. "Tipe yang nggak manja macam nona."
Garvita cemberut. "Aku tuh nggak manja!"
"Nona itu manja lho..." senyum Gabriel.
"Aku nggak manja!"
"Yang benar nona? Tidak melihat saya sehari saja, sudah teriak-teriak macam di hutan. Saban ke Indramayu, selalu main ke sawah, kena lintah, nangis-nangis minta diambil lintahnya tapi nggak kapok. Apa itu nggak manja?" goda Gabriel semakin senang membuat nonanya emosi.
"Gabrieeellll! Kamu nyebeliiiinnnn!" bentak Garvita sambil menghentakkan kakinya pertanda dia sangat kesal.
"Tuh kan! Kelihatan manjanya..." gelak Gabriel.
"Kamu minta aku jotos lagi?" Garvita mendekati Gabriel dengan wajah galak.
"Nona tidak berani karena pasti nona akan dimarahi tuan Ayrton" jawab Gabriel yakin.
"Papa tidak mungkin memarahi aku karena kamu yang membuat aku marah!" balas Garvita tidak mau kalah.
"Taruhan nona?"
"Taruhan apa?"
"Kalau saya menang, berjanjilah nona untuk tidak main ke sawah kalau kita ke Indramayu lagi."
"Kalau aku menang, kamu harus membayari semua makanan setiap pulang dari latihan menembak, memanah dan dojo selama sebulan!" balas Garvita dan tanpa aba-aba gadis itu meninju Gabriel lagi membuat Gabriel terhuyung.
"GARVITA!" bentak Ayrton membuat gadis itu menoleh.
"Papa?"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️