
''Mama!" seru Kenzie saat melihat Chika hendak keluar dari pintu bandara. Kenzie berlali memeluk Chika.
''Sayang, Mama sangat merindukan kamu.'' Chika pun tak kuasa menahan rasa rindunya.
''Aku juga sangat merindukan, Mama.'' Kenzie melepas pelukannya. Tampak Romi juga berada disana. Chika dan Romi kemudian berpelukan. Zidni dan Frans mau tidak mau menyaksikan adegan itu.
''Aku bersyukur sekali kamu sampai dengan selamat.'' Ucap Romi.
''Terima kasih ya sudah menjemputku.''
''Aku sudah janji Chika jadi pasti akan aku tepati.'' Ucap Romi seraya melepaskan pelukannya. Kenzie kemudian mendekat kearah Zidni. Ditatapnya Zidni penuh selidik. Tiba-tiba Kenzie memeluk Zidni. Tentu saja itu membuat Zidni terkejut.
''Terima kasih ya Om, sudah menjaga Mama sampai Mama kembali padaku.''
''I-iya sama-sama.''
''Om, ada oleh-oleh untukku tidak?'' tanya Kenzie seraya melepaskannya.
''Kenzie, kamu tidak boleh seperti itu ya.'' Chika berusaha mengingatkan Kenzie.
''Hanya tanya oleh-oleh saja, Ma.'' Jawab Kenzie. Zidni kemudian mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Sebuah paperbag berwarna coklat. Chika terkejut melihat cap toko di paperbag itu. Karena itu adalah cap toko coklat yang saat itu Chika mengurungkan niatnya untuk membeli karena harganya yang mahal.
''Ini untukmu.'' Ucap Zidni.
''Untukku? Om serius? Ini apa?''
''Ini apa?'' tanya Kenzie.
''Buka saja.'' Kata Zidni. Kenzie dengan antusias membukanya. Kenzie begitu senang karena isi di kantonh coklat itu adalah coklat.
''Coklat?'' seru Kenzie.
''Iya, coklat. Itu coklat yang sangat mahal dan rasanya sudah pasti sangat enak.'' Kata Zidni dengan sombongnya.
''Terima kasih Om. Aku sangat suka coklat.'' Kenzie memeluk Zidni sekali lagi. Frans merasa terharu melihat pemandangan itu.
''Tuan, itu adalah putramu. Wajah kalian sangat mirip.'' Gumam Frans dalam hati.
''Tuan, terima kasih untuk oleh-olehnya. Terima kasih atas pengalaman tak terlupakan ini. Saya pamit.''
''Iya. Terima kasih sudah bekerja keras selama disana.'' Ucap Zidni dengan sikap dinginnya. Padahal hatinya terasa panas seperti tidak rela jika Chika bersama pria lain.
''Sekretaris Frans, saya pamit ya.''
''Iya Nona, hati-hati. Terima kasih untuk kerja samanya.''
''Sama-sama.''
''Permisi semuanya.'' Sahut Romi. Zidni dan Frans hanya mengangguk. Chika dan Kenzie kemudian naik ke dalam mobil Romi. Romi pun langsung melajukan mobilnya.
''Mari Tuan, mobil kita sudah datang.'' Ucap Frans. Namun Zidni tak bergeming. Pandangannya menerawang jauh melihat mobil Romi yang di dalamnya ada seseorang yang kini sedang mengganggu hatinya.
''Ada apa denganku? Kenapa aku tidak rela dia bersama pria lain?'' gumam Zidni dalam hati.
''Tuan!" Frans kembali memanggil Zidni dengan suara lebih keras tapi Zidni tetap tidak menyahut.
''Tuan pasti cemburu. Dia melihat mobil pria itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.'' Gumam Frans dalam hati.
''Tuan!" kali ini Frans sambil menepuk bahu Zidni dan barulah Zidni tersadar.
''Ada apa Frans?''
''Mobil sudah datang Tuan.'' Kata Frans. Zidni hanya mengangguk dan masuk mobil begitu saja. Selama di dalam mobil, Zidni menuliskan di jurnalnya tentang apa saja yang telah ia lewati selama di Jepang. Termasuk apa saja yang ia lalui bersama Chika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
''Chika, sepertinya Kenzie dan atasanmu begitu dekat. Seperti sudah mengenal lama.'' Kata Romi.
''Aku juga tidak tahu sejak kapan mereka dekat. Ya, kamu tahu Kenzie lah. Dia sama kamu juga sangat dekat.''
''Kalau aku dengan Kenzie kan memang sudah sejak dia bayi, Chika. Kamu juga baru kerja disana tapi seperti sudah lama saja kerja disana. Sampai Kenzie sangat dekat dengan atasanmu itu. Apa kamu ada hubungan spesial dengan atasanmu?''
''Tidak ada, Rom. Aku hanya karyawan biasa.''
''Kalian seperti sudah mengenal lama saja.''
''Perasaan kamu saja, Rom. Biasanya atasan aku itu cuek dan dingin. Tidak tahu kenapa jadi baik. Mungkin karena sudah mengajakku mendadak dinas ke luar negeri jadi dia memberikan oleh-oleh untuk Kenzie.''
''Dan ini aneh sih, kamu juga baru kerja, masa iya dengan mudahnya di ajak ke luar negeri.''
''Aku juga tidak tahu, Rom. Aku mendapat tugas ya aku kerjakan. Aku juga senang dan merasa beruntung karena aku mendapat banyak pengalaman selama disana. Memangnya kenapa? Kamu cemburu?'' goda Chika.
''Kamu tenang saja, Rom.'' Kata Chika.
