
Rumah Zinnia Indramayu Jawa Barat
"Apakah tuan Arka dan tuan Valentino akan datang minggu ini nona?" tanya Gabriel sambil bermain bersama Arsyanendra.
"Sepertinya tidak Gab. Kan mereka harus persiapan ke New York untuk pernikahan Nadira dan Pedro." Zinnia menatap Gabriel. "Kamu bareng saja sama keluarga Jakarta ke New York nya."
"Tapi nona..."
"Kamu pulang ke Jakarta sehari sebelum berangkat ke New York. Biar aku telepon Oom Hoshi." Zinnia menelepon Hoshi Reeves.
"Ada apa Zee?" tanya Hoshi setelah saling mengucapkan salam.
"Oom Hoshi, berangkat ke New York hari apa?" tanya Zinnia.
"Kamis. Kenapa? Gabriel biar bareng kan?" tebak Hoshi.
"Iya Oom. Is that okay?"
"No problems. Bilang sama Gabriel, hari Rabu harus sudah sampai Jakarta. Sendra katanya juga mau ikut?"
"Iya katanya. Sebab kemarin sudah tidak datang saat Bee dan Sammy menikah."
"Oke. Oom tunggu Gabriel datang Rabu depan."
"Terimakasih Oom Hoshi."
Gabriel tersenyum mendengar dirinya bisa bareng dengan keluarga Reeves dan Giandra.
"So, Gab. Apa kamu suka adikku?" tembak Zinnia dengan wajah usil membuat pria tampan itu melongo dengan wajah panik.
***
"Bagaimana anda bisa berkata demikian nona?" tanya Gabriel dengan nada gugup.
"Biasanya kalau orang banyak bercerita tentang seseorang secara spesifik, pasti dia memiliki perasaan spesial apalagi sangat detail. Hanya orang yang jatuh cinta yang boleh dibilang macam fans yang hapal dengan idolanya."
"Nona Garvita bukan contoh idola yang baik..."
Zinnia terbahak. "Well, memang dia parah manjanya."
"Tapi nona Garvita aslinya memang baik kok..."
"Gabriel, kalau kamu menyukai adikku..."
"Tampaknya anda salah nona" potong Gabriel.
"Gab, aku itu psikolog, bisa membaca bahasa tubuh seseorang yang jatuh cinta atau tidak. Dan kamu suka sama Adikku. No debat, deh Gab." Zinnia menatap Gabriel serius.
"Apakah... nona melarangnya..." Akhirnya Gabriel membuka suara setelah terdiam cukup lama.
"Tidak. Aku tidak bisa melarang seseorang jatuh cinta bukan? Tapi aku tidak akan mengatakan pada siapapun Gab. Harus kamu sendiri yang menyatakan pada Garvita..."
"Tapi saya tidak tahu bagaimana perasaan nona Garvita..."
"Dibawa sambil jalan dan doa Gab. Aku lihat papa, opa dan Oma semua suka sama kamu. Dan itu sudah nilai lebih, Gab. Setidaknya, kamu jalan meminta ijin dari keluarga aku sudah terbuka lah. Tinggal kamu dan Garvita saja.."
Gabriel mengangguk. "Terima kasih nona Zinnia."
"Kamu pria baik Gab apalagi cuma kamu yang diributi adikku satu itu yang ngomel-ngomel kehilangan samsak hidup nya" gelak Zinnia membuat Gabriel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
New York, Dua Hari Sebelum Pernikahan Nadira dan Pedro Pascal
Pesawat pribadi Gulfstream milik Giandra Otomotif Co mendarat di runway khusus pesawat pribadi JFK Airport bersamaan dengan pesawat milik Al Jordan.
Rombongan Jakarta minus para Opa dan Oma karena mereka masih merasa lelah setelah pernikahan Blaze dan Samuel yang jaraknya terlalu dekat. Keluarga Reeves, Baskara, Lexington dan Yung berada dalam satu pesawat ditambah dengan Gabriel.
Keluarga itu pun turun satu persatu dan Gabriel melihat Garvita yang juga baru saja turun dari pesawat keluarganya. Meskipun wajah Garvita tampak jutek, tapi Gabriel bisa melihat mata biru gadis itu berbinar saat melihat dirinya.
"Sudah sana, urus si nona manja!" sindir Juliet yang datang bersama dengan Romeo atas permintaan Nadira yang ingin melihat pacar adiknya secara live.
"Eh?"
"Sudah sana! Kan sebulan kalian nggak ketemu! Pasti kangen ribut kan?" Juliet mendorong tubuh tegap Gabriel untuk berjalan ke rombongan Dubai.
