My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Hampir Saja...



Pantai Pribadi Keluarga Hamilton di Hampton New York


Garvita berjalan meninggalkan Gabriel yang masih terbengong-bengong akibat ucapan judes nonanya yang judes.


"Nona... Nona Garvita!" Gabriel lalu berbalik menuju ke arah nonanya yang manyun. Namun Garvita tampak mengacuhkan panggilan pengawalnya.


Iiiisshhhh! Nona manja satu ini!


Tiba-tiba Garvita berhenti dan Gabriel melihat nonanya mematung lalu mendekati nona manjanya itu. "Ada apa nona?"


Garvita hanya terdiam dan Gabriel tahu apa yang membuat nonanya seperti patung. Ular laut. Tapi kok bisa nyasar kemari?!



"Diam nona, jangan bergerak." Gabriel celingukan mencari tongkat dan menemukan paddle terdapat disana. Dengan perlahan, Gabriel mengambil paddle itu lalu pria itu mendekat ular yang bergerak perlahan menuju laut.


Gabriel mengulurkan ujung paddle itu untuk membawa ular laut ke laut dengan bantuan senter dari ponselnya. Sesampainya di air laut, Gabriel memasukkan ke dalam laut dan ular itu pun berenang. Setelah dirasa aman, Gabriel pun berbalik menuju Garvita yang masih dalam kondisi shock dan tubuhnya bergetar.


"Sudah kembali ke laut nona. Sudah aman..." Gabriel melihat wajah Garvita masih pucat pasi. "Nona..." Gabriel memegang bahu Garvita.


"Nona Garvita?" Namun Garvita masih tidak ada ekspresi. Tanpa memikirkan apapun, Gabriel memeluk Garvita yang gemetaran. "Sudah nona, ularnya sudah pergi..."


"Aku...takut ular laut... takut ular apapun..." bisik Garvita.


"Tapi anda tidak takut lintah" balas Gabriel berusaha membuat joke.


Garvita menatap Gabriel judes. "Lintah tidak seberbisa ular laut, Gabrriieeeelll!"


Gabriel tersenyum. "Mari kita masuk nona. Lagipula saya harus melaporkan bahwa ada ular berbahaya di pantai Mr Hamilton. Seharusnya tidak mungkin mereka nyasar kemari tapi bisa saja terbawa ombak." Gabriel melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan nonanya untuk masuk ke dalam mansion.


Dan Garvita untuk kali ini pun membiarkan tangannya digandeng oleh pengawalnya yang sudah menyelamatkan nyawanya.


***


"Ular laut? Yang belang hitam putih itu?" seru Ezra saat mendengar laporan pengawal cucunya.


"Yes Mr. Hamilton."


"Untuk sementara, jangan ada yang mendekati pantai dalam waktu beberapa hari ini sebab kita tidak tahu apakah ular itu masih ada atau tidak" putus Ezra.


"Aku akan menghubungi coast guard dan animal patrol untuk memeriksa sekitar pantai di Hampton. Bukan tidak mungkin ular itu akan mendarat ke pantai lainnya" ucap Chris Bradford, menantu Ezra Hamilton yang juga kapten NYPD precinct Central Park.


"Iya, Chris. Hubungi saja teman sejawat mu yang bergerak di bidang seperti itu. Mom takut kalau ada korban yang tidak tahu ada binatang berbahaya di sekitar pantai dan laut. Apalagi sekarang musim panas, banyak orang berenang di laut" sambung Keia.


"Baik mom."


Ayrton menghampiri putrinya yang masih tampak shock melihat ular berbisa itu. Pria berdarah Jerman Arab itu pun memeluk Garvita. "Thanks God kamu nggak papa."


"Iya papa."


Ayrton menatap Gabriel sambil mengangguk. "Terimakasih, Gab."


"Sama-sama tuan" senyum Gabriel.


"Untung tadi pas acara, tidak terjadi apa-apa ya" ucap Nadira penuh syukur.


"Alhamdulillah semua masih dilindungi." Mariana tampak lega putrinya baik-baik saja. Untung tadi dirinya dan Ayrton meminta agar pengawal itu mengawal Garvita. Kalau tidak... entah bagaimana nasib putrinya.


***


Acara resepsi pernikahan Nadira dan Pedro pun berakhir pukul sebelas malam dengan ditutup kehadiran para rekan kerja Chris Bradford yang segera memberikan larangan berada di pantai dan berenang ke laut sampai semua dinyatakan aman.


