
Istana Al Jordan Dubai UAE
Hari ini adalah hari Minggu dan orang-orang di istana sibuk menikmati hari libur mereka tapi tidak dengan Ayrton dan Enzo yang sudah berangkat ke Kuwait bersama dengan istri-istri mereka kemarin Jumat untuk menghadiri undangan pernikahan salah satu Emir disana.
Para Opa dan Oma sendiri memilih untuk berjalan-jalan menikmati acara makan siang di RR's Meal bersama dengan Aidan dan Thara yang rindu Dubai.
Otomatis di rumah hanya ada anak-anak. Ken dan Kalila memanfaatkan liburan dengan bermain game online bersama dengan Gasendra dan Damian yang main ke istana Al Jordan bersama dengan Raine. Radhi sendiri sedang latihan gokart ditemani oleh Alaric yang tidak ikut acara kondangan karena kakinya cedera akibat jatuh dari kuda hingga harus pakai kruk.
"Mbak Vita ngapain enaknya kita?" tanya Raine yang gabut karena dia sendiri tidak suka main game online.
"Latihan judo yuk? Kamu kan habis naik tingkat kan?" ajak Garvita.
"Yuk mbak. Aku gabut soalnya nggak suka main game begitu." Raine pun mengikuti Garvita untuk berganti pakaian di kamar gadis itu.
***
Ruang Gym Istana Al Jordan
"Aaaaaahhhh" teriak Raine yang kena banting Garvita kesekian kalinya. "Mbak Vita sadeeesss!"
"Lha kamunya nggak fokus!" kekeh Garvita sambil membantu adiknya bangun. "Ayo, lagi!"
Garvita dan Raine mencoba berbagai jurus yang dipelajari oleh bungsu Alaric itu. Teknik menendang, teknik membanting, teknik mengelak, semua mereka latih berdua.
Keduanya pun akhirnya tergeletak diatas matras dengan peluh bercucuran namun Raine senang bisa belajar banyak dari kakaknya itu.
"Ya ampun mbak. Kayaknya kamu itu kurus tapi antep juga ya" kekeh Raine dengan nafas terengah-engah.
"Lha gimana. Otot semua ini."
Raine menoleh ke kakaknya dan memegang lengan Garvita yang memang otot semua. "Buset! Macam Sif nya Thor saja lu!"
"Kan mbak sudah dari kecil berolahraga, Raine."
"Mbak, aku bilang sama papa."
"Bilang apa?"
"Kalau sudah besar nanti, aku mau nikah sama cowok macam papa, yang sering bikin pusing."
Garvita menoleh ke arah adiknya yang mirip sang papa, Alaric Blair. "Kenapa kamu cari cowok yang mirip Oom Alaric?"
"Soalnya cinta pertama Raine adalah papa! Bagi aku papa adalah pria terbaik dan susah kan kalau mindset aku sudah terpatri ke papa?"
"Ya ampun Raine, kamu baru mau sebelas tahun !"
"Tapi aku harus punya tipe dan prinsip. Kata Mandra, yang penting prinsip."
Garvita melongo. "Kamu nonton si Doel? Ya Allah Raine, itu sinetron jaman opa buyut!"
"Lha aku gabut kan mbak di kamar. Tugas udah selesai, PR juga sudah. Terus buka YouTube iseng-iseng, eh nemu si Doel. Aku ingat, kata mas Damian, itu lucu soalnya dia sudah nonton. Endingnya sampai pagi aku ketawa."
Garvita tersenyum. "Sekalian belajar bahasa Indonesia ya Raine?"
"Iya mbak. Meskipun aku penampilan macam Arab bule nggak jelas gini tapi aku tahu masih ada keturunan Jawa Indonesia jadi harus tahu root keluarga."
"Iya lho Raine. Berawal dari Eyang Arga dan eyang Ajeng blasteran Belanda Jawa, eh keturunannya malah jadi campur aduk."
Raine pun bangun. "Mbak, aku mau mandi dulu. Gerah!"
"Keringatmu biar kering dulu nanti masuk angin" ucap Garvita.
"Iya mbak. Ini jalan masuk istana juga kering kok" Raine pun berjalan keluar ruang gym.
