
"Ah, sebaiknya aku fokus makan saja." Gumam Alvin sambil menghabiskan makanannya. Selesai makan, Alvin memutuskan untuk pulang. Namun saat hendak masuk mobil, Alvin kembali melihat gadis itu yang masih tampak sesenggukan. Namun tiba-tiba Alvin melihat dua preman menghampiri gadis itu dan berusaha untuk menggodanya. Alvin kemudian melangkahkan kakinya cepat karena kedua preman itu sudah mulai kontak fisik. Kedua pria itu tampak menarik tangan gadis itu untuk memaksanya pergi. Bahkan mereka mencolek-colek wajah gadis itu. Tanpa banyak bicara Alvin langsung melayangkan bogem mentah ke wajah dua preman itu. BUG! BUG! BUG!
"Siapa lo? Ikut campur." Geram preman berambut ikal sambil menahan sakit.
"Tidak penting siapa aku? Sebaiknya kalian pergi atau aku memanggil polisi?" ancam Alvin. Akhirnya kedua preman bernyali kecil itu pun kabur begitu saja.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvin lembut. Gadis itu hanya menggeleng. Namun matanya tampak basah.
"Ayo masuk! Aku antar kamu pulang." Alvin lalu membuka pintu mobilnya untuk gadis yang belum ia ketahui namanya itu dan gadis itu menurut. Alvin segera masuk ke dalam mobil setelah gadis itu aman di dalam mobilnya. Alvin lalu mulai melajukan mobilnya.
"Siapa nama kamu?" tanya Alvin. Bukannya menjawab tapi gadis itu malah menangis sejadinya. Hua... hua... hua... hiks... hiks... hiks....
"Hei, kamu kenapa? Kenapa kamu berantakan seperti ini? Dan dimana rumahmu?"
"Aku tidak mau pulang." Akhirnya gadis itu menjawab pertanyaan Alvin.
"Syukurlah kamu akhirnya bicara. Jawab dulu siapa nama kamu?"
"Jangan banyak tanya. Jalan saja. Bawa aku ke rumah mu." Ucap gadis itu sambil tersedu-sedu.
"What? Ke rumah ku?" Alvin dibuat terkejut dengan ucapan gadis itu. Untuk pertama kalinya ada seorang gadis minta di bawa ke rumah.
"Tidak bisa. Aku harus mengantarkan mu pulang. Aku tidak mau terlibat dalam masalah." Tegas Alvin.
"Please, aku mohon. Aku hanya ingin tenang. Kalau kamu tidak mau membantuku, aku akan melompat dari mobil ini. Kalau dengan mati adalah pilihan terbaik. Hua... hua... hua..." Gadis itu kembali meraung. Membuat Alvin mengerutkan kening dan menatap heran.
"Huft baiklah. Karena ini juga sudah lewat tengah malam." Akhirnya Alvin mengijinkan gadis itu untuk ikut dengannya. Gadis itu langsung diam. Ia duduk meringkuk memunggungi Alvin sambil menangis. Namun Alvin memilih untuk membiarkannya. Sampai akhirnya gadis itu tertidur dengan sendirinya.
Dua puluh menit kemudian Alvin sampai di rumah. Rumah milik Chika yang kini Alvin tempati daripada dibiarkan kosong. Dan semua itu juga atas persetujuan Chika. Begitu mobil terparkir di halaman rumah, Alvin membangunkan gadis itu.
"Hei bangun. Sudah sampai." Namun gadis itu tidak bangun mendengar suara Alvin. Alvin lalu menggunakan telunjuknya untuk membangunkan gadis itu.
"Hei bangun! Sudah sampai di rumah ku." Ucapnya lagi. Gadis itu pun akhirnya bangun. Ia mengerjapkan matanya. Melihat rumah sederhana namun tampak begitu asri.
"Ini rumahmu?"
"Rumah Kakak ku. Karena Kakak ku ikut suaminya, jadi dia memintaku untuk menempatinya."
"Ohhh...."
"Siapa namamu? Aku tidak akan mengijinkamu masuk sebelum kamu menjawab pertanyaan ku. Aku juga bisa membawamu ke kantor polisi. Atau ke dinas sosial saja karena kamu berantakan begini seperti....."
"Aku bukan gelandangan dan aku masih waras. Namaku Bella. PUAS!" Bella dengan kesal turun dari mobil dan hendak masuk. Namun tidak bisa karena pintu rumah terkunci. Alvin yang masih berada di alam mobil menahan tawanya.
"Memang gila gadis ini," gumamnya. Alvin kemudian turun dari mobil dan tanpa banyak bicara segera membuka pintu rumah. Tanpa diperintah, Bella langsung masuk ke dalam rumah dengan sepatu yang masih ia jinjing sedari tadi.
"Tidurlah di kamar ini. Ini kamar kakak ku dan ada baju juga. Kebetulan Kakakku perempuan." Kata Alvin sambil menunjukkan kamar Chika.
