Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 39 Koper Tertukar



Selama perjalanan diatas udara, Frans yang duduk di belakang Chika, terus memantau Chika. Bahkan Zidni yang duduk di seberang Chika, tak luput dari pandangan Frans. Frans tidak ingin ia kecolongan.


''Mungkin Tuan Zidni terkenal dengan killer boss tapi untuk tindakan kriminal, aku tidak mau terlibat. Lebih baik aku di pecat.'' Gumam Frans. Padahal Zidni tampak sibuk membaca buku dengan earphone yang tersemat di kedua telinganya. Chika sesekali melirik kearah suaminya yang semakin tampan dan matang. Chika memilih mendengarkan musik dari ponselnya. Sebuah lagu yang diciptakan oleh Zidni saat mereka hendak berpisah dulu.


''Ya Tuhan, perasaanku saat ini sama seperti saat aku pertama jatuh cinta padanya. Dia sama sekali tidak berubah. Dia masih tetap tampan dan angkuh sekalipun amnesia. Tuhan, aku benar-benar merindukan sentuhannya.'' Gumam Chika dalam hati.


Setelah tujuh jam lebih perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di bandar udara Narita, Tokyo. Disana sudah ada sebuah mobil yang menjemput kedatangan merea bertiga. Chika dengan sigap membantu Frans memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Sementara Zidni hanya memantau pekerjaan Frans dan Chika. Setelah semuanya beres, mereka segera menuju ke hotel. Zidni sengaja memesankan kamar untuk Chika di sebelahnya, sementara Frans mendapat kamar paling ujung.


''Frans, kamarmu di ujung sana.''


''Bukannya disini, di sebelah anda, Tuan?''


''Tidak! Kamarmu disebelah sana.''


''Perasaan Tuan sendiri yang memesannya seperti itu. Kenapa sekarang malah Nona Chika yang ada disebelah kamar Tuan Zidni? Wah Tuan Zidni sungguh mencurigakan.'' Gumam Frans dalam hati.


''Baiklah Tuan kalau begitu.'' Frans pun hanya bisa pasrah.


''Sebenarnya ada apa dengan Zidni? Kenapa dia memesan kamar ini untukku? Dan malah menyuruh Frans di kamar paling ujung. Apa jangan-jangan suamiku ini sudah mulai ada rasa lagi dengan ku ya? Jadi dia ingin aku berada di dekatnya. Ya, semoga saja begitu. Tapi aku harus memastikan dan menguji sendiri, apakah dia memang sudah ada rasa denganku atau belum,'' gumam Chika dalam hati.


Begitu membuka pintu kamar, Chika membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Merasakan kasur yang begitu empuk. Sementara Zidni bergegas untuk mandi karena ada rapat jam 9 pagi. Ponsel Chika berbunyi ada pesan dari Frans.


Frans : Nona, sebaiknya anda segera bersiap. Karena jam 9 pagi ini Tuan Zidni ada meeting.


Chika : Siap sekretaris Frans, terima kasih.


Frans : Sama-sama Nona.


Setelah mendapat pesan dari Frans, Chika juga segera mandi. Selesai mandi, Chika bergegas untuk ganti baju. Namun ia baru sadar jika itu bukanlah kopernya.


''Sepertinya ini bukan koperku. Ini seperti koper Zidni.'' Gumam Chika. Chika kemudian membuka isi koper itu dan benar saja itu milik Zidni.


Sementara Zidni yang juga baru selesai mandi, baru menyadari bahwa itu bukanlah koper miliknya.


''Ini koper siapa? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?'' gumamnya dengan kesal. Zidni kemudian membuka koper itu. Dan ia sangat terkejut karena di tumpukan atas terdapat bra dan cd warna pink. Wajah Zidni seketika memerah.


''In-ini milik siapa?'' ucapnya dengan suara menggeram. Dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Chika yang masih mengenakan handuk kimono menuju ruangan Zidni dengan membawa koper milik Zidni.


''Pasti itu Frans. Dia pasti ingin mengembalikan koperku. Frans sungguh tidak becus, aku akan memoting gajinya bulan ini.'' Gumamnya dengan kesal. Zidni yang hanya mengenakan handuk yang melilit pingganganya berjalan begitu saja untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, ia semakin terkejut karena itu adalah Chika. Spontan Chika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


''Tuan, porno!" seru Chika. Tanpa banyak bicara, Zidni menarik Chika dan koper yang di bawa Chika ke dalam kamarnya. Zidni tidak ingin ada yang melihat dan menyebabkan kesalahpahaman.


