
''Ada apa sayang?'' tanya Chika begitu keluar dari kamar lain itu.
''Lho Mama kok disini?'' tanya Kenzie sambil mengucek matanya.
''Ken, kenapa kamu terbangun? Apa mimpi buruk?'' sahut Zidni yang menyusul Chika dari belakang.
''Papa ada disini juga?''
''I-iya.'' Zidni salah tingkah. Merasa terpergok oleh warga satu kampung.
''Bukannya aku tidur di kamar Papa ya? Terus kenapa tiba-tiba di kamar Mama? Dan saat aku mencari Papa di kamar, kenapa cerminnya pecah?'' cerocos Kenzie dengan gemasnya.
''Oh ya satu lagi, kenapa tangan Papa di perban? Papa terluka?'' sambung Kenzie. Cerewetnya persis sekali dengan Chika.
''Papa akan menjawab semua pertanyaanmu di kamar.'' Ucap Zidni seraya menggendong Kenzie.
''Papa memanggil diri Papa dengan sebutan 'Papa' juga? Bukan 'aku' lagi?''
''Iya. Karena Papa adalah Papamu.'' Rasa sayang Zidni pada Kenzie muncul begitu saja. Meskipun ingatan Zidni belum sepenuhnya pulih. Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kamar Chika.
''Zidni, aku bersihkan kamar mu dulu ya. Kamu temani Kenzie.''
''Iya sayang.'' Jawab Zidni sambil membelai wajah istrinya. Sungguh bahagia hati Chika mendengar Zidni memanggilnya 'sayang'. Panggilan yang begitu ia rindukan.
''Sekarang berbaringlah. Papa akan menemanimu tidur disini bersama Mama.'' Zidni membaringkan Kenzie diatas tempat tidur. Zidni pun ikut berbaring disana. Ia memiringkan tubuhnya sambil mengelus kepala putranya.
''Papa serius? Papa akan tidur bersamaku dan Mama?''
''Iya.''
''Papa sudah tidak marah lagi pada Mama? Dan Papa sudah tidak membenciku?'' pertanyaan polos Kenzie sungguh membuat Zidni menyesal. Menyesal karena selama ini Zidni selalu bersikap kasar pada putranya.
''Iya, kami sudah baikan. Maafkan sikap Papa selama ini. Maafkan Papa yang tidak mengingatmu. Bahkan tidak menemanimu saat pertama kali kamu di lahirnya ke dunia. Yang Papa ingat, Papa mengalami sebuah kecelakaan dan Papa koma hampir satu tahun. Dan saat Papa bangun, Papa tidak mengingat apapun tentang kamu dan Mama kamu.''
''Pah, apa itu koma?''
''Koma itu tidak sadarkan diri dalam waktu yang sangat lama. Bisa berhari-hari bahkan bertahun-tahun.''
''Berarti kemarin Papa koma? Lima hari Papa hanya tidur.''
''Iya. Seperti itulah koma.''
Kenzie kemudian meringsuk dalam dekapan Papanya.
''Pah, jangan tidur lama-lama ya. Aku tidak mau Papa seperti itu lagi. Aku takut!"
''Tidak akan. Papa akan baik-baik saja karena ada kamu dan Mama disini.''
''Oh ya jawab pertanyaan ku tadi Pah. Tangan Papa kenapa? Dan kenapa Papa dan Mama ada di kamar itu?''
''Mmmm tangan Papa terkena pecahan kaca karena ada tikus. Tadinya Papa sama Mama mau ngobrol, eh ada tokek merayap di dinding. Papa ingin meninjunya eh malah kena cermin. Karena Mama takut, akhirnya Papa ajak Mama ke kamar lain.''
''Oh begitu. Tokeknya besar ya Pah?''
''Besar sekali.''
''Papa kan bisa memukulnya dengan kayu tanpa harus melukai tangan Papa.''
''Papa reflek tadi. Karena Mama menjerit ketakutan.'' Zidni terkekeh. Gemas dengan bocah kecil yang begitu cerewet.
