
Saat Chika selesai berganti pakaian dan bersih-bersih, Chika kembali ke ruangan Zidni. Dan disaat yang bersamaan, dokter sedang memeriksa Zidni.
''Dokter, bagaimana keadaan suami saya?'' tanya Chika dengan tatapan mata sendunya.
''Nyonya, kita harus melakukan tes EEG pada pasien.''
''EEG? Apa itu dokter?''
''Elektroensefalogram (EEG) adalah salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan dari otak untuk mendeteksi kelainan otak. Tes EEG juga disebut sebagai tes gelombang otak atau rekam otak. Uji EEG tidak bersifat invasif. Prosedur EEG adalah dengan menempelkan elektroda di sepanjang kulit kepala. EEG dapat mengukur fluktuasi tegangan yang dihasilkan dari arus ionik di dalam otak. Tes EEG ini efektif untuk mendeteksi gangguan seperti tanda penyakit Epilepsi atau mendeteksi Alzheimer . Selain itu, EEG juga merupakan prosedur pemindaian untuk koma atau sindrom otak organic dan dapat bertindak sebagai indikator kematian otak. Tumor , abses, jaringan parut otak, dan darah yang membeku serta infeksi dapat menyebabkan aktivitas listrik yang berbeda dari pola irama normal dan kecepatan yang akan terdeteksi dengan menggunaakan EEG. Karena dari pemeriksaan keseluruhan, kondisi Tuan Zidni normal namun sepertinya di bagian syaraf otak ada masalah. Apalagi kami juga sudah memeriksa riwayat penyakit pasien sebelumnya.'' Jelas Dokter.
''Lakukan semua yang terbaik Dokter. Dia beberapa waktu lalu sempat pingsan dalam waktu yang cukup lama.'' Kata Chika.
''Pasti Nyonya. Kami akan melakukan yang terbaik.''
''Dokter, tolong berikan dokter spesialis syaraf terbaik.'' Sahut Frans.
''Kami akan selalu mengusahakan yang terbaik. Nanti kami akan mengecek perkembangan otaknya. Dan kami harap, pasien secepatnya sadar. Karena bagi orang pingsan biasa, ini terlalu lama. Kalau begitu kami permisi dan akan mempersiapkan semuanya.''
''Iya dokter, terima kasih.'' Ucap Chika. Bulir air mata pun membasahi kembali wajah Chika.
''Sekretaris Frans, apa kita harus menghubungi orang tua Zidni?''
''Tuan pernah berpesan, untuk tidak memberitahu Mamanya jika terjadi sesuatu padanya. Terutama tentang hal seperti ini. Selain tidak ingin Nyonya Kamila khawatir, Tuan tidak akan kembali sebelum menemukan cintanya, yaitu anda. Tuan yang akan datang membawa anda ke hadapan Nyonya Kamila.'' Jelas Frans.
''Papa!" suara Kenzie terdengar nyaring menerobos kamar rawat Zidni. Alvin membawa Kenzie untuk menemui Zidni di rumah sakit.
''Kenzie,'' gumam Chika.
''Sayang, kamu tidak sekolah?''
''Kak, maafkan aku. Kenzie memaksa kesini dan tidak mau sekolah.'' Kata Alvin.
''Mah, Papa kenapa? Kenapa Papa seperti ini? Aku tidak mau kehilangan Papa lagi Mah.'' Tangis Kenzie sambil memeluk Mamanya.
''Sayang, Papa tidak apa-apa. Papa hanya sakit biasa. Nanti juga sembuh.''
''Bohong! Mama jangan bohong lagi. Mama sudah banyak bohong padaku.'' Marah Kenzie.
''Tuan kecil, Papa baik-baik saja. Papa hanya perlu istirahat.'' Sahut sekretaris Frans.
''Iya sayang, kita doakan Papa ya supaya Papa segera pulih kembali.'' Chika sendiri berusaha menahan rasa sedihnya di hadapan Zidni. Kenzie kemudian naik keatas kursi yang terletak di samping ranjang Zidni berbaring. Tangan mungilnya menggenggam tangan Zidni yang terpasang selang infus.
''Papa bangunlah! Aku ingin bermain dengan Papa.'' Ucap Kenzie. Chika sungguh tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Ia kembali menangis melihat pemandangan dihadapannya. Alvin merangkul Kakaknya berusaha menenangkan. Kenzie kemudian mengecup tangan Zidni dan kening Zidni.
''Papa, seperti dongeng putri tidur, putri tidur akan bangun setelah mendapat kecupan dari pangeran. Jadi anggaplah aku pangeran dan papa adalah putri tidur. Cepat bangun ya Papa, aku menunggu Papa.'' Kenzie kemudian memeluk tubuh yang tak berdaya itu.
