My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Putusan Pengadilan



London Inggris


Garvita dan Gabriel menikmati acara kencan mereka weekend ini dengan berjalan-jalan di Hyde Park dan nanti siang akan naik London's eye.


"Bagaimana pengadilan kemarin, Gar?" tanya Gabriel yang kemarin memilih tidak mau mendengar apapun dari pengadilan Dubai.


"Jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati karena mereka membunuh... meskipun technically satu orang yang eksekutor tapi tiga lainnya kan ikut menjadi pelaku perencana pembunuhan." Garvita menatap Gabriel yang sekarang mereka sedang duduk di kursi taman.



Hyde Park


"Akhirnya keadilan ditegakkan meskipun aku lebih suka kedua orangtuaku hidup" ucap Gabriel serius.


"Iya Gab, meskipun butuh waktu lama untuk membuktikan tapi setidaknya kejahatan pasti akan terungkap!"


Gabriel tertawa pelan mendengar komentar gadisnya. "Kamu macam kalimat di cerita komik detektif."


"Duh, kayaknya ketularan mas Shinichi bukan Kudo deh!" Garvita menggaruk kepalanya.


"Nona... eh Garvita... Apa tuan Ayrton tidak menyesal jika saya dengan anda. Secara saya hanya seorang bodyguard..."


"Yang orangtuanya adalah agen CIA dan ABIN" potong Garvita.


"Dan dibunuh saat menyelidiki kasus..."


"Yang menjadi pembuka kasus narkoba ... Dengar Gabriel! Kamu itu sudah sedemikian rupa mencoba melindungi aku, dan Papa melihat bahwa kamu pria yang tepat untukku karena hanya kamu yang tabah denganku!" Mata biru Garvita menatap tajam ke Gabriel. "Masih kurang aku potong rambut kamu pakai gunting rumput?"


Gabriel tertawa. "Ya ampun, ternyata kamu beneran melakukannya karena kata Mrs Smith..."


"Tante Geun-moon maksudmu?"


Gabriel mengangguk. "Mrs Smith bilang kalau kamu lihat aku seperti kemarin, kamu akan menggunting rambutku dengan gunting rumput. Dan aku tidak menyangka kejadian."


Garvita terbahak. "Salah siapa main kabur tanpa menceritakan kenapa. Jadi wajar dong kalau aku menghukum kamu?"


Gabriel merangkul Garvita dan mencium pelipisnya. "Kamu tahu, awal Gasendra membawa aku ke istana Al Jordan, aku tidak tahu akan bertemu denganmu. Gadis manja, tukang ngambek, tapi baik hati."


"So? Kamu tidak suka?"


"Suka dan sayang banget sama kamu. Aku tidak tahu kenapa bisa suka dan sayang padamu. I think God can explain."


"God explains that you must be my side forever ( Tuhan menjelaskan bahwa kamu harus di sisiku selamanya )." Garvita mencium pipi Gabriel. "Kapan kita meresmikan?"


"Garvita, aku ingin melamar kamu secepatnya tapi berikan aku waktu untuk memberikan yang terbaik dan kamu menyelesaikan pendidikan kamu dulu."


"Tidak usah mahal - mahal, yang penting niat tulus dan rasa cintamu padaku."


Gabriel cemberut. "Tidak bisa begitu dong! Aku kan laki-laki! Harus bisa dibanggakan!"


Garvita tertawa. "Bagaimana habis Juliet? Kan menurut rencana usai Romeo masuk ke spesialis jantung, dia akan melamar Juliet."


"Aku rasa itu lebih baik."


***


Istana Al Jordan Dubai UAE Dua Minggu Kemudian


Ayrton dan Mariana menerima kedatangan para anggota FBI dan Marisol Braga yang hendak berpamitan pulang ke New York setelah keputusan pengadilan Dubai menetapkan hukuman keempatnya adalah hukuman mati dengan suntikan maut.


Enzo Al Jordan dan istrinya Georgina, beserta Sabine dan Karl Schumacher pun ikut disana. Sayangnya Reyhan Al Jordan, ayah Enzo, sedang melakukan general check up di rumah sakit bersama dengan istrinya Paradina. Apalagi Paradina adalah survivor kanker payu*dara yang harus rutin kontrol.


"Kapan keempatnya dieksekusi?" tanya Enzo, mantan pembalap F1 itu yang sekarang keponakannya Radhi Blair yang meneruskan dengan tim Ferrari.


"Sabtu depan" jawab Marisol.