Menurut rencana, larangan itu diperkirakan sekitar satu Minggu dulu sembari para coast guard dan animal control memeriksa seluruh pantai di area tempat tinggal keluarga konglomerat di Hampton.


Garvita pun masuk ke dalam kamar dengan kondisi sangat lelah apalagi setelah mendapatkan kejutan melihat seekor ular berbisa di pinggir pantai kediaman Opa Ezranya.


"Apa nona membutuhkan sesuatu?" tanya Gabriel yang mengikuti Garvita masuk ke dalam kamar suitenya. Gasendra sudah masuk ke kamarnya sendiri begitu juga dengan Ayrton dan Mariana.


Garvita yang sedang melepas sepatunya menatap pengawalnya sambil menggelengkan kepalanya. "No Gab. Aku tidak membutuhkan apa-apa."


"Kalau begitu saya permisi dulu nona..." Gabriel mengangguk lalu berbalik menuju pintu hendak keluar dari kamar Garvita.


"Gabriel..."


Gabriel yang hendak memegang gagang pintu pun terhenti lalu menoleh ke arah Garvita. "Ya Nona?"


"Terimakasih..." ucap Garvita pelan sembari menatap pengawalnya.


"Sama-sama, nona Garvita. Selamat malam dan selamat beristirahat." Gabriel mengangguk dan keluar dari kamar nonanya.


Garvita masih menatap pintu yang sudah tertutup itu lalu setelahnya dia mulai mengambil baju tidurnya dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Hari-hari berlalu dan Garvita merasa senang akhirnya lulus SMA dan akan segera kuliah di London. Ayrton sendiri bersama Mariana yang akan mengantarkan putri bungsu mereka ke ibukota negara Inggris itu.


Gabriel tetap menjadi pengawal Garvita karena Ayrton sudah mempercayai pria berdarah Brazil Amerika itu mengawal putrinya. Apalagi menjadi pengawalnya hampir tiga tahun ini, Ayrton bisa melihat bahwa pria itu bisa diandalkan untuk menjaga putrinya.


Pagi ini keluarga Schumacher akan bertolak ke London untuk mengantarkan Garvita dan seperti biasa Ayrton tidak membawa banyak pengawal cukup masing-masing anggota keluarga beserta asisten seperti biasa. Garvita sendiri hanya diberikan Gabriel oleh Ayrton karena dia tahu hanya pria itu yang tabah menghadapi kekacauan putrinya.


Sabine dan Karl mengantarkan dari depan istana begitu juga dengan Reyhan dan Paradina. Enzo dan Georgina beserta dengan Ken dan Kalila sedang berada di Turki untuk menghadiri acara pernikahan putri presiden.


"Jangan nakal di London. Kalau Dewa ngajak kamu aneh-aneh, tonjok saja!" ucap Sabine sambil memeluk cucunya. Semua anggota keluarga tahu kalau Dewananda putra Bagas Hadiyanto dan Safira Pratomo itu nakalnya minta ampun dan sama playboy nya dengan sang ayah.


Garvita tertawa dalam pelukan Omanya. "Kalau Dewa nakal, aku tinggal pinjam Baby nya Oma buat nakut-nakutin..."


"Hush! Tidak boleh! Baby itu hanya Oma yang boleh pegang!" tegur Sabine dengan wajah pura-pura marah.


"Iya iyaaa... Baby punya Oma" kekeh Garvita.


Karl hanya tersenyum mendengar percakapan dua wanita yang sangat dicintainya. "Kamu jangan nakali Gabriel! Nanti Opa minta laporan sama Eagle !"


Garvita pun manyun. "Eagle nyebelin. Mulutnya sama embernya dengan Mas Bayu!"


"Iyalah! Karena kamu suka nakal sama Gabriel dan Opa tidak suka! Kasihan Gabriel harus menghadapi kebrutalan kamu macam omamu saja!" omel Karl yang membuat Garvita melengos.


"Heran deh! Nggak Papa nggak Opa, selalu belain Gabriel."


"Karena dia pengawal yang kompeten, anak manja!" ucap Paradina ke Garvita. Meskipun bukan Oma langsungnya, tapi Paradina sayang dengan cucu Sabine itu meskipun jauh lebih nakal dibandingkan Kalila. Tidak heran karena Sabine dulu juga sering membuat pusing ayahnya, Senna Al Jordan.


"Iya iya, Garvita pamit ya Opa, Oma."


"Hati-hati di London dan belajar yang benar. Kalau ada apa-apa, bilang sama Eagle dan Gabriel. Okay?" pesan Reyhan ke cucunya.


"Iya Opa."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️