
London Inggris
Dua orang pria di dalam mobil itu menatap tajam ke arah Damian yang masih tetap menodongkan glocknya dan disaat keduanya hendak mengambil sesuatu dari balik jasnya, tiga orang berdarah Arab dengan pakaian hitam-hitam sudah mengepung mobil Vauxhall itu dengan senjata masing-masing.
"Diga-me. Quem são vocês dois ( Katakan padaku. Siapa kalian )?" tanya Damian dengan mata menatap tajam.
"Somos a Agência Brasileira de Inteligência. Esta é a minha identidade ( Kami adalah agen intelijen Brazil. Ini tanda identitas kami )" ucap salah satu orang itu sambil mengambil menyerahkan dompetnya ke Damian.
Emir Al Azzam itu memeriksa kartu identitas orang itu dan memanggil pengawalnya.
"Afnan. Tolong cek ini" pinta Damian ke arah pria berwajah dingin itu dengan menggunakan
"Baik Emir." Afnan segera mengambil alat khusus untuk memeriksa keabsahan id agen federal buatan Geun-moon.
"Emir?" ucap dua pria itu.
"Perkenalkan. Damian Al Azzam Blair, Emir Al Azzam Dubai" senyum Damian.
"Tuanku Emir. Mereka memang agen ABIN dan surat perintah dari petinggi ABIN memerintahkan untuk melindungi nona Garviat Schumacher" lapor Afnan. "Namanya Eduardo Palemo dan Garcia Ruben."
"Kenapa kalian ingin melindungi adikku?" Damian menatap tajam ke keduanya.
"Bisakah kita berbicara di tempat yang lebih nyaman, Emir?" ucap pria yang diketahui bernama Eduardo Palemo.
"Kita ke cafe sana tapi hanya satu orang. Biar yang satu disini." Damian memberikan kode kepada pengawalnya dan dalam hitungan menit mereka menghilang macam ninja.
Eduardo pun turun meninggalkan Garcia sendiri di mobil mengikuti Emir Al Azzam yang tidak disangkanya akan turun sendiri.
***
"Ceritakan kenapa ABIN melindungi adikku?" tanya Damian tanpa basa basi.
"Karena ABIN tahu nyawa nona Garvita Schumacher dalam bahaya."
"Apa kalian pikir kami tidak bisa melindungi adik kami sendiri? Jika kalian meragukan keluarga kami, anda salah besar."
Eduardo menelan ludahnya merasa terintimidasi dengan tatapan dingin pria yang jauh lebih muda dari dirinya tapi memiliki aura yang membuat semua orang segan berhadapan dengannya. "Itu memang perintah dari pusat."
"Apakah karena pusat mengira adikku memiliki sesuatu dari Gabriel Luna? Demi Tuhan, adikku tidak tahu apa-apa!" hardik Damian kesal. Tidak CIA, tidak ABIN, semuanya ngajak gelut!
"Kami hanya disuruh pusat apalagi kemarin sempat terjadi penembakan bukan?"
Damian menggelengkan kepalanya. "Kalian, CIA, Kartel! Pada punya otak nggak sih? Gabriel Luna baru berusia 12 tahun saat Juan Pablo Luna dan Stephanie James dibunuh di depan matanya! Tahu apa anak usia 12 tahun soal pekerjaan ayah ibunya? Kamu sendiri, apakah anakmu tahu pekerjaan mu yang sebenarnya?"
Eduardo menggelengkan kepalanya. "Putraku hanya tahu aku bekerja di kantor pemerintahan."
"Dia tidak tahu kan kamu agen rahasia?! Itu yang harusnya kalian pikirkan! Jika memang ABIN dan CIA masih mengeyel, jangan salahkan kami akan maju ke puncak pemimpin kalian!" ucap Damian tegas.
***
Gedung CIA 33 Thomas Street New York
Benjiro Smith, Jang Geun-moon dan Abiyasa O'Grady mendatangi gedung CIA yang berada di kota New York. Ketiga orang yang memiliki hubungan baik dengan semua Law enforcement itu menghadap kepala CIA.
Gedung yang bekas milik AT&T itu memang tidak memiliki jendela sama sekali yang bisa dibilang benar-benar gedung spionase.
Ketiga orang itu pun dipersilakan masuk ke dalam ruang pimpinan CIA. Benji tadinya hendak ke Langley Virginia tapi mendengar direktur nya Al Burns berada di Manhattan New York, mereka memutuskan untuk bertemu di gedung itu.