"Sudah tidak ada hukuman pancung ya? Atau ditembak di regu tembak?" gumam Sabine. "Kalau boleh, aku pakai babyku."


Ayrton dan Enzo melongo mendengar ucapan mommy dan Tante mereka. "Seriously Mom?" pendelik Ayrton.


"Dua rius!" jawab Sabine cuek.


"Neslon, kamu jadi ikut pulang bersama dengan mereka?" tanya Karl ke cucunya. "Kamu juga ikut pulang kan Nadya? Papamu sudah mengomel kamu masih ada pengecakan ulang kasus mu lho."


Nadya mengangguk. "Iya opa. Tapi aku tetap bekerja disini apalagi aku juga membantu biro hukum Blair and Blair disini jadi tetap kan aku bekerja."


Blair and Blair Advocate memang memiliki beberapa kantor cabang selain pusatnya di New York untuk region Amerika, London untuk area Eropa hingga middle east dan Jakarta untuk area Asia dan Australia.


"Lusa pesawat Blair akan berangkat dari Dubai airport jam delapan pagi. Jadi kalian yang masih ingin jalan-jalan di Dubai, silahkan" senyum Ayrton.


***


London Inggris, kediaman Keluarga McCloud


"Jalan-jalan sama siapa kamu Nad?" tanya Garvita saat sepupunya melakukan panggilan video.


"Sama Marisol, mas Nelson, Omar dan Kevin. Anggota FBI lainnya jalan-jalan ke tempat berbeda. Kita mau ke Burj Khalifa soalnya dari kemarin belum sempat kan harus menghadiri sidang terus. Kamu tahu sendiri kan, mas Nelson itu tipenya kalau hakim belum ketok palu, nggak bakalan mau pergi kemanapun supaya tetap fokus."


"Itu yang namanya Marisol? Jaksa penuntut umumnya?" tanya Garvita yang melihat seorang gadis cantik berambut pendek dengan wajah smart.


"Iya. Cantik kan?" cengir Nadya. "Otaknya jauh lebih cantik, Gar. Aku saja kalah smart sama dia."


"Memang kita suka dengan orang-orang smart, Nad. Terus kapan kalian pulang ke New York?"


"Lusa kami pulang terus aku akan langsung bekerja di New York sekitar enam bulan baru terbang ke Jakarta. Kata Daddy, ada banyak kasus yang harus diselesaikan disana jadi aku membantu Daddy lah."


"Salam ya buat anak Jakarta" kekeh Garvita.


"Mas Arka, mas. V, Juliet, mas Rombeng, mas Radyta... Eh Dewa gimana? Kabarnya masih dihukum Oom Bagas?"


"Dewa diultimatum sama Oom Bagas harus lulus tahun ini, kalau nggak dimasukkan pondok pesantren" kekeh Garvita.


"What?! Pondok Pesantren? Nggak di ruqyah sekalian?" gelak Nadya.


"Maunya Oom Bagas gitu tapi kata Tante Freya, suruh mandi kembang tujuh rupa..."


Nadya tertawa terbahak-bahak. "Alamakjan! Yang benar saja Tante Freya tuh..."


"Nad, mau makan dimana?" tanya Nelson yang kemudian melihat adiknya sedang video call dengan Garvita. "Hai Gar."


"Halo mas Nelson. Sudah ada pengumuman kapan eksekusi mereka?" tanya Garvita sambil melihat Eagle yang baru datang dari RR's Meal.


"Siapa Gar?" tanya Eagle.


"Mas Nelson dan Nadya." Eagle pun ikut nimbrung di depan MacBook Garvita.


"Hai the Blairs" sapa Eagle.


"Whassup E. Baru pulang?" sapa Nelson.


"Mas Eagle kok makin ganteng sih?" goda Nadya.


"Ganteng lah wong cowok" cengir Eagle. "Kapan eksekusi nya Son?"


"Sabtu depan dan sebelum kalian bertanya, tidak pakai hukuman pancung ya tapi pakai lethal injection ( suntikan maut yang mirip euthanasia)."


"Bagus lah! Biar mereka tahu rasa!" ucap Eagle.


"Kita makan dulu..."


"Tunggu Nelson! Apakah di belakang kamu namanya Marisol Braga?" potong Eagle melihat wanita cantik yang sedang mengobrol dengan pria tinggi yang mereka tahu bernama Omar Zidane.


"Iya. Kenapa E?"


"Salam ya. Bilang dari Eagle McCloud. Pasti dia tahu dan paham sekali."


Garvita dan Nadya saling berpandangan.


Apa hubungannya Eagle dan Marisol?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️