''Ngobrolin apa sih, seru sekali.'' Sambung Chika saat ia memasuki kamarnya.
''Rahasia. Ini obrolan pria.'' Kata Zidni terkekeh.
''Ken, minum susunya dulu ya. Mama lupa tidak membuatkan mu susu. Maaf ya.'' Ucap Chika seraya duduk di tepi ranjang.
''Iya Mah tidak apa-apa.'' Kenzie pun bangun.
''Mah, aku juga mau susu.'' Sahut Zidni.
''Papa mau berbagi denganku?'' tawar Zidni.
''Beda Ken. Itu susu untuk anak-anak. Kalau susu untuk orang dewasa beda lagi.'' Kata Zidni melirik nakal istrinya. Chika tersipu malu, wajahnya memerah.
''Oh begitu. Kalau begitu aku habiskan ya, Pah.'' Ucap Kenzie dengan polosnya tanpa tahu apa maksud nakal ucapan Papanya.
''Mah, aku juga mau susu.'' Rengek Zidni tidak mau kalah dari Kenzie.
''Baiklah, aku buatkan dulu.''
''Oke baiklah. Ken, kamu tidur dulu sama Papa ya. Mama cuci gelasmu dulu sekalian persiapan membuatkan susu untuk Mama.''
''Oke Mama.''
''Ayo Ken, Papa temani. Besok kamu sekolah bukan? Papa ingin tahu sekolahmu jadi Papa akan mengantarmu ke sekolah besok.''
''Yeasy asyik! Akhirnya aku merasakan di antar ke sekolah oleh Papa.'' Kenzie begitu bahagia sampai ia melompat diatas kasur.
''Sekarang waktunya tidur lagi.''
''Oke Pah.'' Tak butuh waktu lama bagi Kenzie untuk tidur. Tak lama kemudian Chika kembali ke kamar dengan membawakan segelas susu untuk suaminya.
''Zidni, ini susunya. Eh, Kenzie sudah tidur saja.'' Ucapnya melihat Kenzie meringsuk dalam dekapan Papanya.
''Dia tadi terbangun pasti karena sendirian. Oh ya Chika, bukan susu itu yang aku maksud.''
''Maksud kamu? Mau rasa coklat?'' Chika pura-pura tidak mengerti maksud Zidni.
''Aku mau yang itu, '' ucapnya sambil mengarahkan pandangannya pada dada Chika. Chika melihat ke arah dadanya. Chika menggigit bibir bawahnya sambil memelototi Zidni.
''Kamu baru saja menyatakan cinta, masa mau minta yang lebih dari ciuman. Kamu habiskan dulu susunya setelah itu kamu juga tidur.''
''Tapi kita kan suami istri. Pasti aku dulu juga suka minum susu yang itu kan?''
''Sudah, kamu minum dulu suamiku.''
''Iya-iya.'' Zidni kemudian menenggak sampai habis susu buatan Chika.
''Ini sudah habis. Terima kasih ya.''
''Oke sama-sama. Aku ke dapur dulu ya.''
''Iya.''
Chika merasa gugup sekali. Setelah sekian lama tidak di jamah oleh suaminya, membuatnya merasa canggung jika melakukan lebih dari sekedar ciuman.
''Ken, tidur yang nyenyak ya. Jangan bangun-bangun lagi. Papa ingin menggoda Mama mu malam ini.'' Ucap Zidni seraya mengecup pipi putranya yang sudah terlelap. Zidni turun dari tempat tidur, kemudian menyusul Chika ke dapur. Chika yang sedang mencuci gelas, sangat terkejut saat tangan melingkar di pinggangnya.
''Sayang,'' bisik Zidni.
''Apa? Aku tidak mendengarnya.'' ucap Chika menggoda Zidni.
''Sayang. Apa aku dulu memanggilmu seperti itu?''
''Iya. Kamu selalu memanggilku sayang tapi setelah menikah.''
