
London Inggris
Menjelang malam, Garvita dan Gabriel tiba di kediaman McCloud. Keduanya pun disambut hangat oleh Eagle dan Sakura lalu berempat menuju meja makan untuk makan malam.
"Eh tahu nggak kalian. Tadi ada bidadari turun dari khayangan!" celetuk Sakura heboh. "Mas Eagle sampai freeze!"
"Siapa?" tanya Garvita sambil melirik ke arah kakak sepupunya yang bersikap seolah tidak mendengar celotehan Sakura.
"Namanya Elane Moon. Dia bakalan jadi calon pemasok pastry ke RR's Meal. Tahu sendiri kan sejak Barry meninggal, tidak ada yang bisa menggantikan gaya pastry dia. Jadi mas Eagle membuka kesempatan ke pengusaha pastry untuk memberi sample kue mereka yang nantinya akan ditampilkan di RR's Meal West End dan Westminster."
"Lha kejar aja mas. Emang cantik Sa?" Garvita menatap sepupunya.
"Cantik, blasteran Korea Malaysia dan berhijab."
"Tuh mas, seiman lho. Kurang apa coba?" kompor Garvita.
"Kurang kenal!" balas Eagle judes.
"Idiihhhh ngegas!" gelak Garvita dan Gabriel hanya tersenyum mendengar keributan di meja makan.
"Biasa aja mas. Jangan ngegas ..." senyum Sakura.
"Emang pastrynya enak Sakura?" tanya Garvita yang memang penggemar makanan manis.
"Enak-enak! Makanan khas Kelantan Malaysia. Sayang kalian pulangnya malam."
"Mas, kapan ketemu dengan Elane. Pengen cobain pastrynya." Garvita menatap sang kakak dengan mata birunya yang berbinar - binar.
"Besok! Tapi kalian kan kuliah jadi tidak bisa bertemu dan makan pastry" ejek Eagle durjana.
"Dih nyebelin!"
***
Garvita berkuliah seperti biasa dan tetap ditemani oleh Gabriel. Dan sudah empat hari ini gadis itu pulang sore hingga malam demi menyelesaikan skripsinya. Karena kampus kalau menjelang malam tidak terlalu banyak mahasiswa disana, kecuali yang sama dengan Garvita atau lembur tugas seperti anak arsitektur atau anak science, maka Gabriel pun sering ikut ke kampus untuk menemani gadisnya.
"Dosen mu masih memberikan bimbingan hingga malam hari?" tanya Gabriel bingung.
"Iya. Dia anak bimbingannya banyak jadi harus antri" ucap Garvita sambil menyenderkan kepalanya di bahu Gabriel. Keduanya duduk di kursi tunggu depan pintu ruangan dosen pembimbing Garvita.
"Tapi kenapa tidak besok pagi saja sih? Ini sudah jam tujuh malam lho..." Gabriel melirik ke jam Tag Heuer miliknya.
"Pagi sampai sore padat juga Gab. Jadi mau tidak mau ya sampai malam."
Gabriel menghela nafas panjang. Untung aku selalu temani, kalau sendirian apa kabar Garvita meskipun aku yakin dia pemberani.
Tak lama pintu ruang dosen itu terbuka dan tampak sesama mahasiswa seperti Garvita keluar dengan wajah cemberut lalu berjalan cepat menuju arah exit gedung. Setelahnya seorang dosen wanita berumur keluar dan menoleh ke arah Garvita dan Gabriel yang sedang menatap dirinya.
"Miss Schumacher. Ayo masuk!" ucapnya dingin.
Garvita pun membawa tas besarnya dan masuk ke dalam ruang dosen itu.
Gabriel pun memilih untuk laporan ke Ayrton.
***
"Jam segini masih konsultasi skripsi di kampus?" tanya Ayrton bingung.
"Yes Sir. Saya sampai kasihan lihat Garvita kalau malam langsung capek dan tertidur di mobil setiap perjalanan pulang."
"Astaghfirullah. Untung ada kamu Gab." Ayrton tidak habis pikir kenapa malam-malam masih saja di kampus. Bukannya dulu dia tidak mengalami tapi bedanya dia anak laki-laki sedangkan ini anak perempuannya!
"Saya juga bingung karena kenapa harus sampai malam tapi kata Garvita, dosennya memang sibuk!"
"Dosen pembimbingnya lelaki atau perempuan?"
"Perempuan Sir."
"Alhamdulillah. Saya jadi tidak terlalu khawatir" ucap Ayrton lega.
"Garvita bisa membela dirinya sendiri Sir" jawab Gabriel.
