
Intercontinental Barclays Hotel Manhattan New York
Sadawira menerima telepon dan membuat alisnya berkerut lalu menatap siapa yang menelpon.
"Siapa Wira?" tanya Garvita sedangkan Jayde hanya menatap datar.
"Sorry, urusan kampus." Sadawira pun pergi meninggalkan kedua sepupunya.
"Memang koasnya masih lanjut kah?" tanya Garvita ke Jayde.
"Maybe" jawab Jayde sambil masih menatap kepergian sepupunya.
***
"Halo?" sapa Sadawira.
"Wira-san, ditunggu Bianchi-san di taman belakang."
"Oke." Sadawira pun mematikan ponselnya.
Sadawira pun berjalan menuju taman belakang hotel dan tampak Luke Bianchi sudah duduk di sana bersama dengan Hidetoshi Shinoda dan istrinya Dokter Yuri.
"Akhirnya ketemu juga" senyum Luke.
"Halo bang" sapa Sadawira sambil memeluk kakaknya.
"So, bagaimana hasil penyelidikan kamu?" tanya Luke dengan nada dingin setelah adiknya duduk di hadapannya.
"Dokter di Singapura, terlibat." Sadawira menyalakan rokoknya.
Sadawira Yustiono
"Kamu yakin?" tanya Luke lagi.
Sadawira menghembuskan asap rokoknya lalu menatap serius ke kakaknya. "Positif!"
"Oom Ega tahu?"
"Nope. Papa mau pindah ke Jakarta karena eyang Kakung dan eyang putri semakin tua dan papa mau menemani mereka."
"Opa Iwan dan Oma Danisha kan di mansion Giandra. Ada Oom Anarghya dan Tante Anandhita..."
"Yup, tapi papa dan mama sudah cukup tinggal di Singapore dan ingin bersama eyang Kakung dan eyang putri."
"Kamu berhati-hati Wira. Kamu sendirian."
"Of course. Aku sengaja tidak mau terlihat ada pengawal meskipun papa tetap kirim pengawal bayangan." Sadawira memandang Luke. "Aku bersyukur mantan pacarku dihamili orang karena orangtuanya dan suaminya yang sekarang juga terlibat. Bisa habis aku jika screening yang aku dapatkan tidak segera aku peroleh."
Luke tersenyum smirk. "Kamu mirip Opa Ghani kalau sedang wajah kulkas begini."
Luke Bianchi
"Padahal Opa Ghani kan cuma Opa buyut ya?" kekeh Sadawira.
Luke tertawa. "Hati-hati, organisasi ini sudah meresahkan! Aku sendiri tidak mau terlibat jika anak buahku tidak menjadi korban."
Sadawira mengambil sebuah flashdisk dari saku dalam jasnya. "Ini daftar dokter dan orang-orang yang kaya mendadak. Bisa kalian selidiki dan aku minta jangan sampai Oom Benji, papa, dan mas Bayu tahu. Kita bisa Mateng!"
"Bayu tidak akan berani sama aku, Wira. Tenang saja." Luke menerima flashdisk itu. "Hide, kamu dan Yuri aku kasih tugas. Selidiki daftar orang ini. Laporkan padaku kalau sudah dapat hasilnya yang akurat." Ayah satu anak itu menyerahkan benda pipih kecil itu pada Hidetoshi.
"Absolutely. Thanks Wira-san." Hidetoshi memberikan kode pada istrinya untuk segera bekerja.
"Arigato Hide, Yuri."
"Anytime Luke. Demi Shota." Hidetoshi dan Yuri membungkukkan tubuhnya.
"Bagaimana kamu bisa kecolongan, bang?" tanya Sadawira bingung karena Shota adalah salah satu anak buah kakaknya yang paling jago berkelahi.
"Dia sedang mabuk saat kejadian itu" jawab Luke.
"Bar, alkohol, drugs... Bad combo."
Luke mengangguk. "Semoga Shota damai di surga."
"Aamiin. Oh, Jayde tahu."
Luke melongo. "How?"
"Pergerakannya sampai ke Manchester juga."
"F***!" umpat Luke.
***
"Akhirnya nongol juga anak Dubai satu lagi" seru Blaze yang sedang menggendong putranya Rase.
Garvita melihat betapa ramainya penthouse itu penuh dengan para wanita cantik dengan kehebohan masing-masing. Dirinya tersenyum melihat Elane tampak asyik mengobrol dengan Kalila dan Raine apalagi ketiganya melihat-lihat iPad yang dia yakin adalah pastry hasil karya Elane.
"Ramainya ibu-ibu disini ya" ucap Garvita dengan nada sedikit keras.
