My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Biarkan Jadi Rahasia, Benji



Istana Al Jordan Dubai


Gabriel memarkirkan mobil Range Rover itu ke dalam garasi istana setelah menurunkan Garvita di depan pintu utama. Pria itu melihat sebungkus cheeseburger dan coke yang mungkin sudah mencair esnya tapi bagi Gabriel, itu sebuah hadiah yang menyenangkan hatinya.


Meskipun judes tapi kata Tamerine, Garvita sangat perhatian pada pengawalnya.


Gabriel membawa bungkusan makanan dan coke itu setelah mengembalikan kunci mobil ke tempat kunci mobil yang sudah disiapkan, menuju ke sebuah kursi taman. Gabriel memakan burgernya dengan nikmat dan bertepatan dengan selesainya dia makan, adzan Maghrib berkumandang. Gabriel pun menuju ke sebuah mesjid yang dibangun oleh Senna dan Kai Al Jordan diperuntukkan untuk para pengawal dan pelayan.


***


"Bagaimana hari pertama sekolah? Lancar?" tanya Ayrton ke putrinya.


"Lancar dan suasananya lebih nyaman."


"Semoga kamu betah sampai ujian akhir, Gar" ucap Mariana. "Mama tidak mau dengar kamu membuat drama lagi!"


"Nggak ma. Ini sampai lulus junior high school."


Gasendra hanya tersenyum smirk mendengar ucapan adiknya. "Kamu mau sekolah SMA dimana?"


"SMA mu lah dan mbak Zee."


"Kalau Zayyan juga sekolah disana?"


"Yaaa, nasib. Tapi aku sudah bersikap tegas kok. Kalau sampai dia tidak paham, berarti dia bebal otaknya."


Sabine hanya tersenyum mendengar ucapan cucunya. "Oh, Garvita, apa hari ini kamu berangkat latihan memanah?"


"Berangkat Oma. 20 hanya satu yang meleset."


"Waaahhh, kamu persisi juga ya Mbak Vita. Lila kalah deh" celetuk putri Enzo Al Jordan itu.


"Kamu soalnya kalau disuruh latihan fokusnya ke hp melulu, gimana mau persisi nembaknya Lila?" pendelik Paradina yang membuat cucunya manyun.


"Oma tuh..."


"Lho Oma benar kan? Kamu nggak bisa jauh-jauh dari hp. Ken juga. Kalian tuh gimana mau serius belajar kalau pegang hp melulu."


Enzo dan Georgina hanya tersenyum karena si kembar hanya bisa diam kalau dimarahi oleh oma mereka. Kalau dengan mereka, si kembar bisa menjadi tag team debat.


"Bagaimana Gabriel seharian ini?" tanya Mariana.


"Masih mulus wajahnya" jawab Garvita cuek.


"Astaghfirullah! Garvita! Memangnya Gabriel samsak?" Ayrton menepuk jidatnya.


"Kalau papa mengira aku bakalan menghajar Gabriel di hari pertamanya? Tidak lah... entah di masa depan."


"Oh Astagaaa!" kekeh Karl. "She's just like you, honey" ucap Opa yang penuh tattoo di lengannya ke Sabine sang istri.


Sabine hanya mendongakkan wajahnya sombong. "She's my granddaughter."


"Mom, cucunya jadi bar-bar kok bangga banget! Bikin banyak masalah ini" protes Ayrton.


"Bar-bar kala membela dirinya, no problemo" sahut Sabine cuek.


Karl dan Ayrton hanya menggelengkan kepalanya.


***


Gabriel membuka MacBook nya dan mulai menyelidiki kedua orangtuanya. Selama menjalani pelatihan dan sekolah di bidang komputer, pria itu banyak berkenalan dengan para hacker baik yang white hat maupun dark hat.


Dirinya mulai mempercayai feeling-nya bahwa kedua orangtuanya dibunuh bukan karena hendak dirampok karena turis tapi ada rahasia besar di balik semua itu yang sampai detik ini dirinya belum menemukan apapun.


Gabriel berhasil meretas CCTV yang berada jalan sekitar rumahnya di Miami. Dan dirinya hanya bisa tertegun kenapa rumah yang sudah ditinggal enam tahun lebih masih terawat.


