
London Inggris
"Lalu apa hubungannya dengan aku? Aku malah tidak tahu tentang apapun soal mom dan dad. Aku hanya tahu dad bekerja di Microsoft dan mom guru SD" ucap Gabriel.
"Kartel Rio de Janeiro mengincar nyawamu karena kamu adalah saksi hidup saat ayah dan ibumu dibunuh. Apakah orangtuamu meninggalkan sesuatu?" tanya Agen Roberts.
Gabriel menatap satu persatu agen CIA itu. "Tidak. Aku hanya bisa shock saat kedua orangtuaku dibunuh."
"Apakah kamu tahu kalau orang yang menolong kamu juga bagian dari mereka?" Agen Jameson menatap Gabriel serius.
"Sebelumnya, berikan bukti-bukti apakah kedua orang tuaku memang seperti yang kalian bilang." Gabriel membalas tatapan dua orang itu tanpa gentar.
Agen Jameson mengeluarkan satu tas dokumen bewarna coklat dan menyerahkan pada Gabriel. Pria itu lalu membukanya dan mata coklatnya terkejut melihat siapa kedua orangtuanya. Semua data disana lengkap hingga dirinya 'disembunyikan' oleh kakek Ahmed.
"Orang tua itu, Ahmed sebenarnya juga salah satu dari mereka tapi dirinya tidak tega untuk membunuhmu jadi dia membawa kamu ke area kumuh yang sulit terlacak oleh kami maupun kelompok kartel. Mereka menganggap kamu sudah dibunuh oleh Ahmed disana karena kamu tahu sendiri, orang tidak memperdulikan siapa yang mati di daerah kumuh" papar Agen Roberts.
"Kami mencoba mencari kamu tapi orang-orang disana tampaknya sayang dengan Ahmed dan kamu jadi mereka menutup akses untuk orang asing masuk. Rupanya Ahmed memang tinggal disana untuk mempermudah operasi senyapnya untuk jualan narkoba dan membunuh. Tapi Dimata para penghuni sana menyayangi Ahmed" lanjut Agen Jameson.
Gabriel terkejut melihat foto dirinya bersama Gasendra saat anak itu masih SD.
"Kami akhirnya tahu kamu diangkat menjadi pengawal pribadi keluarga Emir Schumacher dan kami sedikit tenang karena kamu akan aman disana."
"Lalu kenapa kalian mengusik kehidupan aku sekarang?" tanya Gabriel yang melihat beberapa foto dirinya dan Garvita. Jangan bilang mereka mencoba mencari buku yang aku simpan.
"Kami ingin kamu berhati-hati karena pihak kartel sudah mulai mencium kamu masih hidup dan di bawah perlindungan Emir Schumacher. Masalahnya, kamu sekarang di London bersama dengan putri Emir. Kami tahu keluarga Emir Schumacher berhubungan dekat dengan para Law enforcement, bahkan menantunya adalah anggota FBI bukan? Pedro Pascal, suami Nadira McCloud putri Rajendra McCloud." Agen Jameson menatap Gabriel serius. "Mereka mengincar Garvita Schumacher."
"AAAPAAA?! Garvita tidak tahu apa-apa! Bahkan aku sekarang warga negara UAE! Bukn warga negara Amerika maupun Brazil!" desis Gabriel nyaris berteriak.
"Garvita Schumacher Memang tidak tahu apa-apa tapi Ayrton Schumacher dan Benjiro Smith tahu siapa kamu! Mereka berdua yang melindungi kamu."
Gabriel melongo. Setelah hampir sepuluh tahun aku bersama dengan keluarga Al Jordan Schumacher, selama ini mereka tahu siapa aku?!
"Emir Schumacher pasti memiliki alasan tersendiri, Gabriel, mengapa tidak memberitahukan semua ini kepadamu."
"Karena Garvita" ucap Gabriel tegas.
"Iya, karena Garvita. Meskipun keluarga Emir memiliki banyak kenalan dengan para mafia, Yakuza dan Triad, tapi ini berbeda. Kartel ingin barang bukti yang dimiliki oleh orang tuamu" ucap agen Roberts.
"Aku tidak tahu barang bukti apa!" jawab Gabriel.
"Apakah selama kamu tinggal dengan Ahmed , tidak ada sesuatu yang aneh?" tanya Agen Jameson.
Gabriel menggelengkan kepalanya dan mata coklatnya melirik ke seberang kampus. Tampak Garvita berjalan bersama dengan temannya dengan sedikit agak tertatih setelah melakukan operasi pergelangan kaki yang retak. ( Baca The Prince and I chapter Rencana Kembali Ke Jakarta ).
