
Perjalanan pulang ke New York, dalam pesawat Gulfstream milik Keluarga Blair.
Pesawat pribadi keluarga Blair ada tiga dengan lambang keluarga sama tapi ada perbedaan. Jika milik keluarga Blair pemilik MB Enterprise ( Duncan, Kaia, Abiyasa, Reana dan Bayu ) hanya lambang keluarga Blair yang berupa singa, sedangkan milik keluarga Emir ( Direndra, Alaric, Damian, Radhi dan Raine ) singa dengan pohon palm. Jika milik keluarga Blair pengacara ( Stephen, Neil, James, Travis, Nelson dan Nadya ) singa dengan logo timbangan hukum.
Dan kini pesawat milik keluarga Blair Lawyer sudah duduk semua orang yang berkaitan dengan Rio de Janeiro. Pesawat yang mampu membawa 18 orang penumpang itu terbang mulus dengan dipiloti oleh Nadya.
"Nelson, kenapa Nadya bisa berangkat dengan Omar Zidane?" tanya Bayu ke Nelson.
"Well, setelah Nadya tiba di New York membawa Eduardo, Oom Benji meminta aku terbang ke Rio. Tapi Nadya bersikeras membawa pesawat Daddy dan aku tidak masalah toh kami berdua sama-sama pilot berlisensi. Tapi Omar Zidane ingin ikut, memastikan kalau Harland Rochester tidak kalian bawa sekalian."
"Dibilang kita nggak urusan dengan di cockroach ( kecoa ) itu!" ucap Bayu sedikit berteriak ke Omar yang di kokpit dengan Nadya. "Woi, Omar! Pilot disini Nadya dan Nelson! memang kamu ada lisensi pilot?"
Omar Zidane melepaskan earphone nya dan keluar dari kokpit untuk menghadapi Bayu O'Grady.
"Seriously O'Grady! Kamu kenapa sih?" tanya Omar sebal.
"Dengar Zidane! Perjanjian kan kalian FBI menunggu di New York, bukan ngikut sampai sini! Nelson, kamu ke kokpit dengan Nadya! Aku curiga bocah Mesir ini ada udang dibalik salad sama Nadya..." cengir Bayu usil membuat Luke dan Dante menatap tajam ke Omar.
"Shut your fu**** mouth O'Grady! Aku tidak yakin kalian tidak gegabah untuk tetap nekad membawa Harland Rochester kembali ke New York!" balas Omar judes.
"Hei! Meskipun kami seenaknya, tapi kami menepati janji kami! Kalian, feds minta kami tidak menyentuh Harland kecoak itu ya kami turuti! Toh tujuan kami hanya menangkap pelaku pembunuhan kedua orangtuanya Gabriel!" Bayu menatap mata coklat Omar tajam.
Gabriel hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar keributan di pesawat, terkejut melihat seorang gadis cantik keluar dari kokpit pesawat.
"Kalau kalian berdua tidak bisa shut your fu***** mouth, both of you, ambil itu parasut, berdua terjun dari sini!" bentak Nadya kesal.
Dante dan Luke terbahak melihat Nadya ngamuk karena mengingatkan dengan Leia.
"Aaaahhh aku kangen istriku" celetuk Dante membuat semua orang menoleh ke mafia Turin itu.
Nadya menandai Omar dan Bayu dengan jari telunjuk dan jari tengah. "Awas kalau kalian ribut lagi! Aku tendang kalian dari pesawat! Sekarang kalian duduk manis!" Gadis cantik itu pun kembali ke kokpit bersama dengan kakaknya.
Jubal dan para pengawal mereka memilih diam karena sebagai satu-satunya wanita di para penumpang pesawat, Nadya memang menyeramkan kalau sudah ngamuk.
"O'Grady..." panggil Jubal
"Apa Jubal?"
"Senjata yang kamu pakai tadi. PW-10. Itu apa?" tanya Jubal yang membuat Omar Zidane ikut tertarik.
"Ini sebenarnya ide dari adikku Shinichi Park dan hanya ada dua, satu di Jang Corp satunya aku bawa. PW-10 sendiri kependekan dari Park Weapon diambil dari nama belakang Shinichi sedangkan angka sepuluh diambil adikku karena nomor punggung striker sepakbola adalah sepuluh. Kenapa dia tidak memakai angka 9 karena sudah dipakai untuk mesin roketnya" ucap Bayu.
