
RR's Meal West End London
"Elane... Elane... bangun sayang..." panggil Mariana lembut sembari menepuk pipi Elane pelan. Zinnia dan Garvita sudah memberikan bau minyak telon yang dibawa dan menyiapkan secangkir teh panas.
Perlahan mata coklat gadis berhijab itu terbuka dan yang dilihatnya pertama kali adalah seorang wanita berdarah Indonesia yang menatapnya lembut.
"Maaf... Apa yang... terjadi ?" bisik Elane pelan.
"Kamu pingsan" senyum Zinnia. Wanita berambut hitam tebal panjang itu memegang tangan Elane yang masih terasa dingin. "Kaget ada kami?"
"Zee, jangan kamu godain Elane. Nanti pingsan lagi..." kekeh Mariana. Keempatnya kini berada di ruang VIP satu lagi sedangkan para pria bersama dengan triple A, memilih di tetap berada di ruang VIP sebelumnya.
"Mbak Elane, minum dulu teh panasnya pelan-pelan" ucap Garvita sambil membawa kan cangkir teh panas.
"Sini, biar mbak Zee yang kasih ke Elane" pinta Zinnia sambil menerima cangkir teh yang dibawakan Garvita.
Elane berusaha duduk dengan dibantu Mariana, tampak tidak enak melihat ratu Belgia itu malah melayaninya. "Ti...tidak usah dibantu... your Highness..."
"Eh? Kenapa ?" tanya Zinnia polos. "Oh, Elane, kamu nggak usah sungkan. Disini aku bukan ratu Belgia tapi putrinya mama Mariana. Jadi santai saja" senyum ibu tiga anak itu sembari memberikan cangkir teh panas itu.
Elane menerima dengan sedikit sungkan tapi dia butuh kekuatan untuk bisa bangun. Perlahan dirinya menyesap teh manis panas itu.
"Ini ... teh apa? Rasanya kok berbeda?" tanya Elane.
"Itu teh wasgitel. Teh favorit keluarga besar kami" jawab Garvita. "Maklum, leluhur kami wong Solo yang suka teh macam itu. Setiap keluarga pasti ada resep tersendiri karena teh nya terbuat dari berbagai macam merk dan jenis teh dengan takaran masing-masing."
"Enak... Agak sepat dan lebih kental dari teh biasanya..." senyum Elane sambil menghabiskan tehnya.
"Kamu kenapa? Kaget melihat Sean dan Zee?" tanya Mariana sambil tersenyum.
"I...iya. Saya tidak tahu kalau Eagle bersaudara dengan keluarga kerajaan Belgia..." jawab Elane sambil menunduk.
"Ini belum seberapa mbak. Kami masih punya keluarga dari keluarga mafia dan Yakuza" gelak Garvita. "Tapi tenang, status dan gelar boleh wow aslinya gedubrak!"
"Maksudnya?"
"Maksud dik Garvita, jika kita semua sudah kumpul keluarga, tidak ada jaim-jaimnya dan isinya saling menistakan satu sama lain" senyum Zinnia. "Jadi Elane, jangan kaget kalau kamu ada kesempatan kumpul dengan keluarga besar kami, isinya rusuh dan bercanda."
"Tidak usah sungkan. Tahu awal pasti tidak nyaman tapi lama-lama kamu akan ketularan rusuh, mbak" sambung Garvita sambil tertawa.
Elane mengangguk sambil tersenyum. "Anu...maaf. Tadi siapa ... yang membawa saya... kemari?"
"Maaf ya Elane, Eagle yang menggendong kamu kemari karena aku dan mbak Zee kan nggak kuat... Tadi mas Eagle langsung reflek membopong kamu dibawa kemari" jawab Garvita dengan wajah tidak enak karena tahu Elane berhijab.
"Ti...tidak apa-apa... " senyum Elane yang maklum karena kondisinya memang darurat.
"Sudah agak enakan? Ayo, perutnya diisi dulu biar kuat" ajak Mariana.
***
Setelah membenarkan hijabnya yang agak berantakan karena tadi sempat dilonggarkan Mariana agar sedikit melegakan pernafasan, Elane akhirnya berjalan bersama tiga wanita kesayangan keluarga Schumacher itu masuk ke ruang VIP sebelumnya.