"Alhamdulillah sehat semua dan pangeran Arsya sudah mulai tengkurap dan mungkin sebentar lagi akan duduk" senyum Gabriel.
"Kamu di Indramayu tambah segar ya? Soalnya obyek yang bikin kamu makan hati nggak kelihatan sebulan" gelak Ken Al Jordan sambil melirik Garvita yang manyun.
"Sepertinya begitu tuan Ken...Addduuuhhh!" Gabriel mengusap bahunya yang kena tinju Garvita.
"Astaghfirullah! Garvita!" bentak Ayrton tapi gadis itu sudah ngeloyor untuk berkumpul dengan sepupunya dari Jakarta. "Kirain aku pisah sebulan bakalan sadar ternyata pengsan terus..."
Gabriel hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan tuannya.
***
"Elu kenapa sih hobi banget menghajar pengawal kamu?" goda Dewananda Hadiyanto, putra Bagas Hadiyanto dan Safira Pratomo sambil merangkul sepupunya.
"Suka-suka aku lah! Lagian dia juga tabah kok!" jawab Garvita cuek.
"Iya tapi siapa yang bakalan betah kalau setiap saat kamu jotos, cantik?" Dewa menatap Garvita dengan mimik lucu. "Tar kalau dia tidak perpanjang kontrak, Mateng kamu!"
Garvita tercenung. Masa iya nggak mau perpanjang kontrak? Bukannya menjadi pengawal Al Jordan benefit nya banyak?
"Nah kan! Baru mikir tho nona brutal satu ini" ejek Dewa.
"Shut up Casanova!" balas Garvita kesal.
Dewananda terbahak melihat sepupunya jutek.
***
Acara resepsi Nadira dan Pedro Pascal
Garvita berjalan di pinggir pantai yang sudah disiapkan Alea, Keia dan Ezra Hamilton untuk acara pernikahan putri Rajendra McCloud itu. Cuaca musim panas membuat suasana nyaman dengan angin sepoi-sepoi sedikt lembab.
Gadis itu menikmati pemandangan laut yang tampak tenang dengan bulan purnama bulat sempurna menambah aestetik acara resepsi malam ini.
Garvita menghela nafas panjang berulang kali karena mulai Agustus besok, dirinya sudah mulai kuliah di Inggris, meninggalkan papa dan mamanya. Garvita diterima di Imperial College of London dan mengambil jurusan Bisnis.
Opanya Arjuna dan Aidan sudah memintanya untuk tinggal di kastil McCloud ataupun mansion Blair daripada harus tinggal di asrama. Jika tinggal di bersama mereka, Garvita bisa memilih antara dua tempat itu atau bersama dengan Eagle dan Dewa di kediaman McCloud.
"Kenapa tidak bergabung dengan saudara - saudara anda, nona?"
Tanpa menoleh, Garvita tahu siapa orang di belakangnya.
"Pengen jalan-jalan, memangnya tidak boleh?" sahutnya judes.
"Ya menurut hemat saya, kan lebih baik kalau nona bergabung dengan sepupu anda..." Gabriel terkejut karena tiba-tiba Garvita berbalik dan menatap tajam ke arah pengawalnya.
"Aku tadi sudah kumpul dengan semua sepupu aku dan sekarang ingin menikmati jalan-jalan saja tidak boleh! Papa saja tidak melarang aku jalan-jalan disini, kok kamu malah nyuruh aku kembali ke mansion? Kamu kan bukan papa aku!" bentak Garvita kesal. Sebulan tidak bertemu malah semakin cerewet perasaan pengawalnya satu ini.
"Eh... I .. iya nona. Maafkan saya tapi tadi saya memang disuruh tuan Ayrton untuk mengawal nona..."
"Kalau kawal, kawal saja! Nggak usah cerewet tahu! Memangnya kamu tumbuh tahi lalat diatas bibir kamu?" Mata biru Garvita menatap tajam wajah Gabriel menyelidiki apakah ada titik coklat yang tiba-tiba muncul dekat bibirnya.
"Memangnya...apa hubungannya dengan tahi lalat diatas bibir dan cerewet?" tanya Gabriel sedikit gugup karena wajah Garvita sangat dekat.
"Kata Oma Dina, kalau ada tahi lalat diatas bibir, orangnya super cerewet!" balas Garvita. "Nggak ada, tapi kok kamu tambah cerewet ya?"
Gabriel tersenyum manis. "Ketularan pangeran Arsya mungkin... Addduuuhhh!" Lagi-lagi bahunya menjadi korban keplakan Garvita.
"Memang dasarnya kamu cerewet saja! Nggak usah bawa-bawa keponakan aku!"
Gabriel hanya tersenyum. Ternyata pisah sebulan, kangen kena pukul anda.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️