Garvita pun bangun dari tidurnya dan mengambil handuk kecil yang tersedia disana lalu mengelap keringat di wajah dan lehernya. Diambilnya sebotol air mineral dari lemari es yang terdapat disana.
Gadis itu lalu berbalik dan langsung tersedak melihat siapa disana.
"Uhuk...uhuk....uhuk" Garvita terbatuk-batuk yang mendapatkan tepukan pelan di punggung nya.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Gabriel.
"Tidak apa-apa gimana! Kamu membuatku terkejut!" bentak Garvita setelah lebih baik.
"Maafkan saya nona. Tapi saya memang mencari nona."
"Ada apa?"
"Nona dicari oleh tuan Zayyan."
"Saya lebih fokus ke taekwondo dan krav maga, nona."
Garvita pun berbalik dan mata birunya menatap mata coklat Gabriel dengan pandangan usil. "Kapan-kapan kita harus bertanding!"
Gabriel tersenyum manis. "Baik nona."
"Bagus!" Gadis itu lalu membalikan tubuhnya dan berjalan menuju istana.
***
Ruang Tamu Formal Istana Al Jordan
Garvita yang sudah mandi dan berdandan rapi, berjalan menemui Zayyan yang sedang dijamu oleh Gasendra dan Ken. Kedua saudaranya pun memberikan kesempatan kepada Zayyan untuk berbicara dengan Garvita.
Gabriel sendiri tetap berdiri disana sambil menjaga nonanya sesuai dengan peraturan di klausal kontraknya.
"Jaga adikku Gab" bisik Gasendra sambil menepuk bahu Gabriel.
"Tentu saja Sendra."
Ken pun memberikan kode permintaan yang sama. Gabriel tetap berdiri tidak jauh dari dua orang itu.
***
"Ada apa Zayyan?" tanya Garvita tanpa basa basi.
"Aku... aku hanya ingin memberimu ini." Zayyan memberikan kotak dengan logo Patek Philippe.
"Dalam rangka?" tanya Garvita bingung. Meskipun dirinya ingin sekali jam merk itu tapi ada seorang laki-laki memberikan untuknya tanpa ada maksud lain itu aneh!
"Sebagai hadiah perpisahan."
Garvita menatap Zayyan bingung. "Memangnya kamu mau kemana?"
"Aku akan sekolah ke Inggris dan selain itu juga sebagai permohonan maaf padamu. Aku tahu kejadian itu sudah lama tapi ijinkan aku untuk memberikan ini." Zayyan meminta Garvita membuka kotak jam itu.
Gadis itu tampak bingung lalu menatap pengawalnya dan Gabriel hanya mengangguk sambil waspada. Garvita lalu membuka kotak itu dan mata birunya menatap tidak percaya jam tangan yang diidamkan berada disana.
"Ya ampun... Zayyan. This is so beautiful" bisik Garvita.
"It's yours."
Garvita mendongakkan wajahnya dan menatap Zayyan. "Maaf, Zayyan...tapi aku tidak bisa menerima hadiah seindah ini."
"Please, Garvita. Aku tahu aku sudah sangat jahil padamu dan aku ingin menebus kesalahanku. Terima hadiah ini."
Garvita memejamkan matanya. "Aku...tidak bisa, Zayyan."
"Please?" Pangeran tampan berdarah Arab itu menatap penuh permohonan kepada gadis yang namanya masih ada dalam hatinya.
Garvita membuka matanya dan menatap Zayyan bergantian ke arah Gabriel dan Gasendra yang datang untuk menemani adiknya.
"Kalau memang ini hadiah, kamu terima saja dik" ucap Gasendra seolah memberikan ijin pada adiknya untuk menerima hadiah itu.
"Tapi mas..." Garvita merubah bahasanya menjadi bahasa Indonesia.
"Rak sah khawatir. Nek Kowe rak gelem nganggo ya disimpan wae ( Tidak usah khawatir. Kalau kamu tidak mau pakai ya disimpan saja )" senyum Gasendra menggunakan bahasa Jawa, sebagai bahasa rahasia mereka.
"Baiklah." Garvita menatap Zayyan. "Terima kasih."
Zayyan tersenyum senang.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️