Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 89 Harinya Alvin



"Mas Alvin, ini ada berkas yang harus anda periksa." Ucap Frans.


"Sekretaris Frans, kenapa harus aku?"


"Tuan Zidni sudah mempercayakannya pada anda. Saya juga mengakui kalau kinerja anda sangat luar biasa selama dua bulan bergabung di perusahaan ini. Anda begitu cermat dan teliti dalam membidik sasaran dan juga melihat sebuah kesalahan."


"Tapi aku ini hanya karyawan biasa sekretaris Frans, aku hanya adik ipar saja. Bukan saudara kandung."


"Mas Alvin, saya malah tidak ada hubungan apa-apa dengan Tuan, ipar juga bukan tapi Tuan juga percaya dengan saya bertahun-tahun. Selama Tuan belum kembali dari liburannya, Tuan mempercayakannya pada anda. Dan ada sedikit masalah."


"Tapi aku tidak mau dianggap KKN, aku ingin bekerja karena kemampuanku."


"Mas Alvin sudah membuktikannya sebagai manajer pemasaran disini. Penjualan semua produk meningkat drastis. Startegi marketing anda sangat bagus. Jadi tolong Mas, bantu kami. Apalagi ini ada sedikit masalah juga."


Alvin menghela. "Baiklah, aku akan membantu sebagai saudara. Dan masalah apa sekretaris Frans?"


"Ada masalah dengan suplier biji kopi. Mereka mendadak berhenti memasok biji kopi. Sehingga menghambat kinerja produksi."


"Kenapa bisa seperti itu? Apa sebelumnya pernah ada masalah?"


"Sejauh ini baik-baik saja. Dan baru kali ini mereka seperti ini padahal kami sudah bekerja sama bertahun-tahun."


"Sudah berapa lama mereka berhenti mengirim biji kopi?"


"Informasi yang saya dapat sudah satu minggu."


"Hah? Satu minggu? Kenapa lama sekali?" Alvin terperangah tidak percaya.


"Kami baru mendapat informasi dari tim produksi karena pasokan biji kopi kurang dan setelah di cek lapangan ternyata itu alasannya."


"Astaga, kenapa bisa begini? Apa Kak Zidni tahu?"


"Tuan Zidni belum tahu."


"Baiklah sekretaris Frans, kita berangkat menemui suplier kopi sekarang. Tapi kita masih terikat kontrak kerja sama bukan?"


"Iya Mas masih. Oh ya tapi berkas ini?"


"Simpan saja dulu. Karena ini lebih penting. Produksi kita bisa terhenti dan kerugian akan semakin besar jika dibiarkan."


"Baik Mas. Saya akan siapkan mobil."


Akhirnya Frans dan Alvin pergi menuju kebun kopi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di lapangan. Mereka langsung menemui pemilik kebun kopi. Kini mereka bertiga duduk bertiga diatas saung dekat perkebunan.


"Pak, saya tidak mau basa-basi lagi. Kenapa anda berhenti memasok biji kopi kepada kami? Padahal kita masih terikat kontrak kerja satu tahun." Ucap Frans dengan raut wajah serius.


"Lho, perusahaan kan sudah menyelesaikan kontrak sebelum jatuh tempo. Saat itu saya meminta kenaikan harga tapi pihak perusahaan menolak dan akhirnya memutus kontrak secara sepihak. Bahkan sebelum saya meminta kenaikan harga, pihak perusahaan membeli sampai 10 ton kopi sampai kami kuwalahan. Dan bulan berikutnya kami menaikkan harga tapi pihak anda malah memutuskan kontrak dan ingin mencari suplier lain. Itu sudah terjadi hampir satu tahun, Tuan Frans." Jelas Pak Baron si pemilik kebun. Frans dan Alvin dibuat terkejut dengan pernyataan Pak Baron.


"Apa? Setahun? Tapi saat itu bukannya kami sudah menyetujui kenaikan harga sebanyak 2%? Karena kami tahu kualitas anda terbaik."


"Kami bahkan ada buktinya, Tuan Frans. Kita sudah bekerja sama selama bertahun-tahun tidak mungkin saya mengkhianati Tuan Zidni juga. Saya akan ambilkan tanda tangan pemutusan kontraknya." Pak Baron kemudian berlalu menuju ruangan kecilnnya yang tidak jauh dari saung.


"Sekretaris Frans, sepertinya ada yang tidak beres. Ada bibit mafia diperusahaan." Kata Alvin yang sedari tadi menyimak dengan serius pembicaraan.


"Sebaiknya kita cari tahu siapa dalangnya. Sudah jelas mereka ingin mengambil keuntungan dari kita."


"Iya apa yang anda katakan benar." Ucap Alvin. Dan tak lama kemudian Pak Baron kembali dengan membawa surat pemutusan kontrak. Bahkan ada stempel perusahaan di sana.


