
Acapulco Mexico
Eduardo Palemo yang terlihat tewas itu pun segera dibawa oleh ambulans yang datang dan tanpa tahu, ambulans itu adalah milik FBI. Di dalam terdapat Omar Zidane, Billy Boyd, Tifanny dan Megan yang tergabung dalam task force Harland Rochester.
"Kalian sudah mendapatkan paketnya?" tanya Benji.
"Sudah Mr Smith."
"Oke. Kalian langsung ke bandara. Pesawat sudah siap disana."
"10-4." Omar mematikan panggilannya. "Gila Billy, setelah hampir tiga tahun kita berurusan lagi dengan Harland Rochester!" umpat Omar.
"Tahu gitu saat kemarin kita habisi saja ya OZ" balas Billy.
"Guys. Ada perubahan rencana."
"Pedro Pascal! Kenapa kamu di saluran kami?"
"Omar, pilot yang hendak membawa terbang kalian ke New York harus ganti dan pesawat yang dipakai bukan dari Smith Corp."
"Lalu pesawat apa, Pedro?"
"Milik keluarga Blair."
Omar dan Billy Boyd saling berpandangan, begitu juga Tiffany dan Megan yang harus bersama lagi sesuai perintah Isobel de Garza yang menjadi chief di FBI New York.
"Kenapa memakai pesawat keluarga Blair?" tanya Billy.
"Biar kalian aman dari hukum."
"Ini Blair yang mana Pedro?" tanya Tiffany karena ada banyak keluarga Blair. Blair pemilik MB Enterprise, Blair Emir Dubai dan Blair pengacara. "Jangan bilang Blair pengacara."
"You're right! Safe flight guys." Pedro mematikan panggilannya di earpiece rekan-rekannya.
"Keluarga mereka memang gila!" ucap Megan.
Ambulans itu pun memasuki Bandar Udara Internasional General Juan N. Álvarez di Acapulco dan segera menuju pesawat pribadi keluarga Blair yang ditunjukkan oleh petugas bandara.
Mobil itu berhenti didepan pesawat Gulfstream bewarna putih dengan logo keluarga Blair di ekornya. Omar Zidane dan Billy Boyd segera membuka pintu belakang ambulans untuk mengeluarkan Eduardo Palemo.
Pria berdarah Mesir itu hendak masuk ke dalam pesawat ketika seorang gadis cantik berambut coklat terang panjang duduk di tangga pesawat.
Introducing Nadya Blair
"Kalian terlambat lima belas menit!" ucap gadis yang sedang makan donut itu dengan cueknya.
"Young lady, ayo minggir. Kita harus berangkat!" ucap Omar gusar.
"Oke. Aku habiskan dulu donutku. Tenang saja, si Mule tidak akan bangun sampai besok!" ucap gadis itu sambil memasukkan donutnya ke dalam mulutnya. "Mmmm...mmmm..."
Omar menatap judes ke gadis itu. "Ditelan dulu donutnya!"
Gadis itu menelan donutnya setelah mengunyah nya. "Ayo masuk!" ajaknya sambil masuk ke dalam pesawat.
"Hei! Tunggu! Siapa kamu?" tanya Omar.
"Nadya Blair. Pengacara plus pilot pesawat ini. Sayang, aku tidak bisa menikmati kota Acapulco gara-gara harus membantu FBI" senyum gadis cantik itu membuat Omar melongo.
"OZ! Bantu dong!" teriak Megan membuat Omar berpaling dari gadis cantik itu.
Ya ampun Leia. Keluarga kamu memang mengerikan!
***
Perjalanan ke Rio de Janeiro
Dalam pesawat yang menuju ke Rio de Janeiro dari Acapulco, Gabriel dan Jubal yang sekarang menyamar tampak mempelajari situasi disana.
"Ingat Gab, kita hanya menangkap tiga orang tersisa untuk kita bawa ke New York dan diproses disana."
"Yup." Gabriel tadi bersyukur semua serumnya bisa lolos pemeriksaan karena dia bisa menunjukkan surat bahwa dirinya menderita diabetes dan harus tersedia insulin. Serum itu diakunya sebagai insulin dan semua sudah dirancang dengan rapi oleh Jang Geun-moon.
"Apakah FBI akan ke Rio?" tanya Jubal yang sudah menghubungi Isobel de Garza dan mulai berkoordinasi dengan tim yang sebelumnya berurusan dengan kasus Turin.
"Omar Zidane dan tim sudah berangkat ke New York dari Acapulco." Gabriel mendapatkan pesan dari Bayu O'Grady. Karena dirinya dan Jubal duduk di kursi Business Class, membuatnya bisa melakukan hubungan via WiFi. "Astaghfirullah!"
