
Istana Al Jordan Dubai UAE
Garvita menatap kotak jam tangan yang harganya mencapai $37,200 ( sekitar hampir Rp 600jt ) dengan tatapan kosong. Satu sisi dirinya sangat menyukai model jam cantik bewarna biru itu tapi satu sisi dirinya tidak mau memakainya karena tidak tahu misi tersembunyi Zayyan.
"Kalau tidak mau pakai, ya disimpan saja mbak. Atau nggak dijual terus uangnya dimasukkan badan amal" ucap Raine yang tahu kakaknya bingung.
Garvita menatap gadis berusia sebelas tahun bulan depan itu dengan tatapan lembut. "Benar, dijual, kan lumayan terus kasih ke badan amal."
"Tapi terserah mbak Vita sih."
Garvita menatap kakaknya. "Gimana nih mas Sendra?"
"Raine benar. Kalau kamu tidak mau pakai, jual kasih ke badan amal tapi kalau kamu tidak enak tapi tetap tidak mau pakai, simpan saja di brankas" jawab Gasendra.
"Aku nunggu papa mama saja deh enaknya gimana."
"Kalau masih ragu, mending begitu."
Garvita hanya bisa menghela nafas panjang.
***
Senin pagi Keluarga besar Al Jordan berkumpul di meja makan untuk sarapan dan Garvita bercerita soal hadiah dari pangeran Zayyan.
"Dimana jam tangan itu sekarang Garvita?" tanya Karl.
"Di brankas Opa, tempat kita biasa menyimpan barang-barang."
"Kamu tidak mau memakainya? Bukannya kemarin kamu kepingin punya Patek Philippe?" goda Paradina.
"Bukan begitu Oma. Aku memang menodong mbak Zee tapi kalau aku berhasil mengalahkan rekornya dia, bukan cara begini."
"Ya sudah. Kalau kamu sudah taruh di brankas, biarkan saja disimpan disana. Kan suhu brankas juga terjaga supaya tidak rusak." Mariana menatap lembut ke putrinya.
"Ayo sarapannya segera dihabiskan, nanti kalian terlambat sekolah" ucap Sabine.
***
"Nona tetap tidak mau memakainya?" tanya Gabriel.
"Memakai apa Gab?"
"Jam tangan dari pangeran Zayyan."
Garvita mendengus kesal. "Aku suka jam nya tapi aku tidak suka yang memberikan."
"Tampaknya dia masih berharap dengan anda."
"Biarkan saja karena aku tidak urusan."
Gabriel tersenyum. "Apakah anda masih belum kepikiran pacaran?"
Garvita menoleh ke arah pengawalnya yang hari ini sedang kepo mode on. "Kamu kok usil sih?"
"Jika anda punya kekasih, saya juga harus tahu bukan?"
Garvita hanya melengos. "Aku masih belum mau dipusingkan dengan urusan macam itu. Lagipula, fokus aku sekarang adalah mengalahkan rekor mbak Zee."
Gabriel menoleh ke arah nona judesnya. "Fokus mengalahkan rekor nona Zinnia agar anda mendapatkan jam tangan yang anda inginkan. Bukankah itu jauh lebih menyenangkan?"
Garvita menatap pengawalnya. "You're right Gabriel! Jauh lebih menyenangkan mendapatkan hadiah dari kakak sendiri bukan?"
"Itu maksud saya nona. Anda dapat nama dan jam tangan. Jadi anda harus rajin latihan. Deal?"
"Deal!"
***
Sejak melakukan perjanjian dengan Gabriel demi mendapatkan jam tangan yang diinginkan dan Zinnia sendiri juga akhirnya mengiyakan asal bisa mengalahkan rekornya, Garvita berlatih lebih giat dan sungguh-sungguh. Gabriel sendiri dengan senang hati menemani nonanya dan selalu memberikan semangat jika Garvita mulai drop.
"Ingat Hublot... Ingat Patek Philippe... Ingat Rolex... Ingat Baby G..." Garvita langsung menatap judes ke Gabriel.
"Really Gab? Habis jam tangan harga gila-gilaan lalu kamu bilang Baby G?" sungut Garvita sambil mengelap peluh di lehernya dengan handuk kecil.
Gabriel tertawa. "Biar nona tidak senewen."
Garvita hanya memajukan bibirnya.
"Pertandingannya kapan nona? Lusa?"
"Iya lusa."
