
Tok tok tok tok! Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Chika. Chika sendiri baru selesai mandi dan hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
''Siapa?'' teriak Chika.
''Tuan Zidni!" sahut Zidni dari luar.
''Zidni? Ah, kesempatan sekali. Aku ingin menggodanya. Bukankah aku tampak seksi dengan hanya melilitkan handuk ini di tubuhku. Apalagi dengan rambutku yang basah ini.'' Gumam Chika.
''Sebentar Tuan!" sahut Chika. Chika kemudian mendekat, membuka pintu. CEKLEK! Zidni terkejut melihat Chika memakai handuk seperti itu. Lidahnya kelu dan darahnya terasa mendidih.
''Maaf Tuan, saya baru selesai mandi. Ada apa?''
''Ini ponselmu.'' Ucap Zidni tergagap.
''Terima kasih, Tuan.''
''Mmmm semalam tidak terjadi sesuatu kan?'' tanya Zidni.
''Sebaiknya Tuan masuk saja.'' Tanpa basa-basi Chika meraih tangan Zidni dan mengajaknya masuk ke kamar. Zidni terkejut dengan sikap berani Chika.
''Chika, apa yang kamu lakukan?''
''Maaf Tuan, lebih sopan jika bicara di dalam daripada di depan pintu. Saya ganti baju dulu ya.''
''Chika, jawab pertanyaanku.'' Ucap Zidni dengan suara meninggi.
''Tidak ada yang perlu di jawab, Tuan. Saya ganti baju dulu ya.'' Ucapnya seraya menuju ke kamar mandi. Meskipun ingin menggoda Zidni, tidak mungkin juga Chika berganti pakaian di hadapan Zidni.
''Apa maksudnya coba?'' gerutu Zidni. Tiba-tiba ponsel Chika berdering, ada panggilan masuk dari Joan. Zidni tentu saja melihat itu karena Chika meletakkan ponselnya di meja begitu saja.
''Joan? Untuk apa dia menelepon Chika?'' Gumam Zidni. Zidni memilih untuk mereject panggilan Joan. Namun tiba-tiba Joan kembali menelepon dan lagi-lagi Zidni merejectnya. Zidni merasa kesal karena Joan tidak mau menyerah sampai Chika selesai berganti pakaian.
''Tuan, mau saya buatkan teh? Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya karena sudah menahan Tuan semalam.''
''Jadi semalam tidak terjadi apa-apa kan?''
''Tidak Tuan. Kita tidak melakukan apa-apa selain tidur biasa. Kalaupun terjadi apa-apa masa Tuan tidak merasakan apapun? Apa Tuan sebelumnya tidak pernah melakukan itu?''
''Melakukan apa maksudmu?'' selidik Zidni.
''Melakukan hubungan diatas ranjang.'' Celetuk Chika.
''Aku bukan pria brengsek ya.'' Tegas Zidni.
''Masa sih? Kamu saja dulu memaksa untuk bercinta sebelum kita menikah,'' gumam Chika dalam hati.
''Siapa tahu anda melakukannya dengan banyak wanita Tuan. Anda tampan dan punya segalanya jadi pasti mudah menaklukan hati wanita.'' Kata Chika sembari membuatkan teh untuk Zidni.
''Untuk apa membahas itu, tidak penting. Lebih baik selesaikan tehnya dan kita pergi ke kantor cabang.'' Ketus Zidni.
''Baik Tuan, ini juga sudah jadi.'' Kata Chika sembari meletakkan secangkir teh di depan Zidni. Tiba-tiba ponsel Chika berdering lagi dan iti panggilan dari Joan. Chika pun langsung mengangkatnya.
''Hai Jo, apa kabar?''
''Chika, kamu baik-baik saja kan?'' tanya Joan diseberang sana dengan suara panik.
''Iya, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa? Kenapa suaramu terdengar bergetar?''
''Aku khawatir saja karena kamu berkali-kali mereject panggilanku.'' Mendengar ucapan Joan, Chika melirik kearah Zidni. Curiga pasti Zidni lah pelakunya. Namun Zidni pura-pura tidak mendengar dan fokus pada tehnya.
''Oh maaf ya, aku tadi sedang di kamar mandi dan ponselku aku biarkan begitu saja. Ada apa Jo?''
''Kamu sendiri bagaimana?''
''Aku juga baik. Aku senang sekali bisa mendengar suaramu dan tidak sabar untuk menunggumu pulang. Apa suamimu tidak marah kamu pergi berlama-lama? Bagaimana dengan putramu?''
''Sebenarnya aku single parent alias single mom, Jo. Jadi tidak akan ada yang mengkhawatirkan aku.'' Ungkap Chika. Zidni terkejut dan merasa tidak suka kalau Chika mengungkap statusnya yang sebenarnya.
''Apa? Kamu serius?'' Joan tentu saja terkejut dengan pernyataan Chika tapi Joan juga merasa senang.
