
Rio de Janeiro Brazil
Jubal dan Gabriel tiba di bandara Rio de Janeiro atau Galeão airport setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam dari Acapulco, membuat keduanya mengalami kelelahan dan sedikit jetlag hingga membuat keduanya ingin menuju hotel yang sudah dipesankan oleh Bayu O'Grady.
Sesampainya di hotel yang dituju dan mengambil kunci kamar, lalu keduanya pun masuk ke dalam kamar yang terdapat twin bed room.
"Aku teler berat, Gabriel. Ada baiknya kita istirahat dulu semalam ini dan baru besok kita mengintai" ucap Jubal sambil melepaskan jaket dan sepatunya.
"You're right. Kita istirahat dulu." Gabriel membuka tirai jendela kamar hotel dan tampak pemandangan laut disana. Dasar Sultan! Hotel yang dipesan pun hotel Hilton yang terletak di dekat laut Copacabana.
***
Pagi harinya, Jubal dan Gabriel memilih sarapan di hotel sembari mempersiapkan rencana mencari Garcia Ruben, agen Jameson dan agen Roberts yang disinyalir berada di Rio de Janeiro setelah AWOL dari biro federal masing-masing.
"Kita cari kemana Jubal?" tanya Gabriel sambil menikmati supnya.
"Ada dua tempat yang biasanya dipakai untuk menyimpan semua narkoba. São Conrado dan Méier. Tempat Harland Rochester tinggal di Méier dan aku rasa mereka akan tinggal disana juga" jawab Jubal sambil menunjukkan peta Rio de Janeiro di iPad.
"Pagi ini kita langsung ke São Conrado terlebih dahulu. Melakukan pengintaian disana baru besok ke Méier."
"Kenapa tidak dilakukan keduanya?"
Jubal dan Gabriel mendongak. Tampak empat pria tampan berdiri disana membuat Gabriel melongo tidak percaya siapa yang datang.
"Tuan Bianchi? Tuan Mancini? Tuan O'Grady?!"
"Apa?" Jubal menatap Gabriel dan keempat pria itu bergantian.
***
Kamar Presidential Room Hilton Hotel.
Jubal menatap empat pria dengan aura yang sama, yang dengan santainya turun gunung sendiri.
Luke Bianchi, Antonio Bianchi, Dante Mancini dan Bayu O'Grady duduk bersama dengan dirinya dan Gabriel di meja konferensi yang ada di kamar Luke dan Bayu.
"Kapan datang tuan? Bukankah tuan O'Grady di New York?" tanya Gabriel bingung.
"Aku gatal pengen menghajar orang! Hitung-hitung refreshing dari pekerjaan rutin" cengir Bayu.
"Kami tiba di New York tiga hari lalu dan setelah berkoordinasi dengan Tante GM, diputuskan kami sendiri yang turun tangan bersama dengan pengawal pilihan" jawab Luke tenang.
"Sebenarnya aku ingin membunuh Harland sendiri tapi Omar Zidane sudah meminta kita back off jadi ya harus menahan diri lah!" ucap Dante sambil makan salad buah.
"Jadi yang sepuluh orang ke Rio...?" Gabriel menatap keempat sepupu Garvita itu bingung.
"Kami berempat bersama dengan enam pengawal pilihan" jawab Antonio santai.
Jubal hanya menggelengkan kepalanya melihat keluarga Sultan yang tampak santai bahkan masuk ke sarang penyamun pun tampak seperti anak TK ketemu Playground.
"Oke. Hari ini kita mengintai dua tempat ini. Aku dan Dante sudah menyebarkan enam anak buah kami untuk mencari info di jalanan." Luke menatap ponselnya untuk mencari informasi dari anak buahnya yang merupakan gabungan Ramadhan Securitas, Al Jordan Guard, Mancini dan Yakuza Takara. Sengaja Dante dan Luke mencari yang jago di segala bidang dengan kemampuan berbahasa Portugis.
"Apakah Mr Smith menemukan sesuatu?" tanya Gabriel.
"Sayangnya Oom Benji belum berhasil melacak ketiga orang itu. Katanya Brazil dan Amerika latin lainnya paling menyebalkan untuk melacak orang" senyum Bayu.