"Simon, bagaimana pendarahan Agen Roberts?" tanya Antonio ke pengawalnya yang ditugaskan memeriksa kondisi agen Jameson dan Roberts. Simon sendiri adalah mantan dokter tentara dessert storm yang memilih bergabung dengan Al Jordan Guard.
"So far stabil Sir" jawab Simon sambil memeriksa di layar alat patient monitor portabel yang memperlihatkan kondisi jantung, tekanan darah dan kondisi penting pasien lainnya.
Patient Monitor
"Guys, kita akan mampir ke Miami dulu untuk mengisi bahan bakar" ucap Nelson. "Kita akan mampir ke military base di Key West."
"Apakah aman?" tanya Antonio.
"Aman. Karena mereka hutang dengan Daddy" cengir Nelson.
***
Pesawat milik keluarga Blair itu mendarat dengan mulus di pangkalan Navy Amerika di Florida dan truk pengisi bahan bakar sudah siap. Nelson dan Nadya turun dari pesawat bersama dengan Bayu O'Grady untuk menemui komandan military base disana.
Setelah setengah jam pengisian, pesawat milik keluarga Blair pun bersiap untuk tinggal landas menuju ke New York. Perjalanan dari Rio de Janeiro menuju New York membutuhkan waktu sekitar sebelas jam dan mereka tiba di New York menjelang pagi karena terbang tadi menjelang jam tujuh malam. Dan Rio de Janeiro memiliki perbedaan waktu dua jam lebih dahulu di New York.
Pesawat itu pun mendarat di hangar milik Giandra Otomotif Co dan sudah siap disana tiga mobil FBI untuk membawa dua orang agen CIA yang AWOL. Isobel de Garza pun ada diantara orang-orang disana.
Semua orang turun dan pihak FBI dengan sigap membawa tubuh Jameson dan Roberts yang tidak berdaya ke dalam mobil Van. Jubal Valentine akhirnya bertemu dengan Isobel setelah sekian lama dan wanita itu menepuk punggung Jubal hangat.
Omar Zidane pun mengikuti timnya dan para agen pun bergegas pergi hanya tinggal Isobel dan Jubal yang menemui anggota keluarga Pratomo.
"Isobel, aku serahkan padamu ya" ucap Abiyasa O'Grady ke chief FBI New York itu.
"Tenang saja Abi, Benji. Dua agen CIA itu tidak akan lolos dari jerat hukum. Akan dituntut pembunuhan berencana meskipun sudah lebih dari 12 tahun." Isobel menatap Gabriel yang tampak lelah tapi juga lega pelakunya sudah tertangkap. "Thank you Gabriel, kamu sudah bisa bertahan."
"Sama-sama Ma'am. Saya bisa bertahan karena keluarga besar Emir Schumacher."
"Sebenarnya kita seperti ini karena Garvita, bukan karena kamu" ucap Luke sambil menguap dan berjalan menuju Range Rover yang akan membawanya ke mansion Blair.
Antonio dan Dante hanya menggelengkan kepalanya lalu mengikuti Luke.
"Luke bilang begitu sebenarnya dia senang bisa gegeran. Terkadang kami juga butuh hiburan dan refreshing" sahut Bayu sambil menenteng tas hitam berisikan senjata PW-10 nya.
"Sudah kita pulang, istirahat." Abiyasa merangkul bahu putranya.
***
Mansion Blair Staten Island
Kaia dan Rhett menyambut para cucu yang datang dengan pelukan hangat karena mereka pulang dengan selamat.
"Gabriel! Rambutmu harus dipotong itu!" hardik Kaia yang tidak bisa melihat pria tidak rapih rambutnya.
"Iya Mrs O'Grady. Nanti saya..."
"Aku saja yang potong Oma..."
Tubuh Gabriel membeku dan menoleh ke belakang untuk melihat pemilik suara yang dirindukan.
"Nona... Garvita..." Mata coklat Gabriel melotot tidak percaya melihat Garvita membawa gunting rumput... harafiah.
Bayu, Dante, Luke dan Antonio hanya menatap kasihan ke Gabriel.
"Mampus lu Gab!" ejek Bayu durjana.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️