Al Burns pun mengajak ketiga orang itu masuk ke ruang meeting dan acara pertemuan dimulai.
***
"Kami tidak pernah mengirimkan agen Roberts dan agen Jameson ke London untuk mencari Gabriel Luna" ucap Al Burns.
"Lalu? Setelah lebih dari 12 tahun peristiwa pembunuhan Juan Pablo Luna dan Stephanie James, kenapa baru sekarang CIA muncul kembali?! Gabriel tidak tahu siapa orangtuanya sebenarnya dan kalian mengusik kehidupan tenangnya padahal kalian tahu dia sudah menjadi warga negara UAE jadi kalian tidak ada hak pada Gabriel yang mendapatkan perlindungan penuh dari Emir Al Jordan Schumacher!" ucap Benji berapi-api.
"Gabriel adalah calon menantu Emir Al Jordan Schumacher" jawab Jang Geun-moon tenang membuat Benji dan Abiyasa menoleh ke wanita berdarah Korea Selatan itu yang juga putri Jang Geun-yong mantan mafia klan Jang di New York.
"Kami memang tahu Gabriel tidak tahu siapa orangtuanya..."
"Tapi kalian membuatnya seolah tahu barang bukti hasil penyelidikan kedua orangtuanya!" bentak Abiyasa kesal. Dirinya memang tidak senang mendengar bagaimana pihak CIA memanfaatkan kelemahan Gabriel terhadap kasus kematian orang tuanya dan Garvita hingga memilih pergi demi keselamatan Garvita.
Al Burns hanya menatap datar ke ketiga anggota keluarga klan Pratomo yang dikenal hidup lurus dan tidak akan bertindak jika tidak disenggol duluan. Keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga dari berbagai bidang dan masing-masing dikenal cakap serta genius.
Keluarga yang masih ada keturunan bangsawan, mafia Korea Selatan, Yakuza dan mafioso Italia.
"Jika CIA dan ABIN tidak mundur untuk mengusik dan menyentuh Gabriel Luna, jangan halangi kami untuk menghalalkan segala cara agar mengetahui apa sebenarnya yang kalian cari! Dan jika kami menemukannya, kami sendiri yang akan menghabisi kartel Brazil!" ucap Benji final. "Karena semua rahasia kalian, kami memilikinya meskipun kami tidak berminat membongkarnya."
"Apa?" pendelik Al Burns. "Kalian mengancam CIA ?"
"Kami tidak mengancam tapi kami hanya melindungi anggota keluarga kami. Soal kasus kalian yang berjibun itu, kami tidak urusan! Hanya yang berurusan dengan Gabriel Luna saja yang kami prioritaskan!" sambung Jang Geun-moon. Wanita cantik itu menatap dingin ke Al Burns. "Ingat, CIA, FBI, NSA, NYPD, LAPD dan NCIS, semua memakai alat spionase dari Jang Corp. Hanya dengan sekali kami membuat virus, semua alat spionase yang kalian pakai, akan menjadi tidak berguna."
Abiyasa menoleh ke istri Benjiro Smith itu. Dasar Geun-moon, otaknya lebih mengerikan dari Benji!
Al Burns menghela nafas panjang. Semua Law enforcement di Amerika sendiri mengakui kalau alat spionase milik Geun-moon memang sangat canggih dan berguna bagi mereka semua. Hingga detik ini, mereka belum mendapatkan alat-alat yang jauh lebih canggih dari milik Jang Corp.
"Kalian hanya meminta kasus Stephanie James dan Juan Pablo Luna?"
"Hanya itu hingga ke Gabriel" jawab Abiyasa.
"Kalian tidak mengutak-atik kasus kami yang lain?"
"Kami masih punya aturan karena itu bertentangan dengan hukum federal. See, kami masih memiliki aturan patuh dengan hukum" jawab Benji tegas.
Al Burns memanggil asistennya yang datang secepatnya. "Berikan semua berkas milik Stephanie James, Roberts dan Jameson!"
"Tapi sir, mereka orang sipil!" protes asistennya.
"Berikan saja!" bentak Al Burns yang membuat asistennya terkejut.
"Yes sir." Assisten itu pun undur diri guna mengambil semua berkas.
"Apakah kalian tahu dimana Gabriel?" tanya Al Burns.
"Justru pertanyaan itu yang hendak kami tanyakan. Apakah CIA sedang menyembunyikan Gabriel?" seringai Abiyasa.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️