
Indramayu Jawa Barat
Acara selamatan masuk rumah pun berjalan lancar dan Garvita senang karena Arabella dan Juliet ikut jadi dirinya ada temannya. Keluarga Dubai memilih untuk tidak datang ke Indramayu untuk berjaga-jaga kalau Sean datang kesana mencari Zinnia.
Dan kini tiga anak remaja dengan daya tarik masing-masing itu sedang berghibah di kamar tidur Garvita.
"Jadi kita bertiga sudah punya cowok masing-masing nih?" goda Arabella.
"Memangnya siapa yang punya cowok?" balas Juliet judes.
"Lha mas Romeo mau dikemanakan, cumi!" cebik Arabella gemas. "Cowok langka macam dia kok malah elu anggurin Judes!"
"Ah si Rombeng mah masih aku gantung jadi pacar aku!"
"Juliet! Dimana-mana Romeo itu untuk Juliet bukan untuk Jono!" balas Arabella gemas. "Kalau Ara sudah tidak terpatri sama mas Arka tersayang, bisa Ara rebut tuh mas Romeo!"
"Ambil saja sana Ra." Juliet menatap Arabella sok cool.
"Yakin? Ntar Ara rebut, nangis! Dengar Jules, mas Romeo itu cuma demennya sama elu. Sekarang, besok tapi entah lusa. Kalau tiba-tiba hatinya berpaling, elu yang sakit!" cerocos Arabella. "Memang mas Romeo pernah nyakitin elu? Nggak kan? Elu marah-marahin, elu omeli, dia tetap sayang sama elu!"
"Jangan sampai kamu kehilangan sesuatu yang sudah membuat kamu nyaman..."
"Nah tuh dengar kata Garvita... Eh? Kok elu bisa bilang begono? Dari siapa?" Arabella menoleh ke arah Garvita.
"Lupa. Tapi aku pernah dengar dimana..."
"Sudah. Kok malah bahas Rombeng sih? Kita bahas yang lain saja. Gar, pengawal kamu cakep gitu kok dianggurin?" goda Juliet.
"Lha sama kan sama kamu. Mas Romeo cemepak ( tersedia ) juga kamu anggurin."
"Aku heran deh sama Garvita. Bentuk bule tapi kadang mulutnya keluar bahasa Jawa. Pasti gara-gara Oma Dina dan mamamu kalau ngobrol pakai bahasa Jawa di rumah" kekeh Arabella.
"Iya, waktu almarhum Oma Ayu masih ada, setiap hari ngomongnya pakai bahasa Jawa. Sampai Oma Sabine jadi ikutan deh!" senyum Garvita. Ayu, ibu Mariana, meninggal dunia saat Garvita berusia sepuluh tahun karena sakit.
"Aku kasihan sama mbak Zee. Hamil enam bulan tanpa bang Sean disampingnya gara-gara kutu kupret itu!" gerutu Juliet.
"Kata mas Sendra malah sudah dibawa bang Lukie ke Tokyo." Garvita menatap dua sepupunya yang melongo.
"Seriously? Alamat Empang dapat makanan enak deh!" ucap Arabella sambil memegang dagunya.
"Aku tidak mau tahu." Juliet menatap halaman rumah dari jendela besar kamar Garvita.
***
Malam harinya Garvita memilih berjalan jalan di halaman belakang karena dirinya tidak bisa tidur. Beberapa penjaga menyapa nona mereka yang malam ini memakai Hoodie dan celana training.
Garvita memang berbagi kamar dengan Juliet dan Arabella. Keduanya sudah terlelap tapi dirinya tidak bisa tidur, entah karena apa.
Gadis itu duduk di sebuah gazebo yang memperlihatkan pemandangan halaman belakang yang asri dan sangat khas Zinnia yang ada kebun bunga mawar. Kakaknya memang pecinta mawar dan di Dubai dia juga menanam banyak varietas mawar.
Garvita memejamkan matanya sembari otaknya membuat beberapa rencana ke depannya. Garvita ingin kuliah di Inggris mengingat ada Eagle McCloud disana bersama dengan Arjuna dan Sekar serta Aidan dan Thara. Dia ingin bersama dengan opa dan Oma yang sama rusuhnya dengan opa dan Omanya di Dubai.
"Kenapa belum tidur?"
Mata biru kehijauan Garvita terbuka dan tampak pengawal nya berdiri di hadapannya.
"Tidak bisa tidur."
"Kenapa? Anda memikirkan sesuatu, princess?" tanya Gabriel yang melirik jam tag Heuer Carrera Porsche nya yang menunjukkan pukul 12 malam.
"Entahlah. Tidak bisa tidur ya tidak bisa tidur Gab!" sungut Garvita sambil manyun.