''Tuan mau apa?'' kata Chika masih dengan menutup wajahnya.


''Saya ingin mengembalikan koper Tuan.'' Ucap Chika sambil menunjuk koper milik Zidni.


''Oh ternyata ada padamu.''


''Saya juga baru tahu saat ingin ganti pakaian. Dan sekarang masalahnya, koper saya hilang Tuan. Masa iya saya harus memakai handuk seperti ini? Tuan, bantu saya mencari koper milik saya.'' Chika merengek seperti anak kecil di hadapan Zidni. Dan entah kenapa itu membuat Zidni merasa gemas.


''Sebaiknya aku ganti baju dulu. Kalau lama-lama kamu bisa terpesona melihat tubuhku.'' Kata Zidni dengan percaya diri yang tinggi.


Chika tersenyum tipis. ''Tapi aku sudah pernah merasakan tubuhmu sayang.'' Gumam Chika dalam hati. Pandangan Chika lalu tertuju pada koper yang terbuka diatas ranjang Zidni.


''Lho-lho, itu koper milik saya, Tuan.''


''Hah? Itu milikmu?''


''Wah, Tuan mencurinya dari saya ya. Itu terlihat ada bra dan cd kesayangan saya. Tuan diam-diam mengagumi saya ya. Atau sengaja mengambilnya mau di bawa ke dukun ya, supaya Tuan bisa memikat saya. Iya kan Tuan? Saya tidak percaya kalau anda adalah atasan yang mesum. Pantas saja anda mengajak saya kesini, bahkan saya wanita satu-satunya yang anda ajak kesini. Wah, keterlaluan sekali ya. Di balik topeng kekejaman anda ternyata anda bos mesum.'' Cerocos Chika panjang lebar.


''Sssttttttt!" Zidni langsung membungkam bibir Chika dengan telunjuknya.


''Berisik! Kenapa kamu kalau bicara tidak ada jeda, koma ataupun titik. Kamu pikir aku sengaja melakukan ini? Gila! Ambil sana kopermu. Aku jijik melihat isinya.'' Ucap Zidni seraya melepaskan jemarinya dari bibir Chika.


''Jijik apanya, dulu kamu sangat menyukainya. Bahkan selama kamu di rumah, kamu melarangku memakai pakian dalam.'' Gumam Chika.


''Apa katamu? Aku tadi mendengar sesuatu.'' Kata Zidni.


''Ti-tidak apa-apa Tuan. Jangan sok jijik Tuan. Nanti kalau sadar, anda akan menyesal lho.'' Celetuk Chika seraya menurunkan kopernya dari atas ranjang.


''Maksudmu menyesal apa?''


''Pikir saja sendiri, Tuan.'' Ucapnya seraya berlalu meninggalkan kamar Zidni. Chika sebenarnya merasa salah tingkah melihat tubuh Zidni. Jujur saja Chika ingin memeluknya. Hampir lima tahun ia hidup menyendiri tanpa belaian seorang suami. Sebagai seorang wanita tentu saja Chika merindukan belaian itu.


''Tahan Chika! Saat ini dia atasanmu. Sebaiknya kamu bersiap, sebelum dia marah-marah lagi.'' Gumam Chika begitu sampai di kamarnya.


Sementara Zidni tiba-tiba teringat bagaimana wajah Chika yang begitu menggemaskan saat merengek meminta bantuan untuk dicarikan kopernya.


''Zidni sadar! Kamu mengikuti kata hatimu untuk dekat dengan Chika bukan karena kamu menyukainya tapi karena kamu ingin mencari masa lalu mu. Jadi jangan libatkan perasaanmu. Jangan lemah Zidni!" gumam Zidni.


''Tapi suaranya yang berisik itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Bukan hanya menggangguku tapi seperti sudah terpatri dalam pendengaran. Padahal aku sungguh benci dengan suaranya yang berisik seperti kaleng rombeng itu. Ingat Zidni, ingat! Untuk mencari masa lalumu bukan karena kamu ada rasa suka atau yang lain. Ingat itu!" ucap Zidni pada dirinya yanga ada di dalam pantulan cermin.


...Bersambung.......