Ada yang salah. Gabriel memiliki ingatan bagus tentang alamat rumahnya dan dia tidak salah. Seingatnya dirinya tidak memiliki paman atau bibi karena kedua orangtuanya adalah anak tunggal. Kakek dan neneknya pasti tidak mungkin merawat karena dua tahun setelah kejadian itu, kakek dan nenek dari pihak ibunya meninggal akibat serangan jantung di waktu yang berbeda. Sedangkan dari pihak ayahnya, memilih kembali ke Rio de Janeiro tidak tahan dengan rasa kehilangan putra, menantu dan cucunya.


***


Ayrton dan Benji sedang melakukan panggilan video membahas tentang rencana pernikahan Zinnia dan Sean.


"Apa kalian yakin akan melaksanakan di Dubai?" tanya Benji.


"Tentu saja. Kan aku adalah ayah pihak perempuan."


"Aku lebih setuju begitu Bang. Ohya, apa Gabriel baik-baik saja? Dia tidak menyelidiki kematian kedua orangtuanya kan?"


"Aku tidak tahu Ben. Tapi aku berusaha jangan sampai dia tahu."


"Iya bang. Nyawanya bisa terancam."


"Dia sudah aman disini Ben. Aku rasa dia juga tidak akan berbuat macam-macam."


"Semoga saja bang. Rasa kehilangan orang tua dengan cara setragis itu, pasti akan membuat seseorang penasaran. Dan kita tahu Gabriel anak cerdas melihat laporan dari tempat pelatihan bahkan sekolah saja dia bisa menyelesaikan dengan cepat plus nilai memuaskan."


Ayrton mengangguk. "Semoga dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


***


Pagi harinya Gabriel sudah siap dengan rutinitas yang akan dijalaninya setiap Senin hingga Jumat karena Sabtu sekolah Garvita dan duo K libur.


Gadis itu seperti biasa tampak segar dengan rambut diikat sederhana tapi tetap menampakkan wajahnya yang cantik dengan sedikit freckles disana.


"Nyenyak tidurnya nona?" sapa Gabriel ramah.


"Ohya. Aku tidur seperti kerbau!" Garvita masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa duo K di mobilnya sendiri bersama dengan dua pengawalnya.


"Really? Apakah anda mendengkur nona?"


Garvita menatap judes. "Aku tidak tahu! Tapi kalau aku mendengkur, apakah itu masalah?"


"No. Jika ada orang yang mendengkur di sebelah saya, berarti tandanya orang itu sedang lelah atau banyak pikiran."


"Hhhhmmm. Make sense. Karena papa mengorok kalau sedang banyak pikiran."


Gabriel mengangguk dan mobil mewah itu pun keluar gerbang istana Al Jordan.


***


Seperti biasa Gabriel menunggu di area dekat restaurant Cepat Saji dekat sekolah Garvita. Pria itu pun memesan makanan dan kopi sembari membuka MacBook untuk mencari tahu tentang nonanya.


Gabriel memilih untuk duduk di area taman yang tersendiri agar dirinya bisa bekerja dengan tenang. Ammar dan Tamerine memilih makan di dalam area restauran.


Garvita Pragya Al Jordan Schumacher. Usia 13 menjelang 14 tahun, tinggi 164 cm berat 45 kg. Skill bisa bahasa Inggris, Indonesia, Perancis, Jerman dan Arab. Beladiri judo dan sekarang sedang mempelajari eskrima. Senjata panah dan Pistol. Data ini didapat oleh Gabriel dari pusat pelatihan pengawal Al Jordan agar mengetahui data diri semua keluarga Emir.


Gabriel tidak heran jika nona bungsu keluarga Schumacher bisa semua itu karena dari para koleganya semua anggota keluarga itu bisa bela diri dan menembak kecuali Georgina Al Jordan yang memang memilih untuk tidak mempelajarinya.


Ukuran baju M, celana jeans 27-28. Br@... Gabriel mengeplak kepalanya sendiri. Gak usah detail Gab. Bahaya! Kalau sampai nona judes itu tahu, habis kamu dihajar!


Gabriel menghabiskan waktu untuk membuat jadwal dan timeline kegiatan rutin Garvita yang diberikan oleh Tamerine. Pengawal tampan itu mulai mengingat jadwal nona galaknya hingga bel jam pulang sekolah pun berbunyi. Buru-buru Gabriel membereskan semuanya lalu menuju parkiran di sekolah dan setibanya disana, tampak Garvita sudah berdiri dengan wajah judes di sisi mobilnya.


Duh!


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️