"Oh, kalian tidak apa-apa kan memakai mobil biasa?" Dante menatap Jubal dan Gabriel sambil nyengir.
***
Méier Rio de Janeiro
Gabriel dan Dante kini berada di mobil Ford Fiesta lama sambil mengawasi sebuah bangunan yang berdasarkan informasi dari Jubal merupakan salah satu dari dua pabrik milik kartel Brazil yang menampung Harland Rochester.
"Maafkan saya Signor Mancini tapi saya memikirkan keselamatan Garvita."
"Gab, kamu tahu kalau Garvita sudah merencanakan untuk menghajar kamu kalau pulang? Benar-benar adiknya Leia deh!" kekeh Dante.
"Dan memotong rambut mu dengan gunting rumput!" goda Bayu di earpiecenya Gabriel.
"Astagaaa!" Gabriel memegang pelipisnya karena tahu Garvita akan mampu melakukannya.
"Bagaimana São Conrado Bay?" tanya Dante.
"Banyak pria keluar masuk gedung itu, Inferno" jawab Bayu yang mengawasi dengan Jubal.
"Luke, kamu dan Antonio?"
"Masih mengawasi salah satu cewek biatch yang menurut anak buahku adalah ceweknya Garcia... Habis urusan ini, aku tidak mau ada gegeran lagi! Rin dan Hyde kasihan aku tinggal!" sungut Luke yang baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki bernama Hyde buah pernikahannya dengan Rin Ichigo.
"Lukie, apa kamu tidak ingat motto keluarga kita?" goda Bayu.
"No rusuh no life" ucap Luke dan Bayu bersamaan.
"Babang Lukie, hasil face recognition setelah aku hack CCTV, Garcia keluar dari bar menuju hotel yang dimasuki kalian awasi" ucap Valentino di earpiece Luke dan Antonio.
"Bang Dante, ada mobil keluar dari gedung yang kalian awasi" ucap Shinichi. "Damn, satelit punya Jepang itu emang keren. Huahahahaha..."
Dante hanya tersenyum smirk mendengar adik iparnya tertawa ala drakula. "Mobilnya ford mustang klasik warna hitam?"
"Yes bang Inferno."
Dante dan Gabriel yang memakai kacamata hitam melihat mobil Mustang itu keluar dari bangunan yang mirip benteng Takeshi. Kacamata hitam yang dipakai mereka bukan kacamata biasa tapi juga kacamata scanner.
"Kita ikuti mobil itu. Agen Jameson di dalam." Dante menstater mobilnya dan mengikuti mobil hitam itu.
***
Luke dan Antonio berjalan masuk ke dalam hotel bintang tiga yang didatangi oleh Garcia Ruben. Dua anak buahnya pun mengikuti kedua sepupu itu dengan mempersiapkan kursi roda dan baju perawat.
"Serumnya sudah siap?" tanya Antonio.
"Sudah."
Keduanya pun berdiri di depan pintu kamar Garcia dan memencet bel kamar.
"Quem é esse ( siapa itu )?" teriak Garcia yang merasa terganggu dari kegiatannya.
"Serviço de quarto ( layanan kamar ). Nós trazemos-lhe champanhe ( kami membawakan champagne )" jawab Antonio yang memang membawakan sebotol champagne mahal.
Terdengar suara pintu dibuka dan tampak Garcia hanya mengenakan boxer menatap Antonio dengan tajam. Pria yang memakai baju resmi ala manajer hotel itu menyerahkan botol hijau itu ke Garcia.
"Espero que você goste ( semoga anda suka )" senyum Antonio sambil melihat Luke langsung menusukkan serum itu ke leher Garcia yang membuat pria itu sekarat dan ambruk ke lantai hotel.
"Aku bereskan ceweknya" ucap Antonio. "Tantemu memang sinting! Bisa-bisanya membuat serum amnesia!" Pria itu pun masuk ke dalam kamar dan segera menusuk wanita kekasih Garcia Ruben dengan serum pelupa.
Dua pengawal Luke pun bergegas memakaikan baju ke Garcia dan meletakkan di kursi roda. Sebuah ambulance sudah tersedia di depan hotel yang akan membawa Garcia keluar. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, Garcia Ruben berhasil ditangkap Luke dan Antonio.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️