My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Dualisme Garvita



Indramayu Jawa Barat


Gabriel menatap gemas ke nona manja di hadapannya yang memasang wajah tanpa dosa seolah ulah nakalnya bukan lah masalah.


"Really Gab. Kadang kamu harus menikmati hidup, have fun. Aku belum pernah melihat kamu kumpul-kumpul bersama pengawal lain kalau libur diluar istana." Garvita melirik ke arah pengawal tampannya yang sedang asyik meminum air mineralnya.


"Saya tahu maksud anda nona Garvita. Jika saya pergi liburan keluar bersama dengan teman-teman, anda pasti ingin pergi tanpa ada saya disisi anda bukan?" senyum Gabriel yang membuat Garvita melongo.


"Hah?"


"Nona Garvita Pragya Al Jordan Schumacher, saya tahu apa yang ada di otak cerdas anda."


Garvita memajukan bibirnya yang membuat jantung Gabriel semakin berdegup kencang. Tuhanku, kenapa sekarang aku mudah deg degan melihat wajahnya yang menyebalkan tapi menggemaskan.


"Gabriel..." Garvita mendekati wajah pria itu.


"I..iya nona..."


"Kamu pengawal paling menyebalkan!" Mata biru kehijauan Garvita tampak lekat menatap mata coklat Gabriel.


"Nona.."


"Ya?"


"Saya rasa anda terlalu dekat. Saya...tidak mau ada... fitnah..." bisik Gabriel yang merasakan nafas Garvita di bibirnya.


"Ohya? Fitnah apa Gab?"


Seriously nona. Anda baru 14 tahun! Masih di bawah umur! Bisa-bisa saya ditembak di regu tembak atau dipancung oleh papa anda! "Fitnah saya melakukan pelecehan anak di bawah umur..."


Garvita terbahak lalu menjauhkan wajahnya dari wajah tampan Gabriel. "Kamu kan tidak tertarik sama aku Gab. Nona manja, tukang bikin ulah, tidak ada bagus-bagusnya."


"Nona memang manja tapi bagusnya banyak..."


Garvita menatap Gabriel bingung. "Bagusnya dimana?"


"Nona sayang dengan keluarga nona. Saya juga yang mengantarkan nona memberikan banyak makanan ke daerah kumuh di Dubai, nona selalu humble dengan siapa saja... Nona juga perhatian dengan semua pelayan dan pengawal..."


"Kecuali kamu."


"Kecuali saya..." senyum Gabriel. "Tapi nona selalu membelikan makanan untuk saya setiap kita pulang dari Dojo atau latihan panahan dan menembak."


"Karena aku tidak mungkin tega dong makan sendirian!" sungut Garvita.


"Ya itu saya bilang nona orang baik."


Suara ponsel Garvita berbunyi dan tampak sang mama menelponnya.


"Assalamualaikum ma."


"Wa'alaikum salam. Sayang, udah dong main sawahnya. Sepupumu pada datang. Mas kamu juga."


"Mas Sendra datang? Yaaaayyy! Gar pulang ma!"


"Hati-hati jangan sampai kepeleset. Assalamualaikum."


"Iya mama. Wa'alaikum salam."


"Gasendra pulang?" tanya Gabriel.


"Gab, kamu tuh lucu. Manggil kakakku nama, manggil aku pakai embel-embel nona" kekeh Garvita sambil membereskan bawaan mereka.


"Mas Sendra selalu begitu."


"Keluarga anda orang baik semua nona dan saya beruntung menjadi bagian anda. Nona Garvita, saya tidak akan membiarkan seorang pun mencelakai anda karena anda precious" ucap Gabriel serius dan dalam ke mata biru kehijauan milik Garvita.


"I know you won't." Garvita memegang wajah Gabriel. "Bukankah di kontrak disebutkan begitu?"


Gabriel melongo. "Memang tapi ini saya serius dari dalam lubuk hati saya."


"Terimakasih." Garvita menepuk pelan pipi Gabriel. "Ayo kita pulang. Nanti mama ngomel macam komet Halley!"


***


Garvita dan Gabriel berjalan masuk ke dalam rumah dengan sapaan para pengawal dan penjaga rumah. Seperti biasa Garvita membalas dengan ramah dan penuh senyuman kepada setiap orang.


Ini yang saya suka dari nona. Meskipun kalau kumat manjanya menyebalkan, tapi anda selalu humble. Diam-diam Gabriel tersenyum tipis.


"Enak ya main nanam padi!"


Garvita menoleh dan tampak sang kakak yang jangkung itu berdiri di depan rumah dengan kaos dan celana hitam dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.



"Mas Sendraaaaa!" seru Garvita yang langsung menghambur dan memeluk kakaknya.


"Apa kabar anak cantik yang manja?" sapa Gasendra sambil membalas pelukan adiknya dan mencium pelipisnya.


"Kemarin aku kena lintah..." adu Garvita. "Dimarahi Gabriel!"


Gabriel melongo. What! Fitnah apalagi ini?


"Beraninya kamu memarahi adikku, Gab!" Gasendra seolah memarahi pengawal tampan yang menatap tidak percaya atas perfitnahan nonanya.


Aku tuh panik nona! Bukan marahi!


"Saya...tidak memarahi..." Gabriel menatap Gasendra yang mengedipkan sebelah matanya membuat Gabriel tersenyum tahu Gasendra hanya mengikuti mau adiknya.


"So, apa kamu dapat lintah hari ini?" tanya Gasendra sambil merangkul adiknya masuk ke dalam rumah yang sudah melepaskan sepatu boot karetnya.


"Nggak lah! Aku sudah persiapan! Lihat sepatu boot aku. Penuh dengan tanah kan? Daripada aku dimarahi sama pengawal aku yang super cerewet itu!"


Gasendra tertawa. "Kamu tuh!"


"Salah siapa mau jadi pengawal aku?"


Gabriel yang berjalan di belakang dua kakak beradik itu hanya menggelengkan kepalanya.


Sabar... Sabaaarrr!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️