"Terima kasih." Ucap Bella. Alvin mengangguk lalu pergi ke kekamarnya. Alvin pun segera mandi. Tubuhnya amat sangat lengket dan rasa lelah menyerbu seluruh tubuhnya. Setelah mendapat guyuran air segar, Alvin pun segera pergi untuk tidur. Namun baru juga hendak memejamkan mata, Alvin mendengar suara berisik yang berasal dari dapur. Alvin bergegas beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Tentu saja dalam pikiran Alvin adalah MALING. Begitu sampai di dapur, ternyata itu adalah Bella.
"Sorry, aku lapar dan sedang cari makanan."
"Mau maling ya? Bisa kan minta ijin?" marah Alvin.
"Si-siapa yang maling?"
"Kamu lah. Untuk apa mengendap-endap?"
"Ya... Mau bangunin juga takut ganggu kamu. Aku hanya ingin cari makanan tapi kulkasmu kosong. Cuma ada remahan biskuit dan air saja. Buah juga tidak ada. Dan di almari juga cuma mie instan."
"Aku belum sempat belanja. Makan saja yang ada. Aku mau tidur. Setelah selesai, bersihkan, cuci dan kembalikan ke tempat semula." Kesal Alvin.
"Iya-iya." Ucap Bella memelas. Namun Alvin tidak peduli dengan wajah memelas Bella. Ia sudah sangat lelah dan ingin istirahat namun ternyata malah ada gangguan yang tidak ia inginkan. Alvin dengan kesal kembali ke kamarnya. Sementara Bella mulai memasak mie.
Keesokan harinya...
Hoam! Alvin menguap sambil mengulat meregangkan ototnya. Ia kemudian menuju dapur untuk minum. Ia kembali mengecek, memastikan Bella mengikuti perintahnya. Alvin tersenyum karena Bella mematuhi perintahnya. Setelah minum, Alvin bergegas untuk mandi. Selesai mandi, ia segera bersiap untuk berangkat kerja. Untuk sarapan, Alvin terpaksa membuat mie dan telur lagi. Kesibukannya membantu diperusahaan kakak iparnya membuat waktu Alvin tersita, sampai ia belum sempat untuk belanja.
CEKLEK! Terdengar suara Bella membuka pintu kamarnya.
"Baru bangun gadis aneh itu." Gumam Alvin sembari memasak. Bella mencium aroma mie goreng dan langsung menuju dapur.
"Pesan satu ya?" ucap Bella tanpa berdosa.
"Hah? Pesan? Memang aku pembantumu apa?" sinis Alvin.
"Kamu kan bisa membuat sendiri," lanjut Alvin dengan kesal.
"Mmmm sebenarnya aku tidak bisa memasak mie. Semalam aku tidak jadi memasaknya."
"Apa? Tidak bisa? Kamu ini manusia jaman purba apa? Kalau tidak bisa itu ada bungkusnya."
"Aku mere..mas mie nya dan menaburkan bumbunya begitu saja jadi aku makan mentah." Ucap Bella dengan tatapan polosnya.
"Bella-Bella, memasak mie saja tidak bisa. Kamu ini wanita masa iya tidak mengerti urusan dapur. Bagaimana kalau kamu menikah nanti? Suami mu pasti ingin merasakan masakanmu. Ingat ya cinta itu datangnya bukan hanya dari mata turun kehati tapi dari perut lalu ke hati." Ucap Alvin dengan segala kekesalannya. Ucapan Alvin membuat mata bela berkaca-kaca.
"Jahat banget sih," ucap Bella dengan suara bergetar menahan tangis.
"Bukan jahat tapi itu fakta." Ucap Alvin penuh penekanan. Bella langsung menuju kamar dan langsung menangis. Alvin hanya bisa menghela nafas kasar dan menggelengkan kepala melihat tingkah Bella yang seperti anak kecil.
"Aduh, udah gede cengeng amat." Gumam Alvin. Karena tidak juga keluar kamar, akhirnya Alvin membuatkan mie instan goreng untuk Bella juga. Setelah mie instan matang, Alvin memilih untuk sarapan seorang diri. Ia harus tetap jaga jarak dengan Bella. Karena ia sendiri tidak tahu Bella siapa. Apakah orang baik atau orang jahat. Selesai sarapan, Alvin bergegas menuju kantor.
"Makanlah, aku sudah membuatkanmu mie. Aku mau kerja. Pastika cuci piringmu selesai makan." Ucap Alvin saat melintas di depan kamar Bella. Mendengar Alvin membuatkan makanan untuknya, seketika tangis Bella berhenti. Namun ia tidak keluar terlebih dahulu karena ingin memastikan bahwa Alvin sudah berangkat kerja.
Bersambung... Hai-Hai, maaf ya baru kembali. Sedikit cerita, aku sedang menggalau berkepanjangan. Karena editor ku berhenti kerja di NT dan otomatis tidak membantuku lagi. Dapat editor pengganti dan slowww responnn sekali jadi membuat aku kehilangan semangat menulis. Maaf sudah membuat menunggu sangat lama :-(