My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Nona Manja dan Cengeng



Indramayu Jawa Barat


Gabriel keluar dari kamar Gasendra dengan pelan dan menutup pintu kamar itu pun sama perlahannya dengan langkahnya.


"Sudah nyaman adikku?" tanya Gasendra dari belakang Gabriel membuat pengawal tampan itu terlonjak kaget. Apa Gasendra melihat aku tadi mencium adiknya?


"Su...dah Sendra" balas Gabriel dengan sedikit berbisik.


"Kamu beristirahat lah, Gab. Lusa kan kalian kembali ke Dubai? Lagipula yang kamu jaga sudah molor macam kebo."


"Iya Sendra. Selamat malam." Gabriel mengangguk ke arah pria jangkung itu.


"Selamat malam" balas Gasendra. Setelah pengawal adiknya pergi, Gasendra duduk diatas karpet tebal di ruang tengah. Apa kamu suka sama Garvita, Gab? Apa kamu kira aku tidak melihat kamu mencium kening Garvita?


Gasendra meneguk air putih di gelasnya. Kita lihat saja kamu maunya gimana.


***


Pagi ini terjadi keributan seperti biasa sarapan yang rusuh antara tiga gadis remaja dengan dua kakak lelaki mereka. Dan bagi para orang tua, itu merupakan hal yang biasa.


Garvita menarik tangan kakaknya yang sedang mengobrol dengan pengawal ayahnya tentang perkembangan Dubai.


"Apa dik?" tanya Gasendra setelah mereka berada di kursi teras.


"Kok semalam aku bisa tidur di kamar mas Sendra? Siapa yang membawa aku?"


"Gabriel lah!"


"Kok bisa ke kamarmu mas?" Mata biru Garvita menatap mata biru kakaknya.


"Pas Gabriel menggendong kamu, pas Mas Sendra keluar kamar dan Gabriel tidak mungkin kan membawa kamu ke kamarmu. Ada Jules dan Ara disana. Jadi aku minta Gabriel taruh kamu saja di kamarku."


Garvita cemberut. "Enak saja gendong-gendong..."


"Lha masa kamu ditinggal di gazebo belakang? Yang benar saja dik" kekeh Gasendra sambil mengacak - acak rambut adiknya.


Garvita hanya diam saja.


***


Istana Al Jordan Dubai


Garvita pun kembali dengan rutinitas dan selama itu dirinya seringkali berbuat ulah membuat Gabriel harus semakin melebarkan lambungnya, memanjangkan ususnya, menebalkan stok sabarnya.


Apalagi Desember ini, Zinnia masuk jadwal melahirkan dan Garvita sudah merengek saja untuk terbang ke Jakarta tapi oleh Ayrton, disuruh menunggu karena dirinya dan Enzo harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum tutup tahun.


Garvita pun cemberut karena tidak diijinkan terbang terlebih dulu ke Jakarta. Dan kekesalan nya itu dia lampiaskan ke pengawalnya yang setia bersamanya.


"Gabrieeellll!" teriak Garvita membuat semua orang di istana yang sudah hapal dengan perilaku manja sang princess, hanya melengos. Istana memang agak kosong karena Georgina beserta si kembar sudah terbang ke Silverstone Inggris untuk mengurus penginapan milik istri Enzo itu.


"Garvita! Jangan teriak-teriak! Ini bukan hutan!" bentak Mariana yang gemas dengan putri bungsunya yang makin hari makin manja.


"Habis ditelpon nggak diangkat!" balas Garvita judes.


"Young lady! Jaga intonasi bicara kamu!" tegur Sabine ke cucunya.


"Iya Oma... Maaf mama..." ucap Garvita sambil menunduk.


"Anda mencari saya, nona Garvita?" Suara Gabriel yang datang tergopoh-gopoh terdengar di tiga generasi Al Jordan itu.


"Kamu habis dari mana Gab?" tanya Sabine lembut.


"Saya baru saja meeting dengan para pengawal untuk menjaga istana tahun baru besok."


Sabine dan Mariana menatap tajam ke Garvita yang manyun. "Jelas saja Gabriel tidak menjawab ponselnya karena sedang meeting, Garvita!" omel Sabine. "Kurangi manja kamu! Dan kamu Gabriel, berhenti memanjakan Garvita! Tidak semua kenakalan dia, kamu permisif!"


"Baik Nyonya besar..." jawab Gabriel sambil melirik ke arah nona manjanya yang manyun.


"Tuh Gabriel sudah datang. Terus kamu mau kemana?" tanya Mariana.


"Gym!"


***


Ruang Gym Keluarga Al Jordan


"Yang benar saja nona. Anda minta saya menjadi patner latihan judo?" Gabriel menatap nonanya yang sudah siap dengan baju latihan.