"Boleh saya kasih saran nona?" Gabriel menatap Garvita serius.
"Apa itu Gab?"
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?"
"Saya menanyakan pada nyonya Mariana kunci nona Zinnia juara dan memiliki rekor seperti itu. Ternyata nona Zinnia memilih beristirahat semalam sebelum pertandingan agar tetap bagus fisiknya."
Garvita menatap pengawalnya itu. "Kamu serius? Kamu benar-benar menanyakan itu pada mama?"
"Kan saya mendukung anda agar bisa mendapatkan jam tangan idaman" cengir Gabriel.
Garvita hanya mengangguk.
***
Hari Pertandingan Panahan
Garvita sudah bersiap masuk ke arena pertandingan panahan dan di belakangnya Gabriel tetap setia mengawalnya.
"Just relax, nona. Fokus saja ke target. Jika nona fokus itu, tembakan di tengah, apa yang nona inginkan akan mengikuti dengan sendirinya" bisik Gabriel di belakang Garvita.
"Mbak Zee nggak datang kan Gab?"
"Tidak nona. Hanya tuan Ayrton, nyonya Mariana dan Gasendra."
Tiba-tiba Garvita menarik tangan Gabriel membuat pengawalnya terkejut. "Nona?"
"Ssshhh. Diam. Aku butuh tenang dulu." Garvita memejamkan matanya sambil tetap menggenggam tangan Gabriel yang secara samar mengusap tangan gadis itu dengan jempolnya.
Garvita Al Jordan Schumacher.
Mata biru Garvita terbuka. "Thanks Gab." Garvita melepaskan genggamannya membuat tangan Gabriel terasa kosong setelah sebelumnya terasa hangat. "Wish me luck!" senyum Garvita manis ke arah pengawalnya.
Gabriel mengangguk dan memberikan senyumnya ke arah nona galaknya yang mengikuti pertandingan di kelas Fita Curve tiga ronde, sama yang diikuti Zinnia dulu.
Semoga anda tetap fokus nona.
***
Garvita menatap tidak percaya kalau anak panah terakhirnya berhasil bersarang di poin 10 di tengah-tengah sasaran. Gadis itu melihat ke monitor poin dan dirinya shock setelah tahu mendapatkan poin perfect, rekor yang sama dicapai oleh Zinnia.
Gadis itu langsung melihat ke arah keluarga nya yang bertepuk dengan bangga. Mata biru Garvita tampak berkaca-kaca melihat dirinya berhasil menyamai prestasi kakak sulungnya.
Garvita lalu menoleh ke arah pengawalnya yang berdiri di dekat pintu keluar. Tampak Gabriel bertepuk tangan dan wajahnya bahagia melihat Garvita berhasil menyamai kakaknya.
Thank you. Ucap Garvita dengan bibirnya tanpa suara.
Gabriel hanya mengangguk hormat.
***
"Kok mbak Zee nggak bisa dihubungi ya ma?" tanya Garvita ke Mariana.
"Kok tumben?"
"Apa nggak ada sinyal?" gumam gadis cantik yang sedang berbahagia karena mendapatkan prestasinya sendiri.
"Mungkin mbakmu lagi kunjungan ke tempat yang tidak ada sinyalnya. Besok sajalah dihubungi. Sudah malam juga." Mariana mengelus kepala putrinya.
"Iya ma. Mbak Zee memang cerita mau kunjungan ke berbagai kota termasuk bunker bekas perang dunia kedua."
"Nah, pasti tidak ada sinyal disana atau hpnya juga low bat. Tahu sendiri kan Zee suka lupa nge-charge hp?" senyum Mariana.
"Iya ma. Ya sudah, Garvita mau istirahat dulu. Terima kasih mama dan papa sudah mau hadir nonton." Garvita memeluk sang ibu.
"Lho putri mama mau bertanding masa kita nggak nonton? Sudah, Istirahat dulu sayang. Besok kita bicarakan kamu mau apa sebagai reward bisa menyamai rekor kakakmu."
Garvita tersenyum senang. "Alhamdulillah rejeki anak rajin latihan!"
Mariana tertawa. "Kamu harus berterimakasih pada Gabriel yang sudah keras sama kamu agar mau berlatih lebih giat. See, Gabriel tidak seburuk yang kamu bayangkan bukan?"
Garvita hanya mengangguk.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Oh Gemini dan Gemintang udah up. Monggo dicekidot
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️