
Istana Al Jordan Dubai UAE
Ayrton dan Mariana melihat hasil ujian semester genap Garvita yang naik ke kelas 11 High School tapi nilainya bercampur aduk A dan B. Sang mama hanya tersenyum ke arah putrinya.
"It's okay sayang. Yang penting kamu sudah menyelesaikan dengan baik. Nilai ujian hanya menunjukkan kamu sudah menyelesaikan tugas sebagai siswa. So, mama dan papa bisa memaklumi nilai kamu tidak straight A seperti yang kamu inginkan karena banyaknya peristiwa yang mempengaruhi." Mariana memeluk putri bungsunya erat.
"Bagaimana kalau nanti setelah rumah Zee yang di Indramayu jadi, kita semua kesana saat kamu ada libur seminggu usai semester pendek?" tawar Ayrton. "Kamu kangen Zee dan Sendra kan?"
Wajah Garvita langsung sumringah. "Aku mau papa!"
"Oke. Fix September kita ke Indramayu."
***
Indramayu Jawa Barat
Garvita tampak senang dengan pemandangan di sekitar rumah baru Zinnia yang terhampar sawah hijau. Tidak ada pemandangan seperti ini di Dubai karena tidak ada sawah disana. Mereka datang ke Indramayu sekalian acara syukuran masuk rumah baru Zinnia. Rencananya acara syukuran dan pengajian akan dilaksanakan besok Sabtu yang hanya keluarga Jakarta yang datang.
"Wah sawaaaahhh!" seru Garvita heboh.
Gabriel yang masih membawakan tas milik Garvita ikut takjub melihat pemandangan hamparan hijau sawah disana.
"Ini milik siapa nona?"
"Punya mbak Zee. Warisan dari almarhum ayahnya."
Gabriel terkejut karena dirinya baru tahu kalau mereka bukan saudara kandung. "Lho nona Zinnia..."
"Kakak sepupu aku. Jadi mbak Zee itu anaknya kakaknya mama. Pas mbak Zee bayi, kedua orangtuanya meninggal dan diasuh oleh mama kemudian mama menikah dengan papa dan mbak Zee diadopsi resmi keluarga Al Jordan Schumacher. Ini milik keluarga ayahnya mbak Zee. Karena mbak Zee satu-satunya ahli waris, jadi miliknya lah."
"Luasnya berapa nona?"
"Aku kurang tahu Gab karena selama ini yang mengawasi Oom Hoshi, Oom Travis, Oom Bima dan Oom Benji dengan dikelola AJ Corp Dubai." Garvita menoleh ke arah pengawalnya. "Mbak Zee aja baru tahu karena papa berencana hendak memberikan saat mbak Zee usia 25 tahun tapi kejadian kemarin, papa memberikan ke mbak Zee dan calon cucu papa."
Gabriel mengangguk.
"Gab! Nanti temani aku ke sawah ya! Aku ingin main disana!" Garvita pun masuk ke dalam rumah Zinnia untuk berganti pakaian.
Gabriel hanya menggelengkan kepalanya. "Nanti kalau ketemu cacing atau lintah gimana..." gumamnya sambil masuk ke rumah.
***
Garvita Al Jordan Schumacher
Garvita sudah berganti pakaian mengenakan gaun bewarna biru tanpa lengan dan topi jerami untuk melindungi wajahnya.
"Ayo Gab! Temani ke sawah!" pinta Garvita yang membuat Mariana dan Zinnia yang sedang menyiapkan makan siang, menoleh.
"Kamu mau ke sawah? Yakin?" tanya bumil cantik itu. "Banyak cacing dan lintah lho!"
"Di Dubai nggak ada mbak" cengir Garvita. "Aku penasaran."
"Sudah pakai sunblock belum Gar? Nanti kulit kamu terbakar lho. Sini panasnya beda daripada di Dubai" sambung Mariana.
"Sudah pakai mama. Ayo Gab!" rengek Garvita tidak sabaran.
Gabriel yang sudah berganti kemeja santai dan celana jeans sebatas lutut pun mendekati Garvita. "Apa anda yakin ke sawah? Kalau ada cacing atau lintah?"
"Ya namanya juga resiko! Sudah! Ayo!" Garvita menarik tangan Gabriel untuk segera ke sawah.
Mariana hanya tersenyum geli melihat putri bungsunya heboh sendiri.
"Sudah tidak menolak Gabriel kah Dik Vita?" tanya Zinnia sambil mengambil sebuah jeruk.
"Sepertinya Gabriel sudah biasa dengan kenakalan adikmu. Jadi kalau Garvita berulah, hanya dianggap angin lalu."
Zinnia tertawa kecil tapi setelahnya dirinya mengaduh.
"Kenapa sayang?" tanya Mariana panik.
