
Imperial College of London Inggris
Garvita keluar dari kelasnya dan menemukan dua pengawal Eagle sudah menunggu dirinya di luar.
"Kok kalian disini? Dimana mas Eagle?" tanya Garvita yang bingung karena tidak seperti biasanya pengawal kakaknya berani masuk ke dalam kampus.
"Mari ikut kami nona."
Garvita pun berjalan dengan didampingi keduanya keluar kampus. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat banyak polisi Scotland Yard disana dan tampak Eagle sedang memberikan keterangan.
Garvita semakin panik ketika melihat ada ambulance juga disana ditambah Opa Arjuna datang bersama dengan Opa Aidan. Meskipun sudah berusia lanjut, kedua Opa itu masih tampak berwibawa.
"Opa? Mas Eagle? Ada apa?"
Arjuna memeluk Garvita erat. "Alhamdulillah kamu tidak apa-apa."
"Ada apa ini?"
"Seseorang hendak membunuh Gabriel..." ucap Aidan.
"Tapi yang duduk disana Eagle karena perawakan Eagle dan Gabriel dari jauh mirip" sambung Arjuna.
"Mas Eagle nggak papa kan Opa?" tanya Garvita ke opa nya yang memiliki mata coklat terang.
"Lha tuh bocah nya malah ngobrol dengan superintendent Scotland Yard ( kapten kalau di NYPD )" kekeh Arjuna.
"Gabriel belum ketemu?" tanya Garvita.
"Belum. Benji, Geun-moon dan Bayu sedang melacaknya. Begitu juga Pedro dan Omar Zidane dari FBI" jawab Aidan.
Eagle menghampiri Opanya dan Garvita. "Scotland Yard mencurigai kartel Brazil masuk kemari dengan adanya dua agen CIA yang tanpa ijin masuk Inggris."
"Tanpa ijin?" seru Arjuna dan Aidan bersamaan.
"Iya Opa. Agen Jameson dan agen Roberts diam-diam masuk Inggris setelah ada informasi Gabriel Luna berada di Inggris enam bulan lalu. Mereka mengira Gabriel memiliki bukti atau informasi apapun tentang hasil penyelidikan kedua orangtuanya."
"Gabriel masih kecil ketika kedua orangtuanya tewas!" ucap Aidan.
"Itu pula yang aku bilang dengan dua agen CIA itu. Dan tadi setelah mengantarkan Garvita, aku berkoordinasi dengan mas Pedro dan bang Omar. Oom Benji juga memberikan semua informasi yang diketahuinya dan..." Suara ponsel Eagle berbunyi. "Mas Pedro."
"Loud speaker E" pinta Arjuna.
"Assalamualaikum mas Pedro."
"Wa'alaikum salam Eagle. Kamu tidak apa-apa kan?" sapa Pedro kakak ipar Eagle.
"Alhamdulillah nggak papa mas. Gimana? Disini ada Opa Juna dan Opa Ai."
"Assalamualaikum Opa" sapa Pedro.
"Wa'alaikum salam. Gimana Pedro?" tanya Arjuna.
"Oke. Pertama, dua agen itu bekerja bukan perintah CIA. Mereka adalah bekas partner Stephanie James, ibu Gabriel. Mereka mengira Stephanie memberikan semua bukti ke Gabriel. Bahkan dua hari setelah Juan Pablo Luna dan Stephanie James dikabarkan meninggal, beberapa agen CIA menggeledah rumah keluarga Luna untuk mencari bukti apapun yang berkaitan dengan kartel."
"Apa mereka menemukan sesuatu?" tanya Aidan.
"Mereka tidak menemukan apapun. Kemungkinan ada dua, satu Juan Pablo dan Stephanie memang menyimpannya di tempat yang aman atau kedua mereka tidak memiliki bukti apapun" jawab Pedro.
"Kalau aku rasa, mereka berdua tidak memiliki bukti apapun tapi baik pihak CIA dan Kartel Brazil mengira mereka memiliki bukti. Dan disaat mereka mengalami jalan buntu, Gabriel lah yang diincar" ucap Aidan.
"Celakanya Gabriel mengira dengan dia pergi, Garvita akan aman. Padahal tidak semudah itu Férguso" omel Arjuna.
"Mas Pedro, update ya. Koordinasi sama Oom Benji" pinta Eagle.
"Of course. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Garvita menatap Opa dan Eagle. "Bolehkah aku menghajar dua agen CIA itu?"
"Garvita, bisa kena tuntutan hukum federal nanti" kekeh Aidan.
"Ai, kita bikin macam Dubai dulu?" kerling Arjuna.
"Aku akan telpon Karl, biar kasih ijin Sabine menggunakan babynya kalau memang diperlukan." Aidan lalu mengambil ponselnya.