Para pria disana pun menoleh saat para wanita masuk dan tampak Eagle memandang Elane dengan perasaan cemas.
"Sudah enakan Elane?" tanya Ayrton dengan lembut.
"Alhamdulillah sudah Mr Schumacher" senyum Elane. Meskipun masih sedikit pucat tapi pipinya sudah mulai memerah.
"Duduk Elane. Tenang saja, kami tidak ada yang menggigit" gelak Gasendra
Elane menundukkan wajahnya merasa kikuk berada di kalangan keluarga Sultan dan Raja itu.
"Duduk Elane. Kita lanjutkan makannya" ajak Sean.
Elane pun duduk dengan diapit Eagle dan Arsyanendra. Wajah gadis itu masih menunduk, tidak berani mengangkat karena merasa sungkan.
"Tante? Tante sudah sehat?" sebuah suara anak kecil membuat Elane menoleh dan tampak wajah imut yang menggemaskan dengan mata birunya yang mirip Eagle, menatapnya penuh perhatian.
"Alhamdulillah sudah... "
"Ya ampun, kamu menggemaskan" kekeh Elane.
"Tante juga cantik. Kata Daddy, Tante calon istrinya Oom Eagle."
"Daddy?"
"Arsya putra sulung kami, Elane" jawab Sean.
"Haaaaahhh? Arsya... pa... pangeran?" cicit Elane panik.
"Jangan pingsan lagi Elane. Memangnya gotong kamu nggak berat?" goda Eagle membuat Elane melirik judes.
"Ta..tapi pangeran kok Salim..."
"Elane, disini kan tidak ada gelar dan jabatan. Disini hanya ada keluarga Schumacher dan Arsya memang sudah dididik dari kecil harus Salim sama orang yang lebih tua meskipun dirinya punya gelar pangeran Belgia" terang Zinnia.
"Oh... tapi... "
"It's okay Tante. Arsya kan kecil lagi. Jadi memang harus hormat yang lebih tua. Nanti adik-adik Arsya akan Arsya ajarin yang sama" potong Arsyanendra dengan wajah percaya diri.
"Adik-adik?" beo Elane.
"Arsya punya dua adik kembar, Avaro dan Alisha tapi lagi pada bobok di stroller nya" jawab Garvita sambil menunjukkan dua stroller bayi yang berada tidak jauh dari tempat Sean dan Zinnia duduk.
"Oh. Prince Arsya, apakah adik-adik prince lucu-lucu?" tanya Elane yang sudah mulai nyaman karena ada Arsya yang menggemaskan.
"Lucu Tante tapi tetap paling lucu dan imut adalah Arsya" cengir bocah yang hendak masuk SD itu.
"Astagaaa, ajarannya trio Kampret!" umpat Sean sebal.
"Trio Kampret?" tanya Elane bingung. Ternyata mereka sama dengan keluarga lainnya.
"Tiga adikku yang mengajarkan manner ke Arsya tapi kebablasan over self confidence nya" kekeh Zinnia tapi membuat Sean manyun.
"So, mbak Elane... Sekalian nih aku dan Gabriel akan kembali ke Dubai karena kan sekolahku sudah selesai. Jadi ... tidak ada yang rusuh datang ke toko pastry mu lagi ya" ucap Garvita.
"Iya. Biasanya kamu ke Sutton kalau pulang dari kampus barengan dengan Sakura" senyum Elane.
"Lho kalian suka ke toko pastry Elane?" tanya Eagle. "Kok nggak cerita?"
Garvita dan Gabriel menatap Eagle bingung. "Aku kira Sakura sudah cerita ke mas Eagle. Biasanya kan anak itu cerita macam-macam."
"Nggak, Sakura tidak cerita apa-apa."
"Owalaahhh... Kamu juga nggak cerita Elane" ucap Eagle sambil menoleh ke gadis cantik itu.
"Aku kira pada cerita ke kamu."
"Lha ini pada heboh soal ke toko pastry Elane" kekeh Ayrton. "E, kamu Juni datang kan ke pesta pernikahan nya Antonio dan Alexis?"
"Insyaallah datang Oom. Bagaimana?"
"Bawa Elane sekalian. Oom yakin Daddy dan Mommy kamu setuju."
Elane melongo.
What? Kok aku diajak sekalian?
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️