"Terimakasih Sir."
"Ohya Gab, akhirnya rumah Miami bisa menjadi milik kamu" ucap Ayrton teringat tadi Travis dan Nelson menghubunginya.
"Benarkah Sir?" suara Gabriel terdengar senang. "Bagaimana Mr Blair bisa meyakinkan pihak CIA ?"
"Kamu macam tidak tahu Travis dan Benji kalau sudah bekerjasama liciknya" kekeh Ayrton. "Intinya surat tanah dan rumah mu itu sudah menjadi milik kamu secara resmi dan legal. Nanti fisik biar disimpan oleh Nelson dan kamu akan di email datanya."
"Alhamdulillah. Terimakasih Sir. Saya sangat bahagia akhirnya peninggalan orang tua saya menjadi milik saya kembali" ucap Gabriel penuh syukur.
"Alhamdulillah. Sementara kamu di London atau Dubai, saya sudah minta ada orang terpercaya yang bagian bersih-bersih disana."
"Terimakasih Sir."
"So, Gabriel, jadi kamu melamar Garvita setelah lulus?"
"Insyaallah Sir. Saya sudah bilang ke Garvita, tahun depan setelah dia lulus, saya akan menghadap anda dan melamar Garvita secara langsung" jawab Gabriel tegas.
"Bagus! Saya suka dengan pria yang dengan gentle datang ke ayah anak gadisnya dan memintanya baik-baik!" Ayrton jadi teringat saat melamar Mariana ke almarhum mertuanya Ayu dan almarhum Kresna Hadiyanto.
"Saya belajar dari keluarga anda, Sir. Semua anak menantu datang dengan gentle saat meminta anak gadis keturunan Pratomo. Yang saya salut adalah Romeo. Dia berani mengahadap Mr Reeves untuk melamar Jules."
"Kecuali Krisna Rao!" ucap Ayrton geram. "Tapi syukurlah Mintang sudah berpisah dengannya. Aku kasihan dengan mas Haris dan mbak Freya harus memiliki menantu yang membuat anaknya sakit hati."
"Tapi Michel de Luca tidak Sir. Saya lihat mereka sudah berbahagia, maksud saya Gemini tampak nyaman dan keduanya saling cinta."
"Karena Michel tidak menyebarkan fitnah aneh-aneh! Yang penting, Gab, kamu dan Garvita saling sayang satu sama lainnya. Garvita adalah putri bungsu saya, dan pasti berbeda dengan Zee. Anak bungsu perempuan pasti lebih dekat dengan ayahnya. Kamu tahu sendiri kan, bahkan Sean saja bisa saya hajar apalagi kamu kalau macam-macam dengan putri saya!" ancam Ayrton.
"Saya tidak akan berani Sir. Anda sudah mengenal saya sepuluh tahun ini kan jadi anda tahu bagaimana saya" senyum Gabriel yang bisa paham bagaimana perasaan seorang Ayrton Al Jordan Schumacher jika putrinya diambil seorang pria.
"Saya tahu kamu Gabriel dan saya minta kamu tidak berubah. Oke?"
"No Sir. Saya tetap menjadi Gabriel Luna yang selalu dihajar nona Garvita kalau dia sedang kesal..."
Ayrton terbahak. "Resikomu Gab, bodyguard merangkap pacar."
"Iya Sir. Sudah saya perkirakan nasib saya menjadi samsak hidup..." keluh Gabriel mendramatisir.
"Astaghfirullah! Kamu sudah ketularan Shinichi!" gelak Ayrton.
Suara pintu ruang dosen Garvita terbuka dan tampak gadis itu keluar dengan wajah tersenyum. "Terimakasih ma'am. Jadi saya langsung ke bab tiga ya?" ucap Garvita ke dosen pembimbingnya.
"Yes miss Schumacher. Andaikan semua mahasiswa saya seperti kamu, tidak membuat pusing saya" kekeh dosen itu.
"Terima kasih ma'am. Selamat malam" salam Garvita sambil mengangguk hormat.
"Sama-sama. Untung kamu ditemani pacar kamu jadi tidak pulang sendirian" senyum dosen itu dan Gabriel pun berdiri lalu mengangguk hormat sambil masih memegang ponselnya.
"Iya" senyum Garvita ke arah Gabriel.
"Hati-hati pulangnya." Dosen wanita itu pun masuk ke dalam ruangannya.
"You too ma'am" balas Garvita.
"Sudah?" tanya Gabriel.
"Sudah. Kamu telpon siapa?" tanya Garvita santai.
"Telpon papamu."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️