"Kenapa Gab?"
"Jubal, apakah kamu tahu siapa yang menjemput tim Mexico?"
"Siapa?"
"Nona Nadya Blair, putri Travis Blair."
"Pengacara kondang itu? Tapi kenapa harus putrinya yang menjemput Omar?"
"Karena Nadya juga seorang pengacara dan pilot yang membawa surat jalan dari pihak jaksa agung Amerika Serikat untuk melindungi keempat agen FBI itu."
Jubal menggelengkan kepalanya. "Aku tahu keluarga boss kamu berkuasa, tapi tidak menyangka segila ini!"
"Mereka memang gila" kekeh Gabriel. Dan semoga saat aku menyelesaikan semuanya dan kembali ke Garvita, aku tidak habis dihajar oleh nona manja itu!
Tiba-tiba Gabriel merasa merinding. Apa benar kata Mrs Smith kalau Garvita melihat rambut gondrong ku, akan dipotong dengan gunting rumput?
***
Dalam Pesawat Pribadi Keluarga Blair
"Miss Blair" panggil Omar.
"Oh panggil Nadya saja. Kamu yang bernama Omar Zidane?" jawab Nadya sambil tersenyum.
"Iya, kamu bisa memanggil aku Omar atau OZ."
"Benar kata mbak Leia. Kamu jangkung. Berapa tinggimu? 192?"
"196."
Nadya menoleh. "Wow! Kakakku saja tidak setinggi itu."
"Memang Nelson tingginya berapa?"
"185. Kalau aku, ikut mamaku, tidak terlalu tinggi sekitar 170 cm."
"Nadya, apa benar kamu seorang pengacara?" tanya Omar menatap gadis belia itu.
"Masih nunggu hasil ujian pengacara keluar" cengir gadis cantik itu sambil memperhatikan awan di sekitar.
"Ya ampun! Kamu umur berapa sih?" Omar sedikit gemas karena Nadya belum memegang lisensi pengacaranya.
"23. Kenapa? Memang kamu umur berapa? 35?" balas Nadya.
"Sembarangan! 32 tahu!"
"Kagak!" balas Nadya cuek.
"Astagaaa! Kamu kalau seperti ini mirip Raveena."
"Kamu kenal Raveena?" Nadya menoleh ke arah Omar.
"Ohya. Di Turin. Saudaramu itu benar-benar deh! Pemberani!"
"Hahahaha. Sekarang dia sudah masuk ke Quantico."
"Bagaimana hubungannya dengan Alexis Accardi?"
Nadya terbahak. "Kamu tahu juga?"
"It's very obvious kalau Alexis jatuh cinta dengan gadis urakan itu."
Nadya terkekeh. "Mereka masih berhubungan yang jelas tapi kapan menikah, aku belum tahu. Kan Veena harus menyelesaikan pendidikannya dulu."
"Aku yakin dia pasti ingin masuk ke BAU di bawah bimbingan Pedro Pascal."
"Ah, kamu kenal bang Pedro juga?"
"Kenal lah. Ehem... bagaimana kabar Leia?" Omar menatap Nadya datar.
"Omar Zidane, aku tahu dulu kamu naksir mbak Leia" gelak Nadya. "Mbak Leia Alhamdulillah baik, bang Dante baik, Vicenzo juga tambah menggemaskan."
"Vicenzo?"
"Anaknya mbak Leia dan bang Dante."
Omar hanya mengangguk. Syukurlah Leia berbahagia dengan pria pilihannya.
"Nadya..." Suara Bayu terdengar di earphone Nadya.
"Ya Mas Bayu." Nadya memberikan kode ke Omar untuk memakai earphone nya.
"Berapa lama lagi kalian mendarat?"
"Dua jam lagi."
"Oke. Gabriel dan Jubal sudah berangkat ke Rio de Janeiro dan Luke serta Dante sudah mengirimkan tim ke Rio."
"Berapa orang?"
"Well, sepuluh orang ada. Jadi begitu Jubal dan Gabriel mendapatkan ketiga orang tersisa, langsung terbang ke New York."
"Bayu O'Grady..."
"Omar Zidane. Ada apa?" jawab Bayu.
"Jangan dekati Harland Rochester, tidak Jubal ataupun Gabriel maupun Mr and Mrs Smith. Tujuan kalian kan hanya menangkap empat pelaku pembunuhan Juan Pablo Luna dan Stephanie James."
"Tenang saja. Memang itu tujuan kami. Soal Harland dan Kartel, urusan kalian!" jawab Bayu tegas.
Omar Zidane
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️