"Pak Baron, saya bisa membawanya kan? Sepertinya ada yang tidak beres. Jadi tolong tetap kirim pasokan biji kopi pada perusahaan kami."


"Silahkan anda bawa bukti itu Tuan tapi maaf, saya tidak bisa lagi menjadi penyuplai anda karena setelah itu saya sudah menerima tawaran dari PT. ANGKASA JAYA. Sejujurnya saya kecewa dengan perusahaan Tuan Zidni jadi saya langsung menerima kerja sama itu. Maafkan kami, Tuan."


"Ya, saya mengerti kekecewaan anda. Kami akan menyeledikinya. Karena sungguh kami tidak tahu. Kami baru saja mendapat kabar ini tadi pagi. Maafkan kami, Pak Baron."


"Semoga masalah ini cepat selesai dan kami juga minta maaf jika memang semua ini adalah kesalahpahaman."


"Iya Pak. Baiklah kalau begitu kami permisi." Pamit Frans.


"Iya Tuan, hati-hati."


-


"Sekretaris Frans, PT. Angkasa Jaya, apa Kak Zidni tahu?"


"Ya, sekarang saya tahu siapa biang keroknya. Dulu Tuan membatalkan dan memutus kerja sama secara sepihak. Sepertinya Tuan Edward sakit hati dan ingin balas dendam."


"Sebaiknya sekarang kita ke tempat produksi. Untuk mengecek biji kopi. Sepertinya mereka mau memonopoli kita. Menjual mahal pada kita atas nama Pak Baron dan menyabotase stempel perusahaan. Ini keterlaluan sekali."


"Iya apa yang anda katakan benar Mas Alvin."


Dan hari itu Alvin ditemani oleh Frans, menyelesaikan masalah yang begitu rumit. Alvin sekarang bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Zidni yang harus bekerja keras mengelola perusahaan di dalam maupun luar negeri.


"Kenapa kalian diam saja? Produk kita banyak yang return dan kualitas menurun. Ini bukan kopi tapi ampas. Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini? Bisa-bisanya kalian memanipulasi angka penjualan?" ucap Alvin dengan nada marah. Kemarahan Alvin, membuat Frans teringat dengan bosnya.


"Tuan Zidni sudah membangun perusahaan ini susah payah tapi kalian malah menyepelekannya. Tidak bisakah kalian bicara saat terjadi masalah? Ini bukan hanya mempengaruhi Tuan Zidni tapi kalian semua dan seluruh karyawan." Sambung Alvin yang memarahi para pekerja pabrik disana. Mereka semua hanya bisa diam dan menunduk. Setelah mengkroscek pabrik, mulai dari laporan keluar masuk barang dan produksi melalui data dan rekaman cctv, Alvin dan Frans kembali ke kantor.


"Sepertinya ada orang dalam yang membantu mereka sekretaris Frans. Kasihan Kak Zidni kalau seperti ini."


"Saya akan segera menyelidikinya."


"Terima kasih ya untuk kerja samanya."


"Saya yang seharusnya terima kasih karena Mas Alvin sudah sangat banyak membantu."


"Sebaiknya setelah Kak Zidi kembali, kita harus mengadakan rapat untuk membahas ini. Kak Zidni harus tahu."


"Iya itu pasti. Kita harus mengumpulkan data dan bukti yang akurat."


"Iya sekretaris Frans."


Hari itu, Alvin memutuskan untuk lembur. Mendapat amanah dari Zidni, membuat Alvin benar-benar bertanggung jawab sampai akhir. Tepat jam 12 malam, Zidni akhirnya menyudahi pekerjaan. Namun di dalam perjalanan, perutnya terasa keroncongan. Akhirnya ia memutuskan berhenti disebuah warung lesehan. Ia lalu memesan makanan dan duduk seorang diri disana. Saat sedang menikmati makanannya, pandangannya tertuju pada seorang gadis yang berjalan tanpa alas kaki dan make up yang telah luntur, terutama bagian mata. Seperti habis menangis. Rambutnya juga tampak berantakan. Namun pakaian yang dikenakan masih bagus.  Yang pasti penampilannya sangat berantakan. Pandangannya juga  tampak kosong. Mata Alvin terus mengikuti kearah gadis itu sampai akhirnya gadis itu berhenti dan duduk di trotoar yang cukup jauh dari tempat Alvin makan. Gadis itu kembali menangis sambil terisak.


"Apa dia memang gila? Tapi dari pakaiannya masih bagus? Apa dia korban pelecehan? Ini sudah jam 12 lewat dan dia berkeliaran sendiri dengan penampilan seperti itu." Batin Alvin dengan segala prasangkanya.


Hai-hai.... buat yang request nyelipin kisah cinta Alvin ya, hehehe