"Aku minta partner siapa lagi? Kalila? Lagi minggat ke Inggris jadi pelayan penginapan Tante Georgi!"


Gabriel hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Nona, tapi anda kan tahu... "


"Gabriel! Nurut!" bentak Garvita kesal.


Mau tidak mau Gabriel membuka kemejanya dan hanya mengenakan kaus dalamnya yang bewarna hitam dan celana jeans.



"Kita mulai nona?" tanya Gabriel.


"Ayo!"


***


Garvita tergeletak diatas matras setelah dua kali kena banting Gabriel meskipun setelahnya sang pengawalnya memeriksa tubuhnya dengan khawatir.


"Nona tidak apa-apa? Nona baik-baik saja?" Gabriel memeriksa tangan dan kaki Garvita takut ada yang keseleo atau memar.


"Baik-baik saja Gabriel!" hardik Garvita kesal karena tidak berhasil mengalahkan pengawalnya. "Kenapa sih badan kamu besar?"


"Hah?"


"Aku jadi susah banting kamu!" sambung Garvita dengan nafas terengah-engah.


Gabriel duduk di sebelah nonanya yang masih tiduran. "Anda ada masalah apa nona? Anda sepertinya kesal beberapa bulan terakhir ini semenjak pulang dari Indramayu."


"Aku kesal tidak boleh pergi ke Jakarta ikut menemani mbak Zee lahiran."


"Tapi bukankah disana sudah banyak orang, nona. Tuan Reeves, tuan Baskara dan tuan Park sudah siaga di Indramayu selain dengan Gasendra."


"Aku tahu! Tapi aku ingin bersama mbak Zee!" isaknya yang membuat Gabriel terkejut melihat nonanya menangis hanya gara-gara tidak diizinkan ke Jakarta. "Aku tidak mau mbak Zee sendirian..."


"Nona Zinnia tidak sendirian..."


Suara notifikasi ponselnya berbunyi membuat Garvita bangun dari matras dan mengambil ponselnya. Wajah gadis itu menjadi pucat.


"Ada apa nona?" tanya Gabriel.


"Gab, mbak Leia kecelakaan..." Mata biru Garvita tampak cemas dan panik.


"Leia? Apakah yang nona maksud nona Leia Bianchi?"


"Siapa lagi keluarga aku yang bernama Leia!"


"Dimana nona?"


"Di Turin... Astaghfirullah! Ada apa ini Gab?"


Gabriel hanya bisa diam karena tidak tahu harus bilang apa.


***


Akhirnya dua kabar berbeda diterima keluarga Al Jordan Schumacher di Dubai. Pertama Leia selamat dan harus digips tangannya akibat kecelakaan yang melibatkan FBI datang ke Turin. Kedua, Zinnia hendak melahirkan membuat Ayrton dan Mariana bersama Garvita dan Gabriel serta beberapa pengawal harus terbang dadakan ke Jakarta.


Enzo memilih untuk tinggal di Dubai bersama dengan kedua orangtuanya dan Karl serta Sabine, menunggu kabar dari Jakarta.


***


RS PRC Group Jakarta


Garvita menatap bayi bule dari balik kaca kamar bayi dengan tatapan gemas dan sayang ke keponakan barunya. Gabriel sendiri masih setia mengawal nona manja dan cengengnya sambil tersenyum sendiri.


Bagaimana rasanya ya kalau punya anak sendiri apalagi kalau bayinya sama tampan dan lucu dengan pangeran kecil itu. Gabriel menatap Garvita yang seolah mengajak ngobrol ke keponakannya yang bernama Arsyanendra.


"Gab, sini!" panggil Garvita membuat pengawal nya mendekati nonanya yang hari ini memakai baju model Sabrina.


"Ada apa nona?" tanya Gabriel.


"Lihat! Arsya cakepnya mirip bang Sean... Andaikan bang Sean tidak kemakan fitnah kemarin, alangkah bahagianya bisa melihat putranya tampan sekali."


"Nona hendak memberi tahukan pada pangeran Sean?" Gabriel menatap Garvita.


Garvita hanya terdiam. "Rasanya aku ingin Gab...tapi papa dan opa masih mode marah..."


Gabriel menggenggam tangan Garvita. "Ada waktunya nanti kemarahan tuan besar Karl dan tuan Ayrton mereda.."


"Aku harap begitu Gab. Semoga marahnya mereka tidak lama..." Garvita melirik ke arah tangannya yang digenggam oleh pengawalnya. "Kamu kenapa megang tangan aku?" tanyanya judes.


Gabriel hanya tersenyum manis.



Si nona jutek, manja dan cengeng


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️