''Bagaimana kami tidak dekat, Rom. Dia itu suamiku, Papanya Kenzie. Maafkan aku ya Rom, kalau aku belum bisa mengungkap semuanya. Kalaupun kita bersama, orang tua kamu juga tidak merestui hubungan kita.'' Ucap Chika dalam hati.
Sesampainya dirumah, kedua orang tua Chika menyambut kedatangan Chika dengan antusias.
''Ayah! Ibu!" seru Chika seraya bergantian memeluk kedua orang tuanya.
''Akhirnya kamu sampai di rumah dengan selamat, Nak. Kamu sehat-sehat kan?'' tanya Tuan Arman.
''Chika sehat kok, Yah. Ayah dan Ibu sehat kan?''
''Kami juga sehat kok. Ayo makan dulu. Ibu sudah memasak banyak untuk kamu.''
''Ibu, seharusnya tidak usah repot-repot.''
''Ibu tahu kalau kamu tidak cocok makan disana kan? Pasti kamu kesulitan makan.''
''Hehehe iya sih, Bu. Kangen masakan Ibu. Oh ya, Alvin mana?''
''Dia kerja jadi tidak bisa menjemput kamu. Nanti pulang kerja dia mau mampir katanya.'' Kata Nyonya Linda.
''Sudah, sebaiknya kita makan dulu. Ayo nak Romi, kita makan sama-sama.'' Ajak Tuan Arman.
''Iya Ayah.''
''Mah, aku simpan coklatnya di kamar dulu ya.''
''Iya sayang.'' Kata Chika sambil mengelus kepala Kenzie.
''Zidni, ternyata kamu tidak lupa pada putramu. Kamu diam-diam membelikan dia coklat.'' Gumam Chika dalam hati.
Selesai makan siang, Romi pun memutuskan untuk pulang karena Ibunya menelepon meminta Romi segera pulang.
''Chika, Ayah, Ibu, aku pamit ya. Ibu menelepon sepertinya ada sesuatu yang penting.''
''Iya Nak Romi, kamu hati-hati ya. Salam untuk kedua orang tuamu ya.'' Kata Tuan Arman.
''Iya Ayah.''
''Rom, kamu hati-hati ya. Oh ya ini sedikit oleh-oleh untuk kedua orang tuamu. Ini kain dari sana. Maaf hanya bisa membelikan itu.''
''Terima kasih Chika. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot.''
''Aku yang seharusnya terima kasih karena kamu sudah menjaga Kenzie dan juga menjemputku.''
''Iya sama-sama. Aku balik ya.''
''Iya Rom, hati-hati.'' Pesan Chika. Romi bersalaman terlebih dahulu sebelum pergi dari rumah Chika.
Setelah Romi pergi, Nyonya Linda mengajak Chika untuk duduk dan bicara serius.
''Chika, sampai kapan kamu menggantung Romi?''
''Iya Nak. Kasihan Romi. Dia tulus sekali sama kamu dan Kenzie.'' Sahut Tuan Arman.
''Ayah, Ibu, Chika baru saja sampai rumah tapi Ayah dan Ibu malah membicarkan itu.''
''Kamu berdosa Chika kalau terus memanfaatkan Romi tanpa memberinya keputusan dan kejelasan.'' Kesal Nyonya Linda.
''Ibu, aku sudah bilang pada Romi kalau perasaanku padanya hanya sebatas teman saja.''
''Tapi sikapmu seolah memberikan dia harapan. Sebaiknya kamu menikah saja dengan Romi. Apalagi yang kamu tunggu? Status Kenzie dan dirimu sampai detik ini selalu menjadi bahan pergunjingan orang-orang. Dan itu semua karena pria tidak bertanggung jawab itu.'' Kesal Nyonya Linda.
''Asal Ayah dan Ibu tahu, orang tua Romi tidak pernah menyukai ku karena statusku ini, Bu. Dulu aku sempat ingin melabuhkan hatiku pada Romi tapi kedua orang tuanya menentang. Selama ini aku menyimpan semua ini supaya Romi tidak tahu. Orang tua Romi melarangku untuk mengatakan hal itu pada Romi. Mereka sudah menyiapkan seseorang untuk Romi.'' Jelas Chika dengan nada kesal. Chika beranjak dari duduknya lalu menyusul Kenzie ke kamar.
''Jadi selama ini mereka pura-pura baik pada kita, Yah?''
''Sepertinya begitu, Bu. Mereka tidak ingin Romi tahu. Karena kalau Romi tahu, Romi pasti akan marah.''
''Ibu hanya sedih dengan nasib Chika. Bayangkan saja, keluarga kita sampai detik ini menjadi bahan pergunjingan karena pria itu. Semoga Chika tidak bertemu dengannya lagi. Ibu sudah terlanjur sakit hati dan kecewa sekali.''
''Kita doakan yang terbaik saja untuk anak kita, Bu. Biarlah mereka menggunjing kita, toh putri kita juga hamil ada suaminya. Sudahlah, jangan paksa dia untuk bersama Romi. Karena kita tahu Romi juga tidak selevel dengan kita. Semoga ada pria lain yang tulus mencintai dan menyayangi Chika.''
''Amin. Malang sekali nasib putri kita, Yah. Apalagi cucu kita. Tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah.''
''Sabar, Bu. Jangan tunjukkan kesedihanmu pada Chika. Dia baru saja pulang jadi biarkan saja dia istirahat dulu ya. Dia juga pasti lelah.'' Kata Tuan Arman dengan bijak. Nyonya Linda hanya bisa menggangguk dan mendengus.