''Tuan, bangunlah! Seseorang yang anda cari ada di depan anda. Istri dan putra anda. Mereka menunggu anda.'' Gumam Frans dalam hati.
''Semua ini salah Kakak, Alvin. Semua ini salah Kakak.'' Chika menangis dalam pelukan adiknya.
''Tidak Kak. Kakak tidak salah. Semuanya akan baik-baik saja Kak. Kak Zidni akan segera sehat kembali dan kalian pasti akan berkumpul kembali.'' Ucap Alvin menenangkan.
''Iya sekretaris Frans. Anda hati-hati.''
''Oh ya Nona, di laci ada jurnal yang sudah Tuan tulis dan dibagian terakhir aku yang menambahkannya. Kalau Tuan sadar, berikan jurnal itu pada Tuan.'' Ucap Frans.
''Iya sekretaris Frans. Terima kasih untuk kerja keras anda.''
Frans pun segera pamit dan segera menuju kantor. Setidaknya Frans harus meredam berita tentang kondisi Zidni di kantor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang pun telah berganti malam, namun Zidni tak kunjung sadar. Perasaan Chika pun campur aduk melihat Zidni yang hanya bisa terbaring. Chika hanya bisa menunggu sembari duduk di sofa. Menatap wajah pria yang begitu ia cintai, yang kini tengah berjuang.
''Mah, sampai kapan Papa akan seperti ini?'' tanya Kenzie yang kini tengah membaringkan kepalanya di pangkuan Chika.
''Mama belum tahu, sayang. Tapi tadi dokter bilang untuk menunggu sampai besok.''
''Aku tidak mau sekolah sampai melihat Papa bangun.''
''Sayang, kamu harus tetap sekolah. Pasti Papa juga akan marah kalau kamu tidak sekolah. Kamu harus jadi anak hebat kebanggaan Papa. Buat Papa bangga ya nak.''
''Iya Mah tapi aku ingin menemani Papa. Aku mohon Mah, ijinkan aku bolos untuk beberapa hari.''
''Baiklah, Mama akan memberimu ijin.'' Kata Chika sambil mengelus kepala putranya.
''Kak, aku bawa makanan untukmu.'' Suara Alvin cukup mengagetkan Chika.
''Alvin, tidak usah repot-repot.''
''Kak, kesehatan Kakak juga penting. Kalau kalian berdua sama-sama sakit bagaimana? Kasihan Kenzie kan?'' ucap Alvin.
''Maafkan Kakak ya karena membuatmu menempuh jarak yang jauh untuk bekerja.''
''Tidak apa-apa Kak. Aku bisa begini juga karena kebaikan hati Kak Zidni. Aku tidak akan melupakan semua kebaikannya. Sebaiknya Kakak makan mumpung masih hangat.''
''Oh ya kamu tidak bertemu dengan sekretaris Frans?''
''Aku tidak bertemu dengannya. Apa dia tidak kesini?''
''Belum. Mungkin sekretaris Frans sedang mengurus banyak pekerjaan. Dia pasti juga kerepotan.''
''Sepertinya memang begitu. Sebaiknya Kakak sama Kenzie makan dulu ya.''
''Iya Om, aku mau makan. Aku ingin punya banyak tenaga untuk menjaga Papa.'' Kata Kenzie dengan semangat.
''Nah, itu namanya anak pintar.'' Kata Alvin seraya mengelus kepala Kenzie.
Tentu saja selera makan Chika menjadi hilang. Hanya dua suap saja yang masuk ke dalam perutnya. Ia kemudian beranjak dari sofa mendekat ke ranjang tempat Zidni berbaring. Ia mengambil handuk yang ia basahi dengan air. Perlahan Chika menyeka wajah Zidni, supaya wajah Zidni tetap segar. Chika menyeka dengan lembut wajah tampan itu.
''Kenapa takdir seolah mempermainkan kita suamiku? Apakah semesta tidak mengijinkan kita bersatu? Bangunlah sayang, aku disini bersamamu dan juga anak kita, buah cinta kita. Dia sangat merindukanmu, dia ingin sekali memelukmu dan menghabiskan waktu bermain denganmu. Sayang, aku mohon, segeralah bangun. Tidak apa jika kamu belum mengingat semuanya, asalkan aku masih tetap bisa melihat dirimu dan mendengar suaramu. Ya Tuhan, berikanlah kesembuhan untuk suamiku. Ijinkanlah kami bersatu menjadi sebuah keluarga.'' Ucap Chika dalam hati. Lagi-lagi bulir air mata itu tak mampu untuk ia bendung hingga jatuh membasahi pipi Zidni.