"Anakku menendang mama" senyum Zinnia bahagia.
"Mama boleh pegang perut kamu?" pinta Mariana.
"Tentu saja boleh Oma" kekeh Zinnia.
"Duh, mama kok merasa tambah tua. Sebentar lagi jadi Oma..." ucap Mariana. manyun. "Halo sayang, ini Oma. Kamu ngapain di dalam? Sehat-sehat ya nak..." Mata Mariana membulat saat tangannya merasakan gerakan sang cucu. "Oh ya ampun, kamu aktif banget! Jangan-jangan anak kamu cowok nih..."
"Aku juga merasa begitu ma..."
"Yang penting kamu sehat, anak kamu sehat dan insyaallah lahiran lancar."
***
"Nona! Jangan jauh-jauh, ini sudah sore dan nanti keburu gelap!" protes Gabriel melihat Garvita dengan santainya berjalan diatas pematang sawah sekitar rumah Zinnia.
"Nggak sampai Maghrib kok Gab!" sahut Garvita yang kemudian melepaskan sandal jepitnya untuk masuk ke dalam sawah.
"Astaghfirullah! Nona Garvita!"
"Apaan sih Gab! Pengen tahu rasanya... Aaaahhhh!" teriak Garvita panik.
Gabriel bergegas menarik tubuh gadis itu dan menggendongnya menuju ke sebuah saung disana. Pria itu tampak panik dan mulai memindai tubuh nonanya yang menangis.
"Astaghfirullah! Kaki anda kena lintah!" Gabriel lalu mengambil pisau lipatnya yang selalu dibawa kemana-mana lalu mengguyur kaki Garvita dengan air dari botol mineral yang dibawanya lalu dengan pisaunya dia melepaskan lintah itu.
"Sakit..." isak Garvita.
"Kan saya sudah bilang, nona tidak percaya!" omel Gabriel gemas.
"Aku jangan kamu marahi Gab!" rengek Garvita dengan air mata bercucuran.
Gabriel hanya melengos melihat manjanya Garvita muncul. "Kita pulang! Sekarang!"
"Gab ... "
"No nona! Anda pulang dengan saya sekarang juga!" Tanpa mendengar protes Garvita, Gabriel menggendong Garvita macam bridal style yang membuat gadis itu reflek memeluk leher pria itu.
Tangis Garvita lenyap melihat wajah serius pengawalnya yang tampak panik dan takut. Apa karena aku kena lintah jadi takut kenapa-kenapa ? Kan cuma lintah? Garvita tersentak. Papa! Bisa dimarahi kamu nanti sama papa! Diam-diam bibir Garvita tersenyum tipis, otaknya penuh kejahilan untuk diberikan pada pengawalnya hingga kesal.
Kita lihat saja besok.
***
"Garvita kenapa itu Gab?" tanya Ayrton yang baru saja datang dari pabrik beras Zinnia untuk memeriksa semuanya melihat putri bungsunya yang manja itu digendong oleh pengawalnya.
"Kena lintah, tuanku."
Garvita hanya menyembunyikan wajahnya di leher Gabriel yang tiba-tiba merasakan hawa hangat di ceruk lehernya yang membuat jantungnya berdetak kencang. Apa yang anda lakukan nona manja? Mata coklat Gabriel melirik ke wajah Garvita yang menunduk tanpa dosa.
"Kalian main ke sawah?" Ayrton menatap tajam ke putrinya.
"Hanya ingin tahu papa..." bisik Garvita.
"Turun kamu! Kasihan Gabriel menggendong kamu! Salah kamu sendiri Gar!" omel Ayrton yang membuat Gabriel menurunkan nonanya.
Garvita memanyunkan bibirnya tapi rasa sakit di kakinya membuatnya mengernyit.
"Anda duduk manis nona. Kaki anda akan saya obati." Gabriel bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Garvita bersama Ayrton.
Pria berdarah Jerman itu menatap tajam putrinya yang manja. "Kamu jangan usil sama Gabriel, Gar! Papa tidak suka!"
"Lha Gabriel kan obyek paling menyenangkan untuk dijahili!"
"Garvitaaa!"
Garvita pun duduk di kursi teras sambil menunggu pengawalnya. "Ih salahnya papa kasih pengawal Gabriel!"
Ayrton hanya mendengus kesal. "Awas kalau kamu bikin susah lagi!" Pria itu pun masuk ke dalam rumah berpapasan dengan Gabriel yang membawa air dingin dan salep.
Gabriel dengan telaten mengobati nonanya yang manja menggemaskan.
"Gab..."
"Ya nona?"
"Besok pagi kita ke sawah lagi ya?" pintanya gadis itu dengan wajah sumringah.
Gabriel hanya bisa terduduk kesal menatap Garvita.
Sabar bang... Sabaaarrr
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️