"Kalian harus pergi karena Garvita akan mencari aku." Gabriel menatap dua agen CIA itu.
"Oke. Kita akan mengobrol lagi." Dua agen itu pun pergi meninggalkan Gabriel yang segera membayar kopinya dan berjalan menyeberang jalan menghampiri nonanya.
"Ketemu dengan teman baru Gab?" tanya Garvita ke pengawalnya.
"Hanya turis yang bertanya soal London."
"Kamu kan tidak hapal London" gelak Garvita.
"Maka dari itu aku bilang aku juga turis" kekeh Gabriel.
Sejak kejadian Garvita harus menjalani operasi kaki, gadis itu semakin dekat dengan Gabriel. Semua orang di keluarganya tahu bagaimana perasaan pria tampan itu ke Garvita yang akhirnya menikmati hubungan tanpa status dan kejelasan dengan pengawalnya.
"Ayo pulang" senyum Garvita sambil menggandeng tangan Gabriel.
Gabriel mengangguk dan keduanya berjalan menuju mobil milik gadis itu. Mereka tidak mengetahui bahwa ada dua mobil yang mengawasi keduanya.
"Sudah ketemu Boss. Dia menjadi pengawal Garvita Schumacher, putri Emir Schumacher." Seorang pria berbicara di telepon dengan bahasa Portugis.
"Ikuti mereka tapi jangan sampai tahu."
***
Mobil Range Rover hitam itu masuk ke dalam rumah keluarga McCloud dan mobil yang mengikuti Gabriel dan Garvita bisa melihat bahwa rumah itu memiliki penjaga yang mumpuni.
"Mereka masuk ke kediaman keluarga McCloud."
Ada jeda disana. "Tunggu sampai lengah. Baru kita ancam anak Juan Pablo Luna itu!"
"Baik Boss."
***
Gabriel menatap kaca spion dari mobil mewah itu ke arah gerbang pintu rumah keluarga McCloud. Feeling-nya mengatakan bahwa mobil Vauxhall itu sudah mengikutinya sejak dari kampus Garvita.
CIA? Atau Kartel?
Gabriel menoleh ke arah Garvita yang sedang membereskan barang bawaannya. Rupanya mereka semakin dekat dan aku tidak bisa membahayakan gadisku.
"Kamu kenapa Gab? Lapar?" tanya Garvita bingung melihat wajah pengawalnya tampak aneh dan seperti tidak biasanya.
"Nona Garvita, jika saya suatu saat nanti tidak mengawal nona, saya harap nona tidak marah..."
Garvita melongo. "Kamu kenapa Gab? Apa kamu sudah lelah dengan ulahku? Kamu sudah bosan jadi pengawal aku?"
Gabriel menggelengkan kepalanya. "Tidak nona, sampai kapanpun saya tidak pernah lelah mengawal nona, kalau bisa seumur hidup saya mendampingi nona dengan status berbeda tapi tampaknya rencana tinggal rencana..."
"Gabriel! Kamu kenapa? Jangan membuatku takut!" pekik Garvita mulai panik.
Gabriel memegang pipi Garvita. "Jangan takut. Anda itu pemberani, tidak ada kapoknya kena lintah..."
Garvita menatap pengawalnya bingung. "Ada apa Gab? Apa kamu merasa tidak pantas kalau suka sama aku?"
Gabriel tidak terkejut jika Garvita bertanya gamblang. "Anda tahu?"
"Semua orang di keluarga aku tahu! Hanya aku yang menolak kamu! Kenapa? Kamu takut sama papa? Takut ditolak papa?" tanya Garvita bingung. "Apa kamu lupa kalau papa lebih membela kamu dibandingkan aku anaknya Sendiri!"
Gabriel hanya menggelengkan kepalanya. "Bukan itu nona..."
"Terus apa?"
"Ada hal yang tidak bisa saya sampaikan sampai saya yakin semuanya."
Garvita memicingkan matanya. "Ada apa Gabriel?"
"Berjanjilah pada saya, jadilah nona Garvita yang saya kenal selama ini..."
"Gab? What's going on?" tanya Garvita semakin bingung dengan sikap pengawalnya.
Gabriel tidak menjawab. "Mari kita turun nona... Anggap saja saya tadi sedang error..." Gabriel lalu membuka pintu mobilnya.
Garvita hanya menatap bingung ke pengawalnya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️