''Oh ya bagaimana awal pertemuan kita?''
''Pertemuan kita disebuah perusahaan. Aku sebagai sekretaris dan kamu uji coba sebagai karyawan. Karena kamu dulu tidak mau mengurus perusahaan. Saat kita saling mengenal, kamu mulai terbuka padaku. Dan akhirnya aku memahami kalau sikap angkuh dan dinginmu karena masalah itu. Cinta pertama yang tidak direstui yang berakhir tragis.''
''Kamu tahu semua itu?''
''Iya, aku tahu semuanya. Karena kamu sendiri yang menceritakannya. Meskipun awal kisah kita diwarnai dengan saling benci. Kamu membenciku karena aku cerewet, berisik, ceroboh, norak dan kampungan. Eh ujung-ujungnya kamu jatuh cinta juga.'' Chika terkekeh mengenang semua itu. Chika kemudian membalik badannya menghadap Zidni.
''Lalu kapan first kiss kita?''
''Di bandara. Saat kamu akan pergi ke Shanghai. Di sanalah kita berpisah. Tapi kita tetap berhubungan melalui telepon dan email. Bahkan setiap weekend kamu selalu ke Indonesia untuk menemui ku karena kamu tidak bisa menahan rindu. Sampai akhirnya kamu kuliah di Amerika dan kita jarang berhubungan. Yang jelas setelah kamu lulus, kamu melamar ku dan menikahi ku. Dan disaat aku tengah mengandung, kamu bilang akan pulang untukku. Tapi sejak saat itu kamu tidak pernah pulang dan kembali untukku. Aku berjuang untuk membesarkan Kenzie. Berusaha tegar menjalani hidup tanpa kamu dan gunjingan para tetangga. Sampai akhirnya takdir mempertemukan kita kembali. Saat pertama kali aku melihatmu di rambu-rambu, aku mengikuti mu. Ingin melabrak mu, memarahi mu dan memukul mu karena aku berpikir kamu sengaja meninggalkanku. Tapi saat aku mendengar sekretaris Frans bicara dengan seseorang lewat telepon, aku tahu bahwa kamu mengalami kecelakaan sampai koma. Aku pastikan itu adalah Ibumu karena sekretaris Frans memanggilnya Nyonya.'' Cerita Chika panjang lebar tanpa melepaskan tatapan matanya pada Zidni.
''Untuk mengetahui kebenaran itu, aku sengaja masuk ke perusahaan mu. Aku ingin membuatmu ingat padaku dengan segala sikap ku yang kamu benci. Karena dengan membenciku, kamu pasti selalu mengingatku dan berusaha untuk lebih sering menemui ku untuk memberikan hukuman. Apalagi aku satu-satunya karyawan yang paling berani melawan kamu. Karyawan baru pula,'' kenang Chika terkekeh.
''Maafkan aku ya. Aku tidak tahu kamu melewati masa yang begitu sulit. Maaf juga karena aku bersikap kasar padamu.'' Zidni meraih tangan Chika dan menghujaninya dengan kecupan.
''Ini semua takdir. Takdir yang harus kita lewati bersama.''
''Meskipun belum ingat sepenuhnya tapi aku yakin dengan perasaanmu padaku Chika. Rasa ini akan menuntunku kembali pada kamu dan juga Kenzie.'' Zidni kemudian mengecup kening istrinya dengan sangat dalam. Chika merasakan desiran angin dalam hatinya, sejuk sekali.
''Sebaiknya kamu tidur. Kamu baru saja pulang dari rumah sakit, lihatlah tanganmu juga.''
''Chika, ijinkan aku menyentuh dirimu sebagai seorang suami.''
''Tapi aku sedang menstruasi.''
''Aku tidak ingin yang itu. Aku ingin menikmati bagian yang atas dulu.''
''Lakukan sesuka hatimu,'' pasrah Chika dengan senyum menggoda.
Next???? Tunggu besok ya, hehehe.....