''Iya. Maaf ya kalau aku bohong. Aku saja yang belum siap menerima orang baru dalam hidupku. Tapi berkat saran seseorang, aku akan mencoba membuka lembaran baru.'' Jelas Chika.
''Sepertimya saran seseorang itu benar Chika. Pasti putramu membutuhkan sosok Ayah juga. Aku tahu kamu wanita kuat dan hebat jadi kamu harus tetap semangat ya. Aku dan yang lainnya sudah merindukan kamu.''
''Iya Joan. Lusa juga sudah pulang. Di grup chat tim aku juga sudah ramai banget. Oh ya, aku setelah ini akan ke kantor cabang bersama Tuan Zidni dan sekretaris Frans jafi maaf tidak bisa ngobrol lama-lama.''
''Iya Chika. Kamu hati-hati ya disana dan selalu jaga kesehatan. Sampai jumpa di Indonesia.''
''Iya Joan. Kamu juga ya jaga diri dan salam untuk rekan-rekan yang lain. Bye...,'' Chika mengkahiri panggilannya. Zidni menghela nafas panjang.
''Oh jadi sekarang sudah berani go public dengan statusmu?'' sindir Zidni.
''Tuan sendiri yang memberi saran untuk membuka lembaran baru kan? Jadi saya menurut saja apa kata Tuan. Sekarang mari kita berangkat ke kantor cabang, Tuan.'' Ucap Chika.
''Oh begitu, oke terserah! Bukan urusanku juga.'' Ucap Zidni namun dalam kata-katanya terselip rasa kesal. Chika hanya bisa tersenyum kecil melihat ekspresi Zidni yang tampak kesal itu.
Hari pun terus berganti, hingga tiba hari esok untuk kembali ke Indonesia. Selama lima hari di Jepang, Zidni terus berusaha membuat Chika sibuk namun Chika tetap selalu di sampingnya. Ia kini tidak tahu kenapa bisa mempunyai perasaan aneh pada Chika. Namun Zidni berusaha untuk menyangkal perasaan itu. Ia sendiri menjadi bingung dengan apa yang ia rasakan.
Hari terakhir di Jepang, Zidni mengajak Chika dan Frans untuk bersenang-senang. Zidni mengajak keduanya menuju ke disneyland Tokyo. Begitu sampai disana, Chika merasa sangat senang dan seperti kembali ke masa kecilnya.
''Bagus sekali, Tuan. Semoga nanti aku bisa mengajak Kenzie kesini. Rasanya aku sedih bersenang-senang sendiri tanpa anakku.'' Ucap Chika pada Zidni.
''Sudahlah Nona, sebaiknya kita nikmati hari terakhir kita di sini. Jarang-jarang Tuan mengajak ku ke tempat seperti ini. Biasanya hanya fokus kerja saja.'' Sahut Frans.
''Kalau begitu, kita masuk sama-sama saja.'' Ucap Chika.
''Kalian berdua saja yang masuk.'' Ucap Zidni.
''Tuan, yakin? Saya dan sekretaris Frans akan lama disana dan kami akan mencoba semua wahana.'' Kata Chika.
''Iya juga ya. Nanti Frans dan Chika malah mesra-mesraan lagi.'' Gumam Zidni dalam hati.
''Oke, baiklah.'' Kata Zidni dengan tetap bersikap cool.
''Sekali-sekali singkirkan sikap dingin dan keangkuhan anda, Tuan.'' Ucap Chika.
''Ayo Nona, kita masuk!" ajak Frans sambil mengulurkan tangannya pada Chika.
''Oke sekretaris Frans.'' Jawab Chika seraya menerima uluran tangan Frans. Baru juga berjalan beberapa langkah dengan bergandengan tengan, tiba-tiba Zidni menerebos ke tengah-tengah mereka.
''Kita tidak sedang ingin menyeberang jalan. Jadi tidak perlu bergandengan tangan.'' Ucap Zidni. Frans dan Chika saling melempar pandangan, berusaha menahan senyum melihat sikap Zidni.
''Sepertinya Tuan memang sudah jatuh cinta pada anda, Nona dan sepertinya Tuan sedang cemburu.'' Bisik Frans.
''Sepertinya memang begitu. Karena dulu saat cemburu, begitulah gelagatnya.''
''Sepertinya jurus cara itu ampuh untuk memancing perasaan, Tuan.''
''Iya, anda benar. Aku berharap bisa segera membuatnya jatuh cinta lagi.''
Selama disana, perlahan Frans menjauh dan membiarkan Chika dan Zidni menikmati waktu bersama di arena disneyand itu. Zidni dan Chika kompak mencoba berbagai wahana. Alam bawah sadar dan naluri Zidni begitu menikmati waktu bersama dengan Chika. Chika juga merasa seperti mendapatkan sosok suaminya kembali. Meskipun kenyataannya belum sama sekali. Tapi Chika tidak pernah menyerah untuk membuat Zidni jatuh cinta lagi kepadanya.