Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 99 Bodyguard Alvin



Pagi harinya, Alvin sudah siap dengan setelan jas warna hitamnya. Kali ini bukan sekedar kumis tipis melainkan Alvin harus mengenakan kumis yang tebal serta jambang untuk penyamarannya kali ini.


"Wow, ini sangat meyakinkan. Aku sudah  seperti bodyguard." Gumamnya yang masih berdiri di hadapan cermin kamarnya.


"Oke Alvin, lets go! Penyamaran hari ini harus sukses dan berhasil."


Matahari belum terbit pun, Alvin sudah bersiap menuju rumah Bella. Semua ini Alvin lakukan untuk mengantisipasi agar penyamarannya berjalan dengan lancar. Rumah mewah bak istana itu dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Bukan Alvin namanya kalau tidak bisa membuat id card palsu supaya bisa masuk ke rumah Tuan Edward. Alvin bersyukur karena tidak ada yang mencurigainya. Karena Alvin langsung bergabung dengan bodyguard yang kemarin ia lihat untuk menjaga Bella.


Dan yang sebenarnya terjadi, kemarin Alvin telah membuat identitas palsu untuk melamar sebagai sopir sekaligus bodyguard pada asisten Tuan Edward melalui email. Alvin menuliskan semua kemampuan uang bisa ia lakukan dalam cv-nya. Tanpa pikir panjang, Tuan Edward menerima Alvin. Setidaknya Tuan Edward berusaha memberi kelonggaran pada Bella supaya tidak terlalu banyak bodyguard yang mengikutinya. Ditambah Tuan Edward ingin hubungan Bella dan Austin kembali membaik.


"Bella, kamu harus menjenguk Austin di rumah sakit. Kamu juga harus merawat Austin. Ini semua karena kamu." Terdengar Tuan Edward memberikan ceramah pada Bella saat keduanya sampai di teras depan rumah. Tentu saja Alvin mendengar semua ucapan Tuan Edward pada Bella.


"Iya Pah, Bella tahu. Ini juga mau ke rumah sakit." Ucap Bella dengan nada sedikit kesal.


"Baiklah, Papa ke kantor dulu. Kamu jangan membuat ulah apapun. Dan seperti biasa, kamu harus ditemani bodyguard." Ucap Tuan Edward.


"Bodyguard lagi, Pah? Pah, aku tidak nyaman diikuti banyak orang seperti itu."


"Iya Papa tahu. Makanya Papa sudah menyiapkan bodyguard yang berkualitas untuk kamu. Itu dia orangnya." Ucap Tuan Edward sambil menunjuk ke arah Alvin.


"Al! Kemarilah." Ucap Tuan Edward dengan suara tegasnya. Alvin dengan sigap mendekat ke arah Tuan Edward.


"Aku harap kamu bisa diandalkan. Dan lindungi putriku."


"Siap Tuan!" jawab Alvin dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu Papa berangkat dulu. Al akan mengawasimu dan Papa akan memantaumu lewat Al. Jadi, hanya Al yang akan menemani mu kemanapun kamu pergi." Bella hanya mengangguk mendengar ucapan Papanya. Setelah Tuan Edward pergi, Alvin segera mengambil tugasnya untuk membukakan pintu mobil untuk Bella. Bella menyambut Al dengan wajah ketusnya. Setelah memastikan Bella masuk ke dalam mobil, Alvin mulai melajukan mobilnya.


"Papa pasti menyuruhmu untuk memata-mataiku." Bella membuka obrolan saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Menyebalkan sekali! Padahal Austin celaka juga karena ulahnya sendiri yang bodoh. Siapa suruh memgancamku dengan berdiri di tengah jalan. Dia itu pria brengsek." Kesal Bella yang menjadikannya justru mencurahkan isi hatinya pada Alvin. Dari pantulan sun visor, Alvin berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Bella yang menurutunya sangat menggemaskan.


"Oh ya, kita mampir beli sesuatu untu Austin."


"Baik Nona tapi apa yang ingin Nona beli?"


"Kalau bisa aku ingin mmebeli sianida dan ku racun sekalian biar cepat mati."


"Tenang, Nona."


"Tidak bisa! Papa bahkan lebih percaya dengan pria brengsek itu daripada anaknya sendiri." Alvin tidak berani menanggapi lebih jauh kemarahan Bella. Karena tidak ada seorang bodyguard yang ikut campur urusan pribadi tuannya.


Sementara itu Tuan Rodrigo pagi buta sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk Austin.


"Pah, apa orang itu sudah masuk penjara?"


"Sudah, Austin. Rencana kita berjalan mulus. Papa juga sudah membayarnya lebih."


"Tapi dia seharusnya juga harus merasakan kakinya seperti aku ini. Dia terlalu keras menabrakku. Padahal dia tahu kalau kita hanya pura-pura."


"Sudahlah tidak usah mengeluh. Berkorban sedikit saja, Austin. Langkah kita sudah dekat untuk mendapatkan semua yang dimiliki Edward bodoh itu. Kamu juga bodoh, kenapa sampai ketahuan oleh Bella? Jangan ulangi lagi dan bangun kepercayaan Bella kembali."


"Iya-iya, Pah. Aku pun sudah rela mengorbankan kaki ku."


"Ini kesempatan emas untuk membuat Bella merasa bersalah dan mau merawatmu. Ingat Austin, kamu jangan merusak lagi rencana kita."


"Hmmmm," sahut Austin dengan nada malas.