
"Wah, ini rumah baru kita ya Pah? Tapi kenapa ini tinggi sekali ya Pah?" tanya Kenzie dengan polosnya begitu sampai di apartemen milik Zidni.
"Bukan Ken, ini namanya apartemen. Rumah kita kan sedang direnovasi. Bedanya disini halaman rumahnya terbatas. Hanya ada kamar tidur, ruang tamu dan pantry yang menyatu tanpa sekat." Jelas Zidni.
"Jadi untuk sementara kita tinggal disini ya, Pah?"
"Iya Ken. Dan kamarmu disebelah sana. Kebetulan disini ada dua kamar tidur."
"Ummm nanti malam aku ingin tidur bersama Papa dan Mama, boleh kan?" tanya Kenzie sambil bergantian melirik Papa dan Mamanya.
"Tentu saja boleh." Sahut Chika. Namun wajah Zidni seperti tidak memberi ijin karena ia ingin mengajak bercinta istrinya.
"Ken, sekarang kamu cuci kaki dan tangan, ganti baju lalu tidur siang ya." Pinta Zidni.
"Iya Pah. Oh ya Pah, nanti malam aku ingin pergi ke taman bermain, boleh?"
"Tentu saja boleh. Tapi sekarang tidur dulu ya," Bujuk Zidni sambil mengelus kepala Kenzie.
"Siap Pah." Kenzie kemudian berlari kecil menuju kamarnya. Zidni langsung memeluk Chika dari belakang, membuat Chika terperanjat.
"Kamu wangi sekali, sayang. Sekarang saja yuk!" bujuk Zidni sambil mengecupi tengkuk Chika.
"Apanya yang sekarang, Mas?"
"Itu lho,ehem-ehem."
"Kamu tunggu di kamar dulu ya, aku bantu Kenzie dulu."
"Baiklah." Zidni kemudian membalik tubuh Chika dan melu...mat sejenak bibir manis itu.
"Cepat ya sayang, juniorku sudah tegang." Bisik Zidni.
"Iya-iya ah, kamu ini sama sekali tidak sabaran." Chika kemudian berlalu menuju kamar Kenzie. Tampak Kenzie sedang berganti pakaian.
"Ada yang bisa Mama bantu sayang?"
"Eh Mama. Sepertinya tidak ada Mah."
"Anak Mama semakin hebat ya." Ucap Chika seraya duduk di tepi ranjang. Kenzie kemduian mendekati Mamanya dan menggenggam tangan Mamanya.
"Are you happy, Mom?"
"Yes, Iam happy. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa, Mam. Aku juga merasa lebih bahagia jika dibanding Mama."
"Why?"
"Karena mata Mama tidak tampak sembab saat bangun tidur. Biasanya mata Mama sembab bahkan sampai bengkak."
"Maafkan Mama ya kalau Mama selama ini terpaksa berbohong sama kamu. Maafkan Mama."
"No Mama! Mama tidak salah. Tuhan sekarang memberikan kita kebahagiaan karena telah mengembalikan Papa pada kita. Jadi kita syukuri dan nikmati kebahagiaan ini Mah."
"Sayang, kamu semakin bijak saja. Darimana kamu bisa bicara seperti itu?"
"Tidak tahu. Dari hati saja, Mah." Kata Kenzie dengan senyum polosnya.
"Baiklah, sekarang naiklah ke tempat tidur dan selamat istirahat. Mama juga mau istirahat." Ucap Chika seraya mengangkat tubuh Kenzie keatas tempat tidur.
"Iya Mah. Oh ya Mah, aku boleh minta sesuatu."
"Minta apa sayang? Katakan saja."
"Aku mau adik, Mah. Kasih tahu Papa ya."
Chika tergelak mendengar ucapan Kenzie. "Kenapa kamu tidak bilang sendiri?"
"Aku khawatir Papa akan marah karena kata Mama, Papa belum sepenuhnya sembuh."
"Baiklah, Mama akan bilang sama Papa. Eh tapi siapa yang mengajari kamu utnuk meminta adik sama Papa?" selidik Chika.