***
Istana Al Jordan Dubai UAE
"Aku pakai baby kemana dulu Ai. Lagian aku juga sudah karatan biarpun pengen... " gelak Sabine Al Jordan Schumacher mendengar ucapan sepupunya.
"Masih belum ketemu itu Gabriel?" tanya Karl ke Ayrton.
"Aku masih mencarinya, begitu juga dengan Benji dan Bayu. Valentino juga membantu dari Massachusetts" ucap Ayrton.
"Ay, apa tidak dicoba cari ke Miami?" tanya Enzo.
"Arka dan Valentino katanya mau ke Miami bareng Bayu." Reyhan menatap pesan dari Pandu.
"Apa mereka tahu rumah Gabriel?" tanya Karl.
"Benji sudah kesana dengan Geun-moon" ucap Ayrton. "Jadi tiga anak itu sudah tahu alamatnya."
***
Kediaman McCloud London
"Kamu nggak papa, E?" tanya Sekar.
"Alhamdulillah nggak papa, Oma."
"Mas Juna, gimana selanjutnya?" tanya Sekar ke suaminya.
"Masih diurus sama Scotland Yard. Tapi yang di Ameika sudah bergerak ke Miami."
"Siapa mas?" tanya Sekar.
"Arka, V dan Bayu."
"Garvita, kamu nanti dikawal sama Damian" ucap Thara.
"Hah? Kok mas Damian?" tanya Garvita.
"Iya. Papamu yang minta dan Damian bilang tidak masalah meninggalkan pekerjaan sementara untuk menjaga dirimu" timpal Sekar.
"Bukannya Jasmine yang akan mengawal aku?" tanya Garvita bingung.
"Tadinya memang mau Jasmine tapi Damian yang mengajukan diri."
Garvita mengangguk. Setidaknya ada Damian dia juga lebih tenang.
***
Keesokan Harinya di London Kediaman keluarga McCloud ...
Garvita melongo saat melihat Damian duduk di ruang makan sambil tersenyum.
"Halo, G" senyum Damian.
"Mas Dam!" seru Garvita senang melihat kakak sepupunya datang. Gadis itu langsung memeluk Damian, putra Direndra Blair dan Raana.
"Damian!" senyum Eagle sambil memeluk Damian.
"Aku tahu RR's Meal lagi sibuk-sibuknya E, jadi aku saja yang mengawal Garvita" kekeh Damian.
"Lha peternakan onta mu?" goda Eagle.
"Sudah ada manajer yang aku percaya. Tenang saja."
"Mas Dam menemani aku berapa hari?" tanya Garvita.
"Sampai keadaan aman."
"Katanya duo kampret n mas Bayu sudah ke Miami ke rumah lamanya Gabriel." Eagle menatap sepupunya.
"Semoga Gabriel memang ada di Miami. Soalnya Oom Benji dan Tante Geun-moon tidak menemukan jejak pengawalmu, Gar" ucap Damian.
"Apa jangan-jangan ke Rio de Janeiro?" celetuk Eagle.
"Bisa jadi. Tapi itu kita cek yang di Miami dulu."
"Sudah Garvita, sarapan dulu. Dam, kamu butuh Glock, SIG atau Colt?" tanya Eagle.
"Glock saja E."
***
Imperial College of London
Damian Blair duduk di cafe sebelah dari cafe yang kemarin jadi korban tembakan beruntun. Garis kuning polisi masih tampak di cafe kopi itu.
Damian Al Azzam Blair
Damian menatap sekelilingnya dengan mata hijaunya. Wajah tampannya membuat beberapa gadis yang melihatnya, membicarakan bagaimana sikap cool Emir Al Azzam selain Radhi, adik sepupunya putra Alaric Blair. Radhi sendiri memilih menjadi pembalap formula 1 seperti Oom nya Enzo dan opa buyutnya Senna Al Jordan.
Pria berdarah Inggris, Arab, Skotlandia dan Jawa itu melihat mobil mencurigakan terparkir dekat kampus adiknya.
Entah kenapa perasaan Damian tidak enak dan pria itu memutuskan untuk menghabiskan minumannya dan berjalan menuju kampus adiknya. Glocknya tersimpan di punggung balik jakektnya.
Dilihatnya dua orang berdarah latin duduk sambil mengawasi gerbang kampus Garvita. Damian pun berjalan dengan santai menghampiri dua pria yang diyakini adalah kartel Brazil.
"Ele eu. Por quem você está esperando ( Hai. Kalian memang nunggu siapa )?" sapa Damian dengan bahasa Portugis.
Kedua pria itu terkejut melihat seorang pria tampan menodongkan pistolnya.
"Qual você escolhe, sua vida ou sua morte ( Mana yang kamu pilih, nyawamu atau kematianmu )?" Damian menatap tajam ke arah dua orang latin itu tanpa mengalihkan todongan pistolnya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Maaf agak telat karena kumpul keluarga dulu
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️