My Bodyguard Is My Boyfriend

My Bodyguard Is My Boyfriend
Siapa Suruh Kamu Pergi?



Istana Al Jordan Dubai UAE


Garvita menyambut kedatangan Gabriel dengan wajah masam dan pedang Kendo di tangannya. Calon suaminya yang memilih ikutan bersama dengan kakak dan sepupunya untuk pergi ke Hongkong itu, akhirnya bisa kembali ke Dubai karena kekuatan diplomatik ayahnya, Emir Ayrton Schumacher.


"Halo Garvita... Assalamualaikum..." sapa Gabriel sambil tersenyum manis. Untung aku sudah cukuran di pesawat tadi. Bisa-bisa pisau dapur buat cukur brewok aku.


"Wa'alaikum salam. Bagus ya Gabriel Luna! Sudah tahu kita akan menikah kurang dari sebulan, malah ikut gegeran dengan pasukan Bodrex itu! Siapa yang kasih kamu ijin pergi?" pendelik Garvita judes.


"Kamu sedang pergi dengan Mommy jadi itu mendadak Gar... Aku kan juga mengkhawatirkan Sendra..."


"Alasan! Bilang saja kamu ingin gegeran! Tapi apa kamu sempat berpikir kalau itu beresiko kita batal menikah?" Mata biru Garvita tampak pucat jika dia sudah marah.


"Aku tidak menyangka kalau bakalan dipenjara, Gar..." cicit Gabriel yang merasakan hawa dingin di sekelilingnya. Duh beneran marah nih anak!


Gabriel menatap Mariana Hadiyanto Schumacher yang duduk di sofa dengan perasaan cemas. Ibu dari Zinnia, Gasendra dan Garvita itu hanya mengedikkan bahunya pertanda 'Tanggung jawab atas semua kelakuan kamu'. Hati Gabriel semakin mencelos ketika melihat Garvita menepuk-nepuk pedang Kendo ke tangannya.


"Garvita, sayang. Aku bisa jelasin. Ini demi keselamatan saudara-saudara kamu..." Mata coklat Gabriel tampak panik melihat bagaimana gadisnya tampak sebodo amat dengan ucapannya.


Mati aku! Bakalan babak belur ini!


Garvita pun langsung memukul Gabriel dengan pedang Kendo itu ke badan calon suaminya secara membabi-buta.


"Kamu itu! Dasar ya! Kalau papa bukan Emir, apa bisa kamu lepas dari Hongkong!" hardik Garvita sambil terus memukul Gabriel yang berusaha melindungi kepalanya.


"Sayang! Aduh! Sakit sayang!" rengek Gabriel sedangkan gadisnya tampak tidak mempan dengan panggilan mesra itu.


"Astaghfirullah! Garvita!" bentak Sabine yang melihat keributan di ruang tengah. "Mariana! Kenapa tidak kamu pisahkan?"


"Mom,. biarkan saja Garvita melampiaskan emosinya. Secara dia hampir tiap malam tampak cemas dan sampai menangis takut gagal menikah besok gara-gara Gabriel ditahan" kekeh Mariana yang tahu perasaan putrinya.


"Garvita Al Jordan Schumacher!"


Garvita menghentikan pukulannya ketika mendengar suara bariton opanya. Karl Schumacher yang baru datang mendengar keributan itu hanya menatap dingin ke arah cucunya.


"Opaaaa..."


"Kamu itu, sama calon suami kok berani main pukul?" tegur Karl Schumacher yang memiliki banyak tattoo di kedua tangannya sambil duduk di sebelah istrinya, Sabine Al Jordan.


"Habis Opa, Gabriel nyebelin!" adu Garvita dengan wajah manyun.


"Ya jangan langsung dipukul dong, sayang. Kasihan baru datang, sudah kamu hajar..." kekeh Karl.


Gabriel yang merasakan tubuhnya sakit semua akibat pukulan pedang Kendo itu hanya bisa meringis.


"Assalamualaikum Opa, Oma, mommy..." sapa Gabriel Sambil Salim ke keluarga Garvita.


"Mama! Biarin dia ngobatin dirinya sendiri!" Protes Garvita.


"Kamu itu! Yang kamu hajar itu calon suami kamu! Sudah sewajarnya kamu obati dong!" tegur Mariana yang membuat Garvita cemberut. Gadis itu lalu meletakkan pedang kendonya diatas meja sembarangan membuat Mariana dan Sabine menggelengkan kepalanya.


"Gab, bagaimana Hongkong?" tanya Karl.


"Brutal Opa. Saya baru melihat sisi psycho Bang Luke, Bayu, dan Wira. Dan sejujurnya, kami tidak ada yang kasihan melihat semua orang di Triad Wong pada tewas karena memang kejahatan mereka diluar batas nalar manusia."


"Apa yang dilakukan Wira dan Jayde?" tanya Sabine.


"Mereka mengolesi bisa black mamba di baton masing-masing."


"Black mamba? Ular?" tanya Mariana.


"Iya ma. Ular Afrika itu."


"Astaghfirullah. Siapa yang dibunuh Jayde dan Wira?" tanya Sabine.


"Infonya Mark Wong dan Bramastyo Abraham."


Karl mengelus bahu Sabine yang hanya beristighfar.


"Oh Oma, Gasendra marah sama Oma." Gabriel menatap Oma badass itu.


"Kenapa?"


"Karena Oma memberikan baby ke Kalila. Padahal menurut Sendra, harusnya dia yang mendapatkan baby, bukan Kalila."


Sabine terbahak. "Sini, kalau dia pulang, hadapi Omanya!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Garvita's Back


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️