Lagi-lagi Chika tergelak mendengar cerita bocah menggemaskan itu. "Iya sayang, memang agak lama. Jadi harus bersabar. Ya sudah bobok gih."
"Iya Mah." Chika lalu mengecup kening Kenzie setelah itu ia beranjak dari kamar Kenzie. Chika kemudian pergi ke kamarnya.
"Sayang, lama sekali." Protes Zidni. Chika dibuat terkejut melihat Zidni yang duduk bersandar diatas ranjang
dengan hanya mengenakan CD saja. Tampak juniornya sudah menyembul dibalik Cd berwarna hitam.
"Asataga, Mas. Kamu ini sudah telanjang saja." Kekeh Chika.
"Ya, biar tidak ribet sayang. Kemarilah." Zidni menepuk sisi ranjang. Chika tersenyum lalu menghampiri suaminya. Tanpa basa-basi Zidni langsung menarik tubuh Chika, mendudukkan Chika diatas pangkuannya.
"Apa Kenzie rewel? Kenapa kamu lama sekali?"
"Kami mengobrol sebentar, Mas."
"Ngobrol apas ih?" Zidni penasaran.
"Kenzie minta adik katanya. Mau bilang sama kamu takut."
"Ya sudah, kita buatkan saja. Tentu aku sangat bersemangat."
"Dasar mesum kamu ini." Wajah Chika memerah.
"Sayang, meskipun aku belum ingat semuanya tapi aku terima kasih karena kamu sudah hadir dalam hidupku. Kamu dan Kenzie memberi warna baru dalam hidupku. Terima kasih ya." Zidni kemudian memeluk Chika, menenggelamkan kepala Chika dalam dadanya.
"Iya Mas. Aku dan Kenzie juga bahagia memiliki kamu." Ucap Chika membalas melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Zidni. Chika kemudian mendongak menatap wajah tampan itu, Zidni lalu mengangkat dagu Chika dan ciuman lembut mendarat di bibir Chika. Ciuman keduanya semakin dalam, intens dan menuntut. Lidah keduanya dengan kompak menari di dalam ronnga mulut saling memberikan kepuasan satu sama lain. Tangan Zidni meraba punggung Chika, menurunlan zipper dressnya. Setelah itu diangkatnya dress itu keatas oleh Zidni dan di lempar sembarangan. Satu persatu Zidni melucuti daleman Chika hingga tubuh Chika sudah polos tanpa sehela benang pun. Tangan Chika pun menurunkan dan membuang sembarangan CD milik Zidni. Keduanya sudah polos tanpa berbusana. Zidni kemudian memutar tubu Chika untuk membelakanginya.
"Sayang, aku ingin mencoba gaya yang lain. Boleh kan?"
"Suka-suka kamu, Mas." Chika sudah pasrah untuk meladeni hasrat suaminya.
"Kamu menungging ya," pinta Zidni. Chika menurut saja. Dan lidah Zidni dengan lembut menelusup di lembah Chika.
"Ahhh... ohhh... Mas...sshhhh," de..sah hebat Chika.
"Enak sayang?" tanya Zindi dengan nafas memburu.
"En-enak sekali, Mas. Shhhh...." Ya, sejak dulu Zidni selalu pandai memuaskannya dengan berbagai posisi bercinta yang terkadang di luar dugaan Chika. Namun keliaran Zidni, justru di sukai Chika. Suara decapan lidah dan danging lembut itu terdengar jelas. Di hisapnya lembut dan sesekali di menyedotnya lembut sampai membuat Chika menggelinjang nikmat. Ciuman Zidni kemudian naik ke punggung, setelah itu tengkuk dan leher sambil tangan Zidni meremas kedua bukit kenyal milik Chika.
"Uhhh, sayang...." lenguh Zidni yang begitu candu untuk mencumbu tubuh istrinya. Lima tahun sama sekali tidak bercinta, sangatlah lumarah jika keduanya terbelungguh oleh naf..su, cinta, rindu dan gairah yang menggelora. Terutama bagi Zidi, seorang pria yang memang masih normal. Terlalu kuat imannya tidak bersentuhan dengan wanita selepas berpisah dengan Chika.