Gabriel tersenyum lalu duduk di sebelah Garvita yang sekarang menaikkan dan memeluk kedua kakinya.
"Dingin, princess?" Gabriel menatap Garvita lembut. Pria itu memakai jaket Hoodie yang sama dengan Garvita.
"Sedikit."
"Tunggu disini." Gabriel pun berdiri lalu berjalan masuk ke rumah meninggalkan Garvita yang bingung dengan sikap pengawalnya.
Garvita menyandarkan kepalanya di kursi empuk disana dan nyaris terlelap ketika harum chooco terdampar di hidungnya yang mancung.
"Buat hot Choco kamu?" tanya Garvita dengan setengah melek.
"Iya. Apa nona sudah mengantuk? Saya antar ke kamar?" Gabriel meletakkan dua mug hot choco itu diatas meja.
Gabriel menyerahkan satu mug itu ke Garvita. "Hati-hati, masih panas."
Garvita mengangguk lalu dengan sedikit meniup mugnya, gadis itu menyesap hot choco itu dan terkejut melihat ada marshmellow di dalamnya.
"Marshmellow?" Gadis itu menatap Gabriel.
"Iya. Nona tidak suka?"
"Suka. Tapi aku tidak menyangka kamu masukkan marshmellow."
"Bukankah nona paling suka hot Choco dengan marshmellow di dalamnya?"
"Iya sih. Terimakasih Gab."
"Saya suka jika nona tidak judes dan kalem seperti ini. Tampak aura putri Dubai."
Garvita melirik judes. "Kamu mau ngajak gelut Gab? Atau kamu mencoba merayu aku? Aku masih dibawah umur, Gabriel!"
"Tidak merayu tapi mengatakan apa adanya. Banyak berita baik-baik tentang anda tapi saya kan yang tahu aslinya nona Garvita Schumacher. Kalau sudah keluar galaknya, ampun deh!" Gabriel menyesap hot choco nya sambil melirik ke arah Garvita.
Garvita memanyunkan bibirnya dan meletakkan mug hot choco nya yang tinggal separuh. "Kapan sih kontrak kamu berakhir?"
"Kenapa? Nona sudah tidak betah dengan saya? Sayang sekali, saya betah sama nona." Gabriel tersenyum manis.
"Kamu menyebalkan!"
"Kan nona sudah tahu."
"Kenapa sih kamu harus bertemu dengan mas Sendra jadi papa mengangkat kamu jadi pengawal aku!"
"Sudah takdir dan memang jalannya begitu" jawab Gabriel kalem.
Garvita mendengus kesal lalu meletakkan kepalanya lagi di sofa head. "Sebenarnya kamu itu punya keluarga tidak di Miami?"
"Ada tapi mungkin sudah pindah ke Brazil."
"Kamu tidak rindu dengan keluarga mu disana?"
"Mungkin mereka juga sudah menganggap aku sudah mati, nona. Karena mereka pun tidak berusaha mencari aku."
"Kasihan sekali hidup mu, Gabriel Luna."
"Tapi karena Gasendra, aku menemukan keluarga yang lain, keluarga baik dan seorang nona yang judes, merepotkan dan menggemaskan untuk dikawal."
"Aku...tidak merepotkan" gumam Garvita.
"Anda memang merepotkan nona, seenaknya sendiri, cengeng, manja, tapi baik hati, perhatian dengan keluarga, sayang pada semua anggota keluarga..." Suara Gabriel terhenti ketika sebuah kepala menimpa bahunya. Pria itu menoleh ke arah Garvita yang sudah tertidur.
"Ah ya ampun! Ini sisi yang merepotkan, princess" senyum Gabriel. Perlahan pria itu menggeser kepala Garvita kembali ke sofa. Dengan lembut Gabriel menggendong Garvita dengan bridal style lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Di dalam, pria itu bertemu dengan Gasendra yang hendak mengambil minum.
"Hah! Si kebo bikin ulah lagi?" kekeh Gasendra yang tahu kalau adiknya sudah tidur, langsung terlelap bahkan gempa bumi pun tidak bisa membangunkannya.
"Saya letakkan nona Garvita dimana Sendra? Tidak mungkin di kamarnya karena ada nona Juliet dan nona Arabella."
"Bawa saja ke kamarku, biar aku tidur di ruang tengah sambil menonton tv."
Gabriel mengangguk dan membawa Garvita ke dalam kamar Gasendra yang terbuka pintunya. Perlahan pria itu meletakkan tubuh gadis cantik diatas kasur empuk Gasendra dan menyelimutinya. Jari Gabriel menyingkirkan rambut Garvita yang menutupi wajahnya.
"Selamat tidur princess." Gabriel memberanikan diri mencium kening Garvita. "Mimpi indah."
Setelahnya Gabriel menutup pintu dan keluar dari kamar Gasendra.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️