"Ramai lah, namanya juga emak-emak!" balas Nadira yang masih berusaha menjauhkan putrinya dengan sepupunya Vicenzo dan Hyde. Entah apa yang terjadi, ketiganya berebut mainan membuat ketiga mommy mereka harus memisahkan batita brutal itu.
Garvita hanya menggelengkan kepalanya, pusing dengan kerusuhan keluarga nya, tidak perduli cewek atau cowok, mau generasi keempat, kelima dan Keenam.
Gadis itu melihat bagaimana Juliet tampak asyik mengobrol dengan Gemini membahas kehamilan, lalu dirinya berjalan mendekati Arabella yang sedang terbahak mendengar cerita Katya D'Angelo dan Kedasih Jayanti.
"Hai, apa kabar?" sapa Garvita yang langsung mendapatkan pelukan dan ciuman dari para sepupunya. "Pada bahas apa?"
"Ini lho Kedasih cerita soal Grandpa nya" gelak Arabella.
"Apaan?" tanya Garvita kepo.
"Jadi, kapan itu Grandpa kedatangan seorang orang tua mahasiswa bersama mahasiswa nya. Orang tuanya itu protes ke Grandpa kenapa nilainya mendapatkan E. Tentu saja Grandpa menjelaskan bahwa mahasiswa nya itu tidak pernah serius dalam kuliah. Dan kalian tahu apa jawaban orang tuanya?"
"Apaan?"
"Sensei, jawaban anak saya pasti benar, yang salah pertanyaannya." Kedasih tersenyum geli.
Ketiga gadis disana melongo dan seketika tertawa terbahak-bahak. "Oh ya ampun!" gelak Garvita.
"Sebentar, itu sama saja menutupi bahwa anaknya memang malas sekolah!" kekeh Katya.
Arabella tidak berhenti tertawa. "Kepikir ya orang tuanya bilang begitu! Seriously!"
"Grandpa sampai tidak bisa berkata apa-apa saking shock nya" kekeh Kedasih.
"Apakah mahasiswa itu dikeluarkan?" tanya Garvita.
"Hampir tapi Grandpa masih memberikan kesempatan satu semester lagi. Kalau tidak bisa, ya sudah out!"
"Oh astagaaa. Ada - ada saja."
***
Garvita bersama para sepupunya memilih untuk makan malam di penthouse setelah para sepupu pria memutuskan pergi ke markas latihan di Poughkeepsie.
"Jadi setelah acara resepsi kamu langsung ke Paris?" tanya Nadira ke Savrinadeya.
Iya mbak. Bang Antonio ingin kami langsung honeymoon. Mungkin lelah kena rusuh disini. Jawab Savrinadeya membuat para sepupunya terbahak.
"Tomat kan sudah tahu kita Membagongkan dan dia juga semakin Membagongkan. Lalu harus heran gitu?" balas Blaze.
Bang Antonio memang lucu.
"Kalau kamu gimana, Veena? Masih di New York atau ikutan Deya?" tanya Leia.
"Di New York dan mungkin ke pondok. Aku kan punya pondok jadi mungkin kita kesana" jawab Raveena.
"Pondoknya Oma Yuna?" tanya Nadira.
"Bukan. Pondok milik aku sendiri" senyum Raveena.
"Ah lupa, kamu kan ratu properti" ucap Garvita.
"Tuh tahu" kekeh Raveena.
"Ohya, aku mau mengucapkan selamat bergabung di keluarga yang amburadul ini ke Kedasih Jayanti yang diajak oleh Shinichi karena juga permintaan Sakura dan Elane Moon, yang sedang dalam proses penjajakan dengan adikku, Eagle. Semoga kalian tidak shock ya?" senyum Nadira.
"Terima kasih mbak Dira. Meskipun aku masih berusaha menghapal nama kalian satu-satu" ucap Kedasih.
"Terima kasih mbak Dira dan semua wanita-wanita cantik di ruangan ini yang sudah menerima saya. Sejujurnya saya sedikit cemas ketika Eagle mengajak saya ikut karena ... siapa lah saya yang harus bersama dengan wanita-wanita hebat dan sultan ini. Tapi, Mbak Dira, Sakura dan Garvita meyakinkan saya untuk ikut. Dan ternyata bayangan saya, kalian akan memandang saya bukan siapa-siapa, hilang sama sekali. Saya seperti mendapatkan saudara perempuan yang asyik dan seru." Elane terdiam. "Saya terlalu banyak bicara ya?" tanya wanita berhijab itu.
"Iyaaaa!!!" seru para cicit perempuan Keluarga Pratomo itu sambil tertawa.
Elane menundukkan wajahnya dengan pipi merah padam.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️