Zidni lalu membalik tubuh Chika, ia langsung naik keatas tubuh Chika dan kembali memagut bibir Chika dengan buas. Sampai membuat Chika merasa sesak kehabisan nafas. Ciuman Zidni kembali turun ke dua bukit kenyal itu. Chika mendekap kuat kepala suaminya, menginginkan suaminya mencumbui bukit kenyalnya lebih liar lagi.
"Oughhh... sshhhh...!" de...sahnya semakin tidak karuan. Kemudian perlahan jari tengah Zidni menelusup di liang senggama Chika. Benar-benar sudah basah dan Chika ingin keluar.
"Mas, rasanya... aku... mau... keluar," ucap Chika di sela-sela de..sahannya.
"Keluarkan saja, sayang. Aku akan membuatmu mencapai puncak berkali-kali." Ucap Zidni dengan nafas terengahnya. Ia semakin mempercepat pergerakan jemarinya di liang kenikmatan milik Chika.
"Mas.... aaahhhhh...," Chika melenguh panjang. Tubuhnya mengejang dan menggelinjang nikmat. Ia sampai pada pelepasannya. Rasanya tubuhnya lemas namun nikmat. Wajah Zidni terlihat sangat puas melihat wanitanya mencapai puncaknya. Zidni menjabut jemarinya dan melu..mat kembali bibir Chika. Mencoba membuat istrinya bergairah lagi.
"Mas, kamu membuatku kelojotan," ucap Chika terengah-engah saat Zindi melepaskan pagutannya.
"Karena kamu cantik sekali, sayang. Kamu benar-benar seperti sabu, membuatku candu jika tidak menghisapmu. Sekarang bersiaplah untuk mencapai pucak ke dua sayang. Aku senang melihatmu mencapai puncak seperti ini."
"Dari dulu kamu selalu pandai memuaskanku." Ucap Chika dengan senyum kecilnya.
Zidni kembali mere...mas dan menyesap kedua bukit Chika dengan ganasnya. Setelah itu tutun kembali menuju liang kenikmatan yang sudah amat sangat basah. Zidni kembali menjilatnya penuh gairah yang memnggebu. Chika hanya bisa mere...mas sprei mengekspresikan rasa nikmat yang tidak terkira. Sampai pada puncaknya, si junior pulang ke rumahnya. Juniro sudah terbenam dan tenggelam di dalam rumahnya. Zidni membuka lebar kaki Chika. Ia memulai gerakan maju mundur dengan lembut, setelah itu semakin cepat dan mulai mengentakkannya dengan keras. Membuat bukit kenyal Chika sampai bergoyang. Decapan khas penyatuan junior dan liangnya terdengar sangat jelas menyeruak ke sudut ruangan. Keduanya kompak mende...sah nikmat. Peluh pun mulai mengucur. Zidni mengangkat kedua kai Chika keatas pundaknya, menurunkan tubuh Chika supaya juniornya menancap semakin dalam. Sesekali Zidni melu...mat bibir istrinya. Semua titik sensitif Chika tidak luput dari tangan Zidni.
"Mas... aku... mau keluar lagi," ucap Chika disela-sela erangannya.
"Keluarkan sayang, aku juga mau keluar." Perintah Zidni. Kali ini Zidni merasakan otot-otot rahim Chika mencengekram kuat juniornya. Sampai Zidni tidak tahan dan mencapai pelepasnnya. Snagat terasa semburan hangat dirahim Chika. Zidni pun ambruk diatas tubuh Chika.
"Semoga adiknya Kenzie cepat jadi ya sayang."
"Iya Mas. Tapi nikahi aku sah negara dulu."
"Iya aku akan segera mengurusnya setelah DNA keluar." Zidni lalu mengecup kening Chika. Keduanya kelelahan dan akhirnya tertidur sembari berpelukan tana sehelai benang